NovelToon NovelToon
The Masquerades

The Masquerades

Status: sedang berlangsung
Genre:Robot AI / Dunia Masa Depan
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Fredyanto Wijaya

Capella Starheart!

Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.

Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.

Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.

Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.

Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?



(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Part 2)

[BAB 2: ORION PLAZA]

Tangannya yang memakai handsock dengan motif belang hitam abu menggosok layar tabletnya yang sedikit berembun saat di luar.

Jalanan bersih di blok perumahan Harmonia berkelok seperti labirin, diaplikasikan dengan garis-garis neon biru muda di pinggirnya yang mungkin akan lebih jelas terlihat terang pada malam hari.

Ujung bawah jaket asimetrisnya bergerak tersibak saat angin menyapu tubuhnya. Rambutnya juga sampai terhempas lembut.

Jarinya mengetuk layar_ memeriksa yang sudah dikirim oleh Ibunya tadi. Arah lokasi Akademi VENOM berada.

Wajahnya terus menunduk disetiap langkah_ matanya memperhatikan fokus pada navigasi arah di layar tabletnya. Saking fokusnya, Gadis itu hampir saja menabrak tiang lampu jalan di depannya.

Dia menyadarinya, ketika suara sirine pendek membuatnya mengangkat wajah dari layar tablet.

Mobil patroli berbadan tebal berhenti tepat di sampingnya, roda-roda berlapis armornya mengeluarkan bunyi desis saat berhenti.

Jendela kaca berjaring baja turun perlahan.

Memperlihatkan wajah wanita penjaga gerbang yang dia ingat waktu awal kedatangan.

"Selamat pagi, nona Starheart," ucapnya dengan nada terlalu bersemangat untuk jam segini. Di kursi penumpang sebelahnya, satu orang lagi_ yang sama seperti yang waktu itu siaga dengan senjata_ mengangguk singkat.

Pandangan Capella memperhatikan menembus kaca depan... melihat dia sedang memegang senjata itu lagi di atas pangkuannya.

Gadis itu secara refleks mengetukkan jarinya di belakang tabletnya, pola ketukan yang tidak berarti selain kegelisahan. Apalagi yang menyupir baru saja membuka jendela penghalang di sisinya. Membuat Capella dan dia saling bertatapan wajah secara langsung.

"Maaf ya kalau kami mengganggu harimu. Kami hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," Dia sambil menunjuk ke arah tablet Capella. Matanya berkedip saat melihat peta VENOM yang masih terproyeksi di layar. "Aku mengerti, Hari pertama di sekolah selalu menegangkan. Jangan khawatir, sebagai orang yang dulu pernah bersekolah di sana... Nanti juga kau akan terbiasa. Kau akan baik-baik saja."

"Ya, Terimakasih... Um... Nyonya...," Ucapan Capella menggantung.

"Britney!" Langsungnya sambil menyentuh dada. "Dan ini adalah Putraku, Theo," Lanjutnya sambil menunjuk seorang yang di sampingnya. Pandangan Capella pun bergeser... Kembali memandang seorang pria tadi tapi kali ini lebih lama.

Ketika pria yang umurnya mungkin tujuh tahun lebih tua darinya itu melambai setengah tinggi singkat dan tersenyum tipis padanya, Capella, spontan membalasnya dengan "Hey!" Singkat tanpa senyum yang jelas.

Tetapi gerak lirikan mata nya sedikit tidak terkontrol bolak-balik kepada Pria itu lalu kembali pada Britney.

"Bagaimana hari kalian beberapa hari ini?! Apa kalian merasa nyaman?!" Lanjut Britney tanpa menyadari ekspresi tegang Capella. Satu siku tangannya diangkat santai_ bersender di atas jendela pintu yang sudah terbuka tadi.

"Bagus... Aku rasa...," Kepala Capella samar bergoyang sedikit miring ke kanan dan ke kiri. Bukan mengingat momen-momen kemarin... tapi melainkan memikirkan jawaban yang tepat agar tidak membuat mereka tersinggung jika dirinya terlalu jujur.

Britney hanya mengangguk pelan, lekuk senyum di bibirnya tertahan untuk beberapa detik.

"Jadi... Kenapa jalan kaki? Bukannya Ibumu punya mobil?"

