Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Saat Vane berusaha merangkak bangun, sebuah tangan yang kuat membekap mulutnya dari belakang. Tangan itu terasa sedingin kematian, mengenakan sarung tangan kulit yang familier.
Mata Vane mendelik ngeri saat ia melihat wajah dari sosok yang membekapnya. Itu adalah wajah Valerius van Draken, namun matanya memancarkan kejahatan murni layaknya iblis dari kedalaman jurang.
"B-B-B..." Vane mencoba berteriak, namun suaranya teredam oleh tekanan kuat di mulutnya. Keputusasaan menelan jiwanya, membayangkan siksaan apa yang akan diterimanya dari arwah penasaran ini.
"Kau sangat takut pada gelap, Vane," bisik Valerius dengan nada empati yang palsu dan mematikan. "Biar aku membantumu agar kau tidak perlu lagi melihat kegelapan dunia ini."
Dengan gerakan yang sangat perlahan dan terukur, Valerius menancapkan ujung panah kayu itu tepat ke mata kanan Vane. Darah menyembur keluar, membasahi wajah Valerius yang tetap tanpa ekspresi.
Vane meronta hebat layaknya ikan yang ditarik ke daratan. Tubuhnya mengejang, urat-urat di lehernya menonjol saat rasa sakit yang tak tertahankan meledak di tengkoraknya.
Valerius tidak membunuhnya seketika; ia memutar kayu itu perlahan, menikmati aura kuning pucat Vane yang meledak dalam teror absolut. Ini bukan sekadar pembunuhan, ini adalah mahakarya seni penyiksaan psikologis.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Vane, Valerius menusukkan kayu itu lebih dalam menembus otaknya. Tubuh Vane seketika lunglai, menyisakan tatapan mata kirinya yang mendelik penuh penyesalan.
[Target Dieliminasi: Ksatria Orde Menengah.][Kondisi Mental: Teror Ekstrem. Hadiah: +70 Poin Dosa.]
Valerius melepaskan bekapan tangannya, membiarkan mayat Vane tergelatak tanpa suara di tanah. Ia kembali menyatu dengan kegelapan, bagai pemangsa tak terlihat yang siap menerkam mangsa berikutnya.
"Vane! Di mana kau, bodoh?!" teriakan Kaelen memecah kesunyian, obornya diangkat tinggi-tinggi ke udara. Kesunyian temannya mulai menggerogoti sisa keberanian yang ia miliki.
Rurik melangkah maju mendahului Kaelen, kapaknya diayunkan membelah udara kosong. "Mungkin dia lari karena mengompol. Aku akan memenggal kepalanya jika kita menemukannya nanti."
Mereka berdua berjalan perlahan ke arah hilangnya obor Vane. Bau tembaga yang tajam dari darah segar menyerang indra penciuman mereka.
Cahaya obor Kaelen akhirnya menyinari tubuh Vane yang tergeletak kaku di tanah berlumpur. Kayu panah yang menancap di rongga matanya menjadi pemandangan paling mengerikan yang pernah mereka lihat.
"Dewa-dewa di langit..." bisik Kaelen, kakinya mendadak terasa seperti terbuat dari agar-agar. Ia menjatuhkan obornya, tangannya gemetar hebat meraba gagang pedangnya yang kini terasa dingin.
Rurik meraung marah, otot-otot di tubuh besarnya menegang penuh amarah. "Siapa pun bangsat yang melakukan ini, keluarlah! Hadapi aku secara jantan!"
Raungan Rurik bergema di seluruh penjuru lembah, menantang maut yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Sebagai balasannya, sebuah suara tepuk tangan pelan terdengar dari atas sebuah batu besar di depan mereka.
Prok. Prok. Prok.
Valerius berdiri di atas batu itu, cahaya bulan ganda menyinari wajahnya yang pucat. Rambut peraknya yang kotor berkibar ditiup angin, senyum iblis terukir di bibirnya.
