Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08 Rencana Gagal (!)
Keesokan harinya, meskipun semalam Da Xie menjadi kurang tidur karena harus mengurusi Pemuda yang aneh itu, tetapi dirinya masih harus tetap bekerja.
Da Xie duduk ditepian kasur dan menunggu dua Dayang untuk masuk dan membantunya mempersiapkan diri. Tetapi, setelah ditunggu lama, dua dayang itu tak kunjung datang.
Da Xie yang sebal akhirnya berdiri dan berjalan keluar, hendak pergi kekediaman para dayang berada.
Sebenarnya, Da Xie bisa bersiap sendiri. Namun sayangnya, mempersiapkan diri di dunia ini jauh lebih ribet daripada di dunia modern. Jadi, ia akan meminta bantuan dayang saja karena malas.
Ketika sampai didepan paviliun kediaman para Dayang, Da Xie langsung dapat melihat keberadaan Dayang Ra dan Dayang Ya. Namun anehnya, mereka malah sedang menjemur baju sembari bergosip ria.
'Ck! Sebenarnya kenapa mereka malah berbincang ria disini dan bukannya pergi kekamar ku sih?!!' Batin Da Xie kesal.
Da Xie berjalan mendekat kearah dua Dayang tersebut, namun dirinya langsung menghentikan langkah ketika mendengar apa yang dua Dayang bicarakan.
"Ya ampun, semalam aku mendengarkan teriakan Maharani Agung dari paviliun-nya. Sepertinya dia sangat menikmati malamnya bersama pemuda itu." Dayang Ra berucap lebih dulu.
"Semalam juga, kudengar para pengawal sampai panik dan mendobrak masuk ke paviliun Maharani Agung karena kaget. Mereka kira ada penyusup, tetapi yang mereka dapat adalah pemandangan Maharani Agung yang sedang bermesraan." Dayang Ya ikut menimpali.
"Maharani Agung kita ini, tak disangka dia mempunyai selera terhadap pria tampan juga. Kukira Maharani Agung tak akan menyukai pria karena dia hanya sibuk bekerja." Dayang Ra berkata dengan antusias.
"Oh, jadi menurutmu Maharani Agung kalian itu punya selera yang bagus ya?" Da Xie yang geram mendengarkan perkataan mereka berdua akhirnya ikut menimpali.
Dayang Ya kaget dengan keberadaan Maharani Agung. Dia segera berdiam membisu sembari memaksakan senyum kepada Da Xie.
"Iya! Meskipun pria itu punya cacat, tapi tubuhnya bagus. Dan dia juga bisa memuaskan Maharani Agung di ranjang!" Dayang Ra terus berceloteh. Sedangkan Dayang Ya berusaha meng-kode kembarannya itu agar diam.
"Ra! Ra!" Bisik Dayang Ya.
"Ada apa sih Ya? Kenapa kau terlihat ketakutan begitu?" Dayang Ra bertanya polos.
"Lihat belakangmu!" Dayang Ya berkata dengan geram.
Dayang Ra menoleh kebelakang, dan seketika itu pula wajahnya menjadi pucat pasi. Ia mencoba tersenyum semanis mungkin melihat Da Xie.
"S–Selamat pagi Maharani Agung." Sapa Dayang Ra dengan nada terpaksa.
"Apa kalian akhirnya selesai bergosip?" Geram Da Xie.
Dayang Ra memaksakan untuk tertawa. "Haha, apa yang Maharani Agung katakan? Kami berdua tidak bergosip kok. Hanya... Berbincang ringan saja."
Da Xie menatap Dayang Ra dengan malas. Ia menyilang kan kedua tangannya dengan malas.
Melihat Maharani Agung yang sepertinya marah kepada mereka berdua, Dayang Ya berusaha mengganti topik pembicaraan. "Ngomong-ngomong, apa yang membuat Maharani Agung datang ke paviliun ini?"
"Huh! Aku bertanya-tanya kenapa kalian belum ke paviliun ku dan membantu diriku bersiap. Ternyata kalian malah sedang asyik bergosip ria!" Jawab Da Xie dengan nada ketus.
Keduanya saling tatap, sebelum akhirnya Dayang Ya kembali berbicara, "Tetapi, bukankah hari ini Maharani Agung tidak bekerja?"
"Kenapa aku tidak bekerja?" Bingung Da Xie. Kenapa ketika dirinya sedang rajin seperti ini, tiba-tiba saja dirinya jadi tidak perlu bekerja.
"Anda kan telah melalui malam yang panjang." Jawab Dayang Ra ringan. Dayang Ya disebelahnya segera menyumpal mulut kembarannya dengan tangan ketika melihat mata mendelik Da Xie.
"Hahaha... Jika Maharani Agung masih punya tenaga untuk bekerja. Maka kami akan segera membantu anda bersiap-siap. Mari, Maharani Agung!" Dayang Ya berusaha mengalihkan pembicaraan lagi.
Mereka bertiga akhirnya berjalan pergi dari paviliun setelah Dayang Ya dan Dayang Ra selesai menjemur pakaian.