Capella menggeser berat badannya dari satu kaki ke kaki lain. "Ibu sibuk," jawabnya singkat, lalu segera menyesal karena nada suaranya yang terlalu defensif.

"Kau kepanasan!"

"Ya.. aku tahu itu," sahut lagi dari Capella. Theo di samping Britney tiba-tiba tersedak dalam tawa kecil, tapi segera berpura-pura batuk dan sedikit membuang muka saat ibunya melirik padanya cepat dalam sedetik.

Pipi Capella sedikit memerah ketika menyadari maksud respon dari putranya si Britney tadi. Tapi mungkin pertanyaan dari Ibunya tadi membuat arah pembicaraan mereka sedikit melenceng.

"...Hey, Kami bisa mengantarmu kalau kamu mau!" Lanjut Britney kembali pada Capella yang hanya berpikir prihatin pada kulit putih mulusnya yang akan terpanggang sengatan panas matahari di luar kubah.

Angin buatan tiba-tiba bertiup lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Capella ke mukanya sendiri. Dari balik rambut yang menutupi pandangannya, dia melihat Theo dengan cepat lebih menyembunyikan turun senjata itu_ keluar dari pandangan di kaca depan mobil.

"Oh Tidak. Tidak perlu," Capella menggeleng, sambil mundur selangkah. Bau parfum yang dipakainya tadi terasa lebih menyengat ketika punggungnya merinding tiba-tiba. "Aku... Lebih baik berjalan saja. Lagipula... aku dengar berjalan kaki bagus untuk jantung," Wajahnya bergerak menunduk dengan sendirinya walaupun otaknya tidak memerintah_ hanya dua detik memandang kedua kakinya sendiri, sebelum pandangannya kembali menatap depan.

"Ah.." responnya singkat. Britney mengangguk pelan tanpa paham tanpa kecurigaan maksud menghindar dari Capella.

Capella hanya menunjukan senyum canggung saat Britney tidak lanjut merespon untuk beberapa detik dan hanya memandangnya, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. "Baiklah. Berhati-hatilah saja di luar sana oke?! Beberapa orang mungkin tidak suka dengan wajah baru di kota ini."

Jendela samping mobil berlapis jaring baja kembali menutup dengan desis.

Mobil mereka kembali melaju... menjauh meninggalkan Capella berdiri sendirian di pinggir jalanan yang tiba-tiba terasa lebih luas. Dari kejauhan, dia bisa mendengar suara Theo tertawa lagi lebih jelas dan lepas_ suaranya seperti piringan vinyl dj yang digesekan, atau suara seperti sedang tercekik.

Capella mempercepat langkahnya, tangan kiri reflek membenarkan posisi tali tas selempangnya.

Motif tiga gambar bintang perak di bagian bawah betis kanan dan satunya lagi yang sedikit lebih besar di atas sisi paha kiri celana jeansnya seakan terlihat berkedip, sesaat ketika melewati sebuah panel surya tersembunyi di balik semak-semak di pinggir jalan sepi perumahan. Membuatnya terlihat seperti kedipan konstelasi nyata untuk sepersekian detik.

Capella tidak memperhatikan_ pikirannya tertuju kembali pada cara Britney menyinggung soal "wajah baru" tadi, dan bagaimana Theo yang tiba-tiba berusaha lebih menyembunyikan senjata itu ketika Britney mencoba menawarkannya tumpangan.

Tablet di tangannya tiba-tiba terasa berat saat melintasi salah satu persimpangan.

Tapi penanda lokasi di tabletnya berkedip merah muda, garis navigasinya meliuk tajam ke kanan_ jauh dari gerbang utama megah yang terlihat dari kejauhan.

Capella menghentikan langkahnya, jari-jarinya mengetuk layar untuk memastikan dan memperbesar peta. "Aneh," gumamnya saat melihat jalur itu meliuk tajam_ mengarah ke bagian salah satu sisi kubah energi yang berbeda.

Capella mencoba menurut pada arahan navigasi itu.

Melintasi jalan-jalan yang sedikit lebih sempit diantara barisan acak rumah telur, sampai mulailah dia melihat beberapa orang penjaga yang berdiri berjaga di sudut tikungan jalan empat arah yang berbeda.

Capella hampir memutar balik ketika salah satu penjaga berkacamata hitam_ yang tadi hanya diam mengawasi dari posnya_ tiba-tiba bergerak.

