NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

​Tak lama kemudian, meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan yang menggugah selera dan aromanya memenuhi seisi ruangan.

​Bukan hanya Yudha, bahkan ibunya pun merasa malu dengan kemampuannya sendiri dalam memasak. Sang ibu mengambil sepotong iga asam manis dengan sumpitnya. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, ibu Yudha tidak bisa menahan kekagumannya. "Wah! Ini enak sekali. Jarang ada anak muda zaman sekarang yang punya keahlian masak seperti ini. Siapa namamu tadi? Kasih tahu Tante!" tanya Ibu Yudha sambil tersenyum ke arah Hana yang tampak menunggu reaksi dengan gugup.

​Mendengar itu, Yudha berkeringat dingin karena nada bicara ibunya terdengar seperti sedang berbicara dengan anak balita. Tapi Yudha tidak berani menyela dan hanya bisa menunduk sambil menyuap nasinya dalam diam.

​"Nama saya Hana, Tante," jawab Hana lembut sambil menunduk. Tanpa sadar, rona merah mulai merayap di wajahnya.

​"Hana, ya? Nama yang sangat manis, secantik orangnya," puji Ibu Yudha.

​"Bu! Sudah, jangan ditanya-tanya terus. Ibu malah bikin dia tidak konsentrasi makan," Yudha akhirnya bersuara karena melihat Hana nyaris tidak menyentuh piringnya akibat dihujani pertanyaan.

​"Eh, iya juga! Ya sudah, kita makan dulu saja." Ibu Yudha menyadari antusiasmenya mungkin agak berlebihan, ia tersenyum kikuk lalu melanjutkan makannya.

​Setelah makan usai, Hana tampak semakin gelisah. Begitu ibu Yudha masuk ke kamar untuk mengganti pakaian, Hana tiba-tiba menarik ujung lengan baju Yudha. "Kak Yudha... aku mau pulang saja."

​"Menginaplah di sini malam ini," ujar Yudha tiba-tiba, menatap Hana dalam-dalam.

​Mendengar ajakan itu, Hana bimbang. Sejujurnya, ia pun merasa aman dan nyaman berada di dekat Yudha yang selalu memberinya rasa terlindungi ini. Namun, rentetan pertanyaan ibu Yudha tadi membuatnya merasa tidak nyaman dan sedikit gugup. Mungkin ini karena ia tumbuh besar di desa yang tenang dan jarang berinteraksi dengan orang-orang kota yang ekspresif.

​Melihat ekspresi ragu itu, Yudha tersenyum tipis. Ia merangkul bahu Hana dengan lembut, tangannya tanpa sengaja membelai kulit halus gadis itu. Aroma harum tubuh Hana yang masih sangat polos terasa begitu menyegarkan, membangkitkan getaran aneh di hati Yudha.

​"Jangan tertipu dengan sikap ibuku yang seperti itu. Sebenarnya dia sangat menyukaimu!" bisik Yudha lembut.

​Disentuh seintim itu, Hana yang biasanya sangat tertutup tidak bisa menahan diri untuk tidak gemetar. Ia merasa asing dengan sentuhan pria seperti ini. Namun, karena itu adalah Kak Yudha—orang yang paling ia percayai—Hana mencoba menenangkan hatinya. Ada debaran aneh yang membuatnya semakin tersipu malu.

​"Kak Yudha, apa Tante benar-benar menyukaiku?" tanya Hana dengan nada tak yakin.

​"Tentu! Ibuku biasanya tidak mau bicara banyak dengan orang yang tidak dia sukai. Fakta bahwa dia bertanya macam-macam membuktikan kalau dia sangat tertarik padamu. Kenapa kamu begitu tidak percaya diri dengan pesonamu sendiri?" Yudha merangkul bahu mungil Hana lebih erat dan menatapnya dengan raut serius yang meyakinkan.

​"Ah! Benarkah?" Mata Hana berbinar mendengar jawaban itu.

​"Memangnya Kakak pernah membohongimu?" goda Yudha sambil pura-pura memasang wajah galak.

​Akhirnya, setelah dibujuk dengan berbagai alasan, Hana setuju untuk menginap.

​Saat Yudha sedang bersantai menonton TV, Hana tiba-tiba menghampirinya dengan wajah ragu. "Kak Yudha, aku mau mandi, tapi aku tidak tahu..."

​"Oh! Mari, Kakak tunjukkan jalannya!" Jantung Yudha berdegup sedikit lebih kencang saat mendengar Hana ingin mandi. Ia segera berdiri.

