NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Kaiden menepati janjinya di kafetaria, ia benar-benar membawa Alma ke kediaman keluarga Harrington. Mobil hitam dengan kaca gelap itu melaju perlahan, membelah jalanan kota yang mulai dilumuri cahaya senja.

Di kursi pengemudi, Kaiden menggenggam setir dengan mantap, namun sesekali matanya melirik gadis di sampingnya. Alma duduk anggun, tubuh tegak dengan sorot mata yang tenang menatap keluar jendela.

Namun bagi Kaiden, pesona itu adalah beban yang aneh. Ia adalah pewaris keluarga Harrington yang selalu tenang, tidak pernah kehilangan wibawa di hadapan siapa pun. Tapi di samping Alma, hatinya mendadak gelisah. Ada sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

Aroma samar manis menyeruak, bercampur dengan wangi mawar. Kaiden refleks menggeser duduknya, seakan ingin menjaga jarak dari aroma itu. Padahal ia tahu, wangi itu justru membuatnya semakin resah.

Keheningan tercipta. Bukan keheningan canggung, melainkan hening yang damai. Alma tak banyak bicara, sedangkan Kaiden yang tidak lihai berbasa-basi, tak tau harus memulai percakapan dari mana. Mereka hanya terdiam, namun anehnya, keheningan itu terasa harmonis.

Mobil akhirnya memasuki area kediaman Harrington. Gerbang tinggi berukir lambang keluarga terbuka perlahan, memperlihatkan jalan setapak panjang yang dihiasi pohon-pohon rimbun. Lampu taman yang mulai menyala menciptakan bayangan keemasan, menyambut tuan muda dan tamunya.

Di pintu utama mansion, seorang wanita sudah menanti. Caterina, berdiri dengan penuh wibawa namun memancarkan kegembiraan yang sulit disembunyikan. Beberapa pelayan berbaris di sampingnya, menundukkan kepala penuh hormat.

Begitu mobil berhenti, tatapan Caterina langsung tertuju pada Alma. "Alma…" ucapnya hangat, seolah nama itu sudah lama ia nantikan.

Alma turun dari mobil dengan gerakan tenang. Seketika, Caterina menghampiri dan meraih tangannya. Senyumnya merekah, tatapannya lembut penuh kasih. Ia lalu mengajak Alma berjalan masuk, sama sekali melupakan putranya yang masih berdiri di belakang.

Kaiden menatap punggung keduanya. Ada perasaan aneh menyelusup di hatinya, rasa iri yang tak ia duga. Iri karena ibunya seolah lebih bahagia menyambut Alma ketimbang dirinya sendiri.

Alih-alih membawa Alma ke ruang tamu resmi, Caterina justru menuntunnya ke ruang keluarga. Ruangan itu hangat dengan sofa berlapis kain krem, perapian kecil yang menyala lembut, serta aroma kayu manis yang menenangkan.

"Tante sudah lama ingin bertemu denganmu, Nak," ujar Caterina sambil menuntun Alma duduk di sampingnya. "Tante bahkan pernah meminta mamahmu membawamu saat kita bertemu. Tapi katanya kau selalu sibuk. Untung saja Kaiden hari ini berinisiatif."

Kalimat terakhir itu disertai tatapan tajam yang diarahkan pada putranya.

Kaiden hanya menghela napas kecil, lalu berkata lirih, "Aku akan berganti pakaian dulu." Namun ucapannya berlalu begitu saja, tak dihiraukan. Caterina sudah sibuk menumpahkan perhatiannya pada Alma.

"Perjalanan ke sini tidak merepotkanmu, kan?" tanya Caterina lembut, lalu menoleh sekilas ke arah Kaiden. "Anak ini kadang terlalu ceroboh."

Alma menatap singkat ke arah Kaiden, lalu tersenyum tipis. Ada kilatan jenaka di matanya. "Tidak, tante. Kaiden mengemudi dengan baik."

Kaiden hampir terbatuk. Jawaban sederhana itu justru membuat dadanya hangat, seolah mendapat pembelaan yang tak ia duga.

