Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Ruang tamu rumah utama keluarga Pradipta terasa sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran rumah sebesar itu. Jam dinding berdetak perlahan, seolah sengaja menghitung ketegangan yang menggantung di udara.
Amara duduk tegak di kursi kayu jati kesayangannya.
Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam, tatapan seorang perempuan yang sudah terlalu lama hidup di dunia kekuasaan dan rahasia.
Di hadapannya, Kevin berdiri canggung. Untuk pertama kalinya, keponakan yang biasanya penuh percaya diri itu tampak seperti anak kecil yang tertangkap basah.
“Kamu tahu kenapa tante memanggilmu ke sini?” tanya Amara, suaranya rendah namun tegas.
Kevin menelan ludah. “Tidak tante. Ada apa ya.”
Amara tidak menjawab. Ia hanya mendorong ponselnya ke tengah meja. Layar menyala, menampilkan foto Kevin dan Laura di depan kediaman Haikal.
“Jelaskan,” kata Amara singkat.
Kevin menarik kursi dan duduk perlahan. Tidak ada lagi sikap santai. Tidak ada senyum.
“Aku dan Laura berpacaran,” katanya akhirnya. “Empat tahun.”
Amara terdiam. Jari-jarinya mencengkeram sandaran kursi.
“Empat tahun?” ulangnya pelan.
“Iya, Tante,” Kevin mengangguk. “Bukan hubungan main-main.”
“Dan kamu pikir kamu pantas dengan perempuan murahan itu?” tanya Amara dingin.
“Laura sekarang bekerja di rumah Haikal. Suami Sagita.”
Kevin menunduk. “Aku juga baru tahu itu, Tante.”
“Kamu bohong,” potong Amara.
Kevin menggeleng cepat. “Tidak. Aku sungguh terkejut waktu melihatnya di sana. Padahal aku sudah mencarinya kemana-mana selama satu bulan ini. Dia pergi tanpa kabar.”
Amara menyandarkan punggungnya. “Kalau begitu, kenapa dia menghilang dari hidupmu?”
Kevin terdiam lama. Napasnya berat.
“Karena aku menyakitinya,” jawabnya akhirnya. “Dan dia memilih pergi. Aku baru tau tadi pagi.”
“Apa yang kamu lakukan?” suara Amara menajam.
Kevin tertawa pahit. “Aku berselingkuh. Dengan sahabatnya sendiri.”
Amara memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, bukan karena simpati, melainkan kecewa.
“Dan dia melihatnya sendiri?” tanya Amara.
Kevin mengangguk. “Di hotel.”
Hening. Amara membuka mata perlahan.
“Setelah itu?” tanyanya.
“Dia pergi tanpa sepatah kata,” jawab Kevin lirih.
“Nomornya mati. Semua jejaknya hilang. Seolah dia ingin menghapus hidup lamanya.”
“Kamu mencarinya?” Amara menatapnya tajam.
“Setiap hari,” jawab Kevin cepat. “Ke mana pun aku bisa. Aku menyesal, Tante.”
Amara menarik napas panjang. “Kevin, yang tante ingin tahu sekarang bukan penyesalanmu. Tapi satu hal.”
Kevin menegakkan badan. “Apa itu?”
“Apakah Laura gadis berbahaya?” tanya Amara. “Apakah dia punya niat buruk terhadap keluarga ini?”
Kevin menggeleng tegas. “Tidak. Sama sekali tidak.”
“Kamu membelanya?” Amara menyipitkan mata.
“Aku mengatakan kebenaran,” jawab Kevin.
“Laura bukan perempuan murahan seperti yang Tante katakan.”
Amara terdiam.
“Dia gadis yang baik,” lanjut Kevin. “Terlalu baik. Bahkan untuk orang sepertiku.”
Amara memalingkan wajah. “Kamu tahu latar belakangnya?”
Kevin mengangguk. “Dia ditinggalkan orang tuanya di panti asuhan sejak kecil.”
Amara terkejut. “Apa?”
“Dan sampai dewasa,” suara Kevin bergetar, “orang tuanya tidak pernah datang menjemputnya.”
Ruangan itu terasa semakin berat.
“Laura sebatang kara,” lanjut Kevin. “Belajar bertahan. Kerja apa saja. Tidak pernah minta belas kasihan.”
