Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: KEMBALI MENJADI PEWARIS SAH
Sinar matahari pagi menembus tirai sutra tebal, menerangi ruangan yang begitu megah namun dulu terasa asing bagi Nadia. Kini, saat ia melangkah keluar dari kamar tidur utamanya, setiap sudut rumah besar itu menyambutnya sebagai pemilik sah.
Di ruang makan, meja panjang sudah terisi hidangan lengkap. Namun Nadia tak banyak menyentuhnya—pikirannya sudah tertuju pada satu hal: Grup Arka.
Pak Haris menunggunya dengan membawa map tebal berlogo emas perusahaan yang bergambar elang terbang tinggi. "Nona, persiapan sudah selesai. Seluruh anggota direksi sudah menunggu di ruang rapat utama. Ada beberapa yang terkejut mendengar Anda yang akan memimpin langsung, namun sebagian besar sudah sangat menantikan kehadiran Anda."
Nadia mengambil map itu, jari-jarinya menyentuh logo yang dulu sering ia lihat di saku jas ayahnya. "Biarkan mereka tahu. Grup Arka bukan milik orang lain. Dan mulai hari ini, tidak ada lagi keputusan yang diambil tanpa sepengetahuanku."
Perjalanan menuju gedung pusat Grup Arka terasa singkat namun penuh makna. Saat mobil hitam mewah berhenti di depan lobi utama, seluruh petugas keamanan dan staf yang sedang beraktivitas serentak menoleh. Belum pernah ada yang melihat sosok pewaris tunggal secara langsung selama bertahun-tahun.
Saat Nadia melangkah keluar—dengan setelan jas berwarna merah marun yang menegaskan wibawanya, rambut yang disusun rapi, dan tatapan mata yang tegas—suasana lobi seketika hening. Ia bukan lagi wanita sederhana yang rela berjalan kaki demi menghemat uang. Ia adalah Nadia Kirana Arka, penerus tongkat estafet kekaisaran bisnis terbesar di negeri ini.
Di ruang rapat lantai paling atas, suasana terasa kaku. Para direktur yang berusia jauh lebih tua, yang selama ini mengira pewarisnya masih anak-anak atau tak tertarik pada bisnis, kini terpaku melihat sosok muda yang duduk di kursi kepemimpinan utama.
Tanpa banyak basa-basi, Nadia meletakkan dokumen pengesahan hak waris di tengah meja kaca.
"Aku tahu banyak dari kalian yang meragukan kemampuanku," suaranya tenang namun berwibawa, bergema memenuhi ruangan luas itu. "Ayahku mendirikan Grup Arka bukan hanya untuk mengumpulkan harta, tapi untuk membangun kepercayaan dan melangkah lebih jauh dari siapapun. Dua tahun ini aku pergi, belajar banyak hal yang tidak bisa kalian temukan di ruangan mewah ini. Aku belajar bertahan, bekerja keras, dan melihat bagaimana dunia memperlakukan orang yang dianggap lemah."
Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya. "Mulai hari ini, kita tidak akan berjalan di tempat. Kita akan memperluas jangkauan, memperketat kerja sama, dan memastikan tidak ada satu pun pihak yang bisa meremehkan nama Grup Arka lagi. Dan satu hal lagi—jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilannya."
Tak ada sanggahan. Kata-kata itu begitu tegas dan penuh keyakinan, membuat siapa saja yang mendengarnya tak ragu lagi untuk tunduk pada kepemimpinannya. Satu per satu direktur mulai mengangguk, menyadari bahwa di hadapan mereka bukanlah gadis yang lemah, melainkan pemimpin yang lahir dari garis keturunan terbaik.
Sementara itu, di sisi lain kota, Rian baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan perantara yang disarankan oleh Diana. Wajahnya tampak berseri, merasa langkahnya menuju kesuksesan semakin terbuka lebar.
"Kamu lihat kan? Semua berjalan lancar berkat bantuan Diana," ucapnya bangga pada diri sendiri sambil merapikan berkas usahanya. "Nadia benar-benar hanya akan menjadi beban jika aku bawa sampai sejauh ini. Dia tak akan pernah paham betapa berharganya kesempatan seperti ini."
Ia sama sekali tak menyadari, bahwa kesempatan yang ia banggakan itu—satu per satu—terletak di bawah kendali wanita yang baru saja ia tinggalkan. Dan tak lama lagi, ia akan mengetuk pintu itu dengan penuh harap, tanpa tahu siapa yang akan berdiri di baliknya.
(Lanjut ke Bab 4?)