NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Kecil yang Penuh Cinta

Ada kalanya seseorang baru tahu siapa yang benar-benar peduli saat dirinya berada di titik paling rendah.

Bukan ketika sedang tertawa.

Bukan ketika sedang sukses.

Bukan ketika sedang punya banyak uang.

Melainkan ketika hidup sedang berantakan.

Dan setelah melahirkan Shella dan Sherly, Nandin mulai melihat satu per satu wajah orang-orang yang benar-benar tulus menyayanginya.

Tiga hari setelah persalinan, dokter akhirnya mengizinkan Nandin pulang.

Pagi itu cuaca cerah.

Sinar matahari masuk melalui jendela kamar rawat.

Mengenai wajah mungil Shella yang sedang tidur di gendongan ibunya.

Sementara Sherly tertidur pulas di ranjang bayi.

Nandin memandangi keduanya bergantian.

Masih sulit percaya.

Kini ia benar-benar menjadi seorang ibu.

Bukan satu anak.

Melainkan dua sekaligus.

"Sudah siap pulang?" tanya ibunya sambil melipat pakaian bayi.

Nandin tersenyum.

"Siap, Bu."

Meski tubuhnya masih terasa nyeri pasca melahirkan, hatinya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa hari lalu.

Setidaknya sekarang ia tidak sendirian.

Ayah dan ibunya ada di sampingnya.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Ayahnya sedang mengurus administrasi rumah sakit.

Sementara ibunya sibuk memastikan semua perlengkapan bayi masuk ke dalam tas.

Melihat pemandangan itu, dada Nandin terasa hangat.

Kadang Tuhan memang tidak mengirim pertolongan dalam bentuk yang kita harapkan.

Ia berharap suaminya datang.

Namun yang datang justru kedua orang tuanya.

Dan ternyata itu jauh lebih berarti.

Perjalanan pulang menuju kontrakan berlangsung hampir satu jam.

Sepanjang perjalanan, Nandin memeluk Shella.

Sedangkan ibunya memangku Sherly.

Sesekali kedua bayi itu merengek kecil.

Membuat seluruh isi mobil langsung panik.

"Astaga..."

Ibunya langsung menggendong Sherly lebih hati-hati.

"Kenapa ini?"

"Mungkin lapar."

Ayahnya tertawa kecil dari kursi depan.

"Cucu Ayah suaranya nyaring juga."

Nandin ikut tertawa.

Sudah lama ia tidak merasakan suasana hangat seperti ini.

Sangat lama.

Begitu mobil memasuki gang kontrakan, Nandin tertegun.

Beberapa tetangga ternyata sudah menunggu.

Bu Rini berdiri paling depan.

Di sampingnya ada Bu Ratna.

Bu Sulastri.

Pak Darto pemilik kontrakan.

Bahkan beberapa pelanggan kateringnya ikut datang.

"Alhamdulillah!"

Bu Rini langsung berlari kecil menghampiri.

"Wah cantiknya!"

"Nggemesin banget."

"Ya Allah mirip ibunya."

Suasana langsung ramai.

Semua orang bergantian melihat Shella dan Sherly.

Ada yang membawa pisang.

Ada yang membawa bubur kacang hijau.

Ada yang membawa susu.

Ada yang membawa pakaian bayi.

Nandin sampai tidak tahu harus berterima kasih kepada siapa lebih dulu.

Rumah kontrakan kecil itu mendadak penuh.

Dan untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi ke Korea...

Nandin merasa tidak kesepian.

Malam pertama di rumah terasa sangat melelahkan.

Shella dan Sherly bergantian menangis.

Baru satu tertidur.

Yang satu bangun.

Baru satu selesai menyusu.

Yang satu ikut menangis.

Nandin yang masih dalam masa pemulihan hampir kewalahan.

Untung ibunya selalu sigap.

"Nih, Ibu gendong Sherly."

"Nanti Shella sama kamu."

"Kalau dua-duanya nangis gimana, Bu?"

Ibunya tertawa.

"Ya kita ikut nangis."

Mereka berdua tertawa bersama.

