(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Semakin menegang
Suasana ruang makan berubah menjadi jauh lebih berat setelah pernyataan itu, tidak ada lagi kehangatan yang sebelumnya sempat terasa dari aroma sarapan atau percakapan ringan di pagi hari. Udara seolah dipenuhi ketegangan yang tidak terlihat, menekan semua orang dalam diam.
Tuan Herman tidak lagi terlihat sesantai beberapa menit lalu, jemarinya bergerak pelan di atas meja, pertanda bahwa ada sesuatu yang mulai mengusik pikirannya.
Di sampingnya, Kevin mempertahankan ekspresi tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi seringan sebelumnya. Ia mulai memandang Raka sebagai sesuatu yang perlu diperhitungkan, bukan sekadar pewaris hilang yang pulang tanpa arah.
Di sisi lain meja, Selina menyandarkan tubuh sambil memperhatikan keadaan dengan tatapan tajam, ada kepuasan kecil yang ia sembunyikan ketika melihat bagaimana Raka tetap tenang di bawah tekanan.
Sosok keras kepala yang dulu ia kenal perlahan terlihat kembali, hanya saja kali ini terasa lebih dewasa dan lebih sulit ditebak.
Nyonya Shanum tampak menggenggam jemarinya sendiri di bawah meja, kekhawatiran bercampur harapan terlihat jelas di wajahnya.
Setelah bertahun-tahun kehilangan anaknya, pagi itu menjadi pertama kalinya ia melihat putranya kembali berdiri di tengah keluarga, bukan sebagai seseorang yang melarikan diri, tetapi sebagai pria yang perlahan mulai mengambil kembali tempatnya.
Sementara itu, Tuan Rendra tetap berdiri dengan ekspresi sulit dibaca. Tatapannya beberapa kali beralih dari Raka menuju Herman.
Ada sesuatu yang sedang ia timbang dalam pikirannya, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar konflik keluarga biasa, ini tentang masa depan nama besar Pradipta.
Keheningan berlangsung beberapa saat sebelum seseorang akhirnya memecah suasana.
“Tentu saja, tetapi dengan syarat. Dalam waktu satu bulan, kau harus membuat keuangan perusahaan meningkat, tanpa bantuanku,” ucapnya datar.
Setelah ucapan itu terdengar, perhatian seluruh ruangan kembali mengarah pada meja utama, para pelayan yang sejak tadi memilih diam tampak semakin tegang, bahkan beberapa dari mereka menahan napas, takut salah langkah di tengah situasi yang mulai memanas itu.
Herman perlahan mengubah posisi duduknya, senyum tipis kembali muncul di wajahnya, tetapi kali ini terasa lebih tajam, seperti seseorang yang tidak mau kehilangan kesempatan begitu saja.
“Tidak hanya itu, kau harus bisa membuat semua direksi percaya kepadamu,” timpal Herman dengan nada yang meremehkan.
Kevin ikut mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tatapannya tertuju lurus pada Raka, seolah sedang mengukur seberapa jauh pria itu benar-benar berubah setelah bertahun-tahun hidup jauh dari keluarga besar mereka.
“Aku setuju, sepertinya Om Rendra benar, jika kak Raka berhasil, dengan suka rela aku akan membiarkan mu memimpin semua proyek yang ku tangani,” ucapnya dengan santai.
Raka tetap terlihat tenang, ia tidak buru-buru bereaksi, jemarinya bergerak pelan menyentuh cangkir yang mulai kehilangan uap panasnya, sementara ekspresinya tetap datar. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat semua orang terdiam bahkan Selina tanpa sadar ikut memperhatikannya lebih serius.
Tuan Rendra akhirnya menatap semua orang, wajahnya tetap tegas sementara tatapannya bergantian mengarah pada Raka dan Herman.
Suasana masih terasa menekan, bahkan dentingan kecil sendok di atas piring terdengar begitu jelas di tengah keheningan itu.
“Sudah cukup,” ucap Tuan Rendra dengan suara berat dan tenang. “Aku tidak suka membahas hal ini.”
Tuan Herman menyandarkan tubuh ke kursi sambil tersenyum tipis, meski kali ini jelas terlihat ada ketegangan di wajahnya.
“Kak, aku hanya mencoba untuk realistis,” balas Herman santai. “Perusahaan sebesar Pradipta Grup tidak bisa menunggu terlalu lama. Direksi mulai mempertanyakan semuanya, dan jujur saja, Raka menghilang terlalu lama.”
