Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan
Bukan marah yang menghancurkan, tapi saat ia diam dan berkata. “Aku yang akan mundur.”
Farhan tersadar dari lamunannya tepat saat suara motor Hana mulai menjauh dari halaman rumah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu yang terasa tidak beres, llbukan sekadar pertengkaran biasa.
“Hana!” teriaknya lagi, kali ini lebih keras.
Namun perempuan itu tidak menoleh. Tidak juga memperlambat laju motornya. Seolah suara Farhan tak lagi punya arti apa-apa.
Farhan mengumpat pelan. Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar pagar. Matanya menyapu jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan menyala temaram, memperlihatkan siluet motor Hana yang semakin kecil di kejauhan.
Saat itulah sebuah ojek motor kebetulan melintas.
“Mas! Mas, berhenti!” Farhan melambaikan tangan.
Pengendara itu berhenti, sedikit terkejut melihat Farhan yang tampak terburu-buru.
“Tolong kejar motor di depan itu, Mas. Cepat!” kata Farhan, langsung naik tanpa banyak penjelasan. Motor pun melaju kencang.
Angin malam menerpa wajah Farhan, tapi pikirannya jauh lebih kacau dari itu. Kata-kata Hana tadi terus terngiang di kepalanya. Datar, tenang, tapi penuh luka.
Aku ini istri kamu, tapi rasanya seperti orang lain.
Dadanya terasa sesak. Di depan, motor Hana masih terlihat. Tidak terlalu jauh.
“Lebih cepat, Mas,” ucap Farhan.
Beberapa menit kemudian, mereka berhasil mendekat. Farhan langsung turun sebelum motor benar-benar berhenti sempurna.
“Hana!”
Hana sedikit terkejut saat melihat Farhan tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Ia refleks mengerem.
“Mas?” suaranya datar.
Farhan langsung memegang setang motornya, seolah takut Hana akan kabur lagi.
“Kamu tidak bisa pergi begitu saja,” ucapnya, napasnya masih terengah.
Hana menatapnya sebentar. Tatapan yang sulit diartikan. Tidak marah, tidak juga lembut.
“Lepas, Mas.”
“Kita pulang,” potong Farhan tegas. “Sekarang.”
Hana menggeleng pelan. “Aku bilang aku mau pulang.”
“Ini juga pulang,” sahut Farhan, mulai kehilangan kesabaran. “Jangan buat keributan di jalan begini.”
Beberapa orang mulai melirik. Situasi itu jelas mulai menarik perhatian.
Hana menyadari itu. Ia menghela napas panjang. Ia tidak ingin jadi tontonan.
Akhirnya, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mematikan mesin motornya.
“Baik,” ucapnya pelan. “Aku ikut.”
Farhan tampak sedikit lega, meski raut wajahnya masih tegang. Tanpa banyak bicara, ia meminta pengendara ojek itu kembali, lalu ia sendiri yang membawa motor Hana pulang, sementara Hana duduk di belakang dalam diam.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Tidak ada percakapan. Tidak ada penjelasan.
Hanya suara mesin motor dan angin malam yang menjadi saksi betapa renggangnya jarak di antara mereka, meski duduk begitu dekat.
Sesampainya di rumah, suasana terasa berbeda. Mama Meri dan Chika sudah duduk di ruang keluarga. Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada suara apa pun. Hanya keheningan.
Tatapan Mama Meri langsung tertuju pada Hana begitu ia masuk. Tajam. Dingin. Seolah menilai tanpa perlu bertanya.
Hana tidak membalas tatapan itu. Ia hanya melepas helmnya, lalu berjalan masuk dengan langkah tenang. Farhan menyusul di belakang.
“Makan dulu,” ucap Mama Meri akhirnya, memecah sunyi. Nada suaranya datar, tapi tetap menyimpan tekanan. Mereka pun menuju meja makan.
Suasana makan malam itu terasa canggung. Tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Tidak ada tawa. Tidak ada basa-basi. Hanya suara sendok dan piring yang sesekali beradu.
Mama Meri beberapa kali berbicara, tapi bukan kepada Hana.
“Chika, makan yang banyak,” ucapnya.
“Kamu dari tadi sedikit sekali.”
“Nanti kamu sakit.”
Chika tersenyum kecil, mengangguk pelan. “Iya, Ma.”
Hana hanya diam. Tangannya bergerak pelan, tapi ia tidak benar-benar makan. Hanya sekadar menyuap tanpa rasa.
