Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Ada Batas
"Asiiiik .... Horeeee... !" Aku dan Christ berjingkrak senang ketika suatu sore Bapak turun dari becak dengan kotak berisi tivi yang tak terlalu besar.
Pak Darso yang menyusul ikut membantu Bapak menurunkan kardus itu.
"Cepat pak," Christ tak mau beranjak dari ruang tengah tempat tivi itu diletakkan, berteriak ribut tak sabar melihatnya menyala.
"Sabar nduk," kata Bapak sambil tersenyum.
Aku mondar mandir membantu Bapak dan pak Darso memasang antena yang terikat di atas bambu panjang di sebelah rumah.
"Sudah pak .... Sudah ...!" Dari dalam Aku berteriak kencang ketika suara dan gambar hitam putih yang bergerak di tivi sudah terdengar dan terlihat jelas.
"Itu apa Christ ?" Ibu yang memangku adikku terlihat senang menunjukkan film kartun yang sedang disiarkan ke arah Christ.
"Meyong," jawab Christ girang melihat tingkah Tom dan Jeri di film yang sedang ditontonnya.
Bibi Yanti yang menggendong Dion adikku laki-laki nomer tiga yang masih belajar berjalan juga ikut bergabung bersama kami.
Kini ada barang baru yang bisa menemani kami di rumah dinas Bapak yang sepi di malam hari setelah bu Mar tetangga kami tidak menempati lagi rumah dinasnya.
Sejak rumah dinas bu Mar kosong, hanya tinggal kami di komplek rumah dinas Rumah Sakit. Kata Ibu, bu Mar sudah pensiun dan pindah ke rumahnya di Semarang.
Memang gedung besar di dekat rumah dinas dokter sekarang ditempati murid laki-laki sekolah perawat, tetapi tetap saja setelah malam tiba tak ada yang keluyuran ke luar karena gerbangnya dikunci Bapak.
Bapak sekarang sudah tidak berdinas di rumah sakit lagi dan dipindahkan menjadi guru perawat yang juga berada di dalam komplek Rumah Sakit tempat kami tinggal.
***
Sampai malam Aku puas menonton tivi sendirian. Bapak hanya sesekali melongokku di sela kesibukannya mengetik, membiarkan Aku dengan kemewahan baru di malam hari yang biasanya hanya dapat kunikmati di alun-alun.
"Jam sebelas nanti tidur loh Pras. Ingat besok sekolah !"
Bapak mengingatkanku ketika melongokku lagi dan memindahkan Christ yang tertidur di atas tikar ke dalam kamar.
"Ya pak."
Aku terus memelototi layar kaca yang akan menayangkan acara Dunia Dalam Berita
Sebelum ada tivi itu, Aku biasanya tidur jam sepuluh malam sepulang dari alun-alun setiap kali Bapak mengajakku menonton tivi di sana.
Jika hujan atau Bapak tidak mengajakku ke alun-alun, jam sembilan malam Aku pasti sudah tertidur.
Tetapi malam itu kantukku masih segan menamparku, masih ada kebungahan di dadaku yang ingin berlama-lama kutahan.
Bukan tentang kebungahan tontonan yang sekarang tidak perlu susah payah kucari di luar sana. Tetapi kebungahan mendengar dan melihat celoteh riang Christ di depan tivi sampai dia tertidur dengan senyumnya setelah dulu sempat membuatnya menangis sepanjang jalan di suatu hari Minggu pagi.
Hari yang tak akan pernah Aku lupakan dengan isi dada bercampur aduk panas api terbakar kemarahan dan dingin es yang menciutkan nyaliku.
***
Suatu saat di hari Minggu pagi yang selalu kuingat, sebelum tivi hitam putih itu ada di ruang tengah rumah dinas Bapak, Aku ingin menyenangkan Christ dengan membiarkannya mengikutiku setelah dia terus merengek tak mau kutinggal.
Seperti diriku dulu setiap libur sekolah, dia mungkin merasa bosan di rumah saja Setiap melihatku beringsut ke arah pintu, dia pasti menanyakan Aku akan kemana.
Biasanya Aku tak meladeni rengekan-nya, dan memilih secepatnya meninggalkannya untuk bermain sendiri ke luar rumah.