Dalam perjalanannya, Dayang Ya berkata kepada Dayang Ra, "Ayolah Ra. Tidak bisakah kau menjaga omonganmu itu?"
"Kenapa? Aku kan hanya mengucapkan fakta." Mendengar jawaban tidak berbobot itu, dayang Ya hanya bisa menghela nafas. Padahal, Dayang Ra itu adalah kakaknya, tetapi kenapa rasanya Dayang Ya yang mengemban tugas menjadi kakak.
...****************...
Setelah drama tidak jelas pada pagi hari itu, akhirnya Da Xie bisa bekerja lagi. Jujur, Da Xie juga bingung pada dirinya sendiri. Padahal ia tidak suka bekerja, tetapi kenapa malah tadi dirinya mengajukan diri untuk bekerja yah?
'Oh! Mungkin karena hari ini adalah hari terakhir bekerja. Jadi aku harus rajin bukan?' Batin Da Xie.
Da Xie jadi teringat tentang kejadian kemarin. Dimana dirinya berjanji kepada Menterinya untuk turun takhta kalau kekaisaran mengalami kerugian karena kebijakan yang ia buat. Tentu saja kekaisaran akan rugi karena kebijakan itu, sekarang Da Xie hanya perlu menunggu menteri itu untuk datang dan protes kepadanya.
"Salam kepada Maharani Agung. Saya Dayang dari paviliun sebelah telah diperintahkan oleh Menteri Song untuk memanggil anda dikarenakan Menteri Song ada keperluan dengan Anda." Dari luar ruang kerja, terdengar suara seseorang wanita yang memanggil Da Xie.
"Wah, panjang umur!" Ucap Da Xie girang.
....
Da Xie menatap sekelilingnya. Ini adalah paviliun tempat menginap sekaligus bekerja dari menteri tua yang kemarin. Tempatnya lebih kecil dari miliknya, tetapi tetap nyaman dan damai.
Da Xie akhirnya sampai dihadapan sebuah pintu yang menurut sang Dayang adalah pintu masuk ke ruang kerja menteri. Dayang itu pergi dari sana untuk membiarkan Da Xie dan menteri berbicara berdua.
Da Xie diam sejenak. Ia sedang berpikir kata-kata apa yang pantas digunakan untuk nanti agar dirinya bisa turun takhta. Dalam pikirannya, sudah banyak sekali gambaran mengenai apa yang terjadi.
'Nah! Nanti aku tinggal begini begini lalu begitu begitu begitu lalu turun takhta deh!!' Batin Da Xie.
Da Xie akhirnya membuka pintu dihadapannya. Didalam, sudah terdapat Menteri Song yang sedari tadi menunggunya.
"Akhirnya anda datang, Maharani Agung. Silahkan duduk dihadapan saya ini." Dengan pandangan yang tertuju pada Da Xie, Menteri Song mengelus janggut panjangnya.
Da Xie menurut. Ruang kerja Menteri Song tidak menggunakan kursi kayu. Melainkan hanya beralaskan bantal untuk duduk dengan meja rendah.

Dengan senyuman gembira diwajahnya, Da Xie memulai pembicaraan. "jadi, ada kabar apa sampai membuat Bapak mencari saya?"
Menteri Song terlihat menunduk dalam-dalam. Ia kembali mendongak dengan pandangan mata tulus dan rasa bersalah. Hal ini membuat Da Xie bingung.
"Maharani Agung, saya ingin meminta maaf." Ucapan Menteri itu membuat Da Xie memiringkan kepalanya.
"Ya? Untuk apa?" Tanya Da Xie.
"Saya sudah meragukan penilaian anda. Ternyata keputusan anda untuk menurunkan harga batu bara adalah keputusan yang benar." Jelas Menteri.
"Benar bagaimana? Bukannya kita jadi rugi karena penurunan harga yang tidak main-main itu?" Da Xie benar-benar tidak paham.
"Kemarin telah ditemukan banyak sekali tambang batu bara di banyak wilayah kekaisaran timur. Hal ini membuat batu bara menjadi tidak langka. Tetapi penurunan harga batu bara ini justru menjadi ide cerdas karena batu bara kita telah terjual laris kemarin, membuat kita tidak terlalu rugi banyak." Jelas sang Menteri panjang lebar.
Meskipun telah dijelaskan panjang lebar, Da Xie masih tidak mengerti. "Tunggu, maksudnya kita tidak jadi rugi nih?"
"Benar Maharani Agung. Bahkan karena kebijakan penurunan harga batu bara kemarin itu, kita telah meminimalisir kerugian yang seharusnya kita dapat hari ini. Anda benar-benar bijak dalam membuat keputusan, Maharani Agung. Saya tidak sabar menantikan kebijaksanaan anda berikutnya."
Da Xie yang mendengar hal ini seketika menjadi gila sendiri. Ini benar-benar aneh, rencana yang seharusnya digunakan untuk membuatnya turun takhta malah berakhir membuatnya dikira orang bijak.
"Sialan..." Da Xie tanpa sadar mengumpat membuat Menteri Song kebingungan.
"Ada apa Maharani Agung?"
"Pak... Semoga anda cepat tutup usia!" Ucap Da Xie dengan kesal.