NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Pelarian yang Gagal

Malam itu Aurora tidak bisa memejamkan mata.

Ucapan Raven terus terngiang di kepalanya.

"Selamat datang di duniaku, Dokter."

Ia semakin sadar bahwa selama berada di mansion itu, hidupnya tidak akan pernah benar-benar aman. Cepat atau lambat, ia harus menemukan cara untuk melarikan diri.

Aurora berdiri di depan jendela kamar. Hujan tipis kembali turun membasahi halaman mansion. Dari lantai dua, ia memperhatikan pola patroli para penjaga yang berjaga di setiap sudut.

Setelah hampir satu jam mengamati, ia mulai menemukan celah.

Di sisi barat mansion terdapat taman kecil yang hanya dijaga oleh dua orang. Setiap lima belas menit, mereka bergantian berpatroli sehingga selama beberapa detik area itu tampak kosong.

"Itu satu-satunya kesempatan," gumam Aurora.

Ia menunggu hingga suasana benar-benar sepi.

Saat jam menunjukkan pukul dua dini hari, Aurora perlahan membuka pintu kamar. Aneh, pintu itu tidak dikunci.

Ia mengernyit, tetapi tidak membuang waktu.

Dengan langkah hati-hati, ia menyusuri lorong yang gelap. Tidak ada seorang pun di sana.

Ia menuruni tangga belakang, melewati dapur, lalu keluar menuju taman.

Jantungnya berdegup sangat kencang.

Beberapa meter lagi, ia akan mencapai pagar luar.

Aurora mulai berlari.

Namun baru beberapa langkah...

Klik.

Lampu sorot tiba-tiba menyala dan mengarah tepat ke tubuhnya.

"Berhenti!"

Belasan penjaga langsung mengepungnya.

Aurora membeku.

Dari balik bayangan, Raven berjalan mendekat dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

Ekspresinya tetap datar.

"Aku sudah menduga kau akan mencoba kabur."

Aurora menggertakkan gigi.

"Kalau begitu kenapa pintu kamarku tidak dikunci?"

"Itu memang sengaja."

"Kau menjebakku?"

Raven mengangguk pelan.

"Aku ingin tahu seberapa jauh kau akan pergi."

Aurora menatapnya penuh kemarahan.

"Kau benar-benar menyebalkan."

"Aku tahu."

"Tidak ada yang normal darimu."

"Aku juga tahu."

Jawaban santai itu membuat Aurora semakin kesal.

"Aku bukan tahananmu!"

"Bukan."

"Lalu kenapa aku tidak boleh pergi?"

Raven menghentikan langkah tepat di depannya.

"Karena di luar sana ada orang yang sedang mencarimu."

Aurora mengerutkan dahi.

"Maksudmu?"

Leo datang membawa sebuah tablet.

Ia menyerahkannya kepada Aurora.

"Itu berita pagi ini."

Aurora membaca layar tersebut.

Dokter muda Aurora Valentia diduga diculik kelompok kriminal. Polisi masih melakukan penyelidikan. Sementara itu, beberapa saksi mengaku melihat pria-pria bersenjata berada di sekitar rumah sakit pada malam kejadian.

Aurora menelan ludah.

Raven kembali berbicara.

"Orang-orang Vittorio juga mencarimu."

"Kenapa?"

"Karena mereka tahu kau melihat wajahku."

Aurora mulai memahami situasinya.

Jika ia keluar sekarang, bukan hanya mafia Raven yang akan mengejarnya, tetapi juga musuh Raven.

"Aku tidak percaya padamu."

"Silakan."

Raven mengambil sebuah map dari Leo lalu menyerahkannya kepada Aurora.

Di dalamnya terdapat beberapa foto.

Aurora membelalakkan mata.

Foto-foto itu memperlihatkan rumah ibunya yang diam-diam diawasi oleh orang-orang bersenjata.

"Itu..."

"Anak buah Vittorio."

Aurora langsung pucat.

"Ibuku..."

"Masih selamat."

Aurora mengepalkan tangan.

"Kenapa mereka mengincarnya?"

"Karena mereka tahu kau tidak akan membiarkan ibumu terluka."

Air mata mulai memenuhi mata Aurora.

Raven memperhatikan ekspresinya beberapa saat.

"Aku sudah menempatkan beberapa orang untuk mengawasinya."

Aurora menatap Raven dengan bingung.

"Kenapa kau melakukan itu?"

"Kalau ibumu mati, kau tidak akan lagi berguna bagiku."

Jawaban itu terdengar dingin.

Namun entah mengapa, Aurora merasa Raven sedang menyembunyikan alasan lain.

"Tuan!"

Seorang penjaga datang tergesa-gesa.

"Ada tamu."

"Siapa?"

"Bianca Rossi."

Raven menghela napas pelan.

"Suruh dia masuk."

Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik berambut merah memasuki ruang tamu mansion.

Ia mengenakan gaun hitam ketat dan senyum tipis yang penuh percaya diri.

"Aku merindukanmu, Raven."

Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memeluk Raven.

Aurora yang berdiri tidak jauh dari sana langsung memalingkan wajah.

Entah mengapa, ada perasaan aneh yang muncul di dadanya.

Bianca kemudian memperhatikan Aurora.

"Oh?"

"Jadi ini dokter yang sedang ramai dibicarakan?"

Aurora balas menatap wanita itu.

"Siapa dia?"

Bianca tersenyum tipis.

"Aku teman lama Raven."

Leo yang berdiri di samping hanya menghela napas.

Ia tahu Bianca bukan sekadar teman.

Wanita itu adalah pembunuh bayaran paling berbahaya yang pernah bekerja sama dengan keluarga Alvaro.

Bianca melangkah mendekati Aurora.

"Lumayan cantik."

Aurora tidak menjawab.

Bianca kembali menoleh kepada Raven.

"Apa kau mulai bosan hidup sendirian?"

Tatapan Raven langsung berubah dingin.

"Jangan ikut campur."

Bianca tertawa kecil.

"Baiklah."

Namun saat ia berbalik, senyumnya perlahan menghilang.

Tatapannya tertuju pada Aurora dengan penuh rasa ingin tahu.

Dalam hati, Bianca merasa ada sesuatu yang berbeda.

Selama bertahun-tahun mengenal Raven Alvaro, belum pernah sekali pun pria itu membawa seorang wanita tinggal di dalam mansionnya.

Dan bagi Bianca, perubahan sekecil apa pun pada Raven selalu menjadi pertanda bahwa badai yang lebih besar sedang menunggu di depan.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!