NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Misi Pengawalan Pertama

Fajar baru saja menyingsing di balik dinding kokoh Benteng Vargan ketika halaman barak tentara bayaran kembali dipenuhi kesibukan. Embun masih menggantung di ujung rerumputan, sementara udara pagi membawa hawa dingin dari pegunungan yang membentang di sepanjang perbatasan Green Continent. Para anggota kelompok telah memulai rutinitas mereka sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Sebagian memeriksa pelana kuda, sebagian lagi mengasah senjata, sedangkan yang bertugas di dapur menyiapkan bekal perjalanan bagi anggota yang akan berangkat menjalankan misi.

Di sisi timur barak, empat orang telah berkumpul di dekat gerbang.

Ryosuke berdiri paling depan dengan kedua katana yang tergantung di pinggangnya. Di sampingnya, Hana membawa sebuah tas kecil berisi perlengkapan darurat yang telah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. Tidak jauh dari mereka, Hector memeriksa gagang kapak raksasanya untuk memastikan tidak ada bagian yang longgar, sementara Melinda memeriksa tali busur dan jumlah anak panah yang tersimpan di tabung punggungnya.

Meskipun baru sehari resmi menjadi satu regu, tidak seorang pun menunjukkan kegugupan. Mereka memahami bahwa hari itu akan menjadi awal perjalanan mereka sebagai Regu Shugo Ryu.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Alfaro Perez datang bersama seorang perwira Benteng Vargan yang mengenakan zirah berwarna gelap. Di belakang mereka berdiri dua kusir yang menjaga tiga kereta besar yang telah dipenuhi peti-peti kayu dan karung logistik.

Alfaro berhenti di hadapan Regu Shugo Ryu.

"Hari ini kalian menerima penugasan pertama sebagai satu regu."

Keempatnya berdiri tegak.

Alfaro melanjutkan sambil menunjuk ke arah tiga kereta yang berada di belakangnya.

"Kereta-kereta ini membawa logistik milik Benteng Vargan."

"Persediaan makanan, obat-obatan, perlengkapan pandai besi, serta kebutuhan garnisun kecil di desa perbatasan."

Perwira benteng kemudian membuka salah satu peti untuk memperlihatkan isinya.

Di dalamnya tersusun rapi karung gandum, kotak obat sederhana, gulungan kain, dan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan di desa-desa perbatasan.

"Jalur menuju desa relatif aman."

kata perwira itu.

"Namun beberapa minggu terakhir muncul laporan mengenai perampok dan monster liar yang mulai berkeliaran."

"Itulah sebabnya Benteng Vargan meminta bantuan kelompok kita."

Alfaro kembali memandang Ryosuke.

"Tugasmu sederhana."

"Pastikan seluruh kereta tiba dengan selamat."

"Jangan mencari pertempuran yang tidak perlu."

"Keselamatan logistik lebih penting daripada mengejar musuh."

Ryosuke menganggukkan kepala.

"Kami mengerti."

Alfaro memandang keempat anggota regu secara bergantian.

"Ini kesempatan kalian untuk belajar bekerja sebagai satu kesatuan."

"Setiap orang memiliki peran."

"Gunakan kelebihan masing-masing."

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

Ketika seluruh persiapan selesai, kusir mulai menggerakkan kereta keluar dari halaman barak. Regu Shugo Ryu mengambil posisi sesuai kesepakatan sederhana yang dibuat Ryosuke sebelum keberangkatan. Ia berjalan di depan rombongan untuk mengamati jalur yang akan dilalui. Melinda bergerak beberapa puluh langkah di sisi depan kanan sebagai peninjau karena kemampuannya membaca keadaan hutan. Hector berada di sisi belakang kereta terakhir untuk melindungi rombongan apabila terjadi serangan dari belakang, sedangkan Hana berjalan di antara kereta agar dapat segera membantu siapa pun yang membutuhkan.

Alfaro memperhatikan susunan itu tanpa memberikan komentar.

Ia hanya mengangguk pelan ketika rombongan mulai meninggalkan barak.

Perjalanan dimulai dengan melewati jalan utama yang menghubungkan Benteng Vargan dengan desa-desa di wilayah perbatasan Green Continent. Jalan itu cukup lebar untuk dilalui tiga kereta, tetapi di beberapa bagian permukaannya mulai rusak akibat sering dilintasi kendaraan berat.

