Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Rumah yang Dirindukan
Bab 15 — Rumah yang Dirindukan
Perjalanan menuju desa tempat Amelia tinggal berlangsung cukup lama.
Mobil hitam mewah milik keluarga Moretti melaju melewati jalanan Palermo yang ramai sebelum perlahan memasuki daerah yang lebih sepi dan sederhana.
Amelia terus memandangi jendela sejak tadi.
Matanya tampak berbinar untuk pertama kalinya sejak berada di mansion.
Lorenzo yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan kecil itu tanpa banyak bicara.
Biasanya Amelia selalu terlihat tegang jika berada dekat dirinya.
Namun sekarang…
gadis itu tampak jauh lebih hidup.
“Kau sangat merindukan rumahmu?” tanya Lorenzo tiba-tiba.
Amelia langsung menoleh.
Lalu perlahan mengangguk.
“Rumahku memang kecil… tapi di sana hangat.”
Tatapan Amelia kembali ke luar jendela.
“Aku dan nenek hidup sederhana. Kadang kami kekurangan uang, kadang harus makan seadanya… tapi aku bahagia.”
Lorenzo diam mendengarkan.
Baginya, kebahagiaan adalah sesuatu yang asing.
Ia tumbuh di dunia penuh darah, kekuasaan, dan pengkhianatan.
Rumah besar keluarga Moretti bahkan tidak pernah terasa seperti rumah baginya.
Namun Amelia…
gadis itu bisa berbicara tentang rumah kecil miskin dengan mata penuh kehangatan.
Dan entah kenapa…
itu membuat Lorenzo sulit mengalihkan pandangan darinya.
“Apa kau tidak pernah membenci hidupmu?” tanya Lorenzo lagi.
Amelia tampak berpikir sejenak.
“Pernah.”
Jawaban jujur itu membuat Lorenzo sedikit tertarik.
“Terutama saat melihat nenek sakit dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.”
Suara Amelia perlahan mengecil.
“Aku merasa gagal…”
Lorenzo memperhatikan wajah gadis itu cukup lama.
“Kau pergi sendirian demi mencari uang untuk nenekmu.”
Amelia menunduk pelan.
“Itu bukan kegagalan.”
Jantung Amelia langsung berdetak aneh mendengar kalimat tersebut.
Karena selama ini…
tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
Suasana mobil kembali sunyi.
Namun kali ini bukan sunyi yang canggung.
Melainkan tenang.
Marco yang duduk di kursi depan diam-diam memperhatikan mereka melalui kaca spion.
Dan semakin lama ia semakin yakin—
bosnya benar-benar berubah sejak Amelia datang.
Beberapa jam kemudian…
mobil akhirnya memasuki desa kecil tempat Amelia tinggal.
Mata Amelia langsung membesar.
“Itu warung Pak Harun…”
“Itu sungai tempat aku mencuci pakaian…”
“Dan itu pohon mangga dekat rumahku…”
Amelia hampir tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Senyum kecil terus muncul di wajahnya.
Lorenzo hanya diam sambil memperhatikan gadis itu.
Namun dalam hati…
ia mulai menyadari sesuatu.
Ia menyukai melihat Amelia tersenyum.
Perasaan itu aneh.
Dan sedikit mengganggu.
Saat iring-iringan mobil hitam memasuki desa, warga sekitar langsung berhenti beraktivitas.
Mereka memandang kagum sekaligus takut.
Mobil-mobil mahal seperti itu sangat asing di tempat kecil ini.
“Astaga… siapa itu?”
“Orang kota?”
“Kenapa banyak pengawal begitu?”
Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana.
Amelia langsung gugup.
“Mereka semua melihat…”
Marco tertawa kecil.
“Itu biasa.”
“Tidak untuk desa kecil seperti ini…”
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah kayu sederhana milik Amelia.
Begitu melihat rumah itu…
mata Amelia langsung memanas.
Rumah kecil dengan cat yang mulai pudar.
Halaman sederhana.
Dan kursi kayu tua tempat neneknya biasa duduk setiap sore.
Semua terasa sangat dirindukan.
“Nenek…”
Amelia buru-buru turun dari mobil.
Pintu rumah terbuka perlahan.
Dan Nenek Hana langsung membeku melihat cucunya berdiri di depan rumah.
“Amelia…?”
Air mata wanita tua itu langsung jatuh.
Amelia berlari lalu memeluk neneknya erat.
“Nenek…”
Tangis Amelia pecah begitu saja.