Tak menunggu lama, Caterina kembali mengajukan pertanyaan lain. "Alma, apakah kau sudah memiliki kekasih?"

Pertanyaan itu membuat Kaiden terhenti di anak tangga, menoleh refleks.

Alma menundukkan kepalanya sedikit, lalu menjawab pelan, "Tidak, Tante."

Kaiden merasa dadanya mengendur. Ia tak tahu mengapa, tapi mendengar jawaban itu menimbulkan rasa lega yang sulit dijelaskan.

Caterina tersenyum puas. Di dalam hati, ia sudah menimbang cepat. Alma adalah gadis yang tepat, latar belakangnya setara, kepribadiannya memesona, dan jelas pasangan ideal untuk putranya. Meski demikian, ia menahan diri untuk tidak mengatakannya langsung.

"Alma, Tante mendengar kau sering menjadi relawan di panti asuhan?" tanya Caterina lagi.

Alma menoleh sopan. "Iya, tante. Itu kegiatan yang kusukai."

Senyum Caterina melebar. "Kebetulan sekali. Minggu depan tante akan mengadakan acara lelang amal. Hasilnya akan disumbangkan untuk anak-anak panti. Bagaimana kalau kau ikut berpartisipasi?"

"Tentu saja. Kegiatan mulia seperti itu tidak mungkin kutolak," jawab Alma tulus.

Caterina menepuk tangannya lembut. "Bagus sekali. Tante akan menguruskan keanggotaanmu." Lalu ia menambahkan, "Isabella juga bilang, kau menyukai bunga?"

"Aku memang menyukainya."

"Kalau begitu, sebelum makan malam, kau harus melihat taman di rumah ini. Bunganya sedang bermekaran indah. Bagaimana kalau kau berkeliling sebentar?"

Alma menundukkan kepala. "Jika diperbolehkan, aku sangat senang, tante Caterina"

"Tentu saja." Caterina menoleh pada salah satu pelayan. "Tolong antarkan Nona Alma ke taman."

"Baik, Nyonya."

Alma lalu berdiri. Ia menatap sekilas pada Kaiden yang masih berada di tangga, kemudian melangkah mengikuti pelayan.

Begitu Alma menghilang dari pandangan, Caterina menyilangkan tangan di pangkuannya, tersenyum penuh rencana. Ia menoleh pada pelayan yang tersisa. "Nanti, jika Tuan Muda sudah turun, mintalah ia menemani Alma di taman. Dan biarkan mereka berdua saja di sana."

Para pelayan mengangguk patuh.

Caterina menegakkan tubuhnya, sorot matanya berbinar. Ia merasa semua sedang berjalan sesuai rencana. Kaiden, cepat atau lambat kau akan berterima kasih pada mamahmu ini, batinnya puas, yakin momen romantis itu akan segera tercipta.

🥀🥀🥀

Kaiden menuruni anak tangga dengan langkah mantap, ritme tiap injakan terdengar tegas di ruang luas kediaman keluarga  Harrington. Setibanya di lantai satu, tatapannya menangkap seorang pelayan yang tengah melintas sambil membawa nampan.

"Di mana mamahku dan Alma?" tanyanya dengan suara tenang, namun menyiratkan ketajaman yang tak dapat ditolak.

Pelayan itu segera berhenti, menundukkan kepala penuh hormat. "Nyonya sedang menyiapkan makan malam, Tuan Muda. Sementara Nona Alma… saat ini berada di taman."

Jawaban itu cukup. Tanpa sepatah kata pun, Kaiden melangkah menuju taman keluarga. Jalan setapak berlapis batu putih membawanya melewati pepohonan kecil, hingga sampai pada jembatan mungil yang terbentang di atas kolam berair jernih.

Namun begitu tiba di ujung jembatan, langkahnya terhenti.

Di antara hamparan bunga yang bermekaran indah, sosok Alma berdiri bagai jelmaan dewi senja. Seragam sekolah yang membalut tubuhnya bergoyang lembut tersapu angin sore, sementara cahaya jingga dari matahari yang hampir tenggelam menari di wajahnya. Wajah itu seakan dilukis tangan-tangan tak kasatmata, terlalu indah, terlalu halus, hingga sulit dipercaya bahwa ia nyata. Senyum tipis yang terpatri di bibirnya membuat waktu seakan berhenti berputar.

