Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Dapur Neraka dan Filosofi Kopi Sachet
Cahaya matahari pagi yang kurang ajar menerobos masuk melalui celah tirai otomatis yang terbuka sendiri pada pukul 06.00 tepat.
Naya mengerang, menarik selimut menutupi kepalanya. Dalam keremangan kesadarannya, dia berpikir dia masih di kamar kosnya yang sempit di Bandung, dan suara dengungan halus di ruangan itu adalah suara kulkas mininya yang sudah tua.
Dia meraba sisi kasur. Dingin. Luas. Sprei-nya terlalu halus, bukan katun murah yang biasa dia pakai.
Mata Naya terbuka lebar.
Ingatan semalam membanjiri otaknya seperti air bah. Akad nikah. Resepsi. Ritsleting macet. Tidur dengan robot.
Naya langsung duduk tegak. Dia menoleh ke sisi kiri kasur. Kosong. "Tembok Besar Cina" yang terbuat dari guling sudah runtuh, dan penghuni sisi sana sudah menghilang.
"Kabur dia? Jangan-jangan dia lupa kalau udah punya istri?" gumam Naya sambil mengucek mata.
Dia melirik jam dinding digital yang tertanam di cermin rias. 06.15 WIB.
"Pagi banget. Manusia normal hari Minggu bangun jam sembilan," gerutunya sambil turun dari kasur. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin.
Naya berjalan keluar kamar dengan langkah gontai, masih mengenakan piyama Spongebob kuningnya yang mencolok. Rambutnya mencuat ke sana kemari seperti singa betina yang gagal bonding.
Apartemen itu sunyi senyap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Mas Dhandy?" panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.
Naya berjalan menuju area dapur dan ruang makan yang menyatu tanpa sekat (open space). Langkahnya terhenti saat melihat dapur itu.
Semalam dia terlalu lelah untuk memperhatikannya, tapi di bawah sinar matahari pagi, dapur Dhandy terlihat seperti laboratorium NASA. Semuanya stainless steel, hitam, dan mengilap. Tidak ada kompor gas dengan tabung melon hijau. Yang ada hanyalah lempengan kaca hitam datar (kompor induksi) dan deretan alat-alat elektronik yang Naya tidak tahu fungsinya.
Tiba-tiba, rasa bersalah ala istri durhaka menyerang Naya.
Masa hari pertama jadi istri gue bangun siang dan nggak nyiapin apa-apa? batinnya. Oma Ratih pasti bakal bangkit dari kubur (kalau udah meninggal) buat ngejewer gue.
"Oke, Nay. Lo bisa masak. Lo pernah masak mi instan dan telur ceplok. Ini nggak mungkin susah," Naya menyemangati dirinya sendiri.
Misi: Membuat sarapan sederhana. Roti bakar, telur mata sapi, dan kopi. Standar internasional.
Naya membuka kulkas dua pintu yang besarnya seukuran lemari baju. Isinya... menyedihkan. Barisan botol air mineral premium (merek yang airnya diambil dari mata air pegunungan Alpen atau apalah), beberapa buah apel hijau yang disusun simetris, dan... ah! Telur! Ada satu tray telur organik.
"Sip. Telur aman. Roti?" Naya mengaduk-aduk pantry dan menemukan roti gandum (tentu saja, si robot pasti makan gandum).
Naya meletakkan wajan teflon di atas lempengan kaca hitam itu. Dia mencari tombol On. Tidak ada tombol fisik. Hanya ada panel layar sentuh dengan simbol-simbol aneh.
Naya menekan sembarang simbol. Bunyi bip terdengar. Angka digital menyala.
"Oke, nyala. Masukin minyak."
Naya memecahkan dua butir telur ke atas wajan.
Masalah dimulai. Lempengan kaca itu ternyata panasnya instan dan ekstrem. Naya yang terbiasa dengan api kompor gas yang bisa diatur 'kecil-sedang-besar' dengan memutar knop, panik melihat telur itu langsung mendesis keras dan pinggirannya berubah cokelat gosong dalam hitungan detik.
Sreenggg!
Asap putih langsung mengepul.
"Waduh! Kegedean apinya! Turunin! Turunin!" Naya memencet-mencet layar sentuh itu panik. Bukannya turun, dia malah menekan tombol Power Boost.
Panas makin menggila. Minyak memercik ke mana-mana. Asap makin tebal.
Bersamaan dengan itu, pemanggang roti (toaster) yang Naya setel di level maksimum (karena dia tidak tahu angkanya) tiba-tiba melontarkan dua potong roti yang sudah berubah menjadi arang hitam.
Ctak!
Asap hitam dari roti bergabung dengan asap putih dari telur.
"Uhuk! Uhuk!" Naya terbatuk-batuk, mengibas-ngibaskan tangan.
Tiba-tiba, suara sirine yang memekakkan telinga berbunyi.
WIU WIU WIU WIU!
Detektor asap menyala.