Tatapan Tuan Rendra berubah dingin. “Direksi mempertanyakan keputusanku?” tanyanya pelan.
Herman terkekeh kecil. “Bukan mempertanyakan, hanya khawatir saja. Lagipula Kevin selama ini juga sudah banyak membantu perusahaan.”
Tuan Rendra langsung menatap tajam ke arah Kevin. “Lalu bagaimana soal pendanaan gelap yang menuju perusahaan cangkang itu, apa kau bisa menjelaskannya Kevin?”
Wajah Kevin dan Herman langsung memucat, dan belum sempat keduanya bereaksi. Jack membawa beberapa dokumen yang berisi bukti transaksi gelap yang di lakukan Herman dan Kevin.
“Lihat itu baik-baik, berharap untuk bisa menggantikan ku? Kau saja tidak becus mengurus perusahaan, dan kini kau meremehkan kemampuan putraku?”
Wajah Kevin semakin memucat, Herman berusaha mencairkan suasana dengan suara yang terdengar gelagapan.
Herman terkekeh kecil, tetapi kali ini tawanya terdengar jauh lebih kaku dibanding sebelumnya, jemarinya yang sejak tadi mengetuk meja perlahan berhenti bergerak, sementara sorot matanya beberapa kali melirik dokumen di tangan Jack.
“K-kak, sepertinya ada kesalahpahaman,” ucap Herman sambil berusaha tersenyum santai. “Bisnis sebesar Pradipta Grup itu sangat rumit, wajar saja kalau ada aliran dana yang terlihat tidak biasa.”
Kevin yang duduk di sampingnya ikut menegakkan tubuh, meski wajahnya jelas kehilangan ketenangan.
“Benar, Om,” timpalnya cepat. “Mungkin tim audit salah membaca laporan, banyak transaksi proyek yang memang dialihkan sementara untuk kebutuhan operasional.”
Jack melangkah maju satu langkah tanpa banyak ekspresi, lalu meletakkan beberapa dokumen tambahan di atas meja dengan sangat rapi.
“Kalau begitu, mungkin Tuan Herman dan Tuan Kevin bisa menjelaskan kenapa perusahaan cangkang ini terhubung langsung dengan rekening pribadi pihak tertentu,” ucap Jack tenang. “Lengkap dengan catatan transfer selama delapan bulan terakhir.”
Selina yang sejak tadi diam langsung menaikkan alis sambil menatap Kevin dengan ekspresi mengejek tipis.
“Wow,” gumamnya pelan. “Pagi-pagi ternyata bukan cuma sarapan saja yang disiapkan.”
Bi Narti dan beberapa pelayan menundukkan kepala lebih dalam, tidak ada satu pun yang berani bersuara.
Nyonya Shanum tampak menggenggam ujung bajunya sendiri, jelas tidak nyaman melihat suasana berubah semakin panas.
Sementara itu, Tuan Rendra berdiri dengan sorot mata dingin yang perlahan berubah lebih tajam.
“Kalian pikir aku diam karena tidak tahu apa-apa?” tanyanya rendah. “Selama ini aku memberi kesempatan karena kalian keluargaku.”
Tatapan pria itu berhenti tepat pada Kevin. “Tapi kalau kemampuanmu hanya seperti ini,” rahangnya mengeras pelan, “kau bahkan tidak pantas duduk di kursi penerus.”
Kevin menelan ludah. “Om, saya bisa jelaskan...” ucapnya cepat.
Namun Tuan Rendra langsung mengangkat tangan, menghentikannya. “Diam.”
Satu kata itu cukup membuat ruangan kembali sunyi, Herman terlihat mulai kehilangan senyum palsunya. Untuk pertama kali sejak datang, wajah pria itu tampak benar-benar tegang.
“Kak, jangan terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan,” katanya pelan. “Kalau ada kesalahan, kita bisa selesaikan baik-baik.”
“Kesalahan?” ulang Tuan Rendra dingin. “Kalian berani memainkan uang perusahaan lalu datang ke rumahku pagi-pagi membahas penerus di depan anakku sendiri?”
Tatapannya beralih pelan ke arah Raka, untuk beberapa detik, pria paruh baya itu terdiam. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya, campuran kemarahan dan penyesalan yang sulit dijelaskan.
“Kalian meremehkan dia,” lanjut Tuan Rendra pelan namun menusuk. “Padahal setelah meninggalkan semua fasilitas keluarga ini, dia tetap bertahan hidup tanpa mencuri, tanpa menipu, dan tanpa menjual nama Pradipta.”
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km