NovelToon NovelToon
My Fake Bride

My Fake Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:7.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NadiraBee

Follow ig author @tulisan_bee 😚

Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.

Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.

My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?

Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Kata-kata Anehmu

“Katamu aku ini palsu. Jadi kenapa kau memasang wajah seperti itu? ~Luana Casavia.”

.

.

.

Pria yang berdiri di depan Luana itu tampak familiar.

Dengan potongan rambut pendek yang masih belum berubah, dan lesung pipi yang tampak melengkung di wajahnya setiap ia tersenyum. Tingginya mungkin bertambah beberapa sentimeter, dan kini tubuhnya tampak lebih kuat dengan bahu lebar dan dada yang bidang.

Luana membelalak lebar. Tidak menyangka ia akan mendapati sang pria berada di depan pintu kamarnya, perempuan itu hampir saja berteriak.

“Mario?!” serunya tidak percaya.

Bagaimana bisa Mario berada di sini?

Lelaki yang bernama Mario itu mengubah senyum menjadi kekehan kecil, begitu saja menarik tangan Luana yang tergantung di sisi tubuh perempuan itu.

“Ini benar kau, Lue!” serunya tidak kalah tidak percaya.

Luana berdecak.

“Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?” tanyanya lagi. Tidak sadar membiarkan tangannya masih berada di genggaman Mario, perempuan itu hanya fokus untuk berbicara pada tamunya sekarang.

“Aku bekerja di sini, Lue,” ujar Mario.

Luana tersenyum mendengar sapaan ‘Lue’ yang memang hanya diberikan Mario seorang untuknya, dan sudah begitu lama sekali sejak ia mendengar nama itu.

“Aku pikir aku salah orang,”kata Mario lagi. “Aku melihatmu berjalan dari arah depan, dan aku langsung tahu itu adalah kau. Tetapi aku tidak berani menyapa karena kau bersama beberapa orang lainnya, makanya aku memilih untuk mengulur waktu.”

Tampak Luana mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang dituturkan Mario, sahabatnya. Rasanya waktu sudah lama sekali berlalu, dan siapa sangka ia akan bertemu dengan Mario di hari pertamanya mendarat di Heidelberg?

“Ah, begitu,” timpal Luana.

“Kau ke mana saja? Bagaimana kabarmu?” tanya Mario cepat. Dia merindukan sahabatnya itu, dan semenjak kepergian Luana dari kota mereka beberapa tahun lalu, begitu saja komunikasi mereka putus tanpa ada yang tertinggal.

Luana tersenyum.

“Aku baik,” katanya. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Dan bagaimana kabar Bibi Anne?”

Mario balas tersenyum. Luana masih belum melupakannya, dan itu sangat membuat hatinya lega. Terlebih perempuan itu juga masih mengingat Anne—ibu kandung dari Mario, yang memang selama ini mengenal Luana dengan sangat baik.

“Ibuku baik,” jawab Mario. “Dia akan bahagia jika tahu kau di sini, Lue. Kapan kau ada waktu? Kita bisa berkunjung ke rumahku setelah jam kerjaku usai nanti. Bagaimana?”

Luana menggeleng samar. Dia tidak berada di sana untuk hura-hura atau liburan, dan dia bahkan tidak tahu apakah dia punya kesempatan untuk mengelilingi kota atau tidak. Dia tidak tahu Rey Lueic berada di mana sekarang, dan apakah mereka akan tinggal lama di sana.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa, Mario,” ujar Luana jujur. Menunduk, ada rona kesedihan yang terpancar dari wajah perempuan itu.

Mario meremas jemari Luana, mengalirkan perasaan rindu yang sudah menumpuk di dalam hati.

“Tapi, apakah kau di sini untuk bekerja?” tanya lelaki itu. “Apakah majikanmu berada di dalam?”

Mario tahu tidak mungkin untuk seorang Luana Casavia menyewa kamar super deluxe mereka untuk dirinya sendiri. Mereka terbiasa hidup di kalangan bawah, dan berada di hotel berbintang seperti ini hanyalah angan-angan.

Jadi begitu saja Mario berasumsi bahwa Luana pasti datang untuk bekerja, dan mungkin saja majikan perempuan itu sudah menunggu di dalam. Tetapi memperhatikan pakaian yang dikenakan Luana kini, Mario memicingkan mata perlahan-lahan.

