"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
BAB 8
"Kalian ke sini? Tanpa bilang dulu?" Ranu masih memegang telepon erat, suaranya meninggal sedikit, matanya masih terbelalak tak percaya.
"Kami kangen kamu, Ran. Mana perlu bilang-bilang segala? Kan ini orang tua kandungmu sendiri," suara Mama Anggun terdengar cemberut di seberang telepon. "Cepat ke sini ya, kami sudah menunggu lama di ruang kedatangan."
"Baiklah, sebentar lagi aku ke sana," jawab Ranu singkat, lalu menutup teleponnya dengan kasar. Napasnya memburu, tangannya meremas tepi meja sampai buku jarinya memutih.
Tak lama kemudian Ranu sampai di bandara. Matanya langsung mencari sosok kedua orang tuanya. Langkahnya terhenti saat melihat Mama Anggun dan Papa Deni berdiri bersama seorang gadis berpakaian rapi yang tersenyum malu-malu.
"Siapa dia?" tanyanya begitu mendekat, suaranya datar tanpa sapaan lebih dulu.
Mama Anggun tersenyum lebar, menarik lengan gadis itu sedikit ke depan.
"Ini Cindy, Nak. Anak teman Mama yang lama sekali. Dia kebetulan ada urusan di kota ini, jadi Mama ajak sekali jalan. Cindy, ini Ranu, anak Mama."
Cindy menunduk sopan, tangannya meremas pinggiran tas kecilnya.
"Halo, Mas Ranu. Maaf kalau merepotkan," ucapnya pelan.
Ranu hanya mengangguk sekilas, tak tersenyum sedikit pun.
"Kalian langsung ke rumahku saja ya, Ran. Sudah lelah menunggu dari tadi," kata Mama Anggun sambil meraih koper yang ada di sampingnya.
"Tidak usah ke rumah," potong Ranu cepat. "Kita makan dulu saja di tempat dekat sini. Nanti kita bicara sambil makan."
Mama Anggun hendak protes, tapi Papa Deni menepuk pelan punggung tangannya, memberi isyarat untuk menuruti kemauan Ranu dulu.
Mereka pun duduk di sebuah restoran yang tenang. Sepanjang perjalanan Cindy tak banyak bicara, hanya sesekali melirik Ranu yang duduk di belakang kemudi dengan wajah kaku.
Begitu pesanan datang, Mama Anggun mulai membuka pembicaraan lagi.
"Cindy ini gadis yang baik, Ran. Pintar, sopan, dan pandai mengurus rumah. Mama sudah lama ingin memperkenalkan kalian berdua. Siapa tahu ini sudah takdir, kalian bisa saling kenal lebih jauh."
Ranu meletakkan sendoknya perlahan, bunyi benturan sendok dengan piring terdengar nyaring di telinga mereka.
"Mama bawa dia ke sini cuma untuk mengenalkan kami begitu saja?" tanyanya, matanya menatap tajam ke arah ibunya.
"Ya iya lah! Mama ingin kamu punya teman. Mama ingin kamu tidak sendirian lagi!" jawab Mama Anggun mulai meninggi.
"Kalau dia memang ingin kenal sama aku, biar dia yang cari cara sendiri. Jangan Mama yang bawa-bawa sampai ke sini seolah aku barang yang siap dipasangkan," ucap Ranu tegas. "Aku tidak suka wanita yang diantarantar begitu cuma untuk mendekati aku."
Wajah Cindy langsung pucat, tangannya gemetar menahan air mata. Mama Anggun membelalakkan mata, wajahnya memerah menahan marah.
"Ranu! Apa kau bicara begitu? Mama yang mengajaknya, Mama yang memintanya ikut! Kau tidak tahu sopan santun ya bicara begitu pada tamu?"
"Karena Mama yang mengajak, makanya aku tidak suka," sahut Ranu tak mau kalah. "Mama tidak tahu apa yang aku rasakan. Mama hanya tahu memaksakan kehendak Mama sendiri."
"Sudahlah Tante, Mas Ranu tidak salah kok," potong Cindy pelan, suaranya bergetar tapi senyumnya masih tersisa. "Malah saya jadi tahu sifat aslinya. Dia orang yang tegas dan jujur. Saya justru menghargai itu. Tolong jangan marah lagi ya."
Mama Anggun menghela napas panjang, menatap Cindy dengan rasa bersalah.
"Tapi Nak, Mama malu sekali kamu diperlakukan begitu."
"Tidak apa-apa Tante. Saya mengerti," jawab Cindy lembut.
Ranu bangkit berdiri.
"Aku sudah pesankan kamar hotel untuk kalian. Kalian tidak perlu ke rumahku. Aku tidak mau ada wanita yang tidak ada hubungan apa-apa denganku tinggal satu atap denganku. Itu tidak pantas."
"Kau bicara apa? Kami orang tuamu sendiri!" seru Mama Anggun kaget.
"Kalian orang tuaku, tapi aku punya batasan sendiri. Rumah itu tempat istirahatku, bukan tempat pesta perjodohan," jawab Ranu dingin.
Papa Deni menghela napas panjang, lalu menatap istrinya.
"Sudah Ma. Turuti saja kemauan Ranu dulu. Kita bicara nanti saja."