Tangannya menarik tuas besar di panel dinding yang tersembunyi di balik pohon yang terbelah menjadi dua bagian. Mesin berlapis plastik yang dibuat menyerupai kulit kayu pohon asli. Jadi itu pohon palsu, dan mungkin segalanya memang penuh kepalsuan di sana.

Semua itu; Pemandangan langit yang hanyalah hasil proyeksi, udara dan hembusan angin buatan atau hasil saringan, panas buatan, atau pohon-pohon disekitarnya yang mungkin hanya plastik. Dan siapa yang tahu lagi... Bisa saja terjadi "Plot twist" ketika keluarga Capella baru tersadar kalau hanya merekalah yang asli, sedangkan hampir semua orang lainnya yang tinggal di sana adalah hasil kloning untuk keperluan simulasi penyebaran senjata biologis.

Dan keluarga Capella diam-diam dimanfaatkan menjadi objek uji coba tambahan bagi mereka.

Apa terlalu jauh?! Oke, kita kembali ke cerita...

Dengan suara gemuruh rendah, beberapa segi enam di kubah mulai lenyap terbuka, membentuk lubang yang lebih kecil dibandingkan di gerbang utama Harmonia.

Lebih sempit dan mungkin hanya cukup untuk dilewati dua atau sampai tiga orang jika dilalui secara bersamaan_ saling berbaris menyamping.

Udara di dalam Harmonia dan dari luar seakan langsung saling bertabrakan_ menciptakan dua aroma berbeda yang bercampur.

Aroma yang memabukkan.

Tiga penjaga lain mendekat tanpa suara, sepatu bot mereka tidak meninggalkan jejak di jalanan yang tampak berbeda. Sedangkan Capella, meninggalkan jejak pola cahaya di jalan sesuai dengan bentuk alas bawah sepatunya yang berangsur lenyap tertinggal ketika langkah-langkah kakinya membuat jejak baru.

Yang paling tinggi_ lelaki dengan perban kotor melilit tangan kirinya_ mengangguk singkat ke arah Capella. "Pagi, nona muda," ucapnya dengan suara serak yang tidak sesuai dengan penampilannya yang rapi.

Capella hanya tersenyum sambil lalu, tubuhnya menegang saat melangkah melewati mereka.

Bau aneh dari seragam berlapis zirah ringan mereka membuat Capella harus menahan nafas.

Capella mempercepat langkahnya. Pancaran matahari asli dan suhu di luar tidak lagi sebagus dahulu. Itu lebih menyengat dibanding suhu di dalam kubah yang nyatanya memang hasil saringan.

Kubah di belakangnya sudah kembali tertutup.

Di luar, penjaga-penjaga lain berjaga dengan postur lebih santai tapi sikap mereka lebih kekanak-kanakkan daripada yang di dalam tadi.

Dua dari mereka sedang asyik berlomba merakit senjatanya masing-masing, sementara satu yang lain sedang memutar-mutar Stun Gun di tangannya. Mereka bahkan tidak mengangkat kepala ketika Capella lewat.

Gadis itu menelan ludah, jari-jarinya mencengkeram tablet lebih erat saat dirinya melewati mereka begitu saja. Seakan keberadaannya di sana tidak kasat mata.

Sudah agak jauh di depan... Capella sejenak berhenti dan menoleh kebelakang_ mengecek arah para penjaga yang terlalu sibuk pada urusannya masing-masing tadi.

Capella menekan tabletnya lebih erat ke dada saat langkah kakinya menginjak papan kayu jembatan yang berderit lembut. Sungai kecil di bawahnya mengalirkan air yang seperti bercampur minyak tapi berwarna kebiruan agak glowing, hingga hampir terlihat seperti kristal cair.

Dari balik uap tipis yang naik ke permukaan, ikan-ikan bersayap melompat-lompat dalam pola acak_ berbeda dari ikan-ikan robotik di lantai dua rumahnya.

Ikan-ikan di danau kecil di bawah jembatan kayu yang bergagang dengan lilitan tanaman rambat itu sepertinya semacam hybrid. Hasil ilmu penggabungan beberapa spesies ikan berbeda.

Sisik mereka juga terus berganti warna setiap lima detik sekali.

Di ujung jembatan, peta di tabletnya berkedip merah muda lagi, menunjuk ke lorong sempit di antara dua gedung tinggi berbentuk spiral. Peta navigasinya yang tadi memandu dari atas kini berubah ke tampilan 3D.

