Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
Suasana di dalam ruang makan privat Restoran Nusantara terasa sangat elegan. Aroma hidangan steak daging sapi berkualitas tinggi dan hidangan laut segar berpadu sempurna dengan kehangatan AC yang sejuk. Namun, kehangatan itu mendadak terusik saat Clara Adelin meletakkan sendoknya dengan gerakan kasar hingga menimbulkan bunyi denting nyaring.
"Papi! Kenapa sih Papi pakai acara mengundang mereka segala?" protes Clara dengan nada melengking penuh nada tak suka. Wajah cantiknya ditekuk habis-habisan, matanya menatapku dan Egi dengan pandangan merendahkan.
"Padahal ini kan acara makan malam keluarga kita! Kenapa harus ada orang luar, apalagi... si Ketos jahat ini?!"
Ucapan Clara yang terang-terangan itu sejujurnya cukup menyengat dan membuat perasaan kami agak tersinggung.
Namun, aku dan Egi saling melirik sekilas lalu sengaja menarik napas panjang, memilih untuk berpura-pura tidak mendengarnya demi menjaga kesopanan di hadapan Pak Frans dan Ibu Sofia.
"Clara sayang! Tidak boleh bicara seperti itu pada tamu!" tegur Ibu Sofia halus namun ada ketegasan di dalam suaranya. Beliau mengelus lengan putrinya seraya melanjutkan,
"Kamu itu tidak tahu kalau sebenarnya Nak Arkan dan Nak Egi ini—"
"Ehem!" Pak Frans berdeham cukup keras, dengan cepat memotong kalimat istrinya sebelum rahasia penyelamatan di gudang tua itu terlepas secara tidak sengaja dari mulut Ibu Sofia. Pak Frans menatap Clara dengan wajah tenang.
"Clara Sayang, Papi yang sengaja mengundang Arkan dan Egi ke sini karena Papi ada urusan pekerjaan yang sangat penting dengan Nak Egi. Jadi tidak ada salahnya kita makan bersama."
"Tapi kan, Pih..." Clara masih berusaha mendebat.
"Sudah, Clara... Duduk yang tenang, Sayang," potong Ibu Sofia cepat, kini mengerti maksud suaminya yang ingin tetap merahasiakan identitas sang pahlawan. Beliau tersenyum manis ke arah kami, mencoba mencairkan suasana. "Lagipula Arkan kan teman satu sekolah kamu, dia bahkan kakak kelas kamu kan? Kamu harus bisa bersikap lebih sopan pada kakak kelasmu."
"Iya, Mom..." gumam Clara pasrah. Namun, mata indahnya yang agak kemerahan karena menahan kesal kembali dilayangkan padaku, menatapku dengan tatapan sangat tajam seolah ingin memotongku menjadi sepuluh bagian.
Aku dan Egi akhirnya menarik kursi dan duduk dengan sopan di seberang meja Pak Frans. Pasangan suami istri pemilik konglomerat besar itu memang luar biasa baik hati. Mereka sama sekali tidak menunjukkan sikap tinggi hati, justru sangat ramah melayani kami.
Ibu Sofia memperhatikan interaksi singkat antara aku dan Egi, lalu tersenyum ramah. "Nak Arkan... Kalau boleh Ibu tahu, kamu sama Nak Egi ini adik-kakak kandung ya? Wajah kalian berdua kalau dilihat-lihat ada miripnya sedikit."
Aku mengukir senyum sopan, menggelengkan kepala pelan.
"Tidak, Bu Sofia. Kami berdua tidak ada hubungan darah sama sekali. Tapi karena sudah berjuang bareng-bareng sejak lama, saya sudah menganggap Egi seperti saudara kandung saya sendiri."
"Oh, begitu..." Ibu Sofia mangut-mangut penuh pemahaman.
"Ibu pikir kalian adik-kakak kandung, ternyata ikatan sahabat ya. Luar biasa sekali."
Di sela-sela perbincangan hangat kami, Clara yang tampaknya sudah sangat tidak tahan berada di satu ruangan denganku mendadak berdiri dari kursinya.
"Pih, Mom... Clara izin keluar sebentar ya," pamit Clara dengan suara datar yang dibuat-buat. "Clara mual di dalam terus, mau melihat pemandangan di luar restoran sebentar."