Untuk sesaat, semua masalah terasa jauh.

Hari-hari berikutnya berlalu cepat.

Kontrakan Nandin hampir tidak pernah sepi.

Setiap hari selalu ada tamu.

Ada tetangga.

Ada pelanggan katering.

Ada ibu-ibu pengajian.

Ada guru TK yang pernah menjadi pelanggan.

Semua datang membawa doa dan perhatian.

"Nandin, ini ada sedikit rezeki buat bayi."

"Nggak usah, Bu."

"Sudah terima saja."

"Terima kasih."

Kadang yang diberikan hanya sebungkus popok.

Kadang susu.

Kadang pakaian bayi.

Kadang amplop kecil.

Namun semuanya terasa begitu berharga.

Karena diberikan dengan tulus.

Di sela-sela kunjungan itu, satu pertanyaan selalu muncul.

Pertanyaan yang sama.

Berulang-ulang.

"Suaminya mana?"

"Belum pulang dari Korea?"

"Kok nggak kelihatan?"

"Bu Sri nggak datang?"

Awalnya Nandin hanya tersenyum.

Mengalihkan pembicaraan.

Namun semakin lama, orang-orang mulai tahu kenyataannya.

Karena Bu Rini tanpa sengaja menceritakan sebagian kisah Nandin.

Tentang bagaimana Nandin hamil sendirian.

Tentang bagaimana ia membiayai hidupnya sendiri.

Tentang bagaimana ia melahirkan tanpa suami.

Dan tentang bagaimana Wisnu lebih sering mengirim uang kepada ibunya.

Berita itu menyebar cepat.

Sangat cepat.

Lebih cepat dari yang dibayangkan siapa pun.

Suatu sore, beberapa ibu sedang duduk di teras kontrakan.

Shella dan Sherly tertidur pulas.

Nandin sedang menyeduh teh.

Dan seperti biasa, topik pembicaraan kembali mengarah ke Ibu Sri.

"Kalau saya jadi Nandin, saya sudah ngamuk dari dulu."

Bu Ratna menggeleng-geleng.

"Parah memang."

"Anaknya kerja jauh-jauh."

"Yang menikmati ibunya."

"Padahal cucunya lahir."

"Iya."

"Tapi nggak pernah datang."

Bu Sulastri ikut menyahut.

"Rumahnya direnovasi besar-besaran lho."

"Serius?"

"Serius."

"Katanya pakai uang kiriman Wisnu."

Nandin hanya diam.

Ia tidak ikut menanggapi.

Namun semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dan sejak saat itu...

Nama Ibu Sri mulai menjadi bahan gunjingan.

Bahkan di grup pengajian.

Di warung.

Di arisan.

Orang-orang mulai membicarakannya.

"Kasihan Nandin."

"Untung anaknya kuat."

"Kalau aku jadi dia mungkin sudah pulang ke orang tua."

"Memangnya Bu Sri nggak malu?"

Semakin hari semakin banyak yang tahu.

Dan semakin banyak pula yang tidak setuju dengan sikap Ibu Sri.

Karena di mata masyarakat sekitar...

Apa yang dilakukan wanita itu memang keterlaluan.

Sementara itu, Ibu Sri mulai merasakan dampaknya.

Suatu pagi saat sedang berbelanja di pasar, beberapa orang terlihat berbisik-bisik.

Begitu ia lewat.

Mereka langsung diam.

Namun saat ia menjauh.

Bisikan itu terdengar lagi.

Ibu Sri tentu tidak bodoh.

Ia tahu sedang dibicarakan.

Dan hal itu membuatnya kesal.

Sangat kesal.

Beberapa hari kemudian, ia akhirnya datang ke kontrakan Nandin.

Untuk pertama kalinya sejak kelahiran cucu-cucunya.

Kedatangannya membuat semua orang terkejut.

Nandin yang sedang menjemur pakaian bayi langsung menoleh.

Dan melihat sosok ibu mertuanya berdiri di depan pagar.

Jantungnya langsung berdebar.

Entah karena marah.

Entah karena kecewa.

Entah karena apa.

