cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
05:59, pagi.
Seperti kebiasaan pada umumnya, seorang istri sekaligus ibu rumah tangga akan sibuk dipagi hari. Sibuk menyiapkan sarapan pagi, sibuk mengurus suami, dan sibuk mengurus anak anaknya.
Pagi ini, Niya terlihat begitu sibuk, tetapi dia sangat menikmati perannya. Menikmati momen kerepotan disetiap pagi harinya.
Niya meletakan sepiring nasi goreng dengan toping telur mata sapi didepan Zona, didepan Arfi, dan didepan suaminya, terakhir untuknya sendiri.
"Maaf anak anak, menu sarapan kita pagi ini hanya nasi goreng telur mata sapi, soalnya Bunda belum berbelanja," Niya berbicara sambil menatap kedua anaknya yang duduk berdampingan.
"Tidak apa apa Bunda, Zona suka kok,"
"Arfi juga suka. Apapun masakan Bunda, kita suka, iya kan Zona?" Arfi menatap adiknya, meminta pendapat.
Zona mengangguk. "Masakan Bunda... Yummyyy..."
Niya terkekeh gemas melihat kedua anaknya yang ceria dan selalu memuji masakannya. Rasanya Niya begitu bahagia memiliki mereka berdua. Niya sangat bersyukur Tuhan menghadiahkan mereka dipernikahannya dengan mas Riyan.
"Yah.."
"Ayah tidak memuji masakan Bunda?"
Tanya tiba tiba dari Arfi membuat Riyan yang berniat mendiamkan Niya sedikit mendapatkan rintangan. Riyan tersenyum, senyum yang terlihat dibuat buat. "Iya. Masakan Bunda selalu enak. Ayah juga menyukainya. Apapun itu."
"Yeeee... Tuh kan Bunda mas----"
"Sudah sudah. Ayo dihabiskan, nanti keburu telat kesekolah."
"Siap Bundaaa...."
Niya merasa jika sikap suaminya berbeda. Dia tidak seceria biasanya. Entah karena apa, Niya tidak tahu. Yang seharusnya marah adalah dirinya karena masalah kemarin. Mengingat itu Niya masih merasa marah dan malas bertatap muka dengan mas Riyan.
Niya memakan nasi gorengnya dengan menunduk, dia tidak mau sampai melihat wajah suaminya sedikit pun. Begitu juga dengan Riyan. Dia pun tidak ingin melihat wajah Niya.
"Horeee! Zona selesai duluaaan!" Zona berseru dengan kedua tangan yang terangkat, wajahnya penuh keceriaan, dia merasa menang karena selesai makan lebih dulu.
Tak lama dari Zona, satu persatu dari mereka pun selesai sarapan. Seperti biasanya, Niya akan mengantar suaminya yang akan berangkat bekerja sampai teras depan. Pagi ini berbeda dari pagi biasanya, pagi ini tidak ada kata yang terucap dari bibir sepasang suami istri itu.
Setelah mobil suaminya pergi meninggalkan pelataran rumah, Niya masuk kedalam, dia ingin bersiap mengantar anak anaknya kesekolah. "Arfi... Ayo siap siap. Ini sudah siang. Sudah waktunya berangkat,"
"Iya Bunda. Aku sudah siap..." Arfi meraih tas dan menyampirkannya dibahu lalu menuju motor matic yang ada digarasi samping rumah.
"Zona ikuuuuut..."
"Boleh, Bunda ambil kunci motor sebentar. Zona tunggu dimotor sama kak Arfi,"
"Okey Bundaaa...."
Niya masuk kedalam kamarnya, mengambil kunci motor dan beberapa lembar uang warna ungu. Setelahnya dia keluar menuju anak anak berada. Mulai menaiki motor maticnya dan melaju saat anak anak sudah naik ke motor.
"Bunda, aku mau membeli jajan. Aku ingin membeli dua jajan," Zona berseru diperjalanan menuju kesekolah kakaknya, permintaan Zona yang ini sudah bisa Niya tebak karena Zona selalu seperti itu. Setiap pergi pasti minta pajak.
"Iya, boleh. Tapi jangan jajan banyak banyak. Bunda hanya membawa uang sedikit,"
"Okay, Bundaaa...." Zona tertawa ria sambil bertepuk tangan.
"Bunda, Arfi masuk kelas dulu ya," ucap Arfi sesudah sampai didepan gerbang sekolahhnya, dia turun dari motor dan tidak lupa mencium punggung tangan Niya, tidak lupa juga, Zona mencium punggung tangan sang kakak.
