NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Hutan pagi hari tidak bersahabat. Kabut tebal menyelimuti pepohonan, membuat jarak pandang hanya beberapa meter. Udara lembap menempel di kulit seperti lapisan lendir dingin.

Raka bergerak rendah di antara semak belukar. Napasnya diatur ritmis, hampir tak terdengar. Di tangannya, sebuah tongkat kayu keras yang dia ambil dari tumpukan sampah di belakang gubuk. Senjata seadanya. Tapi cukup untuk mematahkan tulang jika dipukul di titik yang tepat.

[!] Deteksi jejak aktivitas manusia: Segar.

[!] Arah: Utara, menuju lembah kabut.

[!] Jumlah estimasi: 3-4 individu.]

Raka mengangguk pelan. Data itu sesuai dengan dugaannya. Anak buah Bima tidak main-main. Mereka mengirim tim kecil untuk memancingnya keluar, atau menjebaknya.

Dia mengikuti jejak itu dengan hati-hati. Setiap langkahnya ditempatkan di atas batu atau akar kering untuk meminimalkan suara. Matanya menyapu setiap celah antara batang pohon. Waspadai perangkap. Waspadai penyergapan.

Sepuluh menit kemudian, dia mendengar suara.

Suara tertawa. Kasar. Meremehkan.

Raka mengintip dari balik semak belukar. Di sebuah clearing kecil, tiga pria berdiri. Mereka mengenakan baju hitam seragam. Logo kepala harimau di dada kiri mereka terlihat jelas meski tertutup kabut tipis.

Salah satu dari mereka, pria berbadan besar dengan rambut gondrong, sedang menendang-nendang tumpukan kayu kering.

"Dasar tikus," geram pria itu. "Kabur ke gunung, pulang bawa muka tebal."

Temannya, seorang pria kurus dengan pisau di pinggang, menyeringai. "Bos bilang jangan dibunuh dulu. Mau dilihat dulu seberapa kuat dia sekarang. Kalau cuma jadi pemulung biasa, kita habisi aja malam ini."

Pria gondrong itu meludah ke tanah. "Membosankan. Aku harap dia melawan. Biar ada alasan buat patahin tulangnya satu-satu."

Raka menahan napas. Jantungnya berdetak kencang, tapi wajahnya datar. Dia tidak marah. Dia tidak takut. Dia hanya mencatat.

Tiga orang.

Bersenjata.

Niat membunuh.

Tiba-tiba, tangan mungil mencengkeram bahu Raka dari belakang.

Raka hampir berteriak. Instingnya bereaksi cepat, dia memutar tubuh dan mengangkat tongkat kayunya.

Tapi itu hanya Laras.

Wajah gadis itu datar. Matanya tajam, menatap ke arah clearing itu. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia sudah tahu.

"Mereka ingin membuatmu panik," bisik Laras. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desau angin. "Kalau kamu panik, kamu buat kesalahan. Dan kesalahan di sini artinya mati."

Raka menatap Laras. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang membuatnya ragu. Bukan ketakutan. Tapi perhitungan dingin.

"Apa rencanamu?" tanya Raka pelan.

Laras menunjuk ke arah tebing curam di sebelah kanan clearing.

"Jangan ikut mereka ke jurang. Itu jebakan. Mereka punya orang di bawah."

Jeda singkat. Laras menatap Raka lekat-lekat.

"Mukamu pucat," katanya tiba-tiba. Suaranya datar. Tanpa emosi. "Kalau pingsan sekarang, aku bakal tinggalin di sini. Tanahnya keras. Susah gali kuburan."

Raka mengerutkan kening. Kalimat itu terdengar kejam. Tapi dia tahu maksudnya. Laras tidak peduli pada perasaannya. Laras hanya peduli pada efisiensi. Jika Raka menjadi beban, dia akan ditinggalkan. Itu adalah hukum alam di dunia mereka.

"Aku tidak akan pingsan," jawab Raka. Suaranya tenang. Dingin.

Laras mendengus. Dia mundur selangkah, menghilang ke balik semak belukar.

"Buktikan," bisiknya. Lalu dia hilang.

Raka menarik napas dalam-dalam. Mengusir keraguan. Mengusir rasa sakit di lengannya.

Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus menghadapi mereka. Di sini. Sekarang.

Raka melangkah keluar dari persembunyiannya. Tongkat kayunya digenggam erat. Matanya menatap ketiga pria itu dengan tatapan kosong.

"Hei," panggil Raka. Suaranya lantang, memecah keheningan hutan.

Ketiga pria itu menoleh. Mata mereka menyipit.

"Tikusnya muncul," kata pria gondrong itu. Dia tersenyum lebar. Senyum serigala yang melihat mangsa terjebak. "Ayo sini. Tunjukkan seberapa hebat kau sekarang."

Raka tidak menjawab. Dia hanya berdiri diam. Menunggu.

Angin berhembus kencang. Kabut bergulung-gulung di sekitar kaki mereka.

Dan di balik kabut itu, bayangan Raka mulai berkedut.

Pertarungan itu berlangsung cepat. Brutal. Tanpa aturan.

Pria gondrong menerjang pertama. Ayunan tinjunya berat, ditujukan ke wajah Raka.

Raka tidak menangkis. Dia menghindar ke samping, memanfaatkan momentum musuh untuk menariknya lebih jauh ke dalam perangkap.

Saat pria itu kehilangan keseimbangan, Raka menghantamkan tongkat kayunya ke lutut kanan musuh.