Roda-roda kayu berputar perlahan di atas tanah yang mengeras.

Suara derit kereta berpadu dengan langkah kaki para pengawal, menciptakan irama yang terus mengiringi perjalanan mereka.

Selama beberapa jam pertama, tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan.

Beberapa petani yang sedang bekerja di ladang menghentikan aktivitas mereka untuk memberi salam ketika rombongan lewat. Anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan memandang kagum kepada para pengawal bersenjata, sementara beberapa pedagang yang berpapasan segera menepi agar kereta logistik dapat terus melaju.

"Kalau setiap misi seperti ini, mungkin pekerjaannya tidak terlalu berat."

gumam Hector sambil tersenyum kecil.

Melinda menggeleng pelan.

"Jangan lengah."

"Hutan di depan jauh lebih lebat."

"Kita belum tahu apa yang menunggu di sana."

Ryosuke tidak menanggapi percakapan itu.

Sejak meninggalkan benteng, pandangannya tidak pernah berhenti mengamati keadaan sekitar. Ia memperhatikan jalur roda di tanah, posisi pepohonan di kanan dan kiri jalan, serta suara-suara yang terbawa angin dari dalam hutan.

Beberapa saat kemudian, jalan mulai memasuki kawasan yang jauh lebih sunyi.

Pepohonan tumbuh semakin rapat hingga sinar matahari hanya mampu menembus melalui celah-celah kecil di antara dedaunan. Suasana berubah lebih tenang dibandingkan sebelumnya, bahkan suara burung yang sejak pagi terdengar bersahutan kini mulai berkurang.

Melinda memperlambat langkahnya.

Ia berjongkok di tepi jalan, memperhatikan permukaan tanah selama beberapa saat.

Ryosuke menghampirinya.

"Ada apa?"

Melinda mengangkat pandangan.

"Jejak."

Ia menunjuk bekas pijakan yang masih terlihat samar di atas tanah yang lembap.

"Ini bukan jejak kereta."

"Bukan pula jejak hewan."

Ryosuke ikut memperhatikannya.

Bekas itu masih baru.

Dan jumlahnya tidak sedikit.

Ryosuke berlutut di samping Melinda, memperhatikan dengan saksama bekas pijakan yang tampak samar di atas tanah lembap. Jejak-jejak itu saling bertumpuk, sebagian mengarah ke dalam hutan, sementara sebagian lain memotong jalan yang sedang mereka lalui. Dari bentuknya saja sudah terlihat bahwa pijakan tersebut bukan berasal dari rusa ataupun hewan liar lain yang biasa hidup di kawasan itu.

"Masih baru." ucap Melinda pelan.

"Belum lama lewat."

Ia mengusap permukaan tanah dengan ujung jarinya sebelum memperlihatkan tanah yang masih lembap kepada Ryosuke.

"Kalau hujan semalam sudah mengering seluruhnya, jejak seperti ini tidak akan bertahan."

Ryosuke menganggukkan kepala.

Ia berdiri perlahan lalu mengangkat tangan sebagai isyarat agar seluruh rombongan berhenti.

Ketiga kereta logistik segera menghentikan laju mereka.

Para kusir saling berpandangan dengan wajah bingung, tetapi tidak mengajukan pertanyaan. Mereka mempercayakan sepenuhnya keamanan perjalanan kepada Regu Shugo Ryu.

"Ada sesuatu?" tanya Hector sambil menghampiri.

Melinda menunjuk ke arah jejak tersebut.

"Banyak orang melewati jalan ini."

"Bukan rombongan pedagang."

"Bukan juga penduduk desa."

Hector mengamati tanah beberapa saat, tetapi ia tidak memiliki kemampuan membaca jejak seperti adiknya.

"Apa kita harus memeriksanya?"

Ryosuke menggeleng pelan.

"Tugas kita mengawal logistik."

"Bukan mengejar siapa pun."

Jawaban itu langsung dipahami oleh seluruh anggota regu.

Alfaro telah menegaskan sebelum keberangkatan bahwa keselamatan kereta menjadi prioritas utama. Selama tidak ada ancaman langsung terhadap rombongan, mereka tidak memiliki alasan meninggalkan jalur pengawalan.

"Melinda."

"Terus awasi keadaan sekitar."

Melinda menganggukkan kepala.

"Hector."