​Keluarga Yudha menggunakan pemanas air otomatis yang umum di perumahan kota. Karena tidak yakin Hana tahu cara pakainya, Yudha masuk ke kamar mandi untuk mendemonstrasikannya. Ia mengajari Hana dengan sangat teliti, memperingatkan soal pengaturan suhu agar tidak berbahaya. Yudha teringat pengalamannya sendiri saat pertama kali menggunakan alat itu; ia pernah tersiram air yang terlalu panas, sebuah kejadian memalukan yang masih segar di ingatannya.

​Setelah memastikan Hana paham cara mengatur kran air panas dan dinginnya, Yudha pun keluar.

​Kembali ke kamar, Yudha menyalakan komputernya secara refleks dan masuk ke aplikasi pesan singkat. Akhir-akhir ini, pikirannya sedikit terganggu oleh Anya. Gadis itu sudah lama tidak muncul secara daring, dan ia mulai mencemaskan nasibnya. Ada perasaan tidak enak yang merayap di benaknya.

​Dia bilang mau datang ke sini, tapi kenapa sampai sekarang tidak ada telepon? Apa dia sedang dalam masalah? Yudha membatin heran. Ia terkekeh sendiri menyadari betapa ia mengkhawatirkan gadis yang bahkan belum pernah ia temui—yang ia sendiri tidak tahu cantik atau tidak. Tapi baginya, Anya adalah teman bicara yang sangat nyambung, seorang teman curhat yang sangat ia hargai.

​Yudha menyadari daftar temannya sangat sedikit. Bahkan akun si "Kelinci Manis"—yang ia harap memberi kabar—juga tidak aktif.

​Yudha menghela napas panjang. "Sinta, apakah takdir akan mempertemukan kita lagi?"

​Tepat saat Yudha tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara Hana dari arah kamar mandi. Suaranya terdengar cemas dan memanggil namanya. Tanpa pikir panjang, Yudha langsung beranjak dan berlari menuju sumber suara.

​Namun, ketika Yudha sampai di depan kamar mandi, ia melihat pintu hanya terbuka sedikit. Hana mengintip dengan ragu dari celah pintu, wajahnya memerah terkena uap panas. "Kak Yudha, sepertinya tidak ada handuk di dalam. Bisa tolong ambilkan yang kering?"

​Yudha: "..."

​Yudha sempat mengira ada kejadian serius, namun setelah menyadari hanya masalah handuk, ia menghela napas lega. Ia baru ingat kalau ibunya baru saja mencuci handuk dan menjemurnya di balkon; pantas saja tidak ada di dalam!

​Namun, yang membuat tenggorokan Yudha mendadak kering adalah posisi Hana yang hanya membuka pintu sedikit. Dari sudut berdirinya sekarang, Yudha bisa melihat pantulan cermin kamar mandi dengan sangat jelas...

​Yudha terpaku menatap bayangan di balik cermin itu. Sosok ramping dengan kulit putih bersih... meski ia tidak bisa melihat semuanya karena posisi Hana, pemandangan bahu yang mulus tetap membuatnya menelan ludah dengan susah payah. Namun, sang pemilik tubuh tampaknya tidak menyadari hal itu. Yudha tidak berani menatap lebih lama, meski reaksi tubuhnya berkata lain.

​Ia bergegas ke balkon, mengambil handuk, lalu menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Saat itu, entah sengaja atau tidak, Yudha berdiri tepat di sisi lain celah pintu.

​Sebuah tangan ramping terjulur keluar dari celah itu. Kulitnya yang halus dan putih tampak begitu memikat. Entah mengapa, jantung Yudha berdegup kencang. Ia tahu Hana saat ini tidak mengenakan sehelai benang pun. Yudha sengaja berdiri di sudut yang pas agar bisa melihat pantulan cermin, tapi sayangnya, uap air yang tebal menutupi permukaan kaca, sehingga ia hanya bisa melihat garis samar yang menggoda.

1
Julius Nasution
lama ya updatenya......???
Julius Nasution
kenapa harus diganti nama2 tokohnya. jadi nggak menarik kesannya dipaksakan malah jadi kayak karya jiplakan.
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
🔱⚜㊗️Raden J. Budi. H㊗️⚜🔱
loh loh koq isinya yudha kn mc nya "zhang yuze" koq bs jdi yg laen alurnya ini kemana koq tidak sesuai thor
🔱⚜㊗️Raden J. Budi. H㊗️⚜🔱: kn ini jlid ke 2 sistem penakluk koq bs MC jdi yudha
total 1 replies
Tri Rahayu Amoorea
💪
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!