"Mau ikut mas ?" Tapi kali ini Aku tak tega meninggalkan wajah memelasnya yang berubah berbinar ketika Aku mengajaknya.
"Yuk mas, ... cepat !"
Teriakan tak sabar Christ yang terus menarik tanganku mempercepat langkahku. Wajah gembiranya menyenangkan hatiku.
Aku menggandengnya ke arah rumah Erwin setelah Ibu mengijinkan Aku mengajak Christ tanpa ditemani Bibi Yanti yang sedang sibuk mendulang Dion.
Hari Minggu, rumah Erwin biasanya penuh sesak dengan bocah-bocah sebayaku yang berdesakan menumpang menonton film tivi di sana.
Aku selalu menunggu film Rin Tin Tin yang mengingatkanku pada kepintaran Boi anjingku.
Sayangnya rumah Erwin terlihat sepi saat Aku dan Christ sampai ke sana. Sepertinya dia sedang pergi bersama bapak dan ibunya.
Beberapa bocah kampung yang kukenal lalu mengajakku ke sebuah rumah besar tempat kami biasa menjual cengkeh yang kami kumpulkan di saat hujan.
Mereka sudah akrab denganku karena sering mengajak Aku dan Erwin ikut mengumpulkan cengkeh yang rontok terkena guyuran hujan lebat.
Jika sudah cukup banyak cengkeh yang terkumpul, kami menjualnya ke rumah yang akan kami tuju itu.
Rumah itu sudah penuh dengan bocah kampung ketika Aku dan Christ sampai di pelatarannya.
Masing-masing bocah mencari ruang ternyaman untuk mengintip ke dalam.
Aku mendudukkan Christ di pundakku saat kami berdesakan di jendela mengintip tayangan acara tivi yang ada di dalam rumah itu.
Kaki Christ yang menjepit leherku kupegang kencang saat dia bergerak senang melihat tontonan tivi yang baru pertama dilihatnya.
Jika di rumah Erwin kami boleh keluar masuk menonton tivi sepuasnya, di rumah besar yang kami datangi itu, entah kenapa yang punya rumah menutup pintu saat kami mulai datang menumpang nonton.
Mencari cara supaya tetap bisa menontonnya, kami beringsut dari teras depan yang tertutup ke arah jendela yang terbuka.
Suara ribut bocah-bocah mengomentari Rin Tin Tin yang beraksi di tivi terhenti saat sepasang tangan keluar dari dalam jendela diikuti bentakan menyuruh kami bubar.
"Aduh maaaas !" Adikku Christ menjerit kencang kesakitan ketika kulihat jarinya terjepit daun jendela yang ditarik tiba-tiba oleh sepasang tangan itu.
Jika Aku tak cukup kencang memegangi kakinya, bisa saja adikku jatuh dari pundakku.
Aku menahan daun jendela itu sekuat tenaga supaya tetap terbuka. Melihatku kerepotan, salah satu bocah kampung yang ada didekatku lalu membantu menarik tangan Christ, membebaskannya dari jepitan.
Aku menatap sengit wajah bocah laki-laki sepantaran denganku yang ada di dalam rumah dan kulihat jelas sengaja menarik daun jendela itu dengan seringai kepuasan ke arahku.
"Sukur.... " ejeknya penuh kepongahan.
Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain beringsut mengajak Christ pergi dari sana saat sepasang mata perempuan tua ikut memelototiku dari arah belakang bocah laki-laki itu ketika Aku ingin berteriak menantang bocah memuakkan itu.
"Sudah Christ, nanti mas pukul anak itu." Aku berusaha menghentikan tangis Christ sepanjang perjalanan ke rumah. Untungnya dia akhirnya terdiam ketika Aku berhasil membujuknya dengan permen yang diberikan bocah kampung penolongku itu.
"Sudah jam sebelas loh Pras ...." Suara lembut Bapak menghilangkan gemuruh dadaku teringat cerita hari Minggu yang menyebalkan dulu.
Aku lalu memeluk kencang punggung Bapak yang menggendongku ke kamar setelah mematikan tivi baru kami.
Betapa ada kesenangan yang dibatasi mulai kupahami. Hanya saja Aku sudah mulai bisa memilah cara mana yang tidak menyakitkan dan membekas di hati ketika membatasi suatu kesenangan ....
***
*Mendulang : menyuap makan dalam bahasa Jawa