Dengan kasar Arga melepas manik-manik yang menghiasi kepala istrinya, melepas kasar jilbab beserta ikatan rambutnya. Banyak helaian rambut yang tercabut membuat Mawar meringis kesakitan.
“hentikan aku mohon!! Hiks hiks”
Allih-alih memperdulikan Mawar yang menangis ketakutan Arga lebih memilih meneruskan perbuatannya memaksa melepaskan kebaya putih yang menutupi tubuh mawar. Sekuat apapaun mawar melawan jelas tenaganya tak sebanding dengan Arga yang kini telah tersulut emosi. Perkataan mamahnya mengiang jelas difikirannya bukan pernikahan seperti ini yang mawar harapkan, memang dengan Arga ia ingin membangun rumah tangga tapi tidak seperti ini. Dirinya dipaksa melepas pakaian dengan kasar oleh suaminya sendiri hingga kini ia sudah pasrah karna kebaya yang menutupi tubuh atasnya telah terlepas menyisakan bra hitam yang dengan setia menutupi gunung kembarnya. Arga menghentikan aktivitasnya menatap manik mata sang istri yang segera menunduk ketakutan.
“ini pilihanmu Mawar, jangan salahkan aku”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon afrabaik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari segalanya?
Tiga hari mawar terbaring di atas ranjang, kini ia sudah bisa masuk kampus seperti biasa. Hari ini kelas yang sangat ia sukai yaitu kelas alif. Seperti biasa kelas sudah ramai 30 menit sebelum di mulai, dan seperti biasa rika sudah menyiapkan tempat duduk paling depan untuknya.
“aku kira kamu gak akan masuk kampus hari ini” rika memeluk mawar erat
“tapi kamu masih menjaga kursiku dengan baik tuh”
Pak alif memasuki ruang kelas yang disambut tenang para mahasiswa. Mawar melihat percikan darah di sekitar lengan kemeja alif saat ia membuka jas, ingin ia bertanya namun diurungkan.
“maaf pak” rika mengangkat tangan, alif melihatnya dan kemudian mengangguk, mempersilahkan siswanya untuk berbicara.
“kenapa di lengan bapak ada darahnya??”
“ini? Oh tadi saya melakukan oprasi darurat di jalan sebelum kemari”
“uwaaaaaaw!! Memangnya boleh pak?? Kan udaranya pasti kotor” tanya yang lain
“bukan oprasi besar, karna pendarahannya sangat banyak yang dapat menyebabkan syok hingga meninggal dunia maka seseorang seperti saya dengan keadaan yang memungkinkan bisa melakukan pertolongan darurat hingga menunggu ambulan datang”
Ditengah-tengah kelas dengan pembahasan otot dan struktur kerjanya salah satu siswa mengajukan permintaan konyol.
“ayolah pak, proyektornya kan mati, manekinnya juga tidak ada kami tidak mengerti penjelasan bapak jika tidak ada alat peraganya”
“gunakan ponsel kalian”
“semua ponsel kami mati pak”
“apa kalian sengaja??”
Alif enggan memenuhi permintaan siswanya untuk membuka baju dan memperlihatkan otot perutnya di depan umum walaupun untuk edukasi tapi tetap saja alif malu. Akhirnya alif menarik salah satu siswa untuk memperlihatkan ototnya.
“itu mah gk ada ototnya pak… ayo dong pak”
Karna terus didesak alif merobek lengan kemejanya memperlihatkan otot yang nangkring kokoh dilengannya. Membuat semua mahasiswa berdecak kagum. Alif melanjutkan kelasnya, kembali mengenakan jas dan keluar kelas saat bel berbunyi. Mawar menghampiri alif yang dikerumuni banyak mahasiswi sekilas alif melihat mawar mendekatinya.
“baiklah, semua pertanyaan kalian akan saya jawab di pertemuan berikutnya yah. Terimakasih”
Decak sebal mahasiswi meninggalkan alif.
“ada yang ingin kamu tanyakan??” alif menatap mawar
“oh anu pak, saya belum sempat mengucapkan terimakasih kepada bapak”
“sama-sama”
Mawar kikuk dibuatnya tidak tau harus berbicara apa lgi atau percakapan apa yang pantas untuk mengakhiri obrolan singkat ini. Tiba-tiba saja mawar terpikirkan sesuatu.
