Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Bajingan
Hembusan angin menerpa rambut Kemala yang terlihat kusut itu. Ketika Kemala dibonceng oleh sahabatnya setelah dari kepolisian. Harapan Kemala langsung pupus ketika mengingat respons kepolisian.
“Kami akan segera proses laporannya sesuai antrian kasus ya, Ibu, harap bersabar.”
‘Sesuai antrian? Bersabar?’
Respons ini sama mengecewakan dengan tindakan rumah sakit yang seolah justru ingin menutupi dan meminta Kemala menunggu kabar dari mereka.
‘Apa karena aku miskin?’
“GAK BISA BEGINI!” teriakan Kemala sempat mengagetkan Rani yang sedang menyetir motornya.
“Sabar, Mala, sebentar lagi kita sampai rumah keluargamu,” ucap Rani.
“Ya, gak ada cara lain,” jawab Kemala kembali termenung di tengah terpaan angin jalanan.
Pintu rumah kayu itu terbuka dengan bunyi berderit pelan.
Belum juga Kemala melangkah masuk, aroma minyak kayu putih dan masakan basi langsung menyergap hidungnya. Rumah yang pernah menjadi tempat paling nyaman baginya kini terasa asing, dingin, dan menyesakkan.
Sri Wahyuni, ibu Kemala yang sedang melipat pakaian di ruang tengah mendongak sekilas.
Tatapan mereka bertemu. Namun tak ada pelukan, atau pun wajah lega karena anaknya pulang.
Hanya ada jeda panjang penuh kecanggungan.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Sri datar.
Suara itu membuat dada Kemala terasa sesak.
Kemala menelan ludah sebelum menjawab, “Aku mau ngomong, Bu.”
Sri tak langsung menyahut. Wanita paruh baya itu hanya melirik ke arah kamar depan, tempat Sutrisno, ayah Kemala biasa duduk menonton televisi.
“Ayahmu lagi di rumah.”
“Aku tahu.”
“Kalau cuma bikin ribut, mending pergi.”
Kemala menggenggam tali tasnya erat-erat. Jemari wanita berparas cantik dengan pakaiannya yang terlihat lusuh itu dingin.
“Aku cuma mau minta bantuan.”
Kalimat itu akhirnya membuat Sutrisno muncul dari kamar depan. Wajah pria tua itu langsung berubah masam begitu melihat Kemala berdiri di ambang pintu.
“Bantuan?” dengus Sutrisno sinis. “Setelah bikin malu ayah dan ibumu, bahkan mencoreng nama keluarga Reza yang terpandang?”
Kemala menarik napas pelan.
“Ayah, bayi aku hilang ….”
Hening sejenak. Namun bukannya terkejut atau khawatir, Sutrisno justru mendecakkan lidah kesal.
“Terus?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada bentakan.
Kemala sampai kehilangan kata-kata beberapa detik.
“Itu cucu Ayah ….” suaranya lirih.
“Bukan cucu yang kami harapkan!”
Sri buru-buru menimpali, takut suasana makin panas. “Maksud ayahmu, sekarang yang penting kamu pulang dulu. Sudahi semua masalah ini.”
“Menyudahi bagaimana? Anak aku hilang, Bu!”
Suara Kemala meninggi tanpa sadar.
Tetangga sebelah yang sedang menyapu halaman sampai melirik ke arah rumah mereka.
Sutrisno langsung berdiri.
“Jangan teriak-teriak di sini!”
“Aku cuma minta dibantu cari anakku!” mohon Kemala dengan mata yang hampir membelalak tajam.
“Kami ini orang miskin!” bentak ayahnya. “Mau cari pakai apa? Polisi? Pengacara? Kamu pikir itu semua gratis?”
Kemala tercekat. Mengingat betapa lambatnya penangan pihak berwenang bahkan setelah Kemala melaporkan tentang kehilangan anak bayinya.
“Aku hanya–”
“Lapor polisi saja butuh biaya jalan!” potong ayahnya tajam. “Belum lagi kalau kamu mau nuduh rumah sakit lalai. Memangnya kamu siapa?”
Setiap kata terasa seperti tamparan. Namun Kemala masih mencoba bertahan.
“Ayah, dia bayiku. Dia darah dagingku!”
Sutrisno tertawa sumbang.
“Darah daging hasil zina!”
Sri langsung menunduk.
Sementara Kemala mematung.
Kemala tahu keluarganya kecewa. Ia tahu mereka malu. Namun mendengar anaknya disebut seperti itu tetap membuat hati Kemala serasa diremas.