Farhan sesekali melirik Hana, tapi tidak berani membuka pembicaraan. Ada jarak yang terasa begitu nyata. Dan untuk pertama kalinya, Farhan mulai benar-benar merasakannya.
Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke ruang keluarga. Suasana masih sama. Sunyi. Namun kali ini, Mama Meri yang membuka pembicaraan.
“Farhan,” ucapnya, suaranya lebih serius. “Kita harus bicarakan ini sekarang.”
Farhan mengangkat kepala. “Apa, Ma?”
Mama Meri melirik ke arah Chika, lalu kembali ke Farhan. “Masalah pernikahan kedua kamu.”
Kalimat itu langsung membuat udara terasa lebih berat. Hana yang duduk di sudut ruangan tidak bereaksi. Ia tetap diam. Wajahnya tenang, seolah topik itu tidak lagi menyentuhnya.
Padahal dulu, ia pasti sudah menangis atau membantah. Sekarang, tidak. Dan justru itu yang terasa berbeda.
Mama Meri melanjutkan, “Mama tidak mau menunda-nunda lagi. Semua sudah jelas. Tinggal keputusan.”
Farhan terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Biasanya, ia akan mengiyakan atau setidaknya mengikuti arah pembicaraan ibunya. Tapi malam ini pikirannya kacau.
“Hana,” panggil Mama Meri tiba-tiba.
Semua mata tertuju pada perempuan itu. Hana mengangkat wajahnya perlahan.
“Kamu tidak mau bicara?” tanya Mama Meri.
Hana menggeleng pelan. “Tidak, Ma.”
Jawabannya singkat. Datar. Tidak membantah. Tidak juga menyetujui. Seolah ia sudah menarik dirinya keluar dari pembicaraan itu.
Mama Meri mengerutkan kening, sedikit tidak suka dengan sikap itu. Tapi ia tidak memperpanjang.
Ia beralih ke Chika. “Kalau kamu, Chika?” tanyanya. “Kamu siap?”
Chika tampak terkejut mendapat pertanyaan itu secara langsung. Ia menunduk sebentar, lalu menarik napas.
“Tante …,” ucap Chika dengan suara pelan. “Saya tidak mau jadi pelakor.”
Semua terdiam.
“Saya tidak mau dibilang perebut suami orang,” lanjutnya, lebih tegas. “Kalau saya menikah, saya ingin dengan laki-laki yang memang tidak punya istri.”
Kalimat itu terdengar jelas. Jujur. Dan entah kenapa, justru membuat suasana semakin rumit.
Hana tersenyum tipis. Senyum yang sulit diartikan. Getir, tapi juga seperti menemukan ironi di dalam semua ini.
Mama Meri tampak tidak puas. “Kamu tidak perlu pikirkan omongan orang,” ucapnya. “Yang penting niatnya baik.”
Chika menggeleng pelan. “Tetap saja, Tante … saya tidak mau.”
Mama Meri menarik napas, lalu menoleh ke Farhan. “Gimana menurut kamu, Farhan?”
Semua mata kembali tertuju padanya. Farhan terdiam. Ia membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Di satu sisi, ada ibunya. Di sisi lain ada Hana.
Dan malam ini, ia mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Bahwa keputusan ini bukan sekadar soal setuju atau tidak. Tapi tentang seseorang yang perlahan ia lukai.
“Hana .…” Tanpa sadar, ia memanggil nama istrinya.
Hana yang sejak tadi diam, akhirnya bergerak. Ia berdiri. Semua orang menatapnya. Perempuan itu tampak tenang. Bahkan terlalu tenang.
Ia melangkah sedikit ke depan, lalu menatap ke arah Chika. “Jangan takut, Chika,” ucapnya pelan.
Chika terlihat bingung. Hana tersenyum tipis.
“Kamu tidak akan menikah dengan suami orang,” lanjutnya.
Farhan langsung mengangkat kepala, merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Hana menarik napas. “Karena aku yang akan mundur.” Ruangan itu seolah membeku.
“Aku akan pergi.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tenang. Tanpa tangisan. Tanpa drama. Tapi dampaknya menghantam keras.
“Hana …?” suara Farhan tercekat.
Ia menatap istrinya dengan mata membesar. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Namun, Hana tidak menoleh padanya. Wajahnya tetap tenang. Seolah keputusan itu sudah lama ia siapkan dan baru malam ini ia ucapkan. Dan di titik ini, Farhan benar-benar terdiam. Terkejut.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....