NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 04

Di depan gerbang megah yang menjulang, berdiri sosok bergaun merah elegant. Di sebelahnya, sedan mewah berwarna putih terparkir.

“Benarkah ini kediaman keluarga Pradana?” Nirmala menoleh pada sang supir sekaligus asistennya.

“Benar, Nyonya.” Yang ditanya menyahut sambil menunduk sopan.

“Badjingan itu anak orang kaya rupanya,” gumam Nirmala, bibirnya berkedut sinis. “Dirham Pradana … pebisnis yang berkecimpung di industri hiburan, pimpinan Pradana Group, perusahaan yang menaungi beberapa rumah produksi.”

Begitu akurat detail informasi yang ia terima. Bukan dari Alyra, Nirmala menguliti Dirham melalui informan terpercaya.

Sementara di balik gerbang, di sebuah ruangan kecil — pos satpam, melalui kamera pengawas, seorang security mendapati sebuah mobil asing terparkir di area luar, gerak-gerik pemiliknya mencurigakan.

“Siapa gerangan?” Pria berkulit sedikit legam bangkit dari kursi, membuka gerbang.

Namun belum sempat menanyai, mobil sang tuan tiba dari arah lain, berhenti tepat di belakang mobil si wanita. Ia pun berlari kecil, menghampiri bosnya.

Berulang kali pengemudi Land Cruiser menekan klakson, tidak sabaran, berakhir dia keluar dari kendaraan.

“Ada apa sih, Jul? Mobil siapa parkir di depan gerbang kayak gini!” Ditatapnya nyalang sang security.

“Anu, Pak. Saya juga tidak tahu, baru saja saya mau menanyakannya pada si ibu ini—”

“Kau kah si brengsek itu? Namamu Ervino?” Tanpa basa-basi, Nirmala menyela, berjalan menghampiri, tatapannya menusuk.

Ervin seketika menegang. Meski belum pernah bertemu secara langsung, namun ia sangat mengenal wanita di depannya, melihat dari foto yang pernah Alyra bagikan.

“Tante Mala?” Bola mata nyaris melompat dari tempat.

“Kau … mengenal saya?” Alis Nirmala terangkat. Tak menunggu jawaban, ia kembali melempar tanya. “Siapa wanita di sampingmu itu?” Pandangnya bergeser pada sosok berambut pirang coklat, turut keluar dari kendaraan, berdiri seraya memeluk lengan Ervin.

Perempuan yang dimaksud memindai penampilan Nirmala, menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Siapa tante-tante girang itu, Sayang?” Sengaja bersuara lantang agar si tante mendengar.

“Sayang?” Tak menghiraukan kalimat lainnya, Nirmala fokus pada kata terakhir.

“Jaga bicaramu, Velisa!” Ervin menatap tajam calon istrinya.

“Oh … ternyata engkau Velisa? Wanita murahan yang pernah Alyra ceritakan?” Susunan kata mulai menyerang.

"Wanita murahan?!" Velisa terlihat meradang.

Ervin maju dua langkah, kaki gemetar, jantung terus berdebar. “Maaf, Tante. Apa gerangan yang membawa Tante datang di kediaman saya?”

Tutur bicara lembut, kalimat sopan, Ervin berusaha memecah suasana yang menegang.

“Langsung saja. Saya datang untuk meminta pertanggung jawaban!”

Ervin kembali mendelik, meneguk ludah, suara seolah tercekat. “A-pa, Tante?”

“Alyra hamil. Dia bilang … kau pelakunya, yang merenggut paksa kehormatannya.” Mata memerah penuh amarah, bibirnya terkatup rapat, jemari Nirmala mengepal kuat.

“Apa!” Dari belakang, Zaskia Hilman berdiri dengan raut tak percaya. “Apa maksud Anda dengan menyebut anak saya pelakunya!”

Sontak, semua mata beralih, menatap terkejut pada arah suara memekik.

“Mama … mampus aku.” Kedua tangan meremas kepala, mulut melongo, tak tahu harus berbuat apa.

“Ervin. Jelaskan ke Mama, apa ini maksudnya?” Zaskia melangkah tegas mendekati putra sulungnya.

“Benar, Sayang. Apa maksud tante girang itu? Alyra hamil? Anak kamu?” Velisa tak mau kalah, turut menuntut penjelasan.

Ervin kelimpungan, menoleh ke kiri dan kanan, dua wanita mengguncang lengannya, menunggu jawaban.

