Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
POV KANAYA
Aku pulang saat senja hampir tenggelam.
Langkahku pelan.
Wajahku tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya baru saja hancur.
Aku berdiri di depan pintu rumah itu cukup lama.
Rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang…
namun kini terasa asing.
Aku menarik napas dalam, sejujurnya aku tidak ingin pulang tapi ibu memintaku untuk memperbaiki segalanya, walaupun kemungkinan terburuknya yaitu perpisahan
Lalu membuka pintu.
Dan di sanalah
Fatan berdiri.
Wajahnya pucat.
Matanya gelisah.
Campuran antara lega… marah… dan sesuatu yang lain
takut kehilangan, mungkin.
“Kanaya…”
Namaku keluar dari mulutnya, tapi bukan seperti dulu.
Bukan dengan hangat.
Melainkan dengan nada tinggi yang bahkan ia sendiri tidak sadar.
“Kamu ke mana saja?”
“kenapa tidak memberi kabar jika kamu mau keluar! Kamu tahu semua orang panik?”
Aku menatapnya.
Diam.
“Kamu di rumah ibu pun setidaknya bisa kirim pesan,” lanjutnya, nada suaranya tajam.
“Ini bukan bercanda, Kanaya.”
Aku masih diam.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Tapi karena untuk pertama kalinya
aku tidak merasa perlu menjelaskan diriku.
Aku menarik napas perlahan.
Napas seseorang yang sudah berhenti berlari dari rasa sakitnya sendiri.
“Aku minta maaf membuat kalian cemas,” ucapku pelan.
“Aku baik-baik saja… aku hanya menenangkan diri.”
Ia hendak memotong ucapanku.
Namun aku lebih dulu melanjutkan.
“Tapi sekarang…”
Aku menatapnya lurus.
“Aku ingin bicara.”
Fatan terdiam.
“Bukan di sini,” kataku lagi.
“Bukan di depan Ayah dan Ibu.”
Aku melirik sekilas ke ruang keluarga.
Rasa hormatku masih ada.
Masih utuh.
“Aku tidak ingin mereka terluka… oleh sesuatu yang seharusnya kamu jelaskan padaku.”
Aku berhenti sejenak.
Menahan sesuatu yang hampir pecah.
“…sebagai suamiku.”
Kata itu terasa asing di lidahku sendiri.
Suamiku.
Ironis.
Kami berdiri di lorong.
Sepi.
Hanya ada kami berdua…
dan kebenaran yang akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.
Aku menatapnya.
Lurus.
Tidak ada amarah.
Yang ada hanya… luka yang sudah menerima kenyataan.
“Fatan…”
Suaraku bergetar tipis.
Namun aku tidak runtuh.
“Jelaskan padaku semuanya.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Namun aku tidak mundur.
“Hubunganmu dengan Amira… sahabatku.”
“Kalian menikah.”
“Kebohongan yang selama ini kamu bangun.”
Setiap kata terasa berat.
Namun harus keluar.
“Aku ingin tahu,” lanjutku pelan.
“Sebagai istrimu.”
“Sebagai sahabat Amira.”
Aku menelan ludah.
“Dan aku ingin mendengarnya langsung darimu,bukan dari kejadian,bukan dari potongan kebenaran,bukan dari curiga yang selama ini aku kubur sendiri.”
Hening.
Fatan membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Untuk pertama kalinya
ia terlihat tidak punya jawaban.
Atau mungkin…
tidak tahu kebohongan mana yang harus dipilih.
Dan aku tahu
Kali ini… aku tidak akan menerima kebohongan.
Aku tidak meminta janji.
Aku tidak meminta pembelaan.
Aku hanya… meminta kebenaran.
“Baik,” ucapnya akhirnya.
“Aku akan menjelaskan.”
Aku diam.
Menunggu.
Meski dalam hati
aku sudah bersiap untuk hancur.
“Apa yang terjadi antara aku dan Amira… bukan sesuatu yang tiba-tiba,” katanya datar.
Aku memejamkan mata sesaat.
Namun aku tetap berdiri tegak.
“dia selalu ada dalam hatiku.”
Dadaku seperti ditusuk.
Namun aku tidak bergerak.
“Aku menikahi Amira karena cinta.”
Kalimat itu
menghantamku lebih keras dari apa pun.
Cinta.
Kata yang selama ini tidak pernah benar-benar aku rasakan darinya.
“Perasaan itu nyata,” lanjutnya.
“Tidak dibuat-buat.”
Tanganku tanpa sadar menggenggam ujung bajuku.
Menahan tubuhku agar tetap berdiri.
“Sedangkan pernikahan kita…”
Ia berhenti sejenak.
“…adalah keputusan yang tidak pernah benar-benar aku inginkan.”
Aku membuka mata.
Tatapanku retak.
Namun aku tidak menangis.
Belum.
“Aku tidak pernah menolak tanggung jawab,” lanjutnya cepat, seperti membela diri.
“Aku menafkahi. Aku ada secara hukum.”
“Tapi jangan memintaku jujur tentang perasaan yang memang tidak pernah tumbuh.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan perlahan… menghancurkanku.
“Kebohongan yang aku lakukan…”
Ia menatapku.