Ranu mengantar mereka ke hotel. Begitu sampai di lobi, ia menatap mereka bergantian.
"Kalau ingin jalan-jalan kabari saja. Tapi minggu ini pekerjaanku sangat banyak, jadi aku tidak bisa menemani setiap saat. Dan tolong jangan datang ke rumahku tanpa izinku," ucapnya singkat.
"Kau melarang kami datang ke rumahmu sendiri?" tanya Mama Anggun tak percaya.
"Aku meminta tolong menghargai tempat tinggalku, Ma," jawab Ranu pelan tapi tegas.
Papa Deni mengangguk pelan.
"Kami mengerti, Nak. Terima kasih sudah menjemput kami."
Setelah Ranu pergi, Mama Anggun masih menatap pintu lift yang tertutup.
"Kamu lihat sendiri kan sikapnya? Apa dia menyembunyikan sesuatu di rumah itu sampai kami dilarang datang?"
"Ma, sudah kubilang. Kamu tahu sendiri sifat Ranu. Dia tidak suka dipaksa, dia tidak suka urusannya dicampuri," kata Papa Deni lembut. "Jangan memaksanya terus. Nanti dia makin menjauh."
Sementara itu Ranu mengemudi pulang dengan perasaan berkecamuk. Sesampainya di rumah, ia melihat ruang tamu masih terang. Di sana Galuh duduk bersandar di sofa, matanya perlahan terpejam meski ia berusaha menahannya. Di sebelahnya Arkan sudah terlelap miring dengan kepala bertumpu pada paha ibunya.
Hati Ranu terasa tersentuh melihat pemandangan itu. Ia melangkah pelan mendekati mereka.
"Kau belum tidur?" tanyanya pelan.
Galuh tersentak bangun, matanya masih sayu.
"Ah... Bapak sudah pulang. Saya cuma sebentar duduk di sini, tak bermaksud menunggu."
"Maaf aku pulang terlambat," ucap Ranu pelan. Ada rasa bersalah yang mendalam di dadanya, tapi ia tak bisa menceritakan apa yang baru saja terjadi.
Ia berjongkok, lalu mengangkat tubuh mungil Arkan dengan hati-hati.
"Sudah sana masuk kamar. Aku bawa Arkan duluan."
Galuh mengangguk pelan, mengikuti langkah Ranu dari belakang sampai ke kamar anak itu. Setelah membaringkan Arkan, Ranu berbalik menatap Galuh sekilas.
"Istirahatlah. Besok kita tetap berangkat kerja seperti biasa."
"Iya Pak. Selamat malam," jawab Galuh pelan.
Keesokan paginya mereka berangkat bersama seperti biasa. Sepanjang jalan tak banyak bicara, tapi suasana terasa lebih tenang dari biasanya.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Ranu baru saja meletakkan pena saat pintu ruang kerjanya terbuka.
"Galuh."
"Iya, Pak?"
"Arkan? Suka makan apa?"
"Arkan?" kepala Galuh sedikit meleng. Heran karena Ranu tiba-tiba menanyakan makanan kesukaan Arkan.
"Aku ingin makan siang sama Arkan."
"Aahh..." Galuh tersenyum, rasanya senang saja. "Mmmm, Arkan suka semua."
"Apa dia tak punya makanan yang disukai?"
"Mmm, Ayam goreng, kayak Ipin upin."
Ranu tertawa pelan, "Ayam goreng?"
"Hemm.."
"Kalau begitu, ayo kita makan ayam goreng," ajak Ranu.
Galuh tersenyum, rasanya hatinya ikut menghangat.
Siang itu, mereka makan ayam goreng di salah satu resto yang cukup terkenal. Arkan sangat senang.
"Waahh, Papa... Ini beneran Arkan boleh makan."
"Boleh, dong. Sini, Papa potongin ayamnya," kata Ranu seraya mengambil ayam goreng dari piring Arkan lalu memotong jadi kecil-kecil. "Nah, makanlah."
"Papa mau disuapin."
"Arkan..." Galuh menegur.
"Oh, kalau mau disuapin papa, harus makan nyicip saos pedas. Mau?"
Wajah Arkan agak masam, tapi mengangguk juga. Arkan memang tak suka pedas.
"Aaaa~"
Ranu menyuapi Arkan, si bocah pun dengan semangat makan.
"Anak pintar."
"huuu haaahh, pedes, Pa."
"Makan lagi biar ilang pedesnya."
Galuh awalnya agak cemas, tapi melihat Arkan yang semangat makan dan Ranu yang beberapa kali menyuapi, dia jadi sedikit tenang.
Setelah mengantar Arkan pulang ke rumah, Ranu dan Galuh kembali ke kantor.
"Terima kasih, Pak."
Ranu menoleh.
"Terima kasih karena sudah memperlakukan Arkan dengan sangat baik."
"Kita keluarga, Galuh," ucap Ranu kembali melihat ke depan. Galuh terdiam, matanya menatap Ranu sedikit berbeda. Walau galak, tapi, Ranu ternyata baik juga.
Di kantor.
"Galuh, siapkan materi untuk meet up sama vendor."
"Baik, Pak." tunduk Galuh yang berjalan cepat di samping bosnya.
pintu ruangan Ranu dibuka, dan di sana...
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up