Sudah bisa terlihat di ujung sana.

Dari arah bercabang yang lain... Orang-orang berjalan masuk ke lorong besar itu.

Tidak ada kendaraan umum seperti mobil. Hanya para pejalan kaki berpakaian usang dan rapih yang berkerumun, bercampur juga dengan beberapa pedagang bersepeda motor dengan tiga ban tebal besar seperti ban traktor.

Sebagian dari mereka saling mendahului sambil sesekali melihat jam holo proyektor yang menampilkan waktu yang detiknya terus berganti_ mengambang dari alat di pergelangan tangannya.

Salah satu dari mereka yang membawa koper besar sempat menyenggol samping tubuh kecil seorang anak perempuan yang dilaluinya dengan terburu-buru. Benturan itu cukup keras. Ibunya meneriakinya tapi orang berjas rapih itu sudah berlalu cepat menjauh masuk ke lorong tadi.

Entah dia tidak menyadarinya atau memang tidak peduli.

Lampu-lampu biru menggantung di langit-langit lorong saat Capella mendekat dan mulai memasuki lorong itu. Sebagian lampu sudah redup dan berkedip-kedip tidak karuan.

Bau makanan_ semacam ayam goreng yang terlalu beraroma rempah_ menyergap indra penciumannya saat melangkah lebih dalam.

Di sebelah kiri, seorang pedagang dengan gerobak panjang sedang menata ulang dagangannya_ botol-botol kecil berisi cairan berwarna-warni yang mengeluarkan gelembung-gelembung kecil. "Mood booster, nona!" teriaknya saat melihat Capella melirik. Gadis itu segera mempercepat langkah, tapi tidak sempat menghindar ketika seorang pria dengan jaket hitam yang dikenakan tidak karuan menyenggol bahunya dengan keras.

Capella berusaha sigap menyelip sana sini. Menghindari arah jalan lalu lalang orang-orang yang pandangannya terus terpaku lurus kedepan seperti sedang terkena mantra hipnotis. Mereka seakan tidak peduli terhadap yang lain yang juga sedang melintasi tempat itu.

Lorong besar yang cukup panjang_ seperti saluran pipa paralon berukuran raksasa.

Sudah sampai di ujung sebrangnya... Lorong itu tiba-tiba terbuka ke pemandangan yang luasnya hampir tidak diperkirakan_ sebuah balkon observasi raksasa atau -Observation Deck- berbentuk lingkaran yang mungkin dapat menopang sampai 500 orang_ menggantung di tepian tinggi tebing.

Sedangkan di bawahnya, wilayah tengah Star Colossus terbentang seperti mimpi buruk yang indah: gedung-gedung penuh lampu neon berbagai warna menjulang dengan bentuk-bentuk berbagai macam dan berstruktur mustahil untuk dibentuk.

Di sekitar antara gedung-gedung tinggi yang bercampur bangunan rendah beratap sederhana, ada terdapat jalur monorel yang meliuk seperti Rollercoaster.

Langit bergemuruh dan udara terasa bergetar ketika kereta futuristik hitam pekat dengan garis cahaya neon merah hampir pada seluruh bagiannya melintas tepat dalam jarak hanya setinggi rumah satu lantai di atas kepala Capella_ melesat cepat di atas jalur rel tadi yang meninggalkan jejak cahaya merah elektrik di jalurnya seperti percikan.

Gadis itu menatap ngeri saat kereta monorel melesat tepat di atas kepalanya tadi dengan desisan udara yang membuat rambutnya berkibar. Tubuhnya refleks agak menunduk, tapi orang-orang di sekitarnya hanya terus berjalan santai_ beberapa bahkan tidak mengangkat pandangan dari perangkat mereka.

"Pleh..," jemarinya berusaha menyingkirkan helai-helai rambutnya sendiri yang menyelip tersangkut di sekitar mulut.

Kereta dengan lima gerbong panjang yang hampir tidak ada celah sambungan itu meluncur tajam ke bawah dengan kecepatan mematikan. Bagian moncong kepala kereta nya berbentuk seperti cumi-cumi yang membelah tekanan angin ketika melaju kencang, lalu meliuk di antara gedung sebelum keberadaannya lenyap seketika_ tertutup gedung-gedung tinggi yang terlihat saling merapat tanpa celah jika dilihat dari posisi Capella memijak di atas sana.

