NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Malam yang Tidak Pernah Dijanjikan

Jubah mandi hitam Arjuna jatuh ke lantai, membentuk genangan kain sutra di atas karpet tebal. Jubah putih Citra menyusul sesaat kemudian, meluncur perlahan dari bahunya yang gemetar—mendarat tepat di atas jubah hitam itu. Dua warna yang bertolak belakang, kini terjalin dalam kekacauan yang sama.

Arjuna Pratama belum pernah merasa kendalinya runtuh se drastis ini.

Gadis dalam pelukannya terlalu lembut. Terlalu bersih. Kemurniannya yng bercampur dengan daya tarik tak sadar seorang wanita yang baru mekar berhasil menghancurkan tembok pengendalian diri yang selama ini ia banggakan. Terhadap wanita-wanita lain, ia selalu tenang. Dingin. Membiarkan mereka yang datang kepadanya.

Namun malam ini, ia hampir tidak bisa bernapas.

Jari-jari Citra yang ramping mencengkeram seprai putih dengan erat, buku-bukunya memutih. Tubuhnya menolak setiap sensasi asing yang membuat jantungnya berdebar hingga terasa nyeri. Ia ingin lari. Ingin melepaskan diri dari badai yang tiba-tiba menelannya.

Mata Elang Arjuna menatap tajam wajah kecil gadis itu. Air mata terus mengalir, membasahi pipi Citra yang memerah. Keindahan yang hancur itu justru semakin membakar sesuatu yang gelap di dalam dirinya.

"Sayang, kau luar biasa," bisiknya, suaranya serak dan dipenuhi obsesi yang tak terkendali.

Ia menunduk, bibirnya menyentuh leher Citra yang lembut, napas panasnya menyapu kulit sensitif gadis itu. "Katakan padaku, apa yang kau inginkan? Hmm? Aku akan memberimu apa saja."

Ia bergantian,membujuk dengan suara rendah, mendominasi dengan sentuhan yang tegas. Mengamati. Alis Citra berkerut menahan erangan kecil. Mata murni yang kini berkabut itu membuatnya terlihat semakin memikat sekaligus menyedihkan.

Arjuna menunduk lagi, mencium setiap tetes air mata di pipi Citra. Rasa asin itu menyebar di lidahnya....anehnya terasa manis.

"Bersikaplah baik, ceritakan padaku," bujuknya lembut. "Bagaimana kalau kau berhenti jadi Asisten Kecil?

.........Hmm?"

"Aku akan memberimu uang sebanyak yang kau mau. Mencarikan sutradara terbaik. Menjadikanmu bintang besar. Oke?"

Itu adalah umpan yang diimpikan ribuan wanita di industri ini. Arjuna menawarkannya begitu saja, tanpa diminta, sebagai ganti dari penyerahan diri malam ini.

Kesadaran Citra semakin memudar diterpa gelombang sensasi yang asing. Namun sisa akal sehatnya masih cukup kuat. Ia menggelengkan kepala dengan kuat, isak nya lemah namun Keras Kepala

"Tidak… Aku tidak ingin kau mendukungku…" suaranya tercekat. "Aku ingin… bekerja keras sendiri…"

"Heh, dasar bodoh."

Arjuna merasa geli, sekaligus kagum. Di saat seperti ini, di mana ia bisa meminta segalanya, Citra masih memilih harga dirinya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membelikan mu vila?" ia mencium bibir gadis itu, bergumam di sela napas mereka. "Atau perhiasan termahal di negeri ini?"

"wuuu… Aku hanya ingin kau berhenti…" Citra menangis tak terkendali, suaranya pecah menjadi serpihan.

Tangan putihnya menekan dada bidang Arjuna dengan sia-sia. Kuku-kukunya meninggalkan bekas merah samar di otot dada pria itu—bagi Arjuna, rasanya tidak lebih dari sekadar geli yang justru menggugah.

