NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Kemudi Devan dan Pelarian dari Sangkar Emas

​Udara malam di pinggiran kota terasa seperti pisau bedah yang dingin, menyayat setiap senti kulitku yang lembap oleh keringat dan debu saluran ventilasi. Aku berdiri di tengah ilalang yang menjulang tinggi, menatap siluet punggung Devan yang naik-turun dengan napas yang tersengal. Di bawah cahaya rembulan yang sesekali tertutup awan mendung, kami terlihat seperti dua bayangan yang baru saja merangkak keluar dari perut bumi.

​Bau tanah basah dan aroma karat dari saluran got tadi masih menempel di lubang hidungku, sebuah pengingat fisik bahwa duniaku yang dulu steril dan beraroma lavender kini telah hancur berkeping-keping.

​"Anya, kau masih bisa berjalan?" suara Devan memecah sunyi. Ia tidak menoleh, tangannya bertumpu pada lutut, mencoba mengumpulkan sisa-sisa oksigen yang seolah disedot habis oleh kepanikan beberapa menit lalu.

​"Aku bisa," jawabku mantap, meski kakiku terasa seperti agar-agar. Aku meraba saku jaket kargoku, memastikan harddisk eksternal yang berisi video masa lalu kami masih ada di sana. Benda itu terasa berat, bukan karena bobot fisiknya, melainkan karena kebenaran yang dikandungnya.

​Devan menegakkan tubuhnya. Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang kotor, menyisakan corengan debu hitam di wajahnya yang tajam. Ia melangkah mendekat, meraih tanganku tanpa kata. Genggamannya kali ini tidak lagi sekadar menuntun; ia mencengkeramku seolah aku adalah satu-satunya gravitasi yang menahannya agar tidak limbung.

​Kami berjalan membelah ilalang yang tajam dan sesekali menggores lenganku. Jarak dua kilometer menuju tempat motor cadangannya terasa seperti maraton tanpa akhir. Setiap kali terdengar suara sirene ambulans atau mobil patroli di kejauhan, Devan akan menarikku berjongkok, berlindung di balik tumpukan beton atau semak belukar. Kami adalah buronan sekarang. Di mata dunia, atau setidaknya di mata Ayah, aku adalah korban penculikan yang sedang dicuci otaknya oleh penjahat. Kenyataannya? Aku baru saja bangun dari hipnosis panjang yang dilakukan oleh pahlawan yang kupuja.

​"Itu gerbangnya," bisik Devan saat kami sampai di depan sebuah gudang kargo tua yang sudah kehilangan atapnya.

​Di sudut gudang yang tertutup oleh tumpukan ban bekas, Devan menyingkap sebuah terpal plastik kusam. Di baliknya, berdiri sebuah sepeda motor trail hitam tanpa pelat nomor. Mesinnya terlihat tua, namun saat Devan memasukkan kunci dan menendang kick-starter-nya, mesin itu mengaum hidup dengan suara yang kasar dan bertenaga.

​"Naik," perintahnya. Ia mengenakan helm hitam pudar dan menyerahkan sebuah helm lain padaku.

​Aku melompat ke jok belakang, melingkarkan lenganku di pinggangnya seerat mungkin. Jaket kulitnya terasa dingin dan berbau asap, namun entah mengapa, di sinilah aku merasa paling aman. Devan memacu motornya, tidak melewati jalan aspal utama, melainkan menyisir jalanan tanah di pinggir rel kereta api yang gelap dan berlubang.

​Sepanjang perjalanan, kepalaku dipenuhi oleh kepingan-kepingan video yang kulihat di apartemen tadi. Tanggal 14 Juli. Rencana pelarian. Kecelakaan. Dan yang paling menyakitkan: Ayah yang berdiri di lokasi kejadian, menatap kami seperti sedang melihat serangga yang perlu dibasmi.

​Mengapa? Mengapa Ayah harus melakukan kebohongan sebesar ini? Jika ia tidak menyukai Devan, ia bisa saja melarangku bertemu dengannya. Tapi menghapus memori? Meracuni sistem sarafku dengan obat-obatan selama tiga tahun? Itu bukan lagi tindakan perlindungan seorang ayah. Itu adalah obsesi seorang tiran yang ingin memiliki kendali mutlak atas narasi hidup anaknya.

​Sekitar pukul empat pagi, kami tiba di sebuah dermaga nelayan yang sunyi. Bau amis ikan dan garam laut menyerbu penciumanku. Devan menghentikan motornya di depan sebuah gubuk kayu yang menjorok ke air.

​"Turunlah. Ini tempat milik seorang teman lama dari masa 'jalananku'. Dia tidak akan banyak bertanya," ujar Devan.

​Gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada satu ruangan dengan kasur lantai tipis, sebuah meja kayu, dan tumpukan jaring nelayan di sudut. Devan segera mengunci pintu dan menutup gorden satu-satunya jendela. Ia melepaskan helmnya, lalu jatuh terduduk di atas kasur, menyandarkan kepalanya ke dinding kayu yang rapuh.

