Amora (23) mengira takdirnya hanya sebatas membungkus es teh manis dan beradu urat dengan kuli panggul di pasar pelabuhan yang becek. Di balik tabiatnya yang ramai, dia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah darah daging Dinasti Klan—pemilik kasta tertinggi yang sengaja dilesapkan ke lumpur kemiskinan akibat tragedi belasan tahun lalu. Yang dia tahu, hidup kasarnya selalu aman karena dijaga oleh Hamdan (29), pria berkemeja hitam yang dingin laksana es.Namun, ketenangan itu koyak saat Gavin Raka (33), miliarder asal Swiss, datang membawa kepingan silsilah yang hilang. Amora diseret paksa masuk ke dunia elite yang penuh manipulasi finansial internasional, fitnah hubungan sedarah, hingga cakar fisik dari saingan cintanya, Elif Azra Karaca.Saat gurita dana rahasia Hamdan bergerak dingin meruntuhkan bursa efek Eropa murni demi melindunginya, seuntai anyaman gelang rumput kering di tangan Amora perlahan mulai mengoyak kabut amnesia bawah sadarnya. Dan tepat ketika rahasia malam kebakaran itu robek seutuhnya, sebuah bayangan dari masa lalu bersiap bangkit untuk meruntuhkan seluruh takhta kekuasaan dunia kelas atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Mawar yang Melarikan Diri
Museum Nasional sore itu diselimuti cahaya oranye keemasan dari matahari yang mulai tenggelam. Amora berdiri di depan lukisan abstrak raksasa, namun matanya terus melirik ke pintu masuk. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena keindahan seni di depannya, melainkan karena ia baru saja melakukan hal paling nekat dalam hidupnya: menyelinap keluar dari pengawasan Hamdan Tarkan.
"Kau datang. Aku tahu kau bukan tipe wanita yang membiarkan rasa penasaran membunuhmu," suara Farr Burhan terdengar lembut di belakangnya.
Amora berbalik, menemukan Farr yang tampil santai dengan turtleneck hitam dan jaket kulit. Pria itu tersenyum lebar, sangat berbeda dengan ekspresi tegang yang selalu ia lihat pada Hamdan.
"Katakan padaku apa yang kau tahu tentang ayahku, Farr. Jangan berbasa-basi," tuntut Amora.
Farr melangkah maju, memangkas jarak. "Ayahmu, Baron Alaric Klan, bukan hanya seorang bangsawan. Dia adalah pemegang kunci dari aset-aset yang sekarang dikelola oleh keluarga Tarkan. Hamdan melindungimu bukan hanya karena masa lalu kalian, Amora. Dia menjagamu agar aset-aset itu tetap berada dalam kendalinya."
Amora membeku. Aset? Kendali? Apakah kebaikan Hamdan selama ini hanya demi harta?
Mansion Tarkan – 15 Menit Kemudian
Hamdan baru saja turun dari SUV-nya dengan langkah cepat. Ia baru saja kembali dari desa membawa informasi penting bahwa ada pihak ketiga yang mulai bergerak mendekati Amora. Namun, saat ia masuk ke aula utama, ia disambut oleh wajah pucat Farid dan Zahra yang menunduk.
"Di mana dia?" tanya Hamdan, suaranya terdengar seperti gemuruh sebelum badai.
"Tuan... Nona Amora... dia tidak ada di kamarnya. Penjaga di pintu taman belakang ditemukan pingsan setelah seseorang memukul mereka dari belakang," jawab Farid dengan suara bergetar.
Hamdan terdiam sejenak. Matanya berkilat dengan kemarahan yang begitu murni hingga Zahra mundur selangkah ketakutan. Tanpa sepatah kata pun, Hamdan berjalan menuju ruang kerjanya.
BRAKK!
Suara meja jati yang dihantam tangan kosong Hamdan menggema ke seluruh penjuru mansion. Ia menyapu semua berkas di atas mejanya hingga berserakan. "Aku sudah bilang jangan biarkan dia keluar dari jangkauanku! Sialan, Farr!"
Hamdan merogoh ponselnya, menghubungi tim keamanan cadangan. "Lacak posisi ponsel Amora sekarang. Jika dia bersama Farr, jangan lakukan apa pun sampai aku tiba. Aku ingin menghancurkan wajah pria itu dengan tanganku sendiri."
---------
Di dalam museum, Farr mencoba membimbing tangan Amora untuk menyentuh sebuah artefak kecil. "Hamdan tidak akan pernah memberitahumu bahwa kau adalah pewaris tunggal kasta tertinggi Klan. Dia ingin kau tetap menjadi 'gadis kecilnya' agar kau tetap bergantung padanya."
