Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Pengacara
"Ini gila, sudah jelas-jelas dia yang salah, kenapa ayah yang harus menanggung kesalahannya!" geramku,
Begitu mendapat telpon dari om Djarot, teman sesama sopir online ayah yang memintaku untuk ke rumah sakit. Aku segera melunjur ke rumah sakit, menggunakan ojek online.
Sesampainya di sana aku langsung di kasih tahu kalau ayah baru aja mengalami kecelakaan, dengan sesama pengendara mobil.
Hari ini sudah genap 3 hari ayah di rawat di rumah sakit, karena mengalami cidera kaki karena kejepit di dalam mobil.
Ayah juga sudah cerita, penyebab kecelakaan itu terjadi karena pengendara mobil mewah itu, menyerobot jalur hingga tabrakan tak terhindarkan.
Tapi, kenapa sekarang jadi berbalik dan ayah dari korban berubah jadi tersangka. Yang menurut polisi, saksi mata di tempat kejadian memberatkan ayah. Sungguh permainan uang dan kekuasaan.
"Kamu tenang aja, om akan bantu. Kamu fokus pada pengobatan ayahmu aja, supaya cepat pulih." ucap om Djarot.
"Kami juga berencana akan menggalang dana, dari sesama sopir dari komunitas ojek online untuk membayar pengacara dan biaya berobat."
"Terimakasih mas Djarot dan rekan-rekan sopir online semuanya." kata ayah tulus.
"Aku tidak rela jika nama baik ayah di permainkan, yang salah harus bertanggungjawab, bukan malah jadi korban." kesalku.
"Karena itu kita butuh pengacara, untuk membela ayahmu, nak Lina. Sedang biaya pengacara tidak murah, karena itu kami akan galang dana."
"Tabunganku, buat jaga-jaga berobat ayah, karena tidak semua biaya berobat di tanggung kartu jaminan pemerintah. Sebaiknya aku mintak Nico, untuk mencarikan job."
"Terimakasih, om Djarot dan yang lainnya, atas bantuannya. Ayah aku keluar sebentar cari minum, kalian teruskan saja mengobrolnya." pamitku sebelum berjalan keluar, meninggalkan ayah dengan teman-temannya.
Aku ke kantin beli roti dan segelas kopi dingin, lalu aku bawa ke mushola. Setelah melakukan sholat dzuhur, aku menikmati es kopi dan roti sambil sibuk di depan layar laptop, untuk mencari CCTV kejadian ayah kecelakaan.
"Permisi!"
"Eh bu dokter, silahkan." aku menggeser tubuhku, tapi ternyata dokter itu malah duduk di sampingku dengan melipat mukenanya.
"Dokter spesialis, wajar yang melekat di tubuhnya barang bermerek semua." pikirku, saat melihat titel di namanya.
"Kamu putri sopir online, yang kecelakaan beberapa hari yang lalu ya?"
"Iya, kok dokter tahu. Ahhh, pasti karena banyak sopir online yang mengunjungi ayah ya, bu dokter?" jawabku asal, dengan tersenyum garing.
"Tidak, juga. kebetulan saya, mendengar obrolan beberapa sopir online dan perawat tadi."
"Hehe, pasti membahas ayah yang seharusnya jadi korban, malah menjadi tersangka." lesuku.
"Saya punya kenalan seorang pengacara muda, bukan pengacara terkenal. Jadi tarifnya mungkin tidak semahal pengacara profesional, jika mau aku kasih nomor telponnya."
Aku memandang curiga, sedikit ragu, mengingat jaman sekarang semua selalu di nilai dan tidak ada yang gratis.
"Begini, dia lagi butuh batu loncatan supaya namanya di kenal banyak orang. Mungkin jika dia memenangkan kasus orang tuamu, namanya bisa di kenal banyak orang."
" Oh, pengacara baru, masih mencari nama," gumamku, pada dokter cantik bernama Larasati di depanku.
Dokter itu tersenyum dan mengangguk pelan, memperlihatkan aura ibu yang penyayang dan penuh perhatian.
"Ahhh, andai kata ibuku juga begitu, pasti aku tidak akan mengalami kesedihan seperti ini." pikir ku.
Aku sudah beri tahu Rania kalau ayah masuk ke rumah sakit, tapi Rania hanya 2 kali datang mengunjungi ayah. Yang terakhir memberi uang 10 juta padaku, dan bilang tidak akan bisa mengunjungi ayah lagi, karena sedang mempersiapkan ujian kelulusan.