​Lampu bohlam kuning yang redup menyinari wajahnya. Baru saat itulah aku melihatnya dengan jelas. Kaus abu-abunya robek di bagian bahu, dan ada darah yang sudah mengering di sana.

​"Devan! Kau terluka!" aku berlutut di depannya dengan panik.

​"Hanya terserempet pintu besi tadi," gumamnya, memejamkan mata. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan garis rahangnya menonjol karena menahan rasa sakit. "Tidak apa-apa, Anya. Yang penting kita keluar."

​Aku merogoh ranselku, mencari air mineral yang sempat kumasukkan. Dengan kain kecil yang bersih, aku mencoba membersihkan lukanya. Saat kain basah itu menyentuh kulitnya, Devan sedikit meringis, namun ia tidak menarik diri. Matanya perlahan terbuka, menatapku dengan intensitas yang membuat napasku tertahan.

​"Kenapa kau tidak meninggalkanku di sana?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya serak dan dipenuhi keraguan. "Ayahmu benar. Aku ini sampah jalanan. Aku punya catatan kriminal. Aku membawa pistol. Aku menyeretmu ke tempat-tempat kotor seperti ini. Jika kau tetap di apartemen, kau akan punya masa depan yang mewah di Swiss."

​Aku berhenti mengusap lukanya. Aku menatap lurus ke dalam iris matanya yang sekelam obsidian. "Mewah? Switzerland hanya akan menjadi penjara yang lebih besar dengan pemandangan yang lebih bagus, Devan. Di sana, aku akan terus meminum pil itu. Aku akan terus tersenyum pada Ayah tanpa tahu ia adalah orang yang mencoba membunuh kita. Aku lebih baik mati sebagai diriku sendiri di tempat kumuh ini, daripada hidup seribu tahun sebagai boneka di istana itu."

​Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di bibir Devan. Ia meraih tangan kiriku, ibu jarinya mengusap bekas luka kecil di pergelangan tanganku—bekas dari malam kecelakaan itu.

​"Tiga tahun aku menunggu momen ini, Anya. Menunggu kau menatapku bukan sebagai orang asing yang menyebalkan, tapi sebagai Devan-mu," bisiknya.

​"Aku mulai ingat, Van. Sedikit demi sedikit," aku mengeluarkan harddisk itu dan meletakkannya di atas meja. "Video di dalam sini... itu kunci segalanya. Ayah tidak hanya ingin memisahkan kita karena status sosial. Dia menyebut tentang 'Proyek Sudirman' di papan investigasimu tadi. Apa hubungannya denganku?"

​Devan menarik napas panjang. Ia berdiri dengan susah payah, berjalan menuju meja dan mengambil laptop cadangan yang ia simpan di dalam tas kedap air. Ia menyalakan laptop itu, menghubungkan harddisk milikku.

​"Proyek Sudirman adalah megaproyek konstruksi milik perusahaan ayahmu. Tiga tahun lalu, bangunan itu runtuh saat masih dalam tahap pembangunan. Belasan pekerja tewas. Penyelidikan resmi menyatakan itu adalah kesalahan teknis kontraktor kecil, tapi ibuku... ibuku adalah manajer logistik di sana. Dia menemukan bukti bahwa ayahmu sengaja menggunakan material berkualitas rendah dan memalsukan laporan audit untuk memangkas biaya triliunan rupiah."

​Aku terperangah. "Jadi... Ayah menjebak ibumu?"

​"Dia memenjarakan ibuku agar rahasianya aman. Dan malam saat kita mencoba lari, kau membawa dokumen aslinya di dalam laptop lamamu. Itulah sebabnya dia mengejar kita dengan gila-gilaan. Dia tidak hanya takut kehilangan putrinya, dia takut dipenjara seumur hidup."

​Lututku lemas. Aku terduduk di kursi kayu yang reyot. Ayahku bukan sekadar manipulator; ia adalah seorang kriminal. Seorang pembunuh yang menyembunyikan noda darahnya dengan jas mahal dan senyum filantropi.

​"Data di dalam harddisk ini," Devan menunjuk layar laptop yang menampilkan deretan folder terenkripsi. "Bukan cuma video kita, Anya. Folder yang kau beri sandi 'OrenMahendra' itu berisi salinan dokumen Proyek Sudirman yang sempat kau pindahkan secara rahasia sebelum kita lari. Ini adalah peluru yang bisa menghancurkan ayahmu."

​Aku menatap layar itu. "Lalu kenapa kau tidak menggunakannya sejak dulu? Kau bilang kau punya salinannya?"

​"Aku hanya punya potongan-potongannya. Kunci enkripsi utamanya ada di tanganmu. Dan kau... kau tidak ingat sandinya sampai hari ini," Devan menatapku dengan tatapan yang sarat akan pengorbanan. "Aku harus membiarkanmu 'sembuh' secara alami agar kau bisa memberikan kunci itu padaku tanpa merasa dipaksa."

