Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang Mulai Takut
“Weekend nanti aku ikut kamu ke reuni.”
Kayla masih menatap Adrian dengan ekspresi tidak percaya yang masih tersisa di wajahnya. Matanya sedikit membelalak, seolah belum bisa mencerna kalimat yang baru saja diucapkan suaminya itu.
Padahal selama ini… pria itu hampir tidak pernah tertarik sedikit pun dengan kehidupan kampusnya. Apalagi acara kumpul-kumpul alumni yang isinya hanya bernostalgia dan bercerita masa lalu. Hal-hal seperti itu biasanya dianggap Adrian buang-buang waktu saja.
“Kamu yakin mau ikut? Nggak ada kerjaan mendadak?” tanya Kayla pelan, memastikan kembali.
Adrian mengangguk santai, berusaha terlihat biasa saja seolah keputusan itu hal yang sangat wajar. “Kenapa? Nggak boleh ya aku ikut nemenin istriku sendiri?”
“Boleh sih… cuma kaget aja,” Kayla menggantung kalimatnya.
Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, ia tahu persis alasan kenapa Adrian tiba-tiba berubah pikiran dan ingin ikut. Ia tahu betul apa pemicunya.
Dan anehnya… kesadaran itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus lucu. Ada rasa geli yang samar bercampur rasa haru.
Adrian yang dulu terlihat sangat tidak peduli, yang dulu seolah keberadaannya tidak akan pernah tergoyahkan… sekarang mulai terusik hanya karena keberadaan Julian.
“Apa karena Julian?” tanya Kayla hati-hati. Ia memberanikan diri menembus topeng santai suaminya.
Adrian langsung mengernyitkan dahi, wajahnya berubah sedikit kaku. “Apaan sih kamu ngomongnya. Nggak nyambung banget.”
“Itu bukan jawaban,” sahut Kayla tenang.
“Ya nggak ada hubungannya sama dia. Aku cuma pengen lihat suasana kampus kamu dulu aja,” jawab Adrian cepat.
Bohong.
Kayla bisa melihatnya dengan sangat jelas.
Rahang Adrian sedikit mengeras lagi. Cara pria itu menghindari tatapannya terlihat terlalu kentara dan dibuat-buat. Usahanya untuk terlihat tenang justru membuatnya semakin terlihat gelisah.
Kayla hampir tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menjadi pihak yang selalu cemas dan takut kehilangan… ia melihat posisinya terbalik. Ia melihat Adrian benar-benar tidak tenang hanya karena dirinya.
“Kalau kamu nggak nyaman atau terpaksa, aku bisa datang sendiri kok. Nggak apa-apa,” ujar Kayla lembut, berusaha meredakan ketegangan.
“Siapa bilang aku nggak nyaman? Aku nyaman-nyaman aja,” bantah Adrian sedikit keras.
“Kamu keliatan banget kalau cemburu lho, Adrian.”
“Aku cuma… aku cuma nggak suka dia terlalu dekat sama kamu. Nggak suka cara dia ngomong sama kamu,” kalimat itu keluar lebih cepat dari yang Adrian sadari.
Dan setelah mengucapkannya… pria itu langsung diam. Mulutnya tertutup rapat seolah menyesali kecepatan bicaranya.
Sedangkan Kayla menatapnya cukup lama. Jantungnya berdetak pelan namun terasa sampai ke ulu hati.
Karena sudah lama sekali… ia ingin merasa diperebutkan seperti ini. Ingin merasa cukup berharga sampai membuat suaminya takut diambil orang lain. Ingin merasa menjadi prioritas.
Namun sekarang, saat rasa itu akhirnya datang… perasaan itu ternyata tidak lagi cukup kuat untuk menghapus semua luka yang pernah ada sebelumnya. Tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang menumpuk bertahun-tahun.
Malam semakin larut. Angin malam berhembus lebih dingin.
Kayla akhirnya masuk lebih dulu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Adrian duduk sendirian di kursi balkon, menopang dagunya sambil memandangi kerlap-kerlip lampu kota yang terhampar jauh di bawah sana.
Pikirannya kacau balau. Penuh sesak.
Karena akhir-akhir ini semuanya berubah terlalu cepat. Kayla berubah. Suasana rumah mereka berubah. Bahkan perasaannya sendiri ikut berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.
Dulu ia merasa Kayla akan selalu ada. Selalu berdiri diam menunggunya pulang. Selalu mengerti kesibukannya. Selalu memaafkan kesalahannya. Ia mengira ketulusan wanita itu adalah hal abadi yang tidak akan pernah habis.
Namun sekarang… untuk pertama kalinya Adrian merasa takut.
Takut bahwa suatu hari nanti, wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya. Takut ia datang menunggu, tapi tempat itu sudah kosong.
Ponsel di saku celananya tiba-tiba berbunyi nyaring, memecah lamunan panjangnya.
Nama Bianca muncul terang di layar. Ada ikon gambar mawar yang selalu wanita itu gunakan di belakang namanya.