"Iya, belajar yang bener, oke?"
Arfi berdiri tegak dengan gaya hormat. "Siap Bunda," lalu berlari mengejar langkah teman teman sekelasnya yang juga baru datang.
"Diaaas, tungguuu...!"
Niya menggeleng melihat Arfi yang berlari dan merangkul bahu temannya. Mereka masuk kelas bersama sama.
Niya menjalankan motornya lagi untuk pulang, tapi ditengah jalan, lagi lagi Zona memintanya untuk berhenti disebuah supermaket, dia ingin beli jajan, sesuai dengan permintaannya tadi dirumah.
Niya menurut, dia berbelok kearah kiri dan berhenti disebuah supermaket yang sering dia kunjungi. Niya mematikan motor, lalu turun dari sana dengan Zona.
"Ingat apa kata Bunda?"
Zona mengangguk. "Iya. Aku nggak beli jajan banyak banyak kok. Bunda tenang saja ya," Mengedip ngedipkan kedua mata sambil menyentuh kedua pipinya, sok imut sekali dia. Tapi, wajahnya memang sudah imut dari sananya.
"Zona pilih sendiri. Bunda tunggu disini," memberikan Zona uang ungu beberapa lembar lalu menunjuk bangku yang ada didepan supermaket.
"Oke..." Zona menerima uang itu, mengangkat dua jempolnya, lalu masuk kedalam supermaket, memilih jajanan yang dia inginkan.
"Roti isi coklat satu, susu botol rasa strawbery satu, emmm...apa lagi ya?" sambil memeluk dua jajanan yang sudah dia ambil, Zona mengetuk dagu dengan telunjuknya, dia bingung ingin mengambil apa lagi.
"Aha! Permen yupi sama ice cream rasa vanilaaa...!" serunya saat melihat jajanan yang terlihat menggiurkan.
Langkah kakinya yang kecil itu menuju pojok supermaket untuk mengambil ice cream yang dia inginkan setelah tadi mengambil yupi satu box.
Setelah selesai mengambil jajanan yang dia suka, Zona menuju mbak Kasir, dia meletakannya dikonter kasir. "Mbak kasir, aku mau bayar," suara Zona terdengar manis.
Mbak kasir tersenyum melihat Zona yang lucu. "Oke, totalnya 40 ribu ya, Dek."
Zona mengeluarkan uang ungu yang diberikan oleh Niya dan memberikannya kepada mbak kasir. "Ini mbak."
Mbak kasir mengambil uang itu dan memberikan kembalian kepada Zona. "Kembalianmu 10 ribu, Dek. Makasih ya."
Zona mengambil kembalian dan jajanan yang sudah dibungkus, lalu berlari keluar dari supermaket. "Bundaaa, aku sudah selesaaai!"
Niya tersenyum melihat Zona yang berlari menuju kearahnya.
Zona tertawa. "Bunda, aku beli jajan banyak, nih."
Senyum Niya luntur, mengambil jajanan dari Zona. "Nah kan, lagi lagi Zona lupa sama kata kata Bunda. Tadi Zona bilangnya apa coba?"
Zona menggaruk dahinya. "Aku lupa Bunda, hehe...."
Niya membuang napas, Zona selalu saja seperti ini, lupa dengan janji janjinya. Sudah diwanti wanti biar tidak jajan banyak, nyatanya? Dia berbohong.
Niya menaiki motornya, menjalankan motornya dengan Zona yang memeluknya erat-erat dikursi belakang.
Setelah beberapa menit, mereka sampai dirumah. Niya mematikan motor dan turun dari sana dengan Zona. "Ayo, masuk. Kita siap siap berangkat ke sekolahmu,"
Zona mengangguk dan berlari masuk kedalam rumah.
Niya masuk kamar, berganti pakaian, sementara Zona bermain diruang tamu. Tiba-tiba, Zona berteriak yang membuat Niya terkejut.
"Bunda, ada surat!"
Niya berlari ke ruang tamu dan mengambil surat itu. "Dari siapa?"
Zona menggaruk dahinya. "Aku nggak tahu, Bunda. Tapi tulisannya jelek."
Niya penasaran, dia membuka surat itu, wajahnya berubah serius.
"Apa itu, Bunda?"
"Ayo berangkat! Nanti Zona terlambat,"
Semoga bukan
pesan dari siapa?