Nenek Hana memeluk cucunya sambil menangis haru.
“Kau baik-baik saja… syukurlah…”
“Aku merindukan Nenek…”
Warga desa mulai berkumpul di sekitar rumah sambil memperhatikan mobil mewah dan para pria berpakaian hitam.
Mereka terlihat penasaran.
Namun juga takut.
Sementara itu, Lorenzo berdiri tidak jauh dari mobil sambil memandang rumah kecil tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
ia berada di tempat yang terasa begitu sederhana.
Dan anehnya…
tempat itu jauh lebih hangat dibanding mansion mewah miliknya.
Marco berjalan mendekat sambil berbisik kecil,
“Kurasa kita terlalu mencolok di sini.”
Lorenzo tidak menjawab.
Tatapannya tertuju pada Amelia yang sedang tertawa kecil bersama neneknya sambil menangis.
Ekspresi gadis itu begitu tulus.
Begitu hangat.
Dan Lorenzo merasa dadanya sedikit sesak melihatnya.
Perasaan asing itu kembali muncul.
“Aku tidak suka ini…” gumam Lorenzo pelan.
Marco langsung meliriknya.
“Apa?”
“Tidak ada.”
Tak lama kemudian, Amelia akhirnya menyadari Lorenzo masih berdiri di luar rumah.
Ia cepat-cepat menghapus air matanya lalu berjalan mendekat.
“Nenek ingin bertemu denganmu.”
Lorenzo sedikit mengernyit.
“Untuk apa?”
“Aku juga tidak tahu…”
Jujur saja, Amelia sendiri gugup mempertemukan Lorenzo dengan neneknya.
Karena pria itu terlihat terlalu mengerikan untuk dibawa ke lingkungan sederhana seperti ini.
Namun akhirnya Lorenzo tetap berjalan masuk ke rumah kecil tersebut.
Langkahnya pelan.
Dan cukup hati-hati agar tidak terlihat terlalu menakutkan.
Begitu masuk, Nenek Hana langsung berdiri sambil menatap Lorenzo.
Tatapan wanita tua itu penuh kehati-hatian.
Namun juga rasa terima kasih.
“Anda Lorenzo?”
Lorenzo mengangguk kecil.
“Terima kasih sudah menyelamatkan cucu saya.”
Suasana mendadak hening.
Karena Lorenzo tidak terbiasa menerima ucapan tulus seperti itu.
Biasanya orang berbicara padanya karena takut.
Bukan karena benar-benar berterima kasih.
“Anda tidak perlu berterima kasih,” jawab Lorenzo datar.
“Tetap saja…”
Nenek Hana tersenyum lembut.
“Anda membawa Amelia pulang dengan selamat.”
Amelia diam-diam memperhatikan Lorenzo.
Dan tanpa sadar…
ia melihat pria itu sedikit lebih tenang dibanding biasanya.
“Maaf rumah kami kecil,” lanjut Nenek Hana malu-malu.
“Tidak masalah.”
Marco yang berdiri dekat pintu hampir tersedak mendengar jawaban sopan Lorenzo.
Karena bosnya biasanya tidak pernah peduli soal basa-basi seperti ini.
Amelia juga terlihat sedikit terkejut.
Namun sebelum suasana menjadi lebih nyaman—
Suara motor tiba-tiba terdengar berhenti di depan rumah.
Tak lama kemudian, seseorang masuk dengan napas sedikit terburu-buru.
“Amelia!”
Raka Pradipta langsung membeku saat melihat Amelia benar-benar ada di sana.
“Raka…” gumam Amelia pelan.
Namun beberapa detik kemudian…
Raka menyadari ada pria asing tinggi berpakaian hitam berdiri di dekat Amelia.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Dan suasana rumah mendadak terasa berbeda.
Raka mengernyit curiga.
“Kau siapa?”
Lorenzo tidak menjawab.
Tatapannya justru berubah dingin.
Amelia langsung panik melihat suasana mulai menegang.
“Raka, dia yang menyelamatkanku.”
“Dia?” Raka masih terlihat tidak percaya. “Kenapa orang seperti dia membantumu?”
Kalimat itu membuat Marco langsung waspada.
Karena nada bicara Raka terdengar seperti tantangan.
Sementara Lorenzo…
masih diam.
Namun aura dingin pria itu mulai terasa memenuhi ruangan kecil tersebut.
Dan untuk pertama kalinya…
Amelia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata Lorenzo Moretti.
Rasa tidak suka.