“Kau bekerja sebagai apa, Lue?” tanyanya menyelidik. “Pakaianmu tampak berbeda dan mungkin ini cukup mahal. Jangan katakan kalau...” lelaki itu menjeda kalimatnya, menerka-nerka dengan bola mata yang menyorot dalam menatap Luana.

Luana meringis. Panjang ceritanya jika dia harus menjelaskan pada Mario saat ini juga, sedangkan tubuhnya sudah merasa lelah sekarang dan ia ingin sekali istirahat.

“Uhm, ini...” Luana terbata, berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya.

Mario masih menunggu, kali ini dengan tatapan lebih menyelidik.

“Lue, jangan katakan kalau kau datang bersama....”

Luana tahu dia tidak punya banyak waktu. Menjelaskan segalanya pada Mario akan menghabiskan waktunya, dan ini bukan saat yang tepat untuk mengadakan reuni dengan temannya. Meski Luana senang bertemu dengan Mario lagi, tetapi nasib kehidupannya juga masih dipertanyakan.

Baru saja perempuan itu hendak membuka mulut untuk memberikan jawaban, satu deheman keras yang berasal dari ujung lorong sudah lebih dulu terdengar.

Refleks, baik Luana dan Mario menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria dengan kemeja yang lengannya sudah tergulung hingga siku sedang berkacak pinggang tidak jauh dari sana.

Luana menelan ludah dengan susah payah.

Pria itu adalah Rey Lueic.

Melangkah dengan ayunan kaki lebar, Rey memangkas habis jarak yang terbentang antara dirinya dan dua orang yang sedang bergandengan tangan satu sama lain. Berhenti tepat di depan Mario yang mengenakan seragam hotel, Rey menyorot lelaki itu dalam-dalam.

“Siapa kau?” tanyanya datar. “Dan mengapa kau memegang tangan istriku?”

Jdar!

Ada yang nyess, tapi bukan es batu.

Luana tersentak kecil, dengan telinga yang ia pasang tinggi-tinggi.

Istriku? Istriku dia bilang?

Rasanya ada yang menguap saat itu juga, ketika kini Luana refleks menarik tangannya dari tangan Mario, diikuti Mario yang juga melepas tangan perempuan itu dengan secepat kilat.

Setengah membungkuk, Mario memberikan gestur tubuh hormat pada Rey yang baru saja datang. Mario tentulah mengenal siapa Rey Luiec.

Seorang bangsawan tingkat tinggi yang sudah menjadi tamu VVIP di hotel mereka, yang juga seorang pebisnis sukses yang menjadi incaran para kaum ibu-ibu dari bangsawan lain.

Namun Mario sungguh tidak menyangka Rey akan datang dan menginterupsi pembicaraan dengan sahabat lamanya, terlebih telinganya baru saja menangkap kata ‘istriku’ yang keluar dari bibir sang bangsawan.

Istri dari Rey Lueic? Luana? Si Lue ini?

“M-maafkan saya, Tuan,” ujar Mario cepat. “Saya tidak bermaksud untuk—“

“Pergilah,” potong Rey cepat. Tidak memberi kesempatan untuk Mario menjelaskan, Rey sudah mengalihkan pandangan ke arah satu lagi orang yang membeku di sana.

Siapa lagi kalau bukan Luana, yang kini juga ikut menundukkan kepala meski tampak sesekali mencuri pandang untuk memeriksa keadaan.

Mario menganggukkan kepala, memberi hormat sekali lagi sebelum kemudian ia cepat-cepat angkat kaki dari depan pintu kamar Luana. Meninggalkan Luana yang kini menggigit bibir bawahnya ragu-ragu, khawatir akan hal apa yang akan dia hadapi kali ini.

Rey memilih untuk diam. Begitu juga Luana, yang sedari tadi bermain aman dengan menghindari tatapan mata Rey. Semakin ia menunduk, semakin maniknya menyorot pada kaki jenjang Rey yang berdiri tepat di depannya kini.

Rey berdehem, namun kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Kau tahu apa kesalahanmu?” tanya Rey tidak kalah datarnya.

Luana menarik napas dalam-dalam.

“Maaf, Tuan,” kata perempuan itu.

Dia sungguh tidak menyadari bahwa ia bergandengan tangan sejak tadi dengan Mario, terlebih ia tidak tahu Rey akan muncul seperti hantu di lorong kamarnya.