"Cukup!" Amora menarik tangannya. Ia merasa kepalanya ingin pecah. Di satu sisi, ia ingin mempercayai Hamdan, sang "Abang" yang menjaganya. Di sisi lain, fakta bahwa Hamdan menyembunyikan identitasnya selama ini terasa seperti pengkhianatan.
Tiba-tiba, suara derit ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari luar museum. Aura di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat mencekam.
Amora menoleh ke arah pintu besar. Di sana, berdiri sosok tinggi tegap yang napasnya masih memburu. Jasnya sedikit berantakan, dan matanya merah karena amarah. Hamdan Tarkan telah tiba.
"Lepaskan dia, Farr. Sebelum aku memastikan kau tidak akan pernah bisa kembali ke Turki dengan kaki yang utuh," ucap Hamdan dengan nada paling rendah yang pernah didengar Amora.
Amora berdiri di tengah, terjepit di antara pria yang menawarkan kebenaran pahit dan pria yang melindunginya dengan kebohongan manis.
Suasana museum yang semula tenang kini terasa seperti medan perang yang siap meledak. Farr Burhan hanya tersenyum tipis, ia sama sekali tidak terlihat gentar meski Hamdan berdiri dengan tangan yang mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau terlambat, Hamdan. Mawar kecil ini sudah mulai melihat duri-duri yang kau sembunyikan di balik kebohonganmu," ujar Farr tenang, sambil meletakkan tangannya di bahu Amora.
Melihat sentuhan itu, kendali diri Hamdan benar-benar runtuh. Ia melangkah maju dengan kecepatan yang mengerikan, mencengkeram kerah jaket Farr, dan mendorongnya hingga membentur dinding marmer dengan dentuman keras.
"Jangan. Pernah. Menyentuhnya," geram Hamdan tepat di depan wajah Farr.
"Abang, hentikan!" Amora berteriak, mencoba menarik lengan Hamdan. "Jangan bertindak seperti binatang!"
Hamdan menoleh ke arah Amora. Kilatan luka dan amarah di matanya membuat Amora terdiam. Hamdan melepaskan Farr dengan kasar, lalu tanpa sepatah kata pun, ia menyambar pergelangan tangan Amora dan menyeretnya menuju pintu keluar.
"Ikut aku. Sekarang!"
Di Dalam Mobil – Perjalanan Pulang
Hamdan mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi. Ia tidak membiarkan sopir atau pengawal masuk ke mobil itu. Keheningan di dalam kabin terasa sangat menyesakkan, hanya ada suara deru mesin dan napas Hamdan yang masih memburu.
"Kau pikir kau siapa?" Amora akhirnya meledak, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya. "Kau menculikku dari desaku, mengurungku di mansionmu, dan sekarang kau memperlakukanku seperti tawanan perang! Apa yang dikatakan Farr benar? Kau hanya mengincar aset ayahku?"
Hamdan menginjak rem secara mendadak di pinggir jalan yang sepi. Tubuh Amora terdorong ke depan sebelum tertahan oleh sabuk pengaman.
Hamdan memukul setir mobilnya dengan keras, lalu menoleh ke arah Amora. "Aset? Kau pikir aku butuh hartamu, Amora?" Ia mendekatkan wajahnya, menatap Amora dengan tatapan yang sangat dalam dan dewasa. "Selama tujuh belas tahun, aku bekerja siang dan malam untuk membangun kerajaan Tarkan hanya agar aku punya kekuatan yang cukup untuk membawamu pulang dan melindungimu dari orang-orang yang membunuh orang tuamu!"
Amora tertegun, suaranya tercekat. "Membunuh... orang tuaku?"
"Alaric Klan tidak mati karena kecelakaan, Amora. Dia dikhianati. Dan sekarang, pengkhianat itu sedang mencarimu," suara Hamdan melemah, penuh dengan kepedihan yang selama ini ia simpan rapat. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Amora yang basah dengan sangat lembut, sangat berbeda dengan kekasarannya di museum tadi.
"Kau bukan sekadar aset bagiku. Kau adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan di dunia yang kotor ini. Tapi kau justru lari ke pelukan pria seperti Farr hanya untuk menyakitiku?"
Amora terdiam, ia bisa merasakan ketulusan yang menyakitkan dari getaran tangan Hamdan. Untuk pertama kalinya, ia melihat Hamdan bukan sebagai "kulkas dua pintu" yang sombong, melainkan sebagai seorang pria yang sedang berjuang melawan seluruh dunia demi dirinya.
"Maafkan aku, Abang..." bisik Amora lirih.
Hamdan tidak menjawab. Ia hanya menarik Amora ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu di dadanya yang bidang. Malam itu, di pinggir jalan yang gelap, benteng kebencian Amora runtuh sepenuhnya, berganti dengan getaran aneh yang mulai merayap di hatinya.
To be continued...