Adrian menatap layar yang menyala itu cukup lama. Menimbang, sebelum akhirnya ia menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.
“Halo,” suaranya terdengar datar dan lelah.
“Masih bangun kan?” suara Bianca terdengar santai dan ceria dari seberang sana, kontras sekali dengan suasana hati Adrian.
“Hm. Ada apa?”
“Kamu besok jadi ikut makan malam sama klien besar kan? Aku sudah siapin berkasnya nih.”
Adrian memijat pelipisnya pelan, rasa pusing tiba-tiba menyerang. “Lihat nanti deh. Kalau nggak ada hal mendadak aku ikut.”
“Lihat nanti?” nada suara Bianca berubah bingung dan sedikit tinggi. “Kamu akhir-akhir ini aneh banget lho. Suka berubah pikiran, suka melamun, sering nggak fokus.”
Adrian diam saja. Tidak menyangah.
Dan Bianca langsung melanjutkan dengan nada yang lebih tajam dan penuh tebakan,
“Karena istri kamu ya? Semua perubahan kamu gara-gara dia?”
Pertanyaan itu langsung tepat sasaran. Adrian mengembuskan napas panjang dan berat.
“Aku capek, Bianca. Aku capek banget rasanya.”
Biasanya, kalau Adrian bicara begitu, Bianca akan tertawa kecil lalu menggoda atau mengalihkan topik ke hal-hal yang menyenangkan.
Namun malam ini, wanita itu justru terdiam. Hening cukup lama.
Karena ia mulai sadar sesuatu yang mengganggu hatinya: Adrian mulai kembali memikirkan rumahnya. Adrian mulai kembali memikirkan istrinya. Adrian mulai perlahan menjauh darinya.
Dan itu membuat Bianca merasa sangat tidak nyaman.
Beberapa saat kemudian saat Adrian masuk ke kamar, Kayla sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
Wanita itu sedang duduk di depan meja rias kecil di sudut kamar, sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk. Wajahnya diterangi lampu kuning yang remang.
Adrian berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak langsung bergerak, hanya berdiri diam dan menatap pantulan istrinya di cermin besar di depannya.
Kulitnya putih bersih, terlihat halus dan lembap karena air mandi. Wajahnya cantik polos tanpa riasan berat. Matanya yang lembut itu sekarang terlihat lebih hidup, lebih berbinar, dan lebih tegas dibanding beberapa bulan lalu yang selalu tampak murung dan lelah.
Cantik. Sangat cantik.
Pikiran itu berputar terus di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu… Adrian mulai bertanya dalam hatinya, pertanyaan yang menusuk tajam:
Bagaimana bisa selama ini aku membiarkan wanita secantik dan sebaik ini merasa tidak cukup dicintai? Bagaimana bisa aku membiarkannya merasa kesepian?
“Kamu ngelamun apa di situ?” tanya Kayla kecil, sadar bahwa Adrian terus menatapnya lewat pantulan cermin cukup lama.
Adrian tersadar dari lamunannya, lalu berjalan mendekat perlahan. Langkahnya pelan dan berat.
Tanpa banyak bicara, tanpa menjawab pertanyaan itu, pria itu berdiri tepat di belakang kursi putar tempat Kayla duduk.
Lalu… perlahan dan ragu, tangannya terulur menyentuh rambut panjang wanita itu. Jari-jarinya menyisir helai demi helai dengan lembut.
Kayla langsung sedikit menegang di tempat. Tubuhnya kaku sejenak.
Karena sentuhan ini terasa terlalu asing sekarang. Terasa terlalu lama hilang. Terasa begitu hangat sampai membuatnya hampir menangis.
“Kamu cantik kalau rambutnya begini. Dibiarin terurai,” gumam Adrian pelan, suaranya berbisik tepat di samping telinga Kayla.
Jantung Kayla langsung berdetak tidak teratur, berpacu kencang.
Dulu, kalimat seperti ini, sentuhan seperti ini, adalah hal yang sangat biasa. Makanan sehari-hari yang ia dapatkan kapan saja.
Sekarang… rasanya hampir membuatnya lupa cara bernapas. Rasanya begitu mahal dan langka.
Adrian menatap lekat-lekat pantulan mata Kayla di cermin cukup lama. Menyelami kedalaman tatapan itu, takut ada yang berubah atau hilang.
Lalu tanpa sadar, didorong oleh rasa takut kehilangan yang makin besar, ia berkata pelan, penuh harap dan permintaan,
“Jangan berubah buat orang lain ya. Tetap begini aja.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun Kayla langsung mengerti maksud tersembunyi di baliknya.
"Jangan berubah jadi lebih baik gara-gara Julian. Jangan jadi lebih bahagia gara-gara orang lain. Tetaplah jadi Kayla yang aku kenal, yang ada buat aku saja."
Dan untuk pertama kalinya… Kayla benar-benar sadar sepenuhnya
Adrian mulai takut kehilangan dirinya. Adrian mulai sadar bahwa ia bisa kalah.
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