Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah di atas darah dan mawar
Dua minggu menuju pernikahan adalah waktu yang paling sibuk sekaligus paling menyesakkan bagi Olivia. Mansion De Luca berubah menjadi pusat komando. Bukan lagi tentang senjata, melainkan tentang sutra, katering, dan protokol keamanan tingkat tinggi. Kehadiran Margaret dan Arthur di villa Marbella dipindahkan kembali ke salah satu paviliun tamu di mansion Madrid agar mereka bisa menyaksikan putri tunggal mereka menikah.
Arthur, yang kondisinya membaik berkat perawatan intensif dokter pribadi Leonardo, sering terlihat duduk di teras bersama Donna Isabella. Mereka adalah dua orang tua yang sama-sama menginginkan stabilitas bagi anak-anak mereka, meski berasal dari dunia yang bertolak belakang.
"Leonardo pria yang keras, Arthur. Tapi dia pria yang memegang kata-katanya," ucap Isabella suatu sore.
"Aku tahu, Isabella. Aku melihat cara anak buahnya tunduk padanya. Tapi yang paling penting bagiku adalah bagaimana dia menatap Olivia. Dia tidak menatapnya seperti mainan. Dia menatapnya seperti... nyawanya," balas Arthur pelan.
Di sisi lain mansion, Olivia sedang berdiri di depan cermin besar di ruang ganti utama. Empat penjahit asal Paris sedang berlutut di sekelilingnya, menyematkan jarum pada gaun pengantin berbahan lace mewah yang dipesan khusus oleh Leonardo. Gaun itu menutupi leher hingga pergelangan tangan, sangat elegan dan sopan—sesuai dengan keinginan Leonardo yang sangat posesif. Pria itu tidak ingin ada pria lain yang melihat kulit istrinya lebih dari yang diperlukan.
Brak.
Pintu terbuka. Leonardo masuk tanpa mengetuk. Ia masih mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, wajahnya tampak lelah setelah menghabiskan malam di markas untuk memastikan klan Navarro benar-benar musnah. Para penjahit segera menunduk hormat dan mundur ke sudut ruangan.
Leonardo berhenti di tengah ruangan. Matanya menyisir sosok Olivia yang terbalut gaun putih suci. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Denyutan yang sekarang menjadi teman setianya setiap melihat Olivia kembali terasa—kuat dan menuntut.
"Keluar," perintah Leonardo pada para penjahit.
Begitu pintu tertutup, Leonardo melangkah mendekat. Ia berdiri di belakang Olivia, menatap pantulan gadis itu di cermin. Tangan besarnya naik, mengusap bahu Olivia yang terbalut kain tipis.
"Orang tuamu sudah setuju untuk tinggal di sini sampai upacara selesai," suara Leonardo rendah, bergetar di dekat telinga Olivia.
"Terima kasih, Leonardo. Ayah terlihat jauh lebih sehat," ucap Olivia jujur. Ia berbalik, menatap pria yang dalam hitungan hari akan menjadi suaminya. "Tapi... apakah semua ini benar-benar perlu? Kemewahan ini, penjagaan ini?"
"Sangat perlu. Besok adalah hari di mana kau resmi menjadi Nyonya De Luca. Di depan Tuhan dan di depan hukum Spanyol," Leonardo mencengkeram pinggang Olivia, menariknya mendekat hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak. "Aku telah membersihkan jalanan Madrid dari musuhku. Tidak akan ada gangguan. Hanya ada kau dan aku."
"Kau sangat yakin dengan pernikahan ini," gumam Olivia. "Padahal kau tahu aku menikahimu karena aku butuh perlindunganmu untuk ayahku."
Leonardo terdiam sejenak. Ia mengangkat dagu Olivia, memaksa gadis itu menatap kegelapan di matanya yang kini bercampur dengan gairah yang tertahan.
"Aku tidak peduli apa alasanmu di awal, Olivia. Tapi lihat aku," tekan Leonardo lugas. "Apakah kau pikir aku melakukan semua ini hanya untuk transaksi? Aku bisa membayar biaya rumah sakit ayahmu tanpa harus menikahimu. Aku melakukannya karena aku menginginkanmu sebagai bagian dari diriku. Secara utuh."
Leonardo membungkuk, mencium leher Olivia dengan kasar namun penuh pemujaan. Olivia memejamkan mata, merasakan sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia benci betapa mudahnya tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan pria dominan ini.
"Ingat satu hal," bisik Leonardo di ceruk leher Olivia. "Setelah cincin itu melingkar di jarimu besok, tidak akan ada pintu yang terkunci bagiku. Kamarmu adalah kamarku. Tubuhmu adalah wilayahku. Dan aku akan menebus sepuluh tahun kematianku di dalam dirimu malam itu juga."
Olivia gemetar. Bukan karena takut, tapi karena antisipasi yang tidak bisa ia jelaskan. Pria Spanyol di depannya ini adalah seorang predator yang jujur. Ia tidak merayu dengan kata-kata manis; ia menyatakan klaimnya dengan otoritas yang absolut.
"Mandilah dan istirahatlah," Leonardo melepaskan pelukannya, mencoba menguasai dirinya sendiri sebelum ia melanggar sumpahnya sendiri untuk menunggu hingga besok. "Ibuku akan menemanimu makan malam bersama orang tuamu. Aku harus kembali ke markas untuk memastikan keamanan rute menuju gereja besok pagi."
Leonardo berbalik dan pergi, meninggalkan Olivia yang masih terpaku di depan cermin. Gaun putih itu terasa sangat berat sekarang. Ia menyadari bahwa besok bukan hanya hari pernikahannya, tapi hari di mana ia akan benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sendiri dan masuk sepenuhnya ke dalam pelukan singa yang lapar.
Di luar, orang tua Olivia melihat Leonardo masuk ke mobil bajanya. Mereka memberikan anggukan hormat. Bagi mereka, Leonardo adalah penyelamat. Bagi Olivia, dia adalah takdir yang menuntut segalanya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...