"CITIZEN STAR COLOSSUS! WELCOME.. TO ORION PLAZA!"

Suara mikrofon menggelegar dari arah tengah bawah sana. Suaranya_ yang lebih tepatnya entah dari mana itu_ bergema luas sampai ke langit-langit.

Layar-layar papan iklan seukuran raksasa terpampang jelas di hampir setiap sisi gedung Plaza. Capella mengedipkan mata terlalu cepat ketika salah satu confetti virtual di layar papan iklan sana membuat matanya agak berkunang-kunang untuk beberapa saat.

Capella tidak menyangka lorong itu berujung di tempat yang begitu tinggi. Plaza yang luas wilayahnya bukan main itu seakan berada di dalam lubang raksasa dalam di antara tebing besar. Dan selain lorong yang baru saja dilalui Capella tadi, ada juga dua puluh sembilan lorong lainnya yang mengelilingi wilayah Plaza. Semuanya menempel di atas ketinggian tebing.

Seharusnya terlihat mengagumkan tapi entah kenapa itu mengingatkan Capella dengan saluran pembuangan kotor di gorong-gorong bawah jalanan kota.

...----------------...

Capella menelan ludah, saat dirinya berbalik melihat arah belakangnya.

Di luar pinggir lorong tadi, berdiri empat remaja laki-laki dengan ciri perbedaan postur tubuh yang mencolok, dan dua lainnya lagi perempuan yang salah satunya bertato di bagian wajah. Semuanya mengenakan seragam atau jaket hitam berlengan panjang dengan logo tulisan VENOM neon keunguan; di bagian dada kanannya, samping bahunya, dan juga yang paling besar di punggungnya_ jelas terpampang di punggung jaket mereka saat mereka satu-persatu mulai menjauh meninggalkan tempat.

Mata mereka masih sedikit tertuju pada Capella saat semuanya berpaling dan berjalan ke samping... Menuju salah satu dari barisan lift sangkar atau disebut -Cage Elevator- yang berada di sekitar balkon observasi tebing. Satu dari mereka yang bertubuh paling ramping tapi terlampau tinggi untuk standar tinggi pria pada umumnya, menurunkan lipatan kedua tangan di dadanya saat dia menegakan punggungnya dari dinding. Senyumnya mengintimidasi dengan jejeran giginya yang terlihat agak runcing seperti gigi hiu.

Dia berambut hitam yang samar bercat ungu bercampur merah, dan agak berjabrik di bagian ujung dahinya itu sedikitpun tidak bergerak saat angin menghembus kencang disekitar.

Sedangkan juntaian rambut Capella sampai berayun ke satu sisi seperti tirai yang hampir runtuh.

"Dead meat," bisiknya, cukup keras sampai Capella bisa mendengarnya walaupun yang satu itu sudah menjauh menyusul rekan-rekannya.

Capella kembali mengecek waktu di tabletnya sebelum dia melanjutkan perjalanannya menuju sekolah barunya. Akadem VENOM.

Mempercepat langkah, hampir menabrak seorang pria tua yang sedang mendorong gerobak penuh dengan komponen elektronik bekas. "Maaf," gumamnya, tapi pria itu bahkan tidak melirik_ matanya tetap tertuju pada layar kecil benda seperti telepon satelit jadul yang menunjukan titik-titik merah yang tersebar di berbagai lokasi.

Capella melesat masuk ke dalam salah satu elevator sangkar saat pedagang tadi bergeser ke arah elevator lebih besar khusus barang atau pedagang.

Tiga orang terakhir menyelip masuk di satu elevator yang sama sebelum pintu sangkar bergerak menutup dengan suara derak seperti sedang rusak.

Tubuhnya terlempar sedikit ke depan saat lantai elevator tiba-tiba mulai menjatuhkan mereka semua ke dalam jurang ketinggian. Dari cela-cela lubang sangkar yang tidak terlalu rapat, masih bisa terlihat pemandangan Plaza yang terlihat semakin jelas ketika elevator itu terus turun dengan kecepatan sedang.

Semakin turun semakin gelap.

Di sebelahnya ada seorang pria dan wanita sedang berusaha menenangkan bayinya yang mulai menangis karena guncangan elevator.

