NovelToon NovelToon
FROZEN DAWN

FROZEN DAWN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:416
Nilai: 5
Nama Author: Noulmi

Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Melihat Eros yang tampak terkejut, Grand Duke Emeralda terkekeh geli. Ia menepuk bahu tegap Eros sekali lagi, lalu memberi isyarat dengan kepalanya agar Eros mengikutinya. Beliau mengajak Eros dan rombongannya untuk makan malam di sebuah restoran mewah miliknya yang terletak tak jauh dari pusat festival.

Malam itu, restoran yang dikenal sebagai tempat kuliner terbaik di Ibukota Emeralda tampak begitu sepi dari luar. Seluruh tirai beludru besarnya ditutup rapat, dan papan di depan pintu menunjukkan bahwa tempat tersebut sedang tidak menerima tamu umum. Hal demikian sudah sangat lumrah untuk kalangan bangsawan tinggi yang sengaja menyewa seluruh restoran demi kenyamanan dan privasi keluarga mereka.

Di dalam ruangan yang hangat dan diterangi lampu gantung kristal berlapis zamrud, hidangan kelas atas khas Emerald disajikan satu per satu. Di atas meja makan panjang itu, suasana canggung perlahan mencair berganti dengan kehangatan.

Laura kecil menarik perhatian semua orang. Di hadapan makanan mewah yang asing baginya, anak perempuan itu makan dengan sangat anggun. Gerakannya memotong daging, memegang sendok sup, hingga menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain dilakukan dengan etiket bangsawan yang luar biasa sempurna, seolah ia memang lahir di dalam istana.

"Wah, kau benar-benar anggun, Laura," puji Krystal yang duduk di seberangnya. Sudut bibir Krystal terangkat, membentuk sebuah seringai menawan yang sarat akan rencana cemerlang. "Bersiaplah, kau akan menjadi orang yang sangat sibuk setelah ini."

Laura mendongak, matanya yang bulat berkedip polos, sementara Elenoir hanya bisa tersenyum haru melihat adiknya begitu dihargai. Krystal sudah membayangkan dalam benaknya: saat butik *LadyBug* resmi dibuka di ibu kota nanti, Laura tidak hanya akan menjadi maskot, melainkan model cilik utama yang akan membawakan tren pakaian anak-anak bangsawan. Dengan tata krama sekelas putri kerajaan seperti itu, Laura akan dengan mudah memikat hati para nyonya besar kekaisaran.

Festival hari pertama pun mereka tutup dengan makan malam mewah yang penuh tawa, berkat cerita-cerita lucu dari Grand Duke Emeralda tentang masa kecil Xenon dan Eros yang nakal.

Namun, kegembiraan itu harus menemui batasnya. Setelah perut kenyang dan puas menikmati suasana festival, rombongan akhirnya pamit untuk kembali ke \**homestay*\*.

Begitu menginjakkan kaki di ruang tengah, tubuh Krystal mendadak limbung. Wajahnya yang semula cerah berubah menjadi sangat pucat, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Sisa-sisa efek berkat Astraia di dalam jiwanya kembali bereaksi menyambut malam menjelang purnama penuh.

Tanpa banyak bicara, Krystal langsung melangkah pelan menuju kamar. Ia membasuh tubuhnya dengan air hangat untuk sedikit mengurangi rasa tidak nyaman, lalu segera merebahkan diri dan menarik selimut tebalnya erat-erat.

Demam purnama. Rasanya memang sudah tidak separah dan semenyakitkan dulu semenjak Eros mengancam Hyal, namun bagaimanapun juga, gejolak energi alami ini tetap menguras energi fisiknya, memaksa Krystal untuk beristirahat seharian penuh atau bahkan lebih.

Eros, yang selalu siap sedia dan waspada jika menyangkut Krystal, bergerak dengan sangat cekatan. Sejak awal, ia sengaja memilihkan kamar untuk Krystal di lantai tiga—lantai tertinggi—agar tidak terganggu oleh suara riuh dan musik dari keramaian festival di jalanan bawah.

Dengan telaten, Eros menyiapkan baskom berisi air hangat, handuk kecil, dan kompresan. Ia duduk di tepi ranjang, meletakkan kain kompres hangat di dahi Krystal yang terasa panas, lalu menggenggam tangannya, menyalurkan setitik energi sucinya yang menenangkan untuk menidurkannya dengan damai.

Dari balik jendela lantai tiga, sayup-sayup pendar lentera hijau zamrud masih terlihat memeluk kota. Festival purnama di Emerald ini adalah bentuk rasa syukur yang teramat besar dari masyarakat setempat kepada Dewa Kesejahteraan yang telah memberkati tanah mereka dengan kemakmuran berkat batu permata berharga yang melimpah.

Kekaisaran Aethermoor memang secara resmi memuja Dewa Kesejahteraan dan Dewi Pemurnian. Namun, setiap daerah ternyata memiliki tingkat kepercayaan dan kultur mistisnya masing-masing. Provinsi Aquamarine yang dingin dan terasing jauh lebih khidmat memuja Dewi Pemurnian demi menjaga keteguhan jiwa mereka. Provinsi Emerald yang makmur memuja Dewa Kesejahteraan yang menjamin kelimpahan hasil bumi. Sementara Provinsi Ruby... adalah wilayah yang ganjil, di mana warganya enggan memuja siapapun dan lebih memilih tunduk pada kekuatan sihir.