Pak Frans mengerutkan dahi heran. Pemandangan apa yang bisa dilihat di luar restoran pada pukul delapan malam selain deretan mobil mewah dan jalanan gelap? Namun sebelum ayahnya sempat bertanya, Clara sudah lebih dulu melangkah cepat keluar dari ruangan.
Pak Frans memberi kode mata pada pengawal pribadinya yang berdiri di sudut. "Pak Jhon."
Pak Jhon yang sangat peka dan paham akan tugasnya langsung mengangguk sigap tanpa bersuara, lalu melangkah lebar mengikuti gerak-gerik Clara keluar dari area restoran.
Setelah Clara dan pengawalnya keluar, suasana perjamuan kembali fokus pada topik utama. Pak Frans membetulkan posisi duduknya, menatapku dan Egi dengan raut wajah sangat bersahabat.
"Nak Arkan, terima kasih banyak ya sudah bersedia meluangkan waktu untuk hadir di sini, dan juga sudah mengajak saudara kamu, Nak Egi, untuk memenuhi undangan makan malam ini," ujar Pak Frans dengan nada bicara yang teramat tulus.
Aku membungkukkan badan sedikit, membalasnya dengan nada tak kalah sopan. "Sama-sama, Pak Frans. Justru kami yang sangat berterima kasih karena Pak Frans dan Bu Sofia sudah sudi mengundang kami menikmati hidangan serba mewah di restoran ini. Dan untuk Egi, tawaran dari Pak Frans ini benar-benar sebuah rezeki yang sangat luar biasa bagi kami."
Pak Frans tersenyum puas, lalu pandangannya beralih
sepenuhnya pada Egi yang duduk tegap di sampingku.
"Nak Egi... Tadi Nak Arkan pasti sudah menjelaskan secara singkat maksud dan tujuan saya mengundang kamu ke sini, kan?" tanya Pak Frans ramah.
"Sudah, Pak," jawab Egi cepat dan tegas.
"Bagus kalau begitu," Pak Frans menyandarkan punggungnya, menautkan jemarinya di atas meja. "Tapi supaya kamu bisa memahami gambaran tugasnya secara utuh... Saya ingin merekrut kamu bukan sekadar untuk tim keamanan umum, melainkan sebagai pengawal pribadi khusus untuk adik perempuan saya. Urusan gaji dan fasilitas, kamu tidak perlu khawatir sedikit pun."
Egi agak terkejut mendengar penjelasannya. Alis tebalnya bertaut sedikit. "Pengawal pribadi untuk adik perempuan Bapak? Jujur Pak, saya pikir tadi tawaran ini untuk menjadi tim pengawal khusus di gedung kantor pusat Sanjaya Group."
Pak Frans tersenyum memaklumi keterkejutan Egi. Beliau menegaskan dengan suara berat berwibawa, "Bagi saya, Egi... keselamatan dan keamanan anggota keluarga saya jauh lebih utama daripada urusan bisnis kantor mana pun. Saya butuh orang yang sangat tangguh, jujur, dan terbukti punya keberanian tinggi seperti kamu untuk menjaga adik saya. Kamu mau kan, Egi? Soal nominal gaji, berapa yang kamu minta? Dua puluh juta? Tiga puluh juta? Atau lima puluh juta per bulan?"
Deg!
Mendengar nominal fantastis yang meluncur begitu mudah dari mulut Pak Frans, aku dan Egi seketika saling pandang dengan mata memelotot! Aku bisa membaca dengan sangat jelas riak pikiran Egi saat itu—sahabatku itu benar-benar kaget setengah mati, bercampur rasa gembira yang membuncah luar biasa. Angka tiga puluh juta saja sudah puluhan kali lipat dari hasil mengantar galon air setiap bulan!
Egi membasahi bibirnya yang agak kering, mencoba mengatur ritme napasnya agar tetap terlihat profesional. Dia menegakkan dadanya dengan raut wajah tegas bercampur binar bahagia.
"Kapan saya bisa mulai bekerja secara resmi, Pak?" tanya Egi mantap.
