Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangun dinding pemisah
Sesuai perkataan maduku tadi sore. Mas Fandy mengetuk pintu kamar dan memanggil namaku. Aku membuka pintu kamar sambil menggenggam sapu di tangan. Hanya menggunakan mini dres putih tanpa lengan bermotif bunga anggrek warna ungu dan pink.
"Na, buka pintunya".
"Ya, bentar". jawabku sambil membuka pintu. Saat membuka pintu, kulihat mas Fandy menelan salivanya dan berkata memojokkan ku.
"Kamu menggodaku ya?". aku menoleh kearahnya.
"Ini udah malem. Pantes aja aku pakai mini dress khusus tidur. Kalau ke mesjid pakai gini jelas aja nggak pantes. Kalau kamu ngerasa aku godain yaudah, Aku pakai mukena bentar lagi". Dia terkekeh pelan menanggapi ucapanku. Kemudian memperhatikanku yang merapikan kamar. Aku sih cuek aja. Suka-suka dia. Laki mah, bebas.
"Na".
"Hmm". Aku menjawab tanpa menoleh.
"Besok aku sidang skripsi. Doain yah." Aku heran. tumben dia bicara lembut ke aku? Biasanya judes kayak emak-emak komplek.
"Ya, semoga sukses".
"Kamu.... nggak gimana gitu? Bereaksi apa kek, denger laki mau sidang bukannya di semangati...".
"Lha, kamunya minta doa ya aku doain. Emangnya kamu minta di semangati? Kan kamu nggak bilang". Jawabku santai sambi meletakkan sapi di sebelah pintu pojok kamar.
"Terserah kamu deh". Jawabnya sambil kembali memainkan ponselnya. "Na", ucapnya lagi.
"Apa?".
"Bentar lagi aku selesai kuliah. Aku ada rencana. Gimana kalo misalnya aku mau punya anak?" ada jeda sejenak, tapi aku membiarkannya. menunggu kalimat lanjutannya. "Dari Mila". Sungguh..! Aku nggak lagi terkejut lagi kalau kalimat itu pasti muncul dari mulut sialan suamiku.
"Lakukan apapun yang kamu suka mas. Aku nggak peduli. Kalau kamu mau punya anak dari maduku, realisasikan. Maka dengan terpaksa pula aku harus pergi dari sisimu. Kamu pikir, aku nggak ingin punya anak juga diusiaku yang udah matang kek gini? Aku ingin. Maka, untuk merealisasikannya aku harus mencari pria yang tulus untuk hidup bersamaku. Aku sih lelah menunggu kamu yang nggak juga bisa mencintai aku. Aku lelah. Aku hanya berfikir realistis mas. Kehidupan akan terus berjalan. Karna kamu udah memutuskan untuk punya anak, pikirkan cara agar orang tuamu menerima Mila. Maka, Akupun harus menyingkir dari sini dan mencari pria baik- baik".
"Na, please jangan omongin lagi masalah pisah".
"Aku harus memperjelas kemana arah hubungan kita. Kalau tekad kamu udah bulat, maka mulai sekarang aku akan bangun dinding pemisah diantara kita, mulai sekarang".
"Terserah kamu na mau ngomong apa. Yang aku mau sekarang, kamu. Kamu harus melayaniku malam ini. Aku meminta hak ku sebagai suami". Mati aku! Tegang nggak karuan deh.
"Nggak". Jawabku mantap.
"Aku nggak peduli", katanya mantap. Dia segera meraih bibirku dan menindihku dengan paksa. Aku berusaha berontak, namun sama sekali nggak bisa. Tenagaku nggak sebanding dengan mas Fandy. Aku menangis dan pasrah dengan segala perlakuannya.
"Kamu selalu maksa aku melakukannya mas. Dan setelah ini, kamu pasti akan meninggalkanku.". Kataku lirih dengan menangis. Tapi mas Fandy? Mana mungkin dia peduli. Malah ia melanjutkan aksinya dan melakukannya dengan kasar.
Malam itu, kembali terjadi penyatuan yang diinginkan sepihak. Aku lelah. Taukah kamu apa yang terjadi di akhir aktifitas kami? Mas Fandy menyebut nama Mila disaat ia memuntahkan cairan sp***a ke dalam tubuh intiku. Secepat kilat aku mendorongnya hingga ia terpental dilantai.