“umm menurut saya rambut bapak sudah terlalu Panjang…” mawar tersadar apa yang baru saja ia ucapkan membuat alif malah menatap heran kearahnya
“lebih baik di potong pak, bapak akan sangat terlihat tampan dengan potongan bowl cut. Sekali lagi saya ucapkan terimaksih banyak, semoga hari bapak menyenangkan. Saya pamit, permisi pak” seperti membaca mantra mawar mengucapkannya tanpa titik koma dan segera pergi meninggalkan alif yang tertawa melihat tingkah gemas salahsatu mahasiswinya.
Arga meminta melinda untuk membuatkannya kopi. Ia pun segera turun melaksanakan perintah suami tercinta.
“malam mawar” melinda menghampiri mawar yang sedang memasak
“malam”
“ada yang bisa aku bantu??”
“tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri”
Melinda mengambil cangkir, meracik kopi dan menuangkan air panas di dalamnya, dan tanpa pikir panjang, ia langsung memegangnya. Seketika tangannya kebas, melemparkan cangkir yang sialnya mengenai tangan mawar lalu jatuh menjadi pecahan di lantai. Teriakannya membuat arga terganggu dan segera turun menghampiri. Di lihatnya telapak tangan melinda yang merah akibat kebas memegang cangkir panas.
“kamu bodoh ya mawar??! Ingin mencelakakan istriku??”
“aku… aku tidak tau apa-apa” mawar yang sedang mengaliri tangan bekas siraman, mematikan keran westafel.
Dengan khawatir arga terus mengusap usap tangan melinda.
“ini salahku mas, maaf tidak becus membuatkanmu kopi”
“ini bukan salahmu sayang”
“mawar kamu tidak apa-apa?? Maaf menumpahkan kopi panas ke lenganmu. Mas! Mawar yang lebih parah lukanya! Tunggu sebentar yah, aku ambilkan salep dulu di kamar”
Melinda segera berlari ke lantai atas. Arga menatap lengan mawar yang kemerahan.
“semakin buruk saja tubuhmu” ucapnya dan hendak berbalik
“mas!... hiks… setelah selesai memasak, aku minta izin untuk menghadiri pesta pernikahan temannya rika yah”
“pergi saja”
Melinda kembali dengan salep. Mengobati luka mawar dan kembali membuat kopi.
“mala mini aku ada pesta, jadi akan pulang larut. Boleh aku minta kunci cadangannya??”
“ohh… ada pesta?? Pulang jam berapa?? Jangan terlalu larut yah dan pakai pakaian yanga hangat oke?”
Melinda menunjuk rak yang di dalamnya terdapat kunci cadangan rumah. Setelah itu mawar pergi ke rumah rika dan berangkat Bersama dengan menggunakan taksi.
Ramai orang menghadiri pesta yang digelar mewah di salah satu Gedung ternama Jakarta. Riko memperkenalkan rika dan mawar kepada teman-temannya yang juga hadir di acara itu.
“kemana alif??” tanya salah satu teman riko
“biasa lah sibuk menyelamatkan orang”
“tadi siang juga begitu, katanya pak alif melakukan oprasi darurat di jalan” timbrung rika
“itu memang kebiasaanya sejak lulus kuliah, nolong orang. Padahal dirinya saja belum tertolong”
“belum tertolong??” tanya mawar heran
“jomblo fisabilillah maksudnya” jawab teman riko spontan yang disambut gelak tawa pendengarnya
“siapa yang sedang kalian bicarakan??” alif datang memecah tawa menggantikannya dengan ‘waw’ seisi ruangan.
Tuxedo biru gelap yang alif kenakan membuat dirinya semakin menonjol, tubuhnya yang ideal memancarkan pesona seorang model sejati, jam tangan vacheron constantin menambah kesempurnaan penampilannya malam ini terlebih karakter wajahnya yang tegas sangat memberi kesan maskulin dan
“elu potong rambut lif??” riko terpana dengan model potongan rambut alif yang bukan gayanya
“sejak kapan lu suka potongan begini??” sambung riko
“gila, makin tampan ajah”
“ohh lihat, pakaian dokter alif sangat serasi dengan gaun mawar” rika mengacungkan jempolnya
“uwuuuuuuuuuuuuu”
Alif tidak tau kalo mawar ternyata ikut acara ini. Karna merasa malu alif mengelus tengkuknya dan berpamitan untuk pergi. Swimming pool di malam hari dengan pantulan cahaya bulan membuat hatinya tenang. Maksud hati ingin menghindari mawar tpi takdir mempertemukan mereka. Mawar terjatuh karena menginjak gaunnya sendiri, segera alif menghampirinya di ujung kanan kolam renang, membantunya berdiri.
“aww!!”
salah satu manik kerudungnya mengait dasi alif, nafas mereka beradu menerpa wajah lawan tatap. Mawar terus bergerak memaksa manik kerudungnya untuk segera terlepas namun justru semakin kencang membuat wajah mereka berhadapan kurang dari 5 cm.
“biar aku yang lepaskan, berhentilah bergerak. Kamu semakin memperburuk situasi”
“posisi ini membuatku tidak nyaman pak”
“kamu pikir aku nyaman??”
“hmmmm!”
“mendekatlah”
“menurut bapak seperti ini kurang dekat??"
“aku harus melonggarkan lubangnya agar mudah terlepas. Tutup matamu dan mendekatlah”
Mawar kembali mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung alif menyentuh hidungnya.
***
“mas… mas arga!!”
“kenapa mel jangan teriak-teriak”
“ini mas, aku menemukan ini di depan rumah”
“apa ini??”
Arga meremas lembaran foto yang ditunjukan melinda. Saat alif memberinya payung, saat mawar tak sengaja mendengar alif bercerita tentang seorang sahabat nabi di taman dan pertemuan-pertemuan lainnya dengan angle yang panas. Entah siapa dan kapan foto-foto ini di dapat. Arga kembali menaiki tangga, menyambar kunci mobil dan hoddie hitam miliknya.
“mau kemana mas??”
“aku ingin tau kebenaran dari foto-foto ini”
Arga segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang tertulis di balik foto. Foto dengan mawar mengenakan gaun biru gelap dan alif dengan tuxedo senada di sebuah pesta. Pikirannya telah menyimpulkan bahwa mawar berselingkuh, meminta izin untuk menghadiri pesta Bersama rika dengan tujuan terselubung lainnya. Arga kembali menginjak pedal gas, memaksa kuda besinya berlari secepat mungkin.
“ka arga?” sapa rika
“mana mawar??”
“hah?? aku juga sedang mencarinya. Kenapa raut wajahmu seperti itu? Mawar sudah minta izin kan?”
“aku tidak akan mengizinkannya jika ia niat berselingkuh!”
“se selingkuh??”
Alif kembali mendekatkan wajahnya, lebih memberi ruang agar dasinya segera terlepas. Riko terus mencari alif dan mawar, risau karna arga mengamuk di dalam mengacaukan pesta sahabatnya.
“kemana seberanrnya mereka ber… hah??” riko menganga melihat alif yang seperti sedang berciuman dengan mawar.
“ka kalian??”
Seketika mawar menoleh membuat maniknya semakin tersangkut.
“aissshhhhhh!!! Diamlah mawar. Ini semakin sulit”
“ka kami tidak melakukan apapun. Sungguh!” mawar panik karna riko memergoki mereka dengan posisi tidak mengenakan
“hah… aku kira kalian…”
“cepat bantu aku riko”
“ooh… baiklah” riko ikut membantu mengendorkan manik milik mawar namun celahnya terlalu sempit.
“ini… oh ya ampun aku lupa. Arga ada di dalam dan dia sedang marah-marah, jika dia melihat kalian dengan posisi seperti ini…”
“kalo begitu cegah dia, beri aku 5 menit untuk melepaskan ini”
“ba baiklah”
Riko kembali masuk, mencari arga dan rika.
“aku akan mencarinya keluar”
“tu tu tunggu, aku melihat mereka…”
---
“lebih dekat mawar”
“mmmmmmmmm”
Hidung alif dengan sempurna menyentuh pipi kanannya, mawar terus membungkam mulutnya yang ketika ia membuka mulut mungkin akan langsung mengenai bibir alif.
“jangan bergerak gerak aku mohon”
“hmmmm mmmmm”
“selesai!”
