NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *31

"Waktu aku liat darah itu banyak banget keluar, waktu rasanya sakit banget di perut ini, waktu aku ngerasa nyawaku mau melayang. Aku manggil nama kamu terus. Rey ... Rey ... Rey ... terus-terusan. Aku panggil kamu biar kamu datang." Air mata itu jatuh perlahan, membasahi sisi wajahnya yang lain.

"Tapi kamu nggak ada," isaknya pelan, namun terdengar begitu menyakitkan. "Aku di sana ... jatuh di lantai yang dingin itu sambil berusaha nahan sakit sendirian, Reyno. Aku sendiri. Nangis sendirian, takut sendiri, sakit juga sendiri. Aku terus nunggu kamu yang nggak pernah datang, Rey."

Setiap kata yang terlontar dari mulut istrinya terasa seperti hukuman yang pantas ia terima. Hukuman bagi kebodohannya sendiri. Reyno tidak kuat lagi mendengarkan. Ia langsung meraih tangan Merlin yang terbaring di atas selimut, menggenggamnya erat sekali seolah takut jika dilepas wanita itu akan hilang begitu saja.

"Maafin aku ... tolong maafin aku ..." suaranya benar-benar hancur sekarang, bergetar hebat penuh keputusasaan. "Aku nyesel ... aku nyesel banget, Merlin. Aku rela tukar nyawaku kalau bisa balikin waktu itu. Aku rela apa aja asal kamu nggak ngerasain hal itu sendirian."

Namun di tengah rengekan permohonan itu, Merlin perlahan-lahan menarik kembali tangannya. Gerakannya pelan, lembut, tidak kasar, namun sangat pasti menjauhkan tangannya dari genggaman suaminya.

Gerakan kecil itu cukup untuk membuat hati Reyno runtuh seketika. Karena itu adalah pertama kalinya Merlin menjauh darinya seperti ini. Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, tangan Merlin selalu mencari genggamannya, selalu menggenggam erat, selalu membalas pelukannya. Tapi sekarang, ia menarik diri. Berusaha untuk menjauh.

Dan saat itu juga, Reyno mulai sadar sepenuhnya. Bahwa ia benar-benar bisa kehilangan istrinya. Bukan hanya kehilangan karena kematian, tapi kehilangan karena hati istrinya sudah berpaling dan menutup pintu rapat-rapat.

***

Keesokan paginya, cahaya matahari pagi yang cerah masuk lewat celah tirai jendela, namun tidak mampu menerangi kesedihan di ruangan itu. Merlin masih diam saja. Sejak bangun tidur, ia hanya menatap kosong ke arah luar jendela. Ia tidak banyak bicara, tidak bertanya apa-apa, dan bahkan tidak menangis lagi. Matanya kering namun terasa jauh lebih menyedihkan daripada saat ia menangis sejadi-jadinya kemarin.

Dan sikap diam inilah yang justru membuat Reyno semakin takut. Karena Merlin yang menangis masih bisa ia dekati, masih bisa ia peluk, masih bisa ia tenangkan. Namun Merlin yang diam, yang pasrah, yang tidak lagi bereaksi apa pun, terasa sangat jauh. Jarak di antara mereka terasa ribuan mil, meski keduanya berada di ruangan yang sama, di ranjang yang sama.

Tidak lama kemudian, dokter yang menangani Merlin masuk ke ruangan itu untuk melakukan pemeriksaan terakhir sebelum memperbolehkan pasiennya pulang sore nanti. Dokter itu mengukur tekanan darah, mengecek denyut nadi, dan menanyakan beberapa hal standar.

"Secara fisik, kondisi Bu Merlin sudah cukup membaik. Luka dalamnya juga sudah mulai kering," ucap dokter itu sambil menutup berkas rekam medisnya.

Ia kemudian menatap Reyno dengan pandangan serius dan penuh peringatan. "Tapi Pak, saya ingatkan sekali lagi. Istri Anda jangan terlalu stres dulu. Kondisi mentalnya saat ini sangat menurun, sangat rapuh. Jangan sampai ada hal-hal yang memicu emosi atau membuatnya sedih lagi. Itu jauh lebih berbahaya daripada luka fisiknya."

Reyno langsung mengangguk cepat, menelan ludah dengan susah payah. "Iya, Dok. Saya paham. Saya bakal jagain dia. Saya bakal pastiin dia tenang dan bahagia. Saya janji," jawabnya penuh kesungguhan.