"MATIIN! GIMANA MATIINNYA?!" teriak Naya pada langit-langit, panik setengah mati. Dia menyambar kain lap, mencoba mengipasi sensor asap di langit-langit, tapi tentu saja dia tidak sampai.
Pintu apartemen terbuka kasar.
Dhandy Abimanyu berlari masuk dengan napas terengah-engah, keringat bercucuran di pelipisnya. Dia baru saja pulang lari pagi di jogging track apartemen.
Dia melihat pemandangan di dapurnya: Naya dengan piyama Spongebob, memegang spatula seperti senjata perang, dikelilingi kabut asap, sementara sirine kebakaran meraung-raung.
Wajah Dhandy pucat pasi. "Kebakaran?!"
"Mas! Tolong! Bunyi terus!" jerit Naya.
Dhandy tidak banyak bicara. Dia bergerak cepat. Dia menyambar kursi makan, naik ke atasnya dengan gesit (tanpa melepas sepatu lari mahalnya), dan menekan tombol reset pada detektor asap di langit-langit.
Hening.
Sirine berhenti.
Dhandy turun dari kursi. Dia berjalan ke kompor, menekan tombol Off dengan satu sentuhan jari yang tenang. Dia memindahkan wajan berasap itu ke wastafel dan menyalakan air.
Cesssss.
Uap terakhir mengepul, menandai berakhirnya riwayat dua butir telur organik yang malang itu.
Dhandy berbalik badan, bersandar di meja island dapur, melipat kedua tangannya di dada. Dia menatap Naya. Tatapannya bukan marah, tapi tatapan disbelief—seolah tidak percaya ada manusia yang bisa menciptakan kekacauan masif dalam waktu kurang dari 15 menit.
Naya berdiri menunduk, masih memegang spatula. Wajahnya cemong kena asap.
"Jelaskan," kata Dhandy datar. Napasnya masih sedikit memburu pasca lari.
"Saya... uh... mau bikin sarapan," cicit Naya pelan. "Biar jadi istri yang berbakti."
"Berbakti?" Dhandy menunjuk wajan di wastafel. "Itu bukan berbakti. Itu percobaan pembakaran properti."
"Kompor Mas tuh aneh! Nggak ada apinya tapi panas banget! Terus tombolnya sentuh-sentuh gitu, saya kira kayak HP!" bela Naya.
Dhandy memijat pelipisnya. Keringat menetes dari ujung rambutnya ke leher. Naya sempat salah fokus melihat jakun Dhandy yang bergerak naik turun dan kaos larinya yang basah mencetak otot perut samar-samar. Fokus, Nay! Lo lagi disidang!
"Itu kompor induksi Bosch seri terbaru. Daya 2000 watt. Kalau kamu setel di angka 9, itu setara dengan api neraka level satu," jelas Dhandy. "Lain kali, jangan sentuh apa pun di dapur ini tanpa manual book atau supervisi saya."
"Ya maaf. Saya kan niatnya baik."
"Niat baik yang tidak dibarengi kompetensi adalah bencana," Dhandy menghela napas, lalu menegakkan tubuh. "Minggir. Biar saya yang urus."
"Mas mau masak? Mas kan baru lari, capek..."
"Daripada saya mati keracunan karbon monoksida?" potong Dhandy.
Dhandy membuka kulkas, mengambil dua butir telur lagi. Dengan gerakan luwes—sangat kontras dengan Naya tadi—Dhandy menyalakan kompor, mengatur suhu di angka 4, memasukkan sedikit mentega, dan memecahkan telur.
Dia memasak dengan tenang. Tidak ada suara berisik. Tidak ada cipratan minyak.
"Kamu mau kopi?" tanya Dhandy tanpa menoleh.
"Mau!" sahut Naya antusias. "Kopi susu ya, Mas. Gulanya dua sendok."
Dhandy berhenti mengaduk telur. Dia menoleh pelan, menatap Naya dengan tatapan menghakimi.
"Kopi susu? Gula dua sendok?" ulangnya, seolah Naya baru saja memesan racun tikus.
"Iya. Kenapa?"
"Itu bukan kopi. Itu sirup beraroma kopi," cibir Dhandy. Dia berjalan menuju mesin kopi besar yang terlihat seperti robot Barista. Mesin Espresso merk La Marzocco mini yang harganya mungkin bisa buat beli motor Nmax.
"Saya akan buatkan kamu Cappuccino. Tanpa gula. Belajarlah menghargai rasa asli biji kopi Arabika," titah Dhandy.
"Dih, maksa. Hidup udah pait, Mas, ngapain minum yang pait-pait?"
Dhandy mengabaikannya. Dia mulai melakukan ritualnya: menggiling biji kopi (grinding), meratakan (tamping) dengan tekanan presisi, lalu memasangnya ke mesin. Suara mesin mendesis halus, mengeluarkan cairan hitam kental yang harum. Lalu dia memanaskan susu (frothing) sampai berbusa lembut.
Dia menuangkan susu ke dalam cangkir dengan gerakan artistik, menciptakan pola heart (hati) di permukaan kopi.