Kaiden menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran dadanya. Namun setiap kali matanya menatap Alma, dunia seolah menyusut, menyisakan hanya mereka berdua. Perlahan, ia mendekat. Suaranya lirih, serak, seakan tertahan oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata.

"Kau menyukainya?"

Alma menoleh, matanya berkilau bagai permata yang tertimpa cahaya mentari terakhir. Ia berbalik sepenuhnya, dan senyum itu mengembang. Hangat, memikat, sekaligus berbahaya.

"Aku menyukainya… tamanmu sungguh indah," jawabnya dengan nada selembut belaian angin yang melintas di sela-sela bunga.

Kaiden menatapnya lekat, seolah berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi di balik keindahan itu. Ada rahasia dalam sorot mata Alma. Gelap, dalam, dan nyaris menelan. "Apakah ada bunga yang paling kau sukai di sini?" tanyanya, ingin menyelami lebih jauh sisi lain dari gadis di hadapannya.

Alma mengedarkan pandangan. Lili putih berseri, anyelir yang berwarna-warni, tulip yang tegak anggun, semuanya ia pandangi dengan sepasang mata penuh renungan. Namun kemudian, ia menggeleng perlahan. "Mereka semua indah, namun tidak ada yang menjadi favoritku."

Alis Kaiden sedikit terangkat. "Lalu, bunga apa yang paling kau sukai?"

Tatapan Alma kembali padanya. Kali ini tak sekadar jujur, melainkan juga menyampaikan pesan samar, sebuah rahasia yang hanya bisa dirasakan, bukan diucapkan. Senyum tipisnya muncul kembali. Lebih lembut, lebih memikat, lebih berbahaya.

"Mawar merah," ucapnya lirih, nyaring namun dalam.

Kaiden merasakan dadanya menghangat. Mawar merah. Lambang cinta, gairah, sekaligus keberanian yang sering berakhir pada luka. Kata itu bergema di ruang hatinya, menyiratkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar bunga.

"Jika kau menginginkannya," Kaiden menatap tajam, "aku bisa mengubah seluruh taman ini menjadi hamparan mawar merah untukmu."

Alma terkekeh, lembut namun sarat dengan nada mengejek. "Jika kau melakukannya, Tante Caterina pasti akan marah besar."

Kaiden mengangkat dagunya sedikit, sorot matanya tak bergeming. "Tak ada yang bisa menghentikan tindakanku. Dan aku tidak bermain-main dengan kata-kataku, Alma. Apa pun yang kau inginkan… aku akan mewujudkannya."

"Benarkah? Apa pun?" Alma melangkah setapak lebih dekat, gerakan anggunnya membuat jarak di antara mereka kian menipis. Gadis itu menunduk sedikit, sebelum kembali menatapnya dengan sorot mata berbeda. Tajam, menusuk, penuh misteri. "Bahkan jika aku memintamu… membunuh seseorang?"

Napas Kaiden tercekat. Bukan karena kata-kata yang baru saja meluncur, melainkan karena jarak yang begitu dekat membuatnya bisa merasakan hangat napas gadis itu di wajahnya. Aroma samar bunga bercampur dengan keharuman tubuh Alma, menjeratnya dalam pesona yang sulit dilepaskan.

Matanya menggelap, penuh bara tekad yang nyaris berbahaya. 'Tidak ada yang tidak mungkin. Ucapkan satu nama saja… maka orang itu akan lenyap dari dunia ini."

Alma tersenyum samar, senyum yang bukan lagi sekadar manis, melainkan penuh kelicikan halus, seolah ia sedang menguji batas. "Kau terdengar begitu yakin, Kaiden. Seolah dunia hanya catur, dan kau adalah bidak paling mematikan."

"Bukan aku," balas Kaiden pelan, suaranya dalam bagaikan janji kelam. "Tetapi untukmu, aku bisa menjadi apa pun. Raja, pelindung, bahkan algojo. Cukup dengan satu kata."

Tatapan Alma melembut, namun sinar matanya menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tak bisa dibaca. Ia mengangkat tangan, menyentuh lengan Kaiden dengan ujung jarinya. Sentuhan ringan itu bagai bara kecil yang membakar perlahan.

"Kau tidak takut, Kaiden?" bisiknya, begitu dekat hingga terdengar seperti rahasia. "Tidak takut jika aku benar-benar meminta hal yang tak bisa kau kembalikan? Darah, nyawa, dosa… semua itu tidak bisa dipadamkan begitu saja."

Kaiden menunduk sedikit, sehingga jarak wajah mereka hanya sejengkal. Suaranya turun, rendah dan penuh intensitas. "Aku tidak takut pada apa pun… kecuali kehilanganmu."

Hening sejenak melingkupi mereka. Angin membawa aroma bunga, langit senja merona merah, seakan mengamini kata-kata mereka yang berat dan penuh janji kelam.

Alma menatapnya lama, senyumnya berubah tipis, ambigu antara ketulusan dan permainan. "Kau terlalu berbahaya, Kaiden."

Kaiden mengangkat tangannya, menyentuh pipi Alma dengan lembut. "Atau mungkin… kau lah yang lebih berbahaya dari siapapun di dunia ini."

Mata mereka bertaut, dua jiwa yang sama-sama kelam namun saling akan terikat, seolah takdir sudah menuliskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan semata.

Di tengah taman yang dipenuhi bunga, mereka berdiri berhadapan. Satu jiwa muda yang berjanji tanpa suara, bahwa cinta yang tumbuh di hatinya bukan sekadar manis dan indah, melainkan cinta yang siap merangkul kegelapan, bahkan jika harus mengorbankan segalanya.

🥀🥀🥀

Sementara itu, di kantor kepolisian, suasana mendadak mencekam. Dean, sang komandan yang dikenal dengan ketegasan sekaligus tempramennya, kembali meluapkan amarah. Laporan mengenai hilangnya Violet membuat darahnya mendidih. Tidak ada kabar, tidak ada jejak, bahkan alat pelacak yang dipasang pun tidak memberikan hasil. Semua seolah lenyap ditelan bumi.

"Apa sebenarnya yang kalian lakukan selama ini? Menjaga seorang gadis saja kalian tidak mampu?" suara Dean menggelegar, membentur dinding-dinding ruangannya yang hening. Tangannya menghantam meja kerja hingga berkas-berkas beterbangan. Para bawahannya hanya bisa menunduk, tak berani menatap langsung wajah sang komandan.

Wajah Dean memerah menahan geram. "Ini memalukan! Bagaimana orang-orang di luar sana akan memandang kita? Apa mereka akan menganggap kepolisian ini lemah? Tidak berdaya menghadapi seorang kriminal yang bahkan berulang kali meninggalkan tanda tangan kejahatannya?"

Angel, salah satu perwira yang bertugas langsung di lapangan, memberanikan diri untuk angkat bicara. Suaranya bergetar, namun tetap berusaha tegas. "Kami sudah menjaganya dengan ketat, Komandan. Namun setelah sekolah dibubarkan, kami tidak menemukan sosok Violet keluar dari gerbang manapun. Kami menunggu cukup lama, tetapi hasilnya nihil. Bahkan setelah meminta pihak sekolah memperlihatkan rekaman CCTV di seluruh akses keluar, tetap tidak ada petunjuk."

Dean menatap tajam, seakan menembus batin setiap anggotanya. Rahangnya mengeras, pertanda pikirannya sedang bekerja keras menimbang kemungkinan yang ada.

Jacob, detektif senior yang dikenal kritis, mengangkat suaranya. "Komandan, saya memiliki dugaan. Bagaimana jika pelaku merupakan orang dalam sekolah itu? Orang yang mengenal dengan baik aktivitas korban, tahu kapan mereka bergerak, dan memahami celah keamanan di sana."

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Semua mata tertuju pada Dean, menanti reaksinya.

Dean akhirnya menanggapi dengan suara yang lebih terkendali, meski tetap terdengar dingin. "Bisa jadi. Dugaan itu masuk akal. Hanya orang dengan pengetahuan mendetail mengenai lingkungan sekolah yang mampu melancarkan aksi sedemikian rapih."

Ia lalu menoleh kepada Jacob. "Bagaimana dengan pelacak yang dipasang pada Violet? Tidak ada satu pun yang bisa terdeteksi?"

Jacob menghela napas panjang sebelum menjawab. "Semuanya hilang secara bersamaan, Komandan. Baik pelacak pada gelang tangannya, maupun yang disematkan di barang-barang pribadinya. Semua sinyal padam di waktu yang sama. Seolah ada tangan ahli yang dengan sengaja menonaktifkan sekaligus menghapus jejak."

Dean mendengus kesal. Pikirannya berputar cepat, membayangkan bagaimana seorang pembunuh bisa sedemikian cermat. "Luar biasa," gumamnya lirih, penuh ironi. "Pembunuh ini bukan orang biasa. Dia penuh perhitungan, hati-hati, dan jelas memiliki sumber daya. Setiap tindakannya bersih, nyaris tanpa celah."

Ia kemudian menegakkan tubuh, menatap lurus ke arah Jacob. "Jacob."

"Ya, Komandan," jawab pria itu sigap.

"Apakah kau masih ingat gadis yang pernah disebutkan Oscar tempo hari? Gadis yang menurutnya mungkin memiliki kaitan dengan rangkaian kasus ini."

Jacob mengangguk. "Aku ingat jelas, Komandan. Silahkan beri perintah."

"Atur jadwal. Kita harus segera menemuinya untuk dimintai keterangan. Jika benar ucapan Oscar, ada kemungkinan gadis itu mengetahui sesuatu. Bahkan mungkin saja ia terlibat langsung."

"Siap, Komandan. Akan segera aku laksanakan," jawab Jacob tegas.

Angel yang sejak tadi diam, memberanikan diri kembali angkat suara. "Komandan, jika benar ada keterlibatan orang dalam, bukankah lebih baik kita juga menyelidiki staf sekolah satu per satu? Guru, penjaga keamanan, bahkan tenaga kebersihan. Tidak menutup kemungkinan mereka memiliki andil."

Dean mengangguk perlahan. "Itu juga harus dilakukan. Kita tidak boleh melewatkan detail sekecil apa pun. Namun, prioritas kita saat ini adalah menemukan jejak Violet. Setiap detik yang terlewat akan semakin memperbesar kemungkinan ia dalam bahaya."

Jacob menambahkan, "aku juga berpikir, pelaku ini bukan hanya sekadar pembunuh berantai. Ia jelas menikmati permainan ini, seolah sedang menantang kita. Menghilangkan Violet tanpa jejak adalah cara untuk menunjukkan bahwa ia selalu selangkah lebih maju."

Suasana ruangan kembali hening. Masing-masing anggota larut dalam pikiran mereka, menyadari betapa berbahayanya sosok yang mereka hadapi.

Dean akhirnya menutup pertemuan singkat itu dengan suara tegas. "Kita tidak boleh kalah. Aku ingin setiap orang mengerahkan kemampuan terbaiknya. Tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi kelengahan. Temukan Violet. Dan tangkap iblis itu, hidup atau mati."

Perintahnya menggema, menancap kuat di hati para bawahannya. Mereka pun serempak menjawab, "Siap, Komandan!"

1
tutiana
woowwww ,
tutiana
nextt Thorr ☕️
aku
semangat lanjut
wahyu andria
semngat thorrr. .double up 🤭🙏💪
falea sezi
hmmm alma kurang perhitungan g bs bela diri menye menye bisa bunuh doank itu aja dia minta bantuan jean😒
falea sezi
siapapun yg bangkit dr kematian karena fitnah bully pasti bakal dendam 😒
falea sezi
g bakalan lupa Leon lu uda bunuh alma di kehidupan b sebelum nya😒
falea sezi
alma uda benci sama loe kaiden
falea sezi
q benci bgt bullying kayak gini semoga anak ku g dpet bully di sekolah karena itu mental bs kena😕
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!