"Jantan," ucap Valerius, mengulangi kata-kata Rurik dengan nada merendahkan. "Kata yang sangat ironis keluar dari mulut anjing peliharaan yang meracuni tuan mudanya di meja makan."
Kaelen dan Rurik membeku di tempat mereka berpijak. Otak mereka menolak memproses informasi yang disajikan oleh mata mereka sendiri.
"T-Tuan Valerius?" gagap Kaelen, matanya berkedip berulang kali seolah melihat hantu. "Tidak mungkin... kau meminum racun itu sampai habis. Aku melihatnya sendiri!"
Valerius melompat turun dari batu dengan keanggunan seekor macan kumbang. Ia berjalan mendekat dengan santai, memainkan pedang pendek di tangannya.
"Racun itu cukup nikmat, Kaelen. Rasanya seperti pengkhianatan manis yang disajikan dalam cangkir emas," jawab Valerius, suaranya tenang namun mengandung bisa mematikan.
Emosi Rurik mengalahkan ketakutannya. Wajahnya memerah karena marah, merasa dihina oleh pemuda yang selama ini ia anggap sebagai sampah keluarga.
"Aku tidak peduli jika kau hantu atau iblis!" teriak Rurik, mengangkat kapak perangnya dengan kedua tangan. "Aku akan mencacah tubuhmu menjadi makanan anjing!"
Rurik berlari menerjang Valerius seperti banteng liar yang mengamuk. Bumi bergetar di bawah langkah kaki bajanya, setiap ayunan kapaknya membawa kekuatan penghancur yang mematikan.
Namun Valerius tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Ia membiarkan Rurik mendekat, matanya mengunci pergerakan otot kasar pria raksasa itu.
Tepat saat kapak itu mengayun membelah udara menuju kepalanya, Valerius merendahkan tubuhnya dengan kecepatan kilat. Ia bergerak melewati pertahanan Rurik yang terbuka lebar.
Dengan satu tebasan cepat menggunakan pedang tumpulnya, Valerius memotong urat keting di belakang lutut kanan Rurik. Darah menyemprot keluar mewarnai tanah.
Rurik menjerit kesakitan, kakinya kehilangan daya topang seketika. Tubuh besarnya ambruk ke tanah dengan suara debuman keras, kapaknya terlempar jauh dari jangkauan.
Belum sempat Rurik memproses apa yang terjadi, Valerius sudah berdiri di belakangnya. Valerius menendang tulang belakang Rurik, menginjaknya dengan kekuatan penuh hingga terdengar bunyi retakan yang mengerikan.
"AARRRGGHH!" Rurik melolong sejadi-jadinya, air mata kesakitan mengalir membasahi wajahnya yang kasar. Ia mencoba merangkak, namun kakinya tidak lagi merespons perintah otaknya.
Kaelen yang menyaksikan adegan itu, kini jatuh berlutut di tanah. Keberaniannya runtuh total; ini bukan Valerius yang lemah, ini adalah monster yang memakai kulit tuannya.
Valerius menjambak rambut Rurik, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya terekspos. Pria raksasa yang arogan itu kini menangis tersedu-sedu, memohon ampunan yang tidak akan pernah datang.
"Kau suka mencacah tubuh, Rurik?" bisik Valerius di telinga pria itu. "Biar kutunjukkan seni mencacah yang sebenarnya dari dunia lamaku."
Valerius tidak memenggal leher Rurik; itu terlalu berbelas kasihan. Ia menggunakan pedang tumpulnya untuk mengiris kulit wajah Rurik perlahan-lahan, membiarkan saraf-sarafnya merasakan penderitaan terburuk sebelum kematian menjemput.
Raungan Rurik yang memekakkan telinga memenuhi udara malam, menciptakan simfoni kekejaman yang merdu di telinga Valerius. Darah membanjiri tanah, sementara aura merah Rurik perlahan memudar menjadi keputusasaan hitam yang pekat.