Ku lihat mas Fandy memegangi bokongnya yang kepentok lantai. Aku kesetanan. Aku marah. Aku mencaci maki dia, memukulinya dengan membabi buta. Ia sadar dan mencoba menghentikan amarahku. Tapi tidak, Aku marah. Aku tidak akan berhenti.
"Pergi Lo ********, sialan, brengsek. Kalau Lo mau tubuh Mila, nggak usah Lo menyetubuhi gue. Kenapa Lo selalu nyakitin gue brengsek? nggak puas Lo udah ancurin hidup gue, udah ngambil keperawanan gue. Dan sekarang, Lo ancurin perasaan gue. Mati aja Lo ********".
Aku teriak-teriak kesetanan. Merasa dia udah merendahkan harga diriku. Dia udah melukai sisi hatiku terdalam. Aku hancur. Aku putus asa. Dan aku benar-benar terpuruk saat ini.
💔💔💔💔
Hampir tiga bulan berlalu setelah kejadian itu, aku lebih memilih diam, lebih tepatnya mendiamkan mereka. Aku menjalani aktifitas ku secara monoton. Bangun pagi, sarapan, kerja, pulang ke rumah laundry, dan kembali ke rumah mas Fandy hanya saat menjelang tidur saja.
Uang belanja, masih dapet tapi tetep aku biarkan mereka. Aku udah lelah menghadapi kenyataan ini. Hari ini entah kenapa kepalaku terasa pening. Tubuhku menolak untuk ku bawa bangkit, aku lemas. Entah kenapa, beberapa hari ini, perutku menolak makanan berat. Hanya beberapa jenis cemilan dan minuman saja yang bisa ku konsumsi.
Ponselku tiba-tiba berdering, kulihat nomor ayah mertua memanggil, ku geser tombol hijaunya untuk menerima panggilan.
"Hallo assalamualaikum, nak kamu dimana? Hari ini kamu kerja nggak?"
"Enggak yah, Nawal agak nggak enak badan. Kayaknya mau ke dokter deh".
"Apa? kamu sakit? Suamimu kemana?", Aku bingung menjawabnya apa. Aku jawab ngasal aja.
"Kayaknya udah berangkat ngontrol resto deh yah".
"Ya udah ini ayah dalam perjalanan menuju kesana. Kalau kamu nggak kuat, tunggu ayah dan ibu nanti kami antar".
"Iya yah". Jawabku pasrah. Biarkan saja orang tua mas Fandy tau kalau anaknya sudah menikah lagi. Aku nggak berniat sama sekali memberi tau mereka kalau ayah dan bunda dalam perjalanan kemari.
"Yaudah kamu istirahat dulu. Ayah tutup telponnya yah. Assalamualaikum".
"Wa Alaikum salam". Jawabku lirih . Sungguh, tubuhku saat ini terasa lemas. Mau mandi kayak males gitu, jadi ku putuskan untuk cuci muka saja dan menggosok gigi sebelum periksa ke dokter. Sebelum itu aku menghubungi atasanku di kantor meminta ijin hari ini aku nggak masuk kantor.
Keluar dari kamar Aku melihat pemandangan setiap hari yang membuatku mual dan muak sekaligus. Mas Fandy memeluk istri kesayangannya dari samping. Mengecup lama kening istrinya penuh rasa sayang. Entah mengapa, aku yang selama ini Hanya diam kali ini menitikkan air mata. Mendadak kembali cengeng.
Mila yang menyadari kehadiranku mendadak gugup dan berdiri. Aku berlari menuju pintu dan segera menstater motorku, melesat menuju ke arah dokter terdekat. Pikiranku kalut, hatiku berkecamuk. Kenapa perasaan sakit ini begitu semakin dalam. Ya tuhaaan Aku seperti tidak kuat.
Sesampainya di tempat praktik dokter terdekat, Aku segera turun dan mendaftar untuk periksa. Beruntung tempat ini masih sepi karna hari memang masih pagi, jadi aku di periksa lebih awal. Selesai periksa, Dokter segera menuntunku agar segera duduk dan mendengar penjelasannya.
"Kapan terakhir kali ibu haid?", aku mendadak tegang mendapat pertanyaan seperti ini. Aku lupa. Ya tuhaaan jangan bilang aku.....? Tidak. ini pasti salah. Tapi memang, terakhir haid itu aku lupa, dan dua bulan ini sepertinya aku nggak mendapat masa haid.