Sementara ibunda Alyra tetap berdiri tenang, menyelipkan rambut pada daun telinga dengan gaya elegan. Seolah menikmati keributan di depan mata.

“Mama! Velisa! Stop!” Ervin menepis kasar tangan kedua wanita. Kembali menatap ciut Nirmala. “Tante … bisakah kita bicarakan ini di dalam?” Ia menunjuk sebuah rumah megah bak istana, milik keluarga Pradana.

Nirmala menarik napas malas, namun ia juga tak bisa menolak, berharap bertemu Dirham untuk menyelesaikan urusan. Bicara dengan Ervin dan ibunya, pasti tak akan menemukan jalan keluar. Begitu pikirnya.

“Kau … bersiagalah di luar.” Ia menoleh pada sang supir.

“Baik, Nyonya.”

Semua orang masuk ke rumah besar, kecuali Beni asisten Nirmala, dan si Jul sang satpam yang berjaga di luar.

.

.

.

Di ruang yang cukup luas, berdiri meja persegi panjang berbahan granit mengkilap di permukaannya.

Duduklah sosok kepala keluarga, yakni Dirham Pradana di kursi tunggal bak singgasana. Dan beberapa orang berjejer di sebelah kiri dan kanannya.

Kebetulan, dirinya baru saja pulang bekerja tepat saat Nirmala dibawa masuk ke rumahnya.

“Apa persoalan yang membuat Anda ingin menemui saya, Bu Nirmala?” Suara serak khas seorang pimpinan menggema di ruang keluarga.

“Langsung saja.” Nirmala menegakkan bahu, menatap tajam. “Saya datang untuk meminta pertanggung jawaban. Putra sulung Anda sudah menodai putri saya sehingga hamil!” Suara anggun namun tegas, menjawab tanpa basa-basi.

Tentu saja Dirham tampak terkejut, namun rautnya dipaksa tetap tenang. “Benarkah begitu, Ervino?” Ia tatap netra bergetar sang putra.

Tak bersuara, Ervin menjawab dengan anggukan kepala.

“Kalian melakukannya atas dasar cinta … atau kau renggut kehormatannya secara paksa?” Kini sorot mata Dirham terlihat tegas.

“Ervin … Ervin memaksanya, menjejalkan pil perangsang, memberinya bius penenang,” ungkapnya tanpa terbata.

Nirmala menatap nanar lelaki durjana yang menyakiti putrinya, rasa pedih menjalar di dalam dada usai mendengar pengakuan putra sulung Dirham Pradana.

“Dasar insan tak berperasaan!”

Dirham memijat kepala, memejamkan mata. Ia tampak berpikir serius, kemudian mengangkat wajah dengan yakin. “Saya turut prihatin dan menyesal atas tindakan bejat anak saya. Tetapi … bisakah Anda diajak bekerja sama? Mari kita ambil langkah terbaik untuk masalah ini, jangan libatkan hukum ataupun media.” Ia menjeda kalimat, menatap penuh harap pada Nirmala.

“Bukankah suami Anda juga berkecimpung di industri hiburan? Bayangkan, apabila skandal ini muncul di pencarian media sosial, viral dan menjadi perbincangan panas netizen. Bukan hanya keluarga saya yang akan merugi, tetapi nama baik pak Abimanyu Dewangga turut terseret dan mendapat kecaman,” sambungnya, sengaja menekan Nirmala dengan nama suaminya. Sesama pebisnis di industri yang sama, ia memang cukup mengenal keluarga Dewangga.

Nirmala tampak berpikir serius, ada benarnya ucapan Dirham, terlebih Alyra hanyalah anak sambung Abimanyu, pasti akan menjadi topik hangat bila skandal ini terkuak, dikuliti habis asal-usul putrinya.

“Lalu … apa solusi Anda?” Ia tetap berusaha tenang.

“Maaf sekali, sepekan lagi Ervin akan menikahi Velisa, sudah ditentukan tanggalnya, tidak bisa ditunda apalagi dibatalkan.” Kini tatapan Dirham mengintimidasi. “Lakukan Abor-si. Saya akan bertanggung jawab penuh atas biaya, memberikan kompensasi setimpal! Rumah, mobil, uang, saya akan berikan berapapun nominalnya. Asalkan … Anda dan Alyra dapat menutup mulut rapat-rapat.”

Pria berambut putih penuh uban itu tersenyum lebar, menganggap Nirmala gampangan, disuap dengan rupiah.