Capella tidak mau menatap mereka terlalu lama.

Gadis itu langsung membuang muka perlahan ke arah lain, tapi matanya kali ini tidak fokus pada apapun. Tablet tetap dipeluk erat di dadanya selama elevator terus membawanya turun ke bawah.

Kurang lebih delapan menit berdiri di dalam elevator bersama delapan orang lainnya.

Satu tangan Capella reflek lepas dari tablet di dadanya dan langsung berpegangan pada dinding sangkar saat elevator itu mulai melambat mendadak. Jari-jarinya menyelip masuk ke sela-sela lubang sangkar dan mencengkram erat ketika ada guncangan susulan.

Bayi disebelah nya mulai menangis lagi ketika yang pria sigap menangkap tubuh si wanita yang hampir tumbang di dadanya.

Pose mereka sekarang sudah seperti adegan satu keluarga yang menunjukan momen kasih sayang dalam film atau biasa iklan-iklan di TV.

Capella berusaha tidak melihatnya.

Beberapa penumpang yang lain juga harus berpegangan saat elevator mulai semakin melambat dan akhirnya berhenti dengan guncangan singkat.

Tapi membuat isi kepala terasa berguncang, seperti tampungan wadah berisi air yang terisi tidak terlalu penuh.

Laki-laki di belakangnya membuang nafas berlebihan, saat dia langsung menyelip Capella walaupun pintu sangkar elevator belum sepenuhnya terbuka. "Terlambat lagi," gerutunya sambil menatap jam digital di tangannya. Tubuh Capella bergeser ke dinding elevator ketika lengan atas pria itu agak bergesekan dengan samping bahunya.

Pintu terbuka sepenuhnya!

Di matanya itu langsung menyapu lorong penuh neon sign yang berkedip-kedip menawarkan segala macam jasa dari reparasi Cybernetic hingga terapi memori. Bau makanan yang terlalu manis menyergap hidung Capella saat ia melangkah keluar, diikuti oleh penumpang lain yang langsung menyebar dan bergabung ke kerumunan di sekitar. Termasuk kedua pasangan muda dengan bayinya itu.

Tangan Capella refleks meraih liontin bintangnya ketika seorang anak laki-laki jalanan seumuran Tim dengan lengan bionik kasar tiba-tiba muncul di depannya. "Koin virtual, Kakak?" suaranya serak. Mata kirinya yang asli berkedip terlalu cepat dibandingkan mata kanan yang sudah diganti kamera low-grade.

Capella menggeleng cepat dan berbelok ke kanan, masuk ke dalam kerumunan yang bergerak menuju pusat Plaza.

Dan ya... Di sana jadi lebih gelap dibandingkan saat masih di atas sana tadi. Sebagian pencahayaan terhalang oleh dinding tebing yang mengurung wilayah PLAZA dan sekitarnya. Pemandangan dari bawah sana membuatnya merinding saat arah pandang matanya tertahan sebentar pada ketinggian tebing.

Capella terasa seperti miniatur di tengah itu semua.

Dadanya mulai sesak tapi dia berusaha tenang dengan pemandangan baru yang belum pernah di lihatnya saat masih tinggal di kota bawah.

1
7 ANGEL KNIGHT
Pengumuman:
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
7 ANGEL KNIGHT
/Casual//Casual//Casual/
7 ANGEL KNIGHT
Terimakasih yang udah mau mampir dan baca, Mudah-mudahan suka dengan dunia yang aku buat di sini! Dan silahkan semisal ada yang mau ditanya, atau semisal ada "Anomali" di novel aku silahkan kasih tau aja nanti aku cek ya, Thankyou📝
T28J
lanjutannya kak
7 ANGEL KNIGHT: Iya👍 Ini lagi ada sedikit rapihin yang udah ada dulu ya. Otw bab barunya. Episode 1= 6 Bab semua udah dirapihin dan siap baca. Untuk Episode 2 sama 3 tunggu ya masih dirapihin soalnya👍
total 1 replies
T28J
Thor, ini masih narasi semua, ceritanya kapan dimulai? 🤔
T28J: oke gak papa Thor, saya juga maklum karena ini fantasi
total 2 replies
T28J
masih sedikit bingung dengan kata-kata dari penjelasannya...
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥
7 ANGEL KNIGHT: Chapter selanjutnya juga jangan lupa di baca ya😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!