Bruug!! Byuuur!!
Tubuhnya tercebur dengan sekali tonjokan mengenai pipinya. Arga menatap tajam wajah istrinya yang memerah. Menarik lengannya paksa, menggenggamnya erat menimbulkan sakit.
“sa sakit mas”
“bisakah kamu tidak usah menyakiti wanita??”
Alif bangkit menaiki kolam. Riko memberikan handuk yang segera ditepisnya. Arga membuang tangan mawar amat kasar dan rika segera memegangnya, mengusap lembut lengan dengan lingkaran merah.
Bug!!
Alif lebih dulu menonjok pipi arga. Arga segera bangkit dan kembali menyerang alif.
Byuuur!!
Arga jatuh kekolam setelah berusaha menonjok alif yang berhasil menghindar.
“air lebih cocok untuk api sepertimu”
Dengan cekatan arga kembali ke arena pertarungan, mendapat beberapa kali tonjokan dan berhasil beberapa kali membalas. Riko dan yang lain kembali melerai pertengkaran, namun arga dan alif yang juga ahli bela diri tak bisa di lerai begitu saja. Kini alif mengunci arga di bawahnya.
Bug!!
“untuk pikiranmu yang salah faham!”
Bug!!
“berfikirlah sebelum bertindak!!”
Bug!!
“aku hanya berusaha melepas kaitan manik yang tersangkut!! Dan bukan berciuman!!”
Bug!!
“untuk sikap tidak adilmu sebagai pria”
Alif berdiri, menyeka darah di bekas tonjokannya. Melewati mawar dan meninggalkan acara. Argapun kembali berdiri, menatap mawar dan segera pergi meninggalkan acara. Di perjalannan sesekali mawar menawarkan pengobatan dan dibalas diam oleh arga. Wajahnya penuh darah dan hanya ia lap dengan tisu asal. Melinda menunggu kedatangan suami dan madunya dengan gelisah di depan pintu, ia kaget bukan kepalang melihat suaminya babak belur bersimbah darah. Arga memegang erat tangan mawar dan tidak memperdulikan melinda, menariknya memasuki kamar dan mengunci pintu. Mawar di lempar ke atas ranjang, arga menarik kursi rias dihadapan mawar, dan menatap lekat mata bening istri pertamanya.
“…. A aku aku minta maaf… ta tapi tadi itu aku sungguh tidak melakukan apapun dengan dokter alif”
“aku akan menceraikanmu”
“hm?... hah… hiks hiks hiks a aku tidak mengerti”
“berbahagialah dengan pria pilihanmu”
“aku sudah memilihmu”
“aku memilih melinda”
Mawar hanya terdiam ‘tolonglah, ini sangat menyakitkan’ oksigen di kamarnya seakan tersedot habis dan tak menyisakan untuknya bernafas. Hatinya menciut sepersekian senti, mengingat talak yang suaminya lontarkan. Kini cinta yang membuangnya. Ia memberanikan diri menatap arga dengan deraian air matanya. Arga membalas pandangannya, menariknya untuk duduk di pangkuannya. Mawar kembali menatap luka di sudut bibir arga, mengusapnya dan hendak beranjak mengambil obat.
“biarkan aku mengobatimu untuk terakhir kali”
Arga menarik mawar untuk tetap duduk dipangkuannya, kembali menatap lekat mata bening mawar. Meraih tengkuknya dan mulai ******* bibir merahnya. Mawar menutup matanya merasakan sentuhan lembut lidah sang suami bermain di dalam. Tangannya mendekap kepala arga, memperdalam ciuman pertamanya.
“besok kita datangi kedua orang tua kita, aku akan meminta mereka berkumpul di rumahku”
“tapi aku tidak ingin di ceraikan”
“aku menalakmu mawar, hubungan kita berakhir sampai disini”
Arga meninggalkan mawar sendirian, termenung dengan segala rasa sakit di hatinya. Kepalanya berdenyut, seirama dengan denyutan sakit di hatinya. Nasib yang telah menakdirkan bahwa Arga bukan yang terbaik untuknya ‘aku kira aku bisa menjalaninya’.
Author...
"Authornya butuh vote 🥺🥺😁🙏🙏"
buat author, semangat ya, tetap lanjutkan donk ceritanya...