Amara menutup matanya sejenak. Hatinya bergejolak.
“Lalu menurutmu,” katanya pelan, “apa yang dia cari di rumah Haikal?”
Kevin menatapnya lurus. “Mungkin hanya untuk menghindariku.”
“Kamu yakin dia tidak akan menggoda Haikal?” tanya Amara cepat.
Kevin menggeleng. “Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Tapi aku yakin satu hal, Laura tidak datang untuk menghancurkan siapa pun.”
Amara tersenyum tipis, pahit. “Kadang niat baik pun bisa membawa kehancuran.”
Kevin berdiri. “Tante boleh marah padaku. Tapi jangan jadikan Laura kambing hitam.”
Amara menatapnya lama. Sangat lama.
“Kamu keponakanku,” ucap Amara akhirnya. “Sagita putri ku. Apa pun yang terjadi, tante akan melindungi keluarga ini.”
Kevin mengangguk. “Aku mengerti.”
“Tapi ingat satu hal,” lanjut Amara dingin. “Kalau Laura benar-benar berbahaya, tante tidak akan ragu untuk bertindak.”
Kevin menjawab lirih, “Kalau dia terlihat berbahaya… itu karena hidup sudah terlalu sering melukainya.”
Pintu tertutup setelah Kevin pergi.
Amara tetap duduk, terdiam, pikirannya kacau.
“Kalau Kevin tidak berbohong…” bisiknya, “…maka gadis itu bukan sekadar pembantu.”
Ia meraih ponselnya, menatap nama Sagita di layar.
POV Laura Andira
“Tidak semua orang dilahirkan untuk dicintai. Sebagian dari kami hanya dilahirkan untuk bertahan.”
Hujan selalu membuatku mengingat malam itu.
Aku tidak punya ingatan tentang wajah siapa pun. Tidak ada pelukan terakhir. Tidak ada suara ibu yang memanggil namaku. Yang aku ingat hanyalah suara hujan deras, kejam, dan dingin seolah langit ikut membuangku.
Aku ditemukan di depan Panti Asuhan Mutiara Kasih, dua puluh tiga tahun yang lalu.
Bayi perempuan, dibungkus kain tipis, dengan tubuh menggigil dan tangisan yang nyaris habis. Tidak ada sepatah katapun. Tidak ada penjelasan. Hanya aku… dan hujan.
Mereka memberiku nama Laura Andira sesuai dengan yang tertulis di secarik kertas. Nama yang indah untuk anak yang tidak diinginkan siapa pun.
Selama bertahun-tahun, aku menunggu. Menunggu seseorang datang dan berkata, “Kami mencarimu.” Tapi tidak pernah ada. Tidak satu pun. Tidak ayah. Tidak ibu. Tidak keluarga jauh. Aku belajar sejak kecil bahwa menunggu adalah kebodohan pertama yang harus kuhindari.
Di panti, aku belajar menjadi anak baik. Anak pintar. Anak yang tidak merepotkan. Karena anak seperti itu lebih lama bertahan. Aku tahu, jika aku menangis terlalu keras, dunia tidak akan peduli. Jadi aku diam. Aku membaca. Aku belajar.
Aku tumbuh dengan prestasi, bukan kasih sayang.
Ketika akhirnya aku diterima di universitas ternama dengan beasiswa penuh, aku pikir untuk pertama kalinya hidup berpihak padaku.
Aku salah.
Aku mahasiswi berprestasi. Nilai tinggi. Aktif. Dosen mengenalku sebagai mahasiswa teladan. Tapi di dunia orang dewasa, prestasi tidak berarti apa-apa jika kau tidak punya kuasa.
Semuanya runtuh hanya karena satu isu.
Mereka mengatakan aku berselingkuh dengan rektor kampus. Dan tentu saja mereka menuduhku menggoda nya.
Fitnah yang keji. Tuduhan yang tidak pernah bisa kubela. Aku dipanggil, diinterogasi, dipermalukan. Aku mencoba menjelaskan. Aku bersumpah. Tapi siapa aku?
Seorang anak panti.
Sedangkan istri rektor adalah pemilik kampus.
Aku dikeluarkan secara sepihak. Namaku dihapus. Beasiswaku dicabut. Dan yang paling kejam, aku di-blacklist dari universitas mana pun.