"Saya lupa dok", Jawabku semakin gelisah.
"Menurut gejala-gejala yang anda alami, sepertinya ada janin di dalam rahim anda. Untuk lebih jelasnya, saya sarankan anda memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan". Aku diam sejenak, kemudian mengangguk mengerti.
Selesai membayar administrasi, aku bergegas keluar menuju apotik untuk membeli test pack. Menuju toilet apotik dan melakukan tes urine sendirian. Dan Aku tidak terkejut lagi, hasilnya benar-benar positif. Aku bergegas menuju parkiran untuk pulang. Ponselku tiba-tiba saja berdering. Dan yah, nama ayah terpampang jelas disana. Aku mengangkatnya.
"Hallo yah, Ayah nyampek mana?"
"Ini ayah hampir sampai. Kamu dimana?
"Di apotik yah, Ini mau pulang, ya udah, Nawal berangkat pulang yah".
"Ya, hati-hati nak. Pelan-pelan aja. Yang penting selamat".
"Iya yah". Aku pulang dengan perasaan kacau.
Setibanya dirumah, ayah masih belum sampai. Aku memutuskan menunggu mertuaku dengan duduk diatas motor. Pening, mual, bercampur sesak yang kurasakan. Tak menunggu waktu lama, mobil ayah terlihat memasuki halaman. Aku tersenyum bahagia. melepas rindu dengan memeluk ayah dan ibu mertua yang begitu baik padaku.
"Kamu pucet banget nak. Apa kata dokter?".
"Nggak apa-apa buk, Aku baik-baik aja. ayo buk, yah masuk dulu". Tanganku menekan engsel pintu perlahan hingga tak menimbulkan bunyi sama sekali.
Sayup-sayup aku mendengar suara suami dan madu ku sedang tertawa riang. Suara khas canda tawa mereka ini yang aku takutkan, karna mertuaku datang. Ah, tapi biarlah. masa bodoh dengan mereka. Aku nggak peduli. Semakin mendekat, aku mengisyaratkan mertuaku untuk berjalan pelan, meletakkan jari telunjukku di depan bibir agar ayah dan ibu diam. lalu melanjutkan langkah hendak mendengar percakapan mas Fandy dan Mila.
"Terus gimana mas sekarang? Aku nggak tau lagi gimana caranya". Suara Mila makin terdengar jelas mengiang di telinga. Kulihat ayah mertua mengepal tangan, merasa geram. Bagus. akan semakin seru pertunjukannya.
"Aku juga sebenernya lelah bersandiwara seperti ini. Andai aja ibu nggak jantungan, pasti udah ku tinggal si Nawal".
*degg...
Aku nggak kuat tuhan*.
Aku membekap mulutku dengan kedua tanganku. Aku sakit. Sungguh, aku benar-benar sakit. Ku tajamkan lagi pendengaranku.
"Tapi sebenernya, pas kamu ngelakuin itu sama mbak Nawal gimana sih rasanya mas?" Mila kembali bersuara.
"Nggak ada yang istimewa. Cuma sebagai formalitas aja bersikap adil sama dia, biar dia nggak ngadu ke ayah ibu. Aku nggak suka banget sama dia. Apa kamu tau? Sel*ngk**gan nya nggak sebening punyamu sayang". Jawab mas Fandy sambil terkekeh, ku dengar Mila juga tertawa bahagia.
Tubuhku bergetar, aku ambruk ke lantai dan tanpa sengaja, menjatuhkan foto pernikahan aku dan mas Fandy. Bingkai dan kacanya Hancur tak bersisa. Sehancur hati yang rapuh ini.
Lenyap sudah harapan yang ku pupuk tinggi untuk berumah tangga selamanya dengan mas Fandy demi janin yang ku kandung. Sekarang tinggallah kepedihan dan kehancuran.
Aku terkulai, lemas. Pandangan mataku kabur. Aku sedikit kehilangan kesadaran. Sayup-sayup aku mendengar suara ibu menjerit, ayah yang panik, dan pemandangan terakhir yang ku lihat adalah, mas Fandy berdiri berdampingan dengan Mila. Mereka, mematung. Aku sudah nggak tahan. Aku memejamkan mataku. Ya, aku pingsan.
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel