NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan di Bawah Pohon

Matahari sore mulai merunduk di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga dan merah muda yang memenuhi langit Ragonves. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma dedaunan kering dan tanah yang hangat.

Grey berbaring di bawah pohon tua di halaman belakang gedung teater. Daun-daun berguguran perlahan di sekelilingnya, beberapa jatuh di atas wajahnya yang tenang. Matanya terpejam, napasnya teratur—ia telah tertidur setelah berjam-jam mengatur latihan dan menyusun rencana.

Dalam tidurnya, ia merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh kepalanya. Usapan lembut, perlahan, seperti ibu yang menenangkan anaknya. Grey mengerutkan alis, lalu perlahan membuka matanya.

Pandangannya masih kabur karena kantuk, tetapi ia bisa melihat sosok seorang gadis di hadapannya. Tangannya yang mungil masih berada di atas kepalanya, mengusap rambutnya dengan lembut.

"Ressa?"

Grey bangkit dari tempatnya berbaring, membuat gadis itu menarik tangannya dengan cepat.

"Maaf, Tuan," ucap Ressa, wajahnya memerah karena malu. "Saya kira Anda tertidur dan... dan saya kasihan melihat Anda tidur di bawah pohon. Saya hanya ingin memastikan Anda nyaman."

Grey duduk bersandar pada batang pohon, menatap Ressa dengan tatapan hangat. Rambut cokelat gadis itu sedikit kusut karena angin, dan di pipinya masih ada sisa rona merah.

"Tidak perlu meminta maaf," katanya pelan. "Ah ya, bagaimana dengan peran yang kau perankan? Apa sudah lebih baik?"

Ressa terduduk di sampingnya, menarik kedua lututnya ke dada. "Peran putri terkutuk itu membuat saya sedikit lelah," akunya sambil menghela napas. "Saya harus pura-pura menjadi kelinci, dan itu membuat saya bingung."

Grey tersenyum kecil. "Kelinci?"

"Iya, Tuan. Menurut naskah yang Anda bacakan, peran saya adalah putri terkutuk yang berubah menjadi seekor kelinci. Masalahnya, saya harus bersembunyi di balik dinding dan bersuara pada kelinci sungguhan yang berada di panggung." Ressa menatap Grey dengan tatapan memohon. "Saya tidak tahu cara berbicara dengan kelinci, Tuan."

Grey tertawa kecil. Bayangan Ressa yang bersembunyi di balik dinding dan mencoba berkomunikasi dengan kelinci sungguhan membuatnya geli.

"Tidak apa, Ressa," ucapnya meyakinkan. "Peran kelincinya tidak lama. Nanti kau bisa tampil ketika kutukannya menghilang."

Ressa menatap Grey dengan mata berbinar. "Justru peran putrinya yang saya nantikan," katanya antusias. "Saya akan tampil di panggung dengan gaun cantik dan menjadi pahlawan dalam cerita."

"Nah, ini baru gadisku," kata Grey tanpa sadar. "Kau benar-benar bisa diandalkan."

Ia menggenggam tangan Ressa—tanpa sadar, tanpa berpikir. Tangannya yang besar membungkus tangan mungil gadis itu dengan lembut.

Ressa tersentak. "Eh? Tuan... Kenapa Anda memegang tangan saya?"

Grey terkesiap. Ia menatap tangan mereka yang bergenggaman, lalu dengan cepat melepaskannya. Wajahnya memerah.

"Tidak, tidak. Aku hanya senang saja karena kau mengerti tentang naskahnya," ucapnya cepat, berusaha menutupi rasa malunya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, memaki dirinya sendiri dalam hati.

"Apa-apaan ini?" pikirnya panik. "Kenapa aku melakukan itu?"

Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa hangat dari sentuhan Ressa. Detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Ah sial. Secepat itu aku melupakan Keilla?" Grey menghela napas panjang. "Padahal dulu aku begitu mendambakannya."

Ia menatap ke kejauhan, ke arah langit senja yang mulai gelap. Kenangan tentang Keilla melintas di pikirannya—senyum dinginnya, tatapan kosongnya, dan pengkhianatan di bawah pohon sakura.

Dulu, ia mengejar Keilla dengan segenap hati. Ia bermimpi bahwa pernikahan mereka akan menyatukan keluarga Vincentes dan Sienta. Ia berpikir bahwa cintanya cukup untuk mengubah segalanya.

Namun sekarang, semua impian itu telah hancur.

"Sekarang aku justru tak menginginkan itu lagi," pikirnya, rasa pahit menyebar di dadanya. "Semua yang kudambakan dulu, kini menjadi api dendam di dalam diriku."

Ressa mengamati Grey dengan saksama. Ia bisa melihat perubahan di wajah pemuda itu—dari hangat menjadi dingin, dari lembut menjadi keras.

"Tuan Grey?" panggilnya pelan. "Anda baik-baik saja?"

Grey menoleh, dan untuk sesaat, tatapannya kosong. Namun kemudian ia tersenyum—senyum yang tidak sepenuhnya tulus.

"Aku baik-baik saja, Ressa. Hanya memikirkan sesuatu."

Ressa tidak percaya. Ada sesuatu di mata Grey yang tidak ia sukai—sesuatu yang gelap dan menyakitkan.

"Tuan," ucapnya perlahan, "saya tahu Anda mungkin tidak ingin mendengar ini, tapi... dendam hanya akan membakar diri Anda sendiri."

Grey terdiam. Matanya menatap Ressa dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, Ressa."

"Mungkin saya tidak tahu," jawab Ressa dengan lembut, "tapi saya bisa melihat. Saya bisa melihat bahwa Anda menyakiti diri sendiri dengan semua rencana ini."

Grey menunduk. Jari-jarinya menggenggam erat tanah di bawahnya.

"Kau terlalu banyak berpikir, Ressa. Lebih baik kau kembali berlatih."

Ia berdiri, meninggalkan Ressa di bawah pohon. Langkahnya tegas, namun di balik itu, ada keraguan yang mulai tumbuh.

Ressa menatap punggung Grey yang menjauh. Di matanya, ada campuran antara kasihan dan tekad.

"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri, Tuan Grey," bisiknya pelan. "Aku berjanji."

Di langit senja, burung-burung mulai pulang ke sarangnya. Dan di bawah pohon tua, seorang gadis duduk sendirian, memegang erat sebuah rahasia yang belum ia ungkapkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!