Tidak ada ruang banding. Tidak ada keadilan.
Hari itu aku belajar satu hal penting, Kebenaran tidak pernah cukup jika kau sendirian.
Aku jatuh.
Aku bekerja apa saja. Part time. Shift malam. Pelayan kafe. Cleaning service. Aku tidur sedikit, makan seadanya. Aku bertahan.
Sampai akhirnya aku bekerja di sebuah klub malam.
Bukan karena aku mau. Tapi karena aku perlu hidup.
Di sanalah aku bertemu Kevin.
Dia datang seperti pahlawan dalam cerita murahan. Tampan. Kaya. Peduli. Dia melarangku bekerja di tempat itu. Katanya aku terlalu berharga untuk dunia malam.
“Aku akan mencukupi semua kebutuhanmu,” katanya.
“Asal kamu selalu ada saat aku butuh. Tentu saja kata aku butuh itu adalah, pelampiasan nafsunya.”
Aku tahu itu tidak seimbang. Tapi aku lelah menjadi kuat sendirian. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan seseorang memegang kendali.
Dan aku jatuh cinta.
Kevin membuatku merasa dipilih. Dilihat. Diinginkan. Aku lupa bahwa lelaki seperti dia tidak pernah puas dengan satu dunia.
Di saat yang sama, aku punya sahabat.
Namanya Mita.
Kami bertemu di kafe. Sama-sama pekerja keras. Sama-sama menyewa kamar kos kecil. Kami makan mi instan bersama, tertawa bersama, menangis bersama. Aku menganggapnya keluarga sesuatu yang tidak pernah kumiliki.
Aku tidak sadar… bahwa di balik senyumnya, Mita selalu menilai.
Ia iri.
Pada wajahku. Pada keberuntunganku. Pada Kevin.
Ia mendengarkan ceritaku tentang Kevin dengan mata berbinar bukan karena bahagia untukku, tapi karena ingin memilikinya.
Dan Kevin… memang tidak pernah pandai menolak.
Hubungan mereka dimulai diam-diam. Pesan singkat. Tatapan curang. Alasan kerja. Dan aku terlalu percaya.
Sampai malam itu.
Aku melihat mobil Kevin memasuki sebuah hotel.
Entah kenapa, kakiku bergerak sendiri. Aku mengikutinya. Aku berdiri di lobi hotel seperti orang bodoh yang masih berharap salah paham.
Aku naik.
Aku melihat.
Dan di balik pintu yang sedikit terbuka itu, aku melihat dua orang yang paling kupercaya menghancurkan hidupku tanpa rasa bersalah.
Tidak ada teriakan. Tidak ada drama.
Aku hanya merasa… kosong.
Seperti bayi yang ditinggalkan di tengah hujan dua puluh tiga tahun lalu.
Aku pergi. Tanpa kata. Tanpa pesan. Aku menghilang dari hidup Kevin bukan karena lemah, tapi karena aku menolak selalu memberinya kepuasan melihatku hancur.
Aku berjalan tanpa tujuan. Malam itu aku benar-benar tidak tahu harus ke mana.
Dan di sanalah di pinggir jalan, aku ditemukan oleh asisten pribadi Haikal.
Aku tidak tahu saat itu, bahwa langkahku menuju rumah Haikal bukanlah akhir penderitaanku.
Itu adalah awal dari diriku yang baru.
Laura yang tidak lagi menunggu diselamatkan.
Laura yang belajar mengatur permainan.
Laura yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun menginjaknya lagi.
Jika dunia ingin menjadikanku alat, maka aku akan menjadi pisau.
Dan kali ini…
aku tidak akan kalah. Aku bertekad akan merubah hidupku dengan cara ku. Aku ingin merebut Haikal dari Gita, toh dia juga berselingkuh di belakang Haikal. Aku ingin menguasai Haikal seutuhnya, mulai dari hatinya, tubuh nya dan tentu saja harta nya. Siapa yang tidak ingin hidup bergelimang harta, walaupun dengan cara yang kotor. Tapi apa salah nya jika itu bisa membuat ku bahagia. Lagi pula sepertinya aku memang di takdirkan untuk Haikal, hanya saja takdir baru saja mempertemukan kami.
******