“Bukan karena aku kejam.”
“Tapi karena aku terjebak.”
Terjebak.
Aku hampir tertawa.
“Aku terpaksa menjalani pernikahan ini,” lanjutnya.
“Tekanan keluarga, keadaan… semua memaksaku memilih jalan yang tidak aku inginkan.”
Napas ku terasa berat.
Namun ia belum selesai.
“Jadi jika kamu bertanya kenapa aku berbohong…”
“Kenapa aku membagi hidupku…”
“Itu karena sejak awal aku bukan orang yang bebas.”
Ia mengangkat bahu kecil.
“Dalam banyak hal, Kanaya… aku juga korban.”
Aku tersenyum.
Tipis.
Namun terasa seperti luka yang terbuka.
“Jadi…”
Suaraku hampir tidak terdengar.
“Lalu aku ini apa, Fatan?”
Ia diam.
“Kesalahan?”
“Atau hanya… bagian dari keadaan?”
Air mataku akhirnya jatuh.
Satu per satu.
Pelan.
Seperti sisa harga diriku yang runtuh perlahan.
“Aku dinikahi tanpa cinta…”
“Dibohongi…”
“Dan sekarang… bahkan disalahkan.”
Aku mengangguk kecil.
Pahit.
“Kalau kamu menyebut dirimu korban…”
“…maka aku apa?”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Dan diamnya
lebih menyakitkan daripada kata apa pun.
“Aku tidak menyalahkanmu,” katanya akhirnya, nada suaranya meninggi sedikit.
“Aku hanya mengatakan kenyataan. Aku juga korban dari keadaan ini.”
Aku tertawa kecil.
Tanpa suara.
Tanpa bahagia.
“Korban?” ulangku lirih.
Aku melangkah satu langkah mendekat.
“Korban siapa, Fatan?”
“Korban keadaan. Tekanan keluarga,” jawabnya cepat.
“Aku tidak pernah diberi ruang untuk memilih.”
Aku menggeleng pelan.
Tidak percaya.
“Lalu Amira?” tanyaku.
“Sahabatku… apakah dia juga bagian dari keadaan yang memaksamu?”
Ia terdiam.
Lalu menjawab
tegas.
“Tidak.”
Jantungku berhenti sesaat.
“Amira adalah satu-satunya hal yang aku pilih sendiri.”
Hancur.
Benar-benar hancur.
“Jadi aku…”
Suaraku bergetar.
“…adalah satu-satunya yang tidak pernah kau pilih?”
Ia tidak menjawab.
Namun diamnya… cukup.
Aku menarik napas panjang.
Menahan sesuatu yang hampir merobek dadaku.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” kataku pelan.
Ia menatapku.
“Bukan karena kamu mencintai perempuan lain.”
Aku berhenti.
“Tapi karena perempuan itu adalah Amira.”
Suaraku pecah.
“Sahabat yang aku jaga lebih dari diriku sendiri.”
Air mataku jatuh.
Kini tak bisa ditahan.
“Aku mempercayakan hidupku padamu…”
“…dan aku mempercayakan sahabatku pada takdir.”
Aku menatapnya.
Lurus.
“Dan kamu merusak keduanya… dengan tangan yang sama.”
“Aku tidak berniat merusak,” bantahnya cepat.
“Tapi tetap kamu lakukan kan,” potongku.
Aku mengusap air mataku kasar.
“Kamu tahu berapa lama aku membangun kepercayaan itu?”
“Berapa banyak luka yang kami lalui bersama?”
Dadaku sesak.
“Amira adalah rumah bagiku… saat dunia tidak ramah.”
Suaraku meninggi.
Namun penuh luka.
“Dan sekarang…”
“Ka.u menjadikanku pengkhianat di matanya.”
Aku tertawa pahit.
“Tanpa aku pernah diberi kesempatan memilih.”
“Ini bukan hanya tentang kamu, Kanaya. Hidupku juga hancur,” katanya.
Aku terdiam.
Lama.
Lalu aku menatapnya
dengan tenang.
Terlalu tenang.
“Tidak, Fatan.”
“Hidupmu kacau karena pilihanmu sendiri.”
Aku menelan luka di tenggorokanku.
“Sedangkan hidupku hancur… karena kejujuranmu yang terlambat.”
Ia hendak bicara.
Namun aku mengangkat tangan.
Menghentikannya.
“Aku menerima pernikahan tanpa cinta.”
“Aku bertahan tanpa kehadiran.”
“Aku diam saat hatiku diabaikan.”
Aku tersenyum kecil.
Getir.
“Tapi aku tidak pernah memilih… menjadi perempuan yang menghancurkan sahabatnya.”
Suaraku retak.
“Dan sekarang, karena kamu…”
“Aku kehilangan suami…”
Aku berhenti.
Menahan sesak yang hampir membuatku tidak bisa bernapas.
“…dan hampir kehilangan sahabat.”
Sunyi.
Menelan kami berdua.
Dan untuk pertama kalinya
aku melihat Fatan tidak lagi tampak benar.
Hanya… seorang laki-laki
yang kehabisan alasan
untuk lari dari tanggung jawabnya sendiri.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?