"Nih," Dhandy menyodorkan cangkir itu ke Naya.
Naya menerimanya. "Wah, ada gambarnya. Mas bisa latte art?"
"Hobi sampingan saat stres liat laporan keuangan," jawab Dhandy singkat. Dia meletakkan piring berisi scrambled egg yang sempurna—kuning, fluffy, dan creamy—serta dua potong roti gandum panggang yang warnanya cokelat keemasan (bukan arang).
Mereka duduk berhadapan di meja makan island.
Naya meniup kopinya, lalu menyeruputnya sedikit.
"Pait," komentar Naya jujur, wajahnya mengkerut.
"Itu namanya body dan acidity," koreksi Dhandy, meminum Long Black-nya sendiri tanpa gula. "Biasakan lidah kamu. Gula itu mempercepat penuaan dini."
"Mas ngomong kayak iklan layanan masyarakat," Naya mengambil saset gula yang dia temukan di toples (rupanya Dhandy menyimpannya untuk tamu) dan menuangkannya diam-diam ke cangkir saat Dhandy lengah.
Naya menyendok telur buatan Dhandy.
Matanya membelalak. "Enak banget! Kok bisa lembut gini? Saya bikin telur orak-arik jadinya kayak karet ban."
"Teknik api kecil dan diaduk konstan. Kesabaran," jawab Dhandy. Dia makan dengan rapi, menggunakan pisau dan garpu bahkan untuk roti bakar. Sementara Naya makan roti dengan tangan telanjang.
Dhandy menatap remah roti yang jatuh dari tangan Naya ke meja marmernya. Matanya berkedut sedikit, tapi dia menahan diri untuk tidak mengelapnya sekarang.
"Mas," panggil Naya dengan mulut penuh roti.
"Telan dulu baru bicara."
Naya menelan susah payah. "Hari ini kita mau ngapain? Bongkar kado?"
"Saya ada janji golf dengan klien jam 10 nanti," jawab Dhandy santai.
Naya melongo. "Golf? Hari ini? Mas, kita baru nikah belum 24 jam! Masa saya ditinggal sendiri di apartemen segede ini?"
"Ini janji penting. Penanam modal asing. Tidak bisa dibatalkan," Dhandy beralasan. "Kamu bisa pakai waktu ini untuk... merenung. Atau membereskan barang-barang kamu. Lemari pakaian sisi kiri sudah saya kosongkan buat kamu."
"Jahat banget," Naya cemberut. "Masa honeymoon kita isinya saya beberes lemari sementara Mas main pukul-pukul bola di lapangan rumput."
"Kita tidak sedang honeymoon, Naya. Kita sedang menjalani kontrak," Dhandy mengingatkan dengan kejam. "Lagipula, besok Senin saya sudah harus terbang ke Surabaya untuk inspeksi proyek."
"Mas mau ninggalin saya ke luar kota?!"
"Cuma dua hari. Kamu bukan bayi yang butuh disusui tiap jam, kan?"
Naya meletakkan rotinya kasar. Selera makannya hilang sedikit. Dia tahu pernikahan ini settingan, tapi dia tidak menyangka akan sekesepian ini. Diabaikan di hari pertama itu rasanya... menyedihkan.
Melihat wajah Naya yang mendung, Dhandy merasa ada sesuatu yang mencubit nuraninya. Dia meletakkan cangkir kopinya.
"Pulang dari golf jam 2 siang," kata Dhandy tiba-tiba.
"Terus?"
"Nanti sore... kita bisa pergi belanja bulanan. Kulkas kosong. Dan kamu butuh stok camilan gula itu, kan?" tawar Dhandy kaku. "Sekalian beli bahan makanan. Saya tidak mau dapur saya meledak lagi karena kamu eksperimen dengan bahan seadanya."
Wajah Naya langsung cerah seketika. Seperti matahari terbit.
"Beneran? Mas mau nemenin saya belanja ke supermarket? Dorong troli?"
"Jangan berharap saya dorong troli sambil lari-larian," Dhandy memperingatkan. "Saya dorong dengan bermartabat."
"Oke! Deal!" seru Naya semangat lagi. Dia menghabiskan kopinya (yang sudah manis) dalam sekali teguk. "Kalau gitu saya mau mandi dulu. Mas jangan abisin telurnya!"
Naya melompat turun dari kursi, berlari kecil ke kamar mandi.
Dhandy menatap punggung gadis itu yang menghilang di balik pintu. Dia menggelengkan kepala pelan.
"Berisik sekali," gumamnya.
Tapi kemudian, dia melihat piring Naya yang bersih licin (kecuali remah roti). Ada kepuasan aneh melihat masakannya dimakan dengan lahap. Selama ini dia masak untuk dirinya sendiri, makan sendiri dalam diam.
Dhandy mengambil piring kotor Naya, membawanya ke wastafel, dan mulai mencucinya.
Tanpa sadar, dia bersenandung kecil. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan di Minggu pagi yang sepi.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️