Yang jelas, kedatangan itu terasa sangat terlambat.

"Bu."

sapa Nandin datar.

Ibu Sri masuk tanpa senyum.

Tatapannya langsung tertuju pada dua bayi yang sedang tidur.

"Itu cucuku?"

Nandin mengangguk.

Untuk beberapa detik, wanita itu memandangi Shella dan Sherly.

Lalu berkata,

"Mirip Wisnu."

Kalimat yang sebenarnya biasa saja.

Namun entah kenapa terasa sangat asing.

Karena sejak awal, ia bahkan tidak pernah peduli pada keberadaan mereka.

Ibunda Nandin yang sedang berada di dapur langsung keluar.

Wajahnya berubah ketika melihat Ibu Sri.

Namun wanita itu tetap berusaha sopan.

"Silakan duduk."

Ibu Sri duduk.

Suasana langsung canggung.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

Sampai akhirnya ayah Nandin muncul dari kamar.

Dan untuk pertama kalinya...

Kedua orang tua itu bertatap muka.

Ayah Nandin menatap tajam ke arah Ibu Sri.

Tidak marah.

Namun cukup tegas.

"Kami ingin bicara."

Ibu Sri terlihat tidak nyaman.

"Tentang apa?"

"Tentang anak kami."

Suasana langsung menegang.

"Apa yang terjadi dengan Nandin selama Wisnu di Korea?"

tanya Ayah.

Ibu Sri terdiam.

"Kami cuma ingin penjelasan."

"Kan sudah dijelaskan."

"Belum."

Suara Ayah mulai dingin.

"Sampai anak saya melahirkan, tidak ada yang menemaninya."

"Kan ada saya..."

Ayah langsung memotong.

"Ibu datang ke rumah sakit?"

Tidak ada jawaban.

"Ibu menjenguk?"

Tetap diam.

"Ibu membantu biaya persalinan?"

Masih diam.

Ruangan menjadi sunyi.

Sangat sunyi.

Karena semua orang tahu jawabannya.

Tidak.

Ibu Nandin yang selama ini diam akhirnya berbicara.

Suaranya pelan.

Namun penuh luka.

"Saya cuma punya satu anak."

Air matanya mulai menggenang.

"Satu-satunya."

Nandin langsung menunduk.

Matanya ikut panas.

"Selama berbulan-bulan saya nggak bisa tidur."

"Saya kepikiran terus."

"Anak saya makan nggak."

"Kontrol kandungan nggak."

"Sehat nggak."

Tangisan mulai pecah.

Dan suasana menjadi semakin emosional.

"Sementara kami dengar rumah Ibu direnovasi."

Kalimat itu membuat wajah Ibu Sri memerah.

Untuk pertama kalinya sejak sekian lama...

Wanita itu tidak bisa menjawab.

Karena apa yang dikatakan orang tua Nandin memang benar.

Dan di hadapan kenyataan itu...

Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membela diri.

Malam itu setelah Ibu Sri pulang, suasana rumah terasa lebih tenang.

Ayah duduk di ruang tamu.

Ibunya sedang menidurkan Sherly.

Sedangkan Shella tertidur di pelukan Nandin.

Nandin memandangi wajah mungil putrinya.

Lalu tersenyum kecil.

Mungkin hidupnya masih jauh dari kata sempurna.

Mungkin masalahnya belum selesai.

Mungkin Wisnu masih belum berubah.

Namun setidaknya...

Ia tahu satu hal.

Ia dicintai.

Bukan oleh suaminya.

Melainkan oleh banyak orang yang benar-benar peduli.

Tetangga.

Pelanggan.

Teman.

Dan terutama kedua orang tuanya.

Orang-orang yang tetap memilih berada di sisinya saat dunia terasa runtuh.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak melahirkan...

Nandin tidur dengan hati yang sedikit lebih tenang.

Karena rumah kecilnya mungkin sederhana.

Tapi rumah itu dipenuhi sesuatu yang tidak dimiliki semua orang.

Cinta.

Dan cinta itu datang dari orang-orang yang benar-benar tulus menyayanginya.

1
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!