Setelah dokter pergi meninggalkan ruangan, rasa bersalah itu kembali menyerang Rey lebih hebat dari sebelumnya. Pesan dokter itu seperti pisau yang menancap tepat di ulu hatinya. Karena Reyno sadar, betul-betul sadar, bahwa penyebab utama Merlin menjadi seperti ini, penyebab kondisi mentalnya yang jatuh, penyebab kesedihannya yang mendalam, tak lain adalah dirinya sendiri. Hanya dirinya.

Menjelang siang, pintu ruangan terbuka kembali. Reyno yang sedang duduk di kursi samping ranjang langsung menoleh ke arah pintu. Dan begitu melihat siapa yang berdiri di sana, matanya membelalak kaget.

Di ambang pintu berdiri Yara. Gadis itu tampak ragu-ragu, tangannya menggenggam erat tali tas selempangnya, dan wajahnya terlihat sedih. Matanya juga sembab, seolah habis menangis.

Begitu melihat sosok itu muncul, reaksi Merlin langsung terlihat jelas. Wajah pucatnya menjadi sedikit lebih pucat lagi. Tubuhnya yang tadinya diam, kini sedikit menegang. Napasnya yang tadinya teratur, kini menjadi sedikit pendek.

"Yara? Ngapain ke sini?" tanya Reyno cepat. Nadanya bukan ramah, melainkan penuh keterkejutan dan entah kenapa, ada nada tidak senang yang terselip di sana.

"A-- aku ... aku denger kabar kalau Kak Merlin keguguran kemarin malam," jawab Yara pelan, suaranya terdengar lirih dan sedih. Ia melangkah masuk perlahan, menundukkan pandangannya. "Aku kaget dan sedih banget mendengarnya. Jadi aku mau jenguk. Mau liat keadaan kakak gimana."

Ruangan itu seketika menjadi begitu canggung dan berat. Udara di dalamnya terasa menyesakkan. Merlin menunduk pelan, menatap selimut putih yang menutupi tubuhnya. Dadanya kembali terasa sesak dan sakit.

Dan entah kenapa, kehadiran Yara di tempat ini, di ruangan tempat ia kehilangan anaknya, terasa begitu menyakitkan. Sangat-sangat menyakitkan.

Karena gadis itu tidak tahu. Atau mungkin tahu tapi pura-pura tidak sadar. Bahwa sebagian besar alasan kenapa bayi itu pergi adalah karena dirinya. Bahwa kehadiran gadis itulah yang membuat rumah tangga Merlin hancur. Karena nama itulah yang selalu memisahkan Merlin dan Reyno.

Yara berjalan mendekat perlahan hingga sampai di sisi ranjang. Ia menatap Merlin dengan mata berkaca-kaca. "Maafin aku ya, Kak," ucapnya pelan. "Aku gak tau bakal jadi kayak gini. Aku gak tau kalau kakak sakit. Aku-- aku cuma ... aku cuma khawatir sama Mas Reyno kemarin. Aku gak bermaksud bikin masalah."

Merlin mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap gadis itu, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sangat tipis, sangat hambar, dan sama sekali tidak sampai ke matanya.

"Bukan salah kamu kok, Yara. Gak ada yang salah di sini," jawabnya pelan.

Dan lagi-lagi, Merlin memilih untuk diam. Memilih untuk menyimpan lukanya sendiri, menyimpan kepahitannya sendiri, dan membiarkan orang lain merasa bersalah secukupnya saja.

Namun kali ini Rey melihat semuanya. Ia melihat bagaimana tangan Merlin mencengkeram selimut itu sangat erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia melihat bagaimana tubuh istrinya sedikit gemetar menahan emosi. Ia melihat betapa berat rasanya bagi Merlin hanya dengan melihat wajah gadis itu.

Dan untuk pertama kalinya, di detik itulah Reyno mulai merasa marah. Bukan pada Merlin. Bukan pada keadaan. Tapi pada dirinya sendiri.

Ia marah pada kebodohannya. Ia marah pada rasa tanggung jawab bodohnya. Ia marah karena telah membawa orang ketiga masuk terlalu jauh ke dalam rumah tangganya. Ia marah karena membiarkan Yara menjadi bagian yang begitu besar dalam hidupnya, sampai merusak seluruh kehidupan istrinya.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!