Pak Frans tertawa renyah, merasa senang dengan keputusan cepat Egi. "Kamu bisa mulai bekerja besok malam. Soalnya adik perempuan saya yang bernama Fania akan tiba di bandara besok malam dari luar negeri. Jadi tugas pertama kamu adalah menyambut dan mengawalnya dari bandara. Oh ya, boleh saya minta nomor rekening bank kamu sekarang?"
Tanpa membuang waktu, Egi merogoh dompetnya dan membacakan deretan nomor rekening bank miliknya kepada Pak Frans. Pak Frans merogoh ponsel pintarnya, menyentuh layar beberapa kali.
Tring! Ning! Brem! Bo!
Hanya berselang belasan detik, ponsel di dalam saku celana Egi bergetar hebat disertai suara notifikasi dana masuk dari aplikasi m-banking. Egi merogoh ponselnya, dan saat matanya membaca angka saldo baru yang tertera di layar, tubuhnya mendadak kaku. Saldo rekeningnya bertambah secara drastis sebesar Rp 30.000.000,00!
Egi menatap Pak Frans dengan wajah sangat bingung bercampur tidak enak hati. "Ini... uang apa ya, Pak? Kan saya sendiri belum mulai bekerja sama sekali?"
Pak Frans tertawa hangat seraya berdiri dari kursinya.
"Anggap saja itu sebagai uang muka dan bonus selamat bergabung di Sanjaya Group. Besok malam jam tujuh saya tunggu kamu di rumah saya ya. Nah, karena waktu sudah makin malam, saya dan istri mau pamit pulang dulu. Mari, Nak Arkan, Nak Egi..."
"Mari Pak Frans, Bu Sofia... Terima kasih banyak!" balasku dan Egi seraya berdiri memberi hormat.
Dari balik kaca ruangan privat, aku melihat Pak Frans dan Bu Sofia berjalan menuju mobil sedan mewah mereka. Di dekat pintu mobil, Clara sudah berdiri menunggu dengan senyum puas yang menghiasi wajah cantiknya. Namun, ada satu hal yang menarik perhatianku secara drastis. Di dalam genggaman tangan kanan Clara, gadis itu tampak memegang erat beberapa helai potongan karet hitam yang sangat familiar!
Perasaan tidak enak mendadak menyenggol dada kanan saya. "Tunggu dulu..." bisikku pada diri sendiri.
Aku dan Egi bergegas pamit keluar dari restoran dan berjalan cepat menuju area parkir kendaraan di sudut luar. Dan benar saja! Saat mataku tertuju pada lokasi tempat motor tua peninggalan almarhum bapakku terparkir, dadaku serasa mau meledak menahan guncangan kaget!
Kedua ban motor tuaku—baik ban depan maupun ban belakang—sudah dalam kondisi kempes total, rata dengan tanah! Saat aku berlutut memeriksanya, terdapat puluhan bekas sabetan pisau tajam yang merobek karet ban hingga hancur tidak berbentuk lagi!
Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebuah bisikan penuh amarah bercampur gemas meletup hebat. Dasar gadis cantik tapi bodoh! Awas kamu ya... Tunggu pembalasanku di sekolah besok!
Egi yang berdiri di sampingku ikut mengelus dada melihat kondisi tragis motor tuaku. Namun, karena sahabatku ini baru saja ketiban rezeki nomplok uang muka tiga puluh juta rupiah dari Pak Frans, raut wajahnya sama sekali tidak panik.
"Sudah, Kan, santai saja! Malam ini biar aku yang tanggung semuanya!" seru Egi penuh semangat seraya menepuk dadanya.
Akhirnya, kedua ban motor tuaku diganti dengan pasangan ban baru kualitas terbaik oleh Egi. Tidak tanggung-tanggung, Egi merogoh uang tunai sebesar 1,5 juta rupiah dari dompetnya untuk membiayai ganti ban sekaligus servis total beberapa komponen mesin motorku. Beruntung sekali, ada bengkel sepeda motor milik teman seperjuangan kami yang lokasinya tak jauh dari restoran dan masih buka hingga pukul 12 malam karena sedang lembur mengerjakan perbaikan motor konsumen lain.
Di bawah pendar lampu bengkel yang temaram pada tengah malam itu, aku menatap roda baruku yang mengilap, lalu tersenyum tipis. Dendam kesumat razia OSIS besok pagi dipastikan akan terasa jauh lebih manis dari biasanya!