Bukankah tadi Mare mengatakan lelaki itu sedang mengurus bisnis? Jadi, kenapa dia tiba-tiba datang ke sini? Mau apa dia?

Rey mendengus. Ada nada kesal yang tidak bisa lelaki itu sembunyikan, dan itu membuatnya gusar tiba-tiba saja.

“Aku tidak memintamu untuk berkata maaf,” kata Rey lagi. “Aku bertanya apa kesalahanmu?”

Rasanya Luana ingin sekali menghilang sekarang juga. Diam-diam ia berdoa agar bumi berguncang dan menenggelamkannya ke dasar terdalam, agar dia tidak perlu berhadapan dengan lelaki ini.

“Uhm...” Luana terbata. “Dia sahabatku. Dan begitu saja dia datang untuk menyapa,” Luana berusaha membela diri. Dia sungguh tidak sadar, sungguh. “Aku juga tidak tahu dia bekerja di sini.”

Terdengar Rey menarik napas, diikuti dengan dua langkah yang semakin membawa lelaki itu mendekati Luana. Udara di sekitar mereka kini dipenuhi dengan aroma parfum milik Rey, dan itu begitu saja membuat Luana hampir kesulitan bernapas.

“Aku tidak bertanya tentang itu,” ujar Rey lagi. “Sepertinya kau benar-benar tidak tahu apa kesalahanmu, ya?”

Suara lelaki itu merendah kini, namun Luana dapat mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan Rey padanya.

Luana memutar bola mata, menaikkan kepala perlahan-lahan yang kemudian membawanya bersitatap dengan mata Rey. Lelaki itu memandanginya dengan senyum tipis yang sarat cemoohan, dan Luana tidak menyukai itu.

“Katakan,” pinta Luana. Kepalanya sudah tegak kembali, dan dia sepertinya sudah memiliki keberanian untuk membalas kalimat Rey. “Apa kesalahanku?”

Rey berdecak. Kepalanya berkedut mendapati Luana yang kini menatapnya lurus, membuat pegangan tangan di pinggangnya semakin mengencang. Bola mata perempuan itu menunggu, dengan wajah yang tampak sedikit kelelahan.

Rey mendekat. Menerobos masuk ke dalam kamar milik Luana, lelaki itu meninggalkan Luana yang masih terdiam di ambang pintu.

Berbalik badan, Luana memperhatikan punggung Rey yang semakin memasuki kamarnya, disusul dengan suara lelaki itu yang mengudara kemudian.

“Karena kau tidak menyambut suamimu pulang."

.

.

.

~Bersambung~

Ehem😶 Sini pulang rumahku aja, kusambut pake kompang ibu2 pkk masjid, ahaha.

1
🐻🐧🍊
sedih bacanya
Wheeny Permata
Sukak semua karya author satu ini...jatuh cinta😍😍😍😍
Shifa Burhan
reader2 yang menyukai Pedro

sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu

pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
Shifa Burhan
seorang istri nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan pria lain kalian (author) anggap itu hal benar dan buka kesalahan

coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga

pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar
baca ulangggg/Drool/
Wulan TitAnica
The Best....
Arida Susida
Luar biasa
Anisa Marcella
Luar biasa
yella xarim
dah baca novel ini berkali2 ttp ga bosen.. keren Thor
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Mifta Özil
ntah baca yg keberapa kali ga ngitung, slalu kgn sama novel ini huhu
Ray Aza
dih marah sm org yg salah, berkat gadis itu muka lo msh selamat..
Nafis
ahaa... stelah skian lama tak bca novel² kak bee krna takut kecanduan 🤭 coz 2th kebelakang kerempongan ngurus baby & toddler,luv kak bee 😘
shelome
baca lagi kangen sama tulisan kk bee
Wati Astuti
ku baca ulang ya thorr kangen sm Rey Luana.. Rey yg lama2 bucin tingkat dewa
N. Y
/CoolGuy/
syahira alifa
mantap bee
syahira alifa
salah dia sendiri kenapa lari di hari pernikahannya, sekarang menyesal pun percuma keadaan sudah tak lagi sama
syahira alifa
i love you bee tak kira bakal ada pertentangan antara orang tua rey dan rey gara²status luana..
syahira alifa
benih-benih cinta mulai tumbuh
Sri Lestari
ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!