Krak!

Suara tulang retak terdengar jelas. Pria itu menjerit kesakitan, jatuh tersungkur ke tanah berlumpur.

Dua pria lainnya langsung menyerang. Pisau mereka berkilat di bawah cahaya matahari yang tembus kabut.

Raka mundur. Langkahnya cepat. Teratur. Dia mengarahkan mereka ke arah tebing curam yang ditunjuk Laras tadi.

"Kejar dia!" teriak salah satu dari mereka. "Dia lari ke jurang!"

Mereka mengejar. Buta oleh amarah. Buta oleh arogansi.

Mereka tidak melihat bayangan di tanah yang tiba-tiba memanjang, membelok, dan menyentuh kaki mereka.

[!] Aktivasi Teknik Bayangan: Level 1.

[!] Stabilitas: 6%.

[!] Efek: Gangguan keseimbangan minor.]

Salah satu pria tersandung. Kakinya seolah-olah tersangkut akar tak terlihat. Dia jatuh face-first ke tanah.

Pria kedua sempat berhenti. Matanya melebar. Dia melihat bayangan Raka yang... bergerak sendiri?

"Apa-apaan ini?" gumamnya. Ketakutan mulai merayap di wajahnya.

Raka tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dia berbalik, menghantamkan ujung tongkat kayunya ke tengkuk pria itu.

Thud!

Pria itu rubuh. Tidak sadarkan diri.

Hanya tersisa satu. Pemimpin mereka. Pria gondrong yang masih meringkuk di tanah, memegang lututnya yang patah.

Matanya menatap Raka. Penuh kebencian. Penuh ketakutan.

"Kamu... monster," desisnya.

Raka menatapnya dingin. Tidak ada kepuasan di wajahnya. Tidak ada kemarahan. Hanya kewaspadaan.

Dia mengangkat tongkat kayunya. Siap untuk pukulan terakhir.

Tapi sebelum dia bisa melakukannya, suara siulan tajam terdengar dari kejauhan.

Siulan burung. Kode.

Raka menoleh. Di atas dahan pohon tinggi, sesosok bayangan berdiri. Mengamatinya.

Bima.

Atau mungkin seseorang yang lebih berbahaya.

Raka menurunkan tongkatnya. Dia tidak bisa menghabiskan waktu di sini. Jika ada penguatan musuh, dia akan kalah jumlah.

Dia menatap pria gondrong itu sekali lagi.

"Katakan pada bosmu," kata Raka. Suaranya rendah. Mengancam. "Jangan kirim anak-anak sekolah ke hutan ini. Next time, aku tidak akan sekadar mematahkan kakimu."

Lalu dia berbalik. Lari masuk ke dalam kegelapan hutan. Meninggalkan tiga pria yang terluka dan bingung di tengah kabut.

Satu jam kemudian.

Raka kembali ke gubuk. Tubuhnya kotor. Bajunya robek di beberapa tempat. Napasnya masih agak tersengal.

Laras duduk di beranda. Sedang mengupas umbi-umbian. Seperti biasa.

Dia tidak menoleh saat Raka datang.

"Berhasil?" tanya Laras. Datang. Tanpa basa-basi.

"Tiga orang," jawab Raka. Dia duduk di samping Laras. Melepas sepatunya yang penuh lumpur. "Satu patah kaki. Dua pingsan."

Laras mendengus. "Cepat banget. Aku kira kamu bakal keliling hutan dulu setengah hari."

"Mereka ceroboh," kata Raka. Dia mengambil gelas air, meneguknya habis.

Laras akhirnya menoleh. Matanya menelusuri wajah Raka. Mencari tanda-tanda cedera serius.

"Luka?" tanyanya.

"Goresan kecil di paha," jawab Raka. "Tidak dalam."

Laras bangkit. Mengambil kotak P3K sederhana dari rak.

"Duduk," perintahnya.

Raka duduk. Laras membuka celana Raka, memeriksa luka goresan itu. Membersihkannya dengan alkohol. Mengoleskan salep hijau.

"Sakit?" tanya Laras.

"Biasa," jawab Raka.

Laras tidak menjawab. Dia membalut luka itu dengan rapi. Ketatnya pas.

"Besok," kata Laras tiba-tiba. Suaranya rendah. "Mereka akan balik. Dengan jumlah lebih banyak. Dan mungkin... dengan orang yang lebih pintar."

Raka mengangguk. "Aku tahu."

"Jadi apa rencanamu?"

Raka menatap gulungan Teknik Bayangan yang tergeletak di meja.

"Aku akan belajar," katanya. "Cara menggunakan kegelapan bukan hanya untuk bersembunyi. Tapi untuk menyerang."

Laras menyelesaikan balutan. Dia mengikat ujung perban dengan rapi.

"Bagus," katanya. Dia berdiri, mengambil mangkuk nasi dingin dari meja. Meletakkannya di pangkuan Raka.

"Makan. Kalau kamu pingsan karena kurang gizi, aku nggak akan membangunkanmu."

Raka mengambil sendok kayu. Mulai makan. Nasinya dingin. Lauknya hanya ikan asin bakar. Tapi rasanya enak. Sangat enak.

Di luar, angin berhembus kencang. Daun-daun bergesekan seperti bisikan ribuan roh.

Raka mengunyah. Menelan.

Matanya menatap gulungan teknik itu.

Malam ini, dia tidak akan tidur nyenyak.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!