“Tolong jangan hina anakku, Yah,” mohon Kemala pelan.
“Kenapa gak?” Sutrisno mendekat. “Sejak kamu hamil, hidup keluarga ini berantakan! Orang kampung ngomongin kita terus!”
“Ayah pikir aku mau begini?!”
“Tapi kamu melakukannya!”
Ruangan mendadak sunyi setelah bentakan itu.
Napas Kemala mulai tak beraturan. Bekas jahitannya masih terasa nyeri, tetapi rasa sakit di dadanya jauh lebih mengerikan.
Sri akhirnya bicara lirih.
“Mungkin ini jalan terbaik.”
Kemala perlahan menoleh.
“Maksud Ibu?”
“Kalau bayi itu memang hilang …” Sri tampak ragu menyusun kata. “Mungkin Tuhan mau menghapus kesialanmu.”
Kemala langsung tertawa kecil. Tawa yang terdengar putus asa.
“Kesialan?” ulang Kemala.
“Kamu masih muda,” lanjut ibunya cepat. “Kamu masih bisa mulai hidup baru. Kami juga bisa terima kamu pulang, asalkan kamu lupakan anak itu.”
Mata Kemala membelalak tak percaya.
“Apa?”
“Kami cuma mau kamu hidup normal lagi.”
“NORMAL?” suara Kemala pecah. “Anakku hilang, Bu!”
“Tapi dia sudah bikin hidupmu hancur!”
“Dia gak pernah minta dilahirkan!” Tangis Kemala akhirnya pecah. “Aku yang salah, bukan dia!”
Sri tampak goyah sesaat, tetapi Sutrisno kembali memotong dingin.
“Sudah cukup.”
Pria dengan kulit hitam karena terbakar matahari itu menunjuk pintu.
“Kalau kamu datang buat minta kami ikut cari anak haram itu, jawabannya gak!”
Kemala menatap ayahnya lama sekali. Pria yang dulu selalu menggendongnya sepulang sekolah kini bahkan tak sudi menyebut cucunya sebagai manusia.
Ada sesuatu yang perlahan patah di dalam diri Kemala.
“Aku kira,” ucap Kemala dengan suara serak, “setidaknya kalian masih punya hati.”
Sutrisno mendengus.
“Kami realistis.”
Kemala mengangguk. Hati wanita itu justru menjadi yakin, bahwa makna sebuah keluarga hanyalah sebuah fatamorgana.
Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, Kemala berbalik keluar rumah.
“Mala!” Sri sempat memanggil.
Namun Kemala tak berhenti. Begitu keluar pagar, air matanya jatuh makin deras.
Rani yang sedari tadi menunggu di motor langsung panik melihat wajahnya.
“Mereka nolak lagi?”
Kemala tertawa hambar sambil menghapus air mata kasar-kasar.
“Mereka malah suruh aku melupakan anakku.”
Rani memaki pelan. “Gila!”
Kemala menatap jalanan siang yang ramai, tetapi semuanya terasa kosong. Lalu perlahan, satu nama muncul di kepalanya, Reza.
Tangan Kemala mengepal.
“Ran.” Suara Kemala berubah dingin. “Antar aku ke rumah Reza.”
Rani langsung menoleh cepat. “Serius?”
“Aku mau lihat muka pria itu.”
“Mala, kondisi kamu belum stabil–”
“Aku gak peduli.”
Tatapan Kemala kali ini berbeda.
Bukan lagi ketakutan, melainkan kemarahan yang akhirnya menemukan arah.
***
Rumah dua lantai bercat krem itu berdiri megah di ujung kompleks perumahan. Rapi, bersih, dan nyaris tanpa cela.
Jauh berbeda dibanding hidup Kemala yang berantakan sejak Reza menghilang.
Motor Rani berhenti tepat di depan pagar. Kemala turun perlahan sambil menahan nyeri di perutnya.
“Mala …” Rani tampak khawatir. “Kalau dia kurang ajar lagi–”
“Aku sudah terlalu hancur buat takut sama dia, Ran.”
Kemala melangkah menuju pagar dan menekan bel.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Reza muncul dengan kaus rumah dan celana training santai. Wajahnya langsung berubah kaku begitu melihat Kemala.
“Kamu?!”
Kemala menatapnya lurus. “Di mana bayiku?”
Reza langsung melirik kanan-kiri, panik kalau ada tetangga mendengar.
“Jangan bikin drama di sini!” desis Reza sambil memelotot.
“Di mana bayiku?!” Mata Kemala yang masih begitu merah itu membelalak tajam ke arah Reza.