Nirmala menyeringai tajam. “Anda pikir saya akan setuju? Berapapun nominal yang Anda tawarkan, takkan mampu membeli nurasi saya,” tolaknya tegas. “Abor-si? Hei, Tua! Anda ingin membunuhh cucumu sendiri?!”

Raut Dirham berubah muram. “Lantas … apa mau Anda?” Tatapannya meremehkan. “Bukankah Alyra adalah anak sambung Abimanyu? Itu artinya … dia sama sekali tak memiliki ikatan khusus dengan keluarga Dewangga.”

Nirmala langsung menoleh, sorot matanya mulai bergetar.

“Apa menurut Anda Abimanyu akan melindungi Alyra? Saya tak yakin seorang Abimanyu akan rela merusak citra perusahaan demi seorang anak yang dibawa oleh istri keduanya. Terlebih … anak itu bukanlah darah dagingnya sendiri.” Dirham menyerang tepat sasaran. “Saya bisa menjamin keselamatan keluarga saya apabila skandal ini terkuak, sangat mudah bagi saya untuk membungkam media. Dan sekadar informasi, saya … sudah kebal hukum.” Ia tertawa sumbang.

“Tetapi, saya tidak bisa menjamin atas nasib Alyra,” sambungnya. “Entah dia akan mendekam di penjara bila nekat menyebarkan skandal, atau … dia akan berakhir depresi dan menggila,” ancamnya.

Pupil Nirmala seketika membesar, ancaman Dirham berhasil membuatnya cemas.

“Saya tetap ingin menyelamatkan hidup anak saya. Entah bagaimanapun caranya, saya tidak ingin dia melahirkan tanpa adanya peran ayah untuk bayinya.” Nirmala menatap berani pada pria baya yang begitu berkuasa.

Dirham menarik napas panjang. “Begitukah? Hanya butuh sosok ayah?”

Suara santai menyela dari satu ruangan.

“Bagaimana jika kita nikahkan Alyra dengan adiknya Ervin?”

.

.

.

“Alyra nggak setuju!”

Ditatapnya tajam netra tegas sang mama, Alyra mengutarakan penolakan.

“Alyra, ini satu-satunya jalan keluar.”

“Ma!” Sang putri berteriak. “Alyra dihamili kakaknya, kenapa harus menikahi Adiknya? Ini nggak masuk akal!”

“Mama tahu, Al. Tapi apa kamu punya solusi? Bila tak bersedia menikahi Adiknya, kamu ditekan harus melakukan Abbor-si!” Nirmala tak menatap tegas, wajahnya teduh merayu sang putri. “Bila Om Abi tahu masalah ini … dia pasti akan sangat marah dan kecewa, tak kuasa menanggung malu. Berakhir kamu dan mama ditendang keluar dari rumah Dewangga.”

“Tapi, Ma ….”

“Keluarga Pradana terkenal berpower dan kebal hukum,” sambung Nirmala. “Mama sudah kehabisan akal, mama sudah nggak bisa berpikir jernih, Alyra. Saat mereka menawarkan perjodohan ini … mama langsung menyetujui.”

“Dan mama nggak diskusi dulu sama Alyra—”

“Semua ini salah kamu, Al!” Nirmala berteriak. “Kalau saja kamu patuh dan tetap tinggal di rumah Dewangga, kekacauan ini takkan pernah terjadi!” Dadanya naik turun, amarah Nirmala sudah tak terbendung. “Segala sok-sokan mau hidup mandiri, berakhir hidupmu hancur seperti ini!”

Nirmala kesulitan mengatur napas. “Tolong mama, Alyra. Tidak mudah untuk masuk ke keluarga Dewangga, mama merangkak dan memohon agar Abimanyu bersedia menikahi mama. Belum lama mama menikmati hidup mewah dan terbebas dari neraka … apa kamu tega melihat mama kembali tenggelam dalam lautan sengsara?”

“Kali ini saja, Alyra. Kamu hanya perlu menikah sampai bayimu lahir, pastikan dia terlahir dengan adanya sosok ayah di sisinya. Jangan sampai Abimanyu tahu tentang skandal ini, mama mohon ….” pinta Nirmala bersungguh-sungguh.

Setelah hening cukup lama, berpikir panjang dengan segala pertimbangan, akhirnya Alyra mengangkat wajah, yakin.

“Baiklah … Alyra mau menikahinya, tapi dengan satu syarat!”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!