"Pastikan tidak ada yang mendekati kereta dari belakang."

"Baik."

"Hana."

"Periksa kembali kondisi kusir dan kuda."

Hana segera melaksanakan perintah tersebut tanpa menunda.

Meskipun tugasnya bukan bertarung, ia memahami bahwa kondisi kuda sama pentingnya dengan kondisi para pengawal. Kereta logistik tidak akan sampai ke tujuan apabila salah satu kudanya terluka atau kelelahan.

Setelah seluruh pemeriksaan selesai, perjalanan kembali dilanjutkan.

Semakin jauh mereka memasuki kawasan hutan, suasana di sekeliling menjadi semakin sunyi. Angin berembus perlahan di antara pepohonan tinggi, menggoyangkan dedaunan hingga menimbulkan suara gemerisik yang terus mengiringi langkah rombongan.

Beberapa kali Melinda berhenti untuk memastikan arah perjalanan tetap aman.

Ia menemukan beberapa jejak tambahan yang mengarah menjauh dari jalan utama, tetapi tidak satu pun menunjukkan tanda bahwa pemiliknya sedang mengawasi rombongan.

Ryosuke memilih untuk tetap menjaga formasi.

Ia tidak ingin mengambil risiko hanya karena rasa ingin tahu.

Waktu terus berjalan.

Matahari mulai bergerak tinggi ketika pepohonan perlahan berkurang dan jalan kembali terbuka. Hamparan ladang gandum mulai terlihat di kejauhan, disusul beberapa rumah kayu sederhana yang berdiri berjauhan satu sama lain.

"Asap."

ucap Hana sambil menunjuk ke arah depan.

Dari kejauhan tampak kepulan asap tipis membubung dari cerobong beberapa rumah.

"Itu desa tujuan kita."

kata salah seorang kusir dengan wajah lega.

Tidak lama kemudian rombongan memasuki gerbang desa perbatasan.

Beberapa penduduk yang sedang bekerja langsung menghentikan aktivitas mereka ketika melihat tiga kereta logistik memasuki desa. Wajah-wajah lelah mereka perlahan berubah lega.

"Logistik dari Benteng Vargan!"

"Persediaan akhirnya datang!"

Beberapa prajurit garnisun kecil segera menghampiri kereta dan membantu menurunkan muatan. Gandum dipindahkan ke gudang penyimpanan, peti obat dibawa menuju balai pengobatan sederhana, sementara perlengkapan pandai besi langsung diterima oleh pengrajin desa.

Seorang perwira garnisun kemudian mendekati Ryosuke.

"Kalian datang tepat waktu."

"Persediaan kami hampir habis."

Ryosuke menganggukkan kepala.

"Tugas kami hanya memastikan semuanya tiba dengan selamat."

Perwira itu tersenyum.

"Dan kalian melaksanakannya dengan baik."

Sementara proses pembongkaran berlangsung, Hana membantu membagikan beberapa peti obat kepada petugas desa. Hector ikut memindahkan karung-karung gandum yang beratnya hampir tidak mampu diangkat orang lain, sedangkan Melinda memanfaatkan waktu untuk mengamati keadaan sekitar desa.

Ia memperhatikan pagar kayu yang mulai lapuk, menara pengawas yang sederhana, serta wajah-wajah penduduk yang hidup dalam bayang-bayang perang.

Ketika seluruh logistik selesai diserahkan, rombongan bersiap kembali ke Benteng Vargan.

Sebelum berangkat, Ryosuke memandang desa itu untuk terakhir kalinya.

Tidak ada sorak kemenangan.

Tidak ada pertempuran.

Namun ia menyadari bahwa misi hari itu sama pentingnya dengan mengangkat pedang di medan perang.

Persediaan makanan yang mereka kawal akan menghidupi penduduk selama beberapa waktu. Obat-obatan yang mereka bawa dapat menyelamatkan mereka yang terluka. Terkadang, menjaga kehidupan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mengalahkan musuh.

Dengan pemahaman baru itu, Regu Shugo Ryu meninggalkan desa perbatasan dan memulai perjalanan pulang menuju barak, tanpa mengetahui bahwa penugasan berikutnya akan membawa mereka menyaksikan secara langsung jejak kehancuran yang ditinggalkan oleh perang dan menjadi awal dari peristiwa baru yang menanti mereka.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!