"Tuan Arjuna, tolong berhenti…"

Suaranya serak, sulit dikenali. "Sayang yang baik… jangan begitu…"

Citra terengah-engah mencari udara. Matanya yang berbentuk almond kini berkabut total, ujung hidungnya memerah menyedihkan. Ia menggelengkan kepala, suaranya bergetar tipis.

"Tuan Arjuna… saya merasa tidak nyaman. Bisakah kau… tolong? Aku mohon."

Cara gadis itu menatapnya,memelas, terluka, namun tetap memanggil namanya dengan kepercayaan terakhir yang masih tersisa—seharusnya membuat Arjuna berhenti.

Tapi itu justru seperti menuangkan bensin ke api.

"Itu tidak mungkin…" Arjuna terkekeh, suaranya parau. "Lagipula, Sayang, apakah kamu mencoba membunuhku dengan mengatakan 'tidak' di saat seperti ini?"

Lengan kekarnya melingkari bahu halus Citra, memenjarakan tubuh mungil itu sepenuhnya dalam dekapan panasnya.

"wuu…" Gadis itu terisak-isak. Ia masih terlalu baru untuk memahami permainan pria dewasa seperti Arjuna.

"Tuan Arjuna… Arjuna Pratama…"

"Aku benar-benar sangat lelah… sangat takut…"

Suara lembut yang memanggil nama lengkapnya itu membuat hati Arjuna bergetar aneh. Ia bahkan tidak menyadari bahwa hanya suara itu saja sudah cukup untuk melunakkan tulangnya.

Ia menunduk, menatap gadis dalam pelukannya. Matanya yang biasanya dingin kini tampak berkaca-kaca,rapuh oleh emosi yang tidak ia pahami sendiri.

Arjuna menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang besar menutupi tangan pucat Citra yang masih mencengkeram seprai. Perlahan, ia membuka jari-jari gadis itu satu per satu, lalu menyatukannya dengan jarinya sendiri—mengunci tangan Citra di sisi bantal. Bukan untuk menyakiti. Untuk menenangkan.

Dahinya menempel pada dahi Citra. Ujung hidung mereka bersentuhan. Napas mereka bercampur.

"Bersikap baiklah. Jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja."

Ia mencium sudut mata Citra yang masih basah. "Kau terlalu rapuh. Wajar kalau begitu… pada awalnya."

Ciuman Arjuna berubah—lebih pelan, lebih hati-hati. Mendarat di kelopak mata Citra yang gemetar, di ujung hidungnya, dan akhirnya kembali ke bibirnya. Kali ini bukan untuk menguasai. Untuk menenangkan.

"Sayang, tetaplah bersamaku sebentar lagi. Dan kau akan baik-baik saja."

"wuu… ah…" Tangisan pilu Citra terdengar seperti cakaran anak kucing kecil, mencakar jauh ke dalam dada Arjuna.

"Sayang," gumamnya lirih, dipenuhi obsesi dan rasa tak berdaya yang tak ia sadari sendiri.

Satu tangan menopang belakang leher Citra, sementara tangan lainnya mencengkeram pinggang ramping itu dengan posesif. "Sedikit lagi… dan semuanya akan baik-baik saja."

Janji yang samar-samar. Dan Arjuna sendiri semakin tenggelam,kecanduan pada momen ini, pada kelemahan Citra yang hanya ia saksikan malam ini, pada sesuatu yang belum punya nama di dalam dadanya.

Malam masih terasa panjang.

Janji seorang pria di ranjang tidak pernah boleh dianggap serius. Namun getaran di hati Arjuna malam itu adalah hal paling nyata yang pernah ia rasakan dalam hidupnya yang panjang dan dingin.

Kasur besar itu berderit pelan, menelan rintihan lemah Citra ke dalam kegelapan suite mewah. Di luar jendela, hujan mulai turun—menyamarkan segala suara dari dunia yang sedang hancur dan terbentuk kembali di dalam kamar itu.

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!