Ingin sekali aku marah, paling tidak temanin ayah sebentar setiap hari. Apa susahnya sih menyempatkan waktu satu jam, dalam 24 jam untuk menjaga ayah.
"Bagaimana, kalau mau aku kasih nomornya padamu."
"Boleh bu dokter, jika harganya cocok aku akan pakai dia"
"Good, karena tanpa bukti yang kuat, kalian membutuhkan seorang pengacara. Paling tidak pengacara akan meringankan hukuman, ayahmu nantinya."
"Terimakasih," ucapku setelah menerima secarik kertas berisi nomor telpon, atas nama Abirama.N.
***
Flashback, Sehari Setelah kecelakaan.
"Papa masih punya biodata, perempuan yang memukul Rama dulu, tidak?"
"Kenapa sih, ma. Itu kan sudah lama, sudah sebulan yang lalu mungkin. Kenapa di bahas lagi? Rama bikin masalah?"
"Bukan, tapi kemarin ada kecelakaan. Menurut, Manda si sopir online di duga ngantuk."
"Ya, kalau begitu wajar, jika mendapat sangsi. Salahnya ngantuk bawa mobil, di jalan raya."
"Masalahnya, pengendara mobil mewah yang menyerobot jalur kemungkinan dalam pengaruh obat terlarang."
"Ini lebih salah, lagi."
"Makanya itu. Aku juga curiga, anaknya sopir online yang ngantuk ini, mirip dengan wajah wanita yang hampir di lecehkan oleh Rama, pa."
"Jadi, mama mau menolongnya, gitu?"
"Mama mau memastikannya dulu, apa dia wanita yang sama. Hitung-hitung nolong dia, pa. Karena aku yakin, Rama belum tentu minta maaf sama dia, mengingat kalau dia juga merasa jadi korban."
"Hahaha, aku juga heran itu bocah kenapa tidak mirip kita, dan lebih mirip kakeknya, ya."
Dari segi wajah Rama itu mirip Larasati dan Arjuna, bisa di bilang perpaduan. Tapi, sifatnya lebih mirip kakeknya Haidar, bahkan mengikuti jejaknya menjadi pengacara.
"Papa cek dulu, sepertinya datanya masih tersimpan di ponsel, deh."
Flash end.
***
Setelah mendapat bukti CCTV dari mobil yang ada di sekitar lokasi, aku bergegas menghubungi pengacara yang di rekomendasikan oleh dokter Larasati.
Yang akhirnya kami berjanji untuk bertemu di kantornya. Bukan firma hukum besar, hanya kantor hukum sederhana yang didirikan oleh mantan pengacara kondang, Haidar Notonegoro.
"Silahkan duduk, dek. Tunggu dulu ya, pak Rama sedang ada rapat dengan klein di ruang rapat."
"Makasih bu," ucapku pada wanita yang mungkin resepsionis di kantor hukum ini, karena dia yang menyambutku begitu aku masuk.
Sekitar 40 menit aku menunggu, sebelum akhirnya wanita tadi memintaku naik ke lantai 2, dan masuk ke ruang dengan pintu bertuliskan nama sesuai yang aku cari.
Setelah mengetuk pintu dan mendapat ijin masuk, barulah aku masuk dan melihat seorang yang sibuk membaca berkas, bahkan dia menyuruhku duduk tanpa melihatku.
"Apa kamu ada bukti atau saksi yang bisa meringankan ayahmu?"
"Ada, pak."
Sebelum bertemu hari ini, aku sempat menceritakan apa yang menimpa ayahku, dan dia juga sudah sedikit tahu dari dokter Larasati.
"Apa itu?" tanyanya, dengan mengangkat wajahnya dan melihat kearaku.
Membuat jantungku berdetak kencang, mengingat lelaki ini. Lelaki yang aku temuin di kafe sebulan lalu, dengan luka di keningnya.
"Hallo, apa buktinya?" tanyanya lagi, sambil mengetuk meja membuatku tersadar.
"Ohhh, maaf ini pak." ucapku bergegas memperlihatkan video dari ponselku.
"Darimana kamu dapat video ini."
"Dari kamera mobil, yang tidak sengaja merekam kejadian yang ada di situ." ucapku yang tidak seratus persen bohong.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in