​Hening sejenak. Hanya suara deburan ombak di bawah lantai kayu dermaga yang terdengar. Aku menyadari betapa berat beban yang dipikul Devan selama tiga tahun ini. Ia dipenjara, dihina, dan harus menonton gadis yang dicintainya hidup dalam pelukan musuh besarnya—semua itu ia lalui demi menunggu saat di mana aku siap untuk bangun.

​Tiba-tiba, sebuah notifikasi merah berkedip di layar laptop Devan.

​"Sial," umpatnya.

​"Ada apa?"

​"Ayahmu baru saja merilis pengumuman sayembara di media sosial dan portal berita lokal. Dua miliar rupiah bagi siapa pun yang menemukan 'penculik' Anya Kusuma. Dia menyertakan fotoku. Foto dari catatan kriminal penjara tiga tahun lalu."

​Duniaku berputar. Dua miliar. Angka itu cukup untuk membuat setiap orang di kota ini menjadi musuh kami. Nelayan di luar gubuk ini, pemilik warung, bahkan polisi—semuanya akan memburu kepala Devan.

​"Kita tidak bisa lama-lama di sini," Devan segera mematikan laptop dan memasukkannya kembali ke tas. Ia meraih pistolnya, menyelipkannya di pinggang. "Begitu matahari terbit, dermaga ini akan ramai. Kita harus bergerak ke sektor utara, ke gudang distribusi tua. Di sana tidak ada sinyal seluler, mereka tidak bisa melacak GPS motor ini."

​Aku mengangguk cepat. Rasa takut itu kembali, tapi kali ini ia tidak melumpuhkanku. Ia justru membakar adrenalin yang membuatku siap melakukan apa saja.

​Sebelum kami keluar, aku menahan lengan Devan. "Van, berjanjilah padaku satu hal."

​"Apa?"

​"Apa pun yang terjadi... jangan biarkan mereka memberiku pil itu lagi. Lebih baik aku mati daripada harus melupakanmu sekali lagi."

​Devan terdiam. Ia menarikku ke dalam pelukannya, mendekapku sangat erat hingga aku bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu liar. "Aku berjanji, Anya. Nyawaku adalah bayarannya."

​Kami keluar dari gubuk itu tepat saat ufuk timur mulai memerah. Di tengah kabut pagi yang dingin, kami kembali membelah kegelapan, berlari dari sangkar emas menuju medan perang yang sesungguhnya.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​EXT. BENGKEL MOBIL PAK HARJO - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)

​Hujan rintik-rintik. Suasana bengkel sunyi, hanya diterangi satu lampu bohlam yang berayun ditiup angin. DEVAN (17 tahun) sedang mencuci tangannya yang penuh oli di keran air. Wajahnya terlihat sangat tegang.

​ANYA (16 tahun) muncul dari balik bayang-bayang. Ia mengenakan gaun pesta berwarna biru yang sangat kontras dengan lingkungan bengkel yang kotor. Matanya sembab. Di tangannya, ia mendekap sebuah laptop perak.

​ANYA

"Devan... aku tidak bisa kembali ke rumah itu. Ayah... Ayah benar-benar monster. Dia yang melakukannya, Van. Dia membunuh orang-orang di Proyek Sudirman."

​Devan mematikan keran, ia menatap Anya dengan tatapan yang sangat dalam. Ia menyambar sebuah jaket denim usang dan memakaikannya ke bahu Anya yang gemetar.

​DEVAN

"Aku tahu, Nya. Ibuku sudah memperingatiku. Kau sudah mengambil datanya?"

​ANYA

(Mengangguk, mengangkat laptopnya)

"Semuanya ada di sini. Ayah akan membunuhku jika dia tahu aku memilikinya."

​DEVAN

"Kalau begitu kita pergi malam ini. Aku punya sedikit tabungan. Kita ke luar kota. Kita cari perlindungan di rumah pamanku di Jawa Tengah."

​Devan meraih tangan Anya. Ia membawa Anya ke arah pohon beringin besar di depan bengkel. Ia mengambil sebuah korek api Zippo perak dari sakunya, lalu memberikannya pada Anya.

​DEVAN (CONT'D)

"Jika di tengah jalan kita terpisah... nyalakan ini. Aku akan mencarimu lewat apinya. Dan Anya... sandi folder utamanya. Kau sudah menggantinya?"

​ANYA

"Sudah. Aku memakai nama kucing kita yang mati karena mobil ayahmu. Dan namamu. Supaya aku tidak akan pernah lupa siapa yang sebenarnya melindungiku."

​ANYA (V.O)

"Malam itu, di bawah pohon beringin yang menjadi saksi bisu, kami membuat janji berdarah. Kami tidak tahu bahwa badai yang sesungguhnya sedang menunggu di Jalan Lingkar Selatan, siap menghapus setiap inci janji yang kami buat."

​Kamera fokus pada Zippo di tangan Anya, apinya menyala kecil namun terang di tengah kegelapan, sebelum layar perlahan-lahan memudar menjadi hitam pekat.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!