[Target Dieliminasi: Ksatria Orde Tingkat Lanjut.][Kondisi Mental: Agoni Absolut. Hadiah: +150 Poin Dosa.] [Level Up! Host mencapai Level 2. Atribut Fisik Meningkat.]
Valerius melepaskan kepala Rurik yang kini tidak bisa dikenali lagi. Ia memutar tubuhnya, menatap Kaelen yang kini meringkuk gemetar di atas tanah berlumpur.
Kaelen menangis, air mata membasahi wajahnya yang kotor. Ksatria arogan yang mengimpikan gelar Baron itu kini terlihat lebih menyedihkan daripada cacing tanah.
"T-Tolong, Tuan Muda..." isak Kaelen, mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Aku hanya disuruh... Tuan Aldrich yang memaksa kami. Tolong ampuni nyawaku!"
Valerius berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati. Ia berjongkok di depan Kaelen, mengangkat dagu ksatria itu dengan ujung pedangnya yang berlumuran darah.
"Kakakku yang terkasih menjanjikanmu tanah dan kehormatan, bukan?" tanya Valerius lembut. Mata hitamnya menatap tepat ke dalam pupil Kaelen yang membesar karena panik.
"Y-Ya... aku bersalah, Tuan. Aku akan menjadi anjingmu! Aku akan membunuh Aldrich untukmu!" Kaelen memohon dengan putus asa, menjual kesetiaannya demi satu tarikan napas tambahan.
Valerius tertawa pelan, tawa dingin yang membuat darah Kaelen membeku. Pengkhianat akan selalu menjadi pengkhianat, dan Nomor Nol sangat membenci orang yang tidak memiliki pendirian.
"Kau berani mengkhianati tuan lamamu hanya demi menyelamatkan nyawa kotor ini," ucap Valerius tajam. Ia menggeser bilah pedangnya, menggores leher Kaelen hingga darah segar menetes.
Kaelen terengah-engah, mencoba tidak bergerak seinci pun. Keputusasaan menenggelamkan kewarasannya, menyadari bahwa iblis di depannya ini tidak akan pernah mengampuninya.
"Tanah yang dijanjikan Aldrich tidak akan pernah menjadi milikmu," bisik Valerius, suaranya sedingin angin musim dingin. "Namun, aku berbaik hati untuk memberimu enam kaki tanah di lembah ini sebagai tempat istirahat abadi."
Sebelum Kaelen sempat memohon lagi, Valerius menancapkan pedangnya tepat ke tengah tenggorokan ksatria itu. Kaelen tersedak darahnya sendiri, matanya melotot menatap Valerius hingga napas terakhirnya berembus.
[Target Dieliminasi: Komandan Ksatria Orde Menengah.][Kondisi Mental: Keputusasaan dan Pengkhianatan. Hadiah: +100 Poin Dosa.]
Valerius mencabut pedangnya, berdiri tegak di tengah tiga mayat yang tergeletak di sekelilingnya. Bulan ganda bersinar terang, menjadi saksi bisu atas pembantaian sepihak ini.
Ia melihat sebuah cincin stempel berwarna emas terlepas dari kantong Kaelen. Cincin yang memiliki ukiran naga hitam—lambang Keluarga Draken.
Valerius memungut cincin tersebut, membersihkan darahnya, lalu memakainya di jari telunjuknya. Benda ini bukan lagi sekadar lambang keluarga, melainkan surat undangan kematian bagi mereka yang berada di ibu kota.
"Tunggu aku, Aldrich," gumam Valerius, memutar cincin itu di jarinya. "Keluarga Draken akan segera memahami arti sebenarnya dari sebuah penyesalan."
Angin malam kembali berhembus kencang, membawa sumpah berdarah sang terpidana ke seluruh penjuru Aethelgard. Malam ini, di Lembah Tengkorak, sebuah teror baru saja dilahirkan.