“Aku mana tahu!” jawab Reza ketus membuang muka karena tak sanggup melihat tatapan Kemala yang menusuk dirinya.
“Kamu yakin?!”
Reza mengembuskan napas kasar. “Kemala, dengar, aku lagi sibuk.”
“Sibuk?” Kemala tertawa sinis. “Aku habis melahirkan anakmu dan sekarang dia hilang!”
“Jangan nuduh sembarangan!”
“Aku cuma mau tahu apa kamu atau keluargamu yang bawa dia. Karena bayi itu juga anakmu!”
Reza mendecak kesal. “Anakku? Gak ada yang bawa bayi itu. Jangan kepedean!”
“Kalau bukan kamu, bantu aku cari!” bentak Kemala dengan penuh emosi, mengharapkan sedikit sisa tanggung jawab sang ayah dari bayi kecilnya.
“Buat apa?” Nada yang terdengar mengejek keluar dari mulut Reza.
Kemala membeku.
“Apa?!” suara Kemala semakin terdengar melengking.
Tak tahan dengan emosi Kemala, Reza menatapnya dingin.
“Hubungan kita sudah selesai sejak lama!”
“Dia anakmu!” tuntut Kemala.
“Aku gak pernah minta dia lahir!” bentak Reza.
Napas Kemala tercekat.
Rani sampai mengepalkan tangan saking emosi.
“Kamu keterlaluan, Za!” geram Rani yang sedari tadi berada di belakang Kemala.
Tak peduli dengan ucapan Rani, Reza justru semakin dingin.
“Kemala, aku kasih tahu baik-baik.” Reza menurunkan suaranya. “Sebentar lagi aku menikah.”
Kemala merasa telinganya berdenging. Wanita itu hanya menatap Reza semakin tajam dalam tubuhnya yang membeku. Kemala benar-benar tak percaya terhadap keabsurdan ini.
“Apa?”
“Tunanganku sesama ASN,” jelas Reza penuh penekanan. “Aku gak mau hidupku hancur gara-gara masa lalu.”
Masa lalu. Begitu mudahnya pria itu menyebut semua penderitaan Kemala sebagai masa lalu.
“HANCURIN HIDUP KAMU?” Kali ini ledakan itu terasa begitu dahsyat dalam diri Kemala.
“Za, kamu yang hancurin hidup aku!” Kemala mendorong dada Reza dengan kuat.
“Terus?” tanya Reza dingin begitu tak peduli.
Dingin dan sinis, persis seperti ucapan Sutrisno, ayah Kemala. Di hari yang sama, Kemala dihancurkan oleh dua pria yang pernah menyayanginya. Hati Kemala luluh lantah.
“Aku mau cari bayiku yang hilang!” seru Kemala penuh getaran. Tubuhnya bisa tumbang kapan saja jika tak dipegangi oleh Rani.
“Itu urusanmu! Aku dan anak itu gak ada kaitannya lagi!” desis Reza.
Tamparan mungkin tak akan sesakit kalimat itu.
Kemala menatap pria di depannya lama sekali. Dulu, pria ini pernah bersumpah akan bertanggung jawab.
Pernah mencium keningnya sambil bilang semuanya akan baik-baik saja.
Dan sekarang? Tatapan Reza bahkan tak menyisakan sedikit rasa bersalah.
“Aku mohon,” desak Kemala semakin bergetar, “kalau kamu tahu sesuatu–”
“Aku gak tahu dan gak peduli!” Reza menunjuk jalan depan rumahnya. “Sekarang pergi. Jangan datang lagi ke sini.”
“Kamu tega banget, Za,” bisik Kemala.
“Aku mau membangun hidup baru. Kamu sebaiknya gak melibatkan diri lagi di hidupku.”
Kemala tertawa kecil. Namun kali ini tawanya terdengar mengerikan. Bahkan kakinya yang sedari tadi sudah lemas berdiri, mulai menguat kembali.
“Hidup baru?” ulang Kemala yang sedikit jinjit mendekat menantang Reza hingga terlepas dari pegangan Rani.
Mata Kemala yang sudah begitu basah semakin merah penuh amarah dan luka.
“Kamu menghancurkan hidupku, ninggalin aku waktu hamil, terus sekarang bilang mau membangun hidup baru?”
Reza mulai kehilangan kesabaran.
“Sudah selesai bicara belum?”
Kemala melangkah mendekat. Air matanya jatuh lagi, tetapi sorot matanya tajam seperti pisau.
“Kamu benar-benar bajingan!”
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