kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Kadir mengepalkan tangan sampai urat di lehernya menonjol. Bau amis darah dan kemenyan basi memenuhi ruangan sempit itu. Di lantai, tubuh anaknya ayu terbaring, bibir membiru, perutnya naik-turun tidak beraturan dan di kulitnya ada urat hitam tipis yang merayap pelan menuju jantung.
Di luar rumah, didekat pohon mangga. Samsul ternyata ada dibelakang rumah kadir dan sitoh cepat-cepat pulang karena ingin menyusul suaminya si Samsul yang sudah berada dibelakang rumah Pak kadir dan ia berjongkok di belakang pohon mangga. Tangan Samsul gemetar memegang bungkusan daun pisang yang basah. Di dalamnya ada rambut Ayu, kuku, dan tiga tetes darah yang ia curi diam-diam beberapa hari yang lalu, saat ayu sedang tidur.
“Santau ini sudah masuk tahap ke tiga dan sekarang korbannya anaknya Midah dan sebentar lagi dia akan menyusul ibunya ke alam baka,” bisik Samsul.....!Matanya merah dan haus akan darah dan nyawa.
Ia membuka bungkusan itu dan di dalamnya, rambut Ayu sudah menghitam dan bergerak-gerak sendiri seperti cacing. Samsul menaburkan serbuk merah ke atasnya, lalu membaca sesuatu dalam bahasa yang bahkan ia sendiri tak paham artinya. Kata-kata itu bukan dari Al-Quran, bukan dari kitab tapi Kata-kata itu ia pelajari dari dukun yang memberinya santau.
Tanah bergetar lagi dan Kali ini lebih kuat.
Di dalam rumah, tubuh ayu melengkung ke belakang sampai tulang belakangnya berbunyi _krek_. dan saat itu lah penjaga ayu, kakeknya yang seorang dukun besar muncul untuk melindungi ayu
Pintu belakang rumah terbuka dengan suara dentuman. Asap putih pekat keluar bersamanya bau kemenyan, cendana, dan darah kering.
Berdiri di ambang pintu, seorang lelaki tua dengan tubuh kurus tapi tegak seperti tombak. Rambutnya putih sebahu, dikepalanya seperti ada tanjak khas suku Melayu dan matanya menatap tajam mahkluk besar dan matanya merah dan di tangan kanannya tergenggam tongkat kayu ulin yang ujungnya diukir kepala ular.
Seluruh udara di sekitar kadir dan sekitarnya mendadak berat dan kadir kaget karena ayahnya yang sudah lama meninggal dunia masih bisa berdiri dihadapannya,"ayah".ucap kadir dengan sendu. tapi dia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk bernostalgia, mereka harus segera menolong ayu agar terlepas dari jeratan mahkluk terkutuk itu.
“Kau berani mencoba menganggu cucuku?” ucap karsa dukun yang pada masanya terkenal akan kebaikannya untuk menolong orang lain, walaupun dia menganut ilmu hitam dan suara serak, tapi setiap kata terasa menampar dada.
Makhluk yang ingin merasukin ayu mencoba melawan.“Aku bukan takut padamu, tua bangka! Aku sudah makan ibunya dan sekarang anak ini milikku!” Mbah karsa tidak menjawab. ia menghentakkan tongkatnya sekali ke tanah.
_Dug._
Bunyi itu bukan bunyi kayu. Itu bunyi seperti petir jatuh di bawah tanah.Garis-garis merah tua menyala di lantai tanah, membentuk lingkaran besar mengelilingi Ayu. Di dalam lingkaran itu, urat hitam yang merayap di tubuh Ayu mendidih, mundur ketakutan seperti cacing kena garam.
Samsul mundur terhuyung dan sitoh juga merasakan efeknya, Dadanya Mereka terasa sesak."siapa tua Bangka itu Dan kenapa dia ikut campur dan menolong keluarga kadir.” desis sitoh. Mbah karsa tersenyum tipis. Senyum orang yang sudah lama menunggu saat ini.“Mati di dunia ini....! Hidup di alam lain. Dan selagi darahku mengalir di tubuh Ayu, aku tak akan biarkan kau dan antekmu menyentuhnya.”
“Siapa tua bangka itu?” desis Sitoh, suaranya tercekat. “Dan kenapa dia ikut campur dan menolong keluarga Kadir?”
Makhluk yang mencoba memasuki tubuh ayu menggeram. “Kau pikir darah itu masih kuat, tua bangka? tubuh yang sudah kuracuni dari dalam akan terus menjadi makananku dan sampai kapanpun aku akan terus menganggu anak ini !” setelah mengatakan itu, mahkluk tersebut menghilang seperti asap hitam.
Mbah Karsa menggeleng pelan.
“mungkin darah cucuku memang sudah kau racuni. Tapi iman dan taqwanya tidak bisa kau racuni seperti kau meracuni tubuhnya dan yang bisa kau racuni hanya hati orang yang serakah.”
Ia menghentakkan tongkatnya lagi. Garis merah di lantai menyala lebih terang, naik ke atas seperti akar api. Di dalam lingkaran itu, tubuh Ayu yang melengkung tadi mulai rileks. Urat hitam di lehernya mengerut, mundur cepat ke arah dadanya, seolah ditarik paksa.
Samsul merasakan sesuatu yang salah. Mantra yang ia baca tadi…berbalik. Kata-kata tanpa arti itu kini menggema di kepalanya, tapi maknanya berubah dan Bukan untuk memanggil. Tapi untuk memanggil balik apa yang sudah keluar.
“Dia… dia tarik santau itu balik ke aku!” Samsul memegangi kepalanya. Hidungnya mulai berdarah hitam. Sitoh mundur dan terlihat panik dan mereka mencoba kabur sebelum ketahuan bahwa merekalah pelakunya.