Masih banyak lagi provinsi-provinsi lain di kekaisaran luas ini yang belum mereka kunjungi. Namun malam ini, di bawah atap kota zamrud yang sibuk berpesta, waktu seolah berhenti di kamar lantai tiga, menyisakan keheningan antara seorang dewa yang berjaga dan seorang putri yang sedang memulihkan jiwanya.

Hari keempat di kota zamrud dimulai dengan keheningan yang tidak biasa. Kemeriahan Festival Purnama yang berlangsung selama tiga hari tiga malam telah resmi usai. Lentera-lentera bambu hijau yang kemarin menggantung cantik kini mulai diturunkan satu per satu oleh warga, menyisakan jalanan utama Emeralda yang kembali ke ritme normalnya yang tertib.

Namun, di dalam \**homestay*\* tiga tingkat yang mereka sewa, atmosfer ketegangan justru merayap naik. Krystal belum juga keluar dari kamarnya di lantai tiga sejak malam pertama mereka tiba. Hal ini membuat hampir seluruh anggota rombongan didera rasa khawatir dan cemas yang luar biasa.

Di ruang tengah lantai satu, Mira berjalan bolak-balik dengan raut wajah gelisah. Sementara Sorento duduk di dekat meja dengan dahi berkerut dalam, sesekali menatap ke arah tangga kayu yang sepi.

"Apa Rys benar-benar baik-baik saja, Eros?" tanya Mira, menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke arah sang Dewa Nafsu dengan pandangan menuntut penjelasan.

"Ini sudah hari ketiga dia belum pulih," timpal Sorento cemas, menyilangkan lengan di dadanya. Sebagai orang yang bertahun-tahun menjaga Krystal di Aquamarine, ia tahu Krystal sering demam saat purnama, namun tidak pernah sampai mengurung diri sekaku ini tanpa suara.

Kontras dengan kecemasan mereka berdua, Eros justru tampak duduk dengan sangat santai di kursi dekat jendela. Dengan gerakan anggun, ia menggigit sebuah apel merah yang berair hingga menimbulkan suara *kriuk* yang renyah.

"Dia sungguh baik-baik saja," ucap Eros datar setelah menelan kunyahannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis misterius yang sangat tenang. "Dia tidak sedang menderita. Dia hanya sedang memulihkan diri."

Mira mengernyitkan dahi, tidak puas dengan jawaban sahabatnya tersebut. "Aku tidak bisa tenang begitu saja. Aku akan melihatnya langsung," ucap Mira tegas sembari membalikkan badan dan bergegas menaiki anak tangga menuju lantai tiga.

Langkah kaki Mira bergaung cepat di tangga kayu. Rasa cemas membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di lorong lantai tiga, langkahnya mendadak melambat.

Aroma mawar yang teramat harum, segar, dan menenangkan menyeruak memenuhi seluruh penjuru ruangan di lantai tertinggi itu. Bau khas minyak esensial dan uap air hangat menandakan kehidupan yang baru saja berdenyut di dalam sana.

*Cklek*!

Pintu kamar mandi di ujung lorong terbuka. Dari balik uap hangat yang menguar, Krystal melangkah keluar dengan anggun. Ia mengenakan gaun tidur longgar yang nyaman, rambutnya yang masih basah digulung rapi dengan handuk putih. Wajahnya yang kemarin pucat pasi kini telah kembali merona segar, bahkan pancaran matanya terlihat jauh lebih jernih dan berenergi.

Melihat sahabatnya berdiri tegak tanpa kurang suatu apa pun, Mira merasa sangat lega. Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari kencang menerjang maju.

*Greb*!

Mira memeluk tubuh Krystal dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di bahu sang sahabat. "Kami sangat khawatir, Rys...!" ucap Mira dengan suara parau, air matanya spontan menetes karena rasa lega yang teramat besar setelah tiga hari dicekam kekhawatiran.

Krystal sempat tertegun sejenak menerima pelukan tiba-tiba itu. Namun sedetik kemudian, tawa renyahnya yang lembut pecah. Ia membalas pelukan Mira, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang untuk menenangkannya.

"Aku baik-baik saja, Mira. Sungguh," ujar Krystal lembut setelah Mira perlahan melepaskan pelukannya sambil mengusap air mata di pipi.

Krystal tersenyum geli, menatap Mira dengan pandangan seolah situasi ini adalah hal paling lumrah di dunia. "Kau tahu sendiri, kan? Setiap bulan purnama, atau beberapa hari setelahnya... adalah hari periode bulananku?" bisik Krystal pelan, merujuk pada siklus menstruasi alami yang dialami setiap wanita—manusia.

Efek berkat Astraia yang dulu menyiksanya memang sudah ditekan habis oleh Eros, sehingga yang tersisa sekarang hanyalah reaksi biologis tubuh manusianya yang kebetulan selalu bertepatan dengan puncak purnama. Karena itulah ia memilih mengunci diri untuk beristirahat total, mandi air hangat, dan memanjakan dirinya dari keram perut yang menyebalkan.

"I—iya, Rys..." jawab Mira terbata-bata, wajahnya mendadak merona merah karena malu.

Ia baru ingat bahwa Krystal tetaplah seorang gadis remaja biasa yang harus menghadapi siklus bulanan yang melelahkan. Rasa cemas berlebihan yang sempat melingkupi mereka selama tiga hari ini seketika menguap begitu saja, berganti dengan rasa lega yang diwarnai tawa canggung.

1
Jasa Curhat
waktu antara hyal memohon dan bulan purnama pertama tidak sinkron
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!