Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Dunia Fana – Halaman Belakang Gubuk Keluarga Shi.
Matahari pagi menyinari embun yang menetes dari daun-daun bambu. Kicauan burung pipit menyambut hari baru yang damai. Namun, kedamaian itu sama sekali tidak dirasakan oleh Cendekiawan Wu.
Di sudut pekarangan belakang, Avatar dari Jurang Kekacauan Purba yang eksistensinya pernah membuat dewa-dewa kuno gemetar itu, kini sedang berjongkok dengan sebilah parang karatan di tangannya. Jubah sutra abu-abunya yang elegan kini kotor oleh noda lumpur dan kotoran ayam.
Tak! Tak! Tak!
Cendekiawan Wu membelah sebatang bambu kuning dengan napas terengah-engah. Keringat sebesar biji jagung membasahi dahi pucatnya.
Bagi entitas setingkat dirinya, menghancurkan bintang atau merajut galaksi hanyalah masalah menjentikkan jari. Namun hari ini, membelah sebatang bambu fana terasa seperti membelah gunung surgawi. Esensi Dao Air Surgawi dari teh melati yang ia minum semalam telah menyegel seluruh meridian dan Inti Kekacauan di dalam Dantian-nya. Ia kini benar-benar dikunci dalam wujud fana. Tidak ada Qi, tidak ada keabadian. Hanya otot manusia lemah yang mudah lelah.
"Aduh!" Cendekiawan Wu mendesis kesakitan. Parang karatan itu meleset dan menggores ibu jarinya. Darah merah fana bukan darah emas dewa atau darah hitam kekacauan menetes dari lukanya. Rasa perih yang sudah jutaan tahun tidak ia rasakan kini menyengat sarafnya.
Ia menengadah, menatap ke arah tiang jemuran di dekatnya.
Di sana, seekor burung gagak botak yang menyedihkan masih tergantung terbalik dengan kaki terikat tali rami. Gagak itu sudah sadar, dan kini menatap Cendekiawan Wu dengan pandangan yang kosong dan penuh air mata keputusasaan.
"Kagendra..." batin Cendekiawan Wu menjerit. Leluhur Gagak Pemakan Matahari itu bahkan tidak berani berkoak karena takut pada anjing hitam raksasa (Hitam Satu) yang sedang tertidur pulas tepat di bawah tiang jemuran.
"Kau mengikat talinya kurang kencang, Tuan Wu."
Sebuah suara yang sangat tenang tiba-tiba terdengar dari belakang punggungnya.
Cendekiawan Wu tersentak hingga parangnya nyaris jatuh. Ia menoleh dan melihat Shi Hao berdiri santai sambil memegang sebuah sapu lidi. Kain putih di mata kiri sang Kaisar Asura tampak begitu bersih, kontras dengan aura dominasi yang secara pasif menekan pekarangan ini.
"Maafkan saya, Tuan," Cendekiawan Wu segera bangkit dan menangkupkan tangannya, memaksakan senyum ramah yang kini terlihat sangat kaku. "Tangan sarjana saya memang kurang terbiasa dengan pekerjaan kasar. Saya akan mengulang anyaman atap kandang ayam ini."
Shi Hao tersenyum, melangkah mendekat dan memeriksa rangka atap bambu yang sedang dikerjakan Wu.
"Tidak apa-apa, belajar hal baru memang butuh waktu," kata Shi Hao. Ia mengusap bilah bambu yang terpotong berantakan. "Namun ingatlah, jika kau menyusun atap dengan fondasi yang salah, celahnya akan membiarkan air hujan merusak bagian dalamnya. Jika kandangnya rusak, ayam-ayamku bisa kedinginan."
Cendekiawan Wu menelan ludah. Kata-kata itu terdengar seperti petuah pertukangan biasa, namun telinga batin Wu mendengar ancaman kosmik yang sangat jelas: Jika kau mencoba merusak tatanan rumahku, aku akan membunuhmu.
"S-Saya mengerti, Tuan," jawab Wu sambil menunduk.
Shi Hao mengangguk puas, lalu menunjuk ke arah sebidang tanah yang agak basah di dekat kandang ayam tersebut. Di sana, sebuah tunas kecil berdaun zamrud telah tumbuh setinggi lutut orang dewasa. Hanya dalam semalam, Benih Surga itu menyerap nutrisi fana dan melesat pertumbuhannya.
"Berhati-hatilah saat kau melangkah di dekat pohon manggaku," pesan Shi Hao dengan nada datar. "Biji itu cukup sulit dicari. Jika kau tidak sengaja menginjaknya hingga patah... aku mungkin harus pergi ke tempat asalmu untuk mencari gantinya."
Keringat dingin kembali membasahi punggung Wu. Pergi ke Jurang Kekacauan Purba untuk mencari ganti?! Pria ini mengancam akan menghancurkan dimensiku jika aku merusak tunas ini!
"S-Saya akan sangat berhati-hati, Tuan!" Wu membungkuk hingga sembilan puluh derajat.
Shi Hao menepuk pundak sang cendekiawan dengan tangannya yang memegang sapu lidi. "Kerjakan pelan-pelan. Istriku sedang memasak nasi. Nanti siang kau boleh ikut makan bersama kami."
Setelah Shi Hao kembali ke teras depan, Cendekiawan Wu akhirnya bisa bernapas lega. Kakinya gemetar hingga ia harus berpegangan pada tiang kandang ayam.
Wu melirik ke arah tunas Surgawi itu. Tunas itu memancarkan cahaya hijau yang sangat murni, menyerap embun pagi dan mengubahnya menjadi hukum kaidah penciptaan tertinggi. Wu menyadari, jika tunas ini dibiarkan tumbuh dan berbuah, buahnya akan menjadi Tatanan Surgawi yang baru—dan kali ini, Tatanan itu akan sepenuhnya tunduk pada Shi Hao!
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," pikir Wu, giginya bergemeretak. "Aku harus membuka segel teh sialan ini dan mengirimkan sinyal ke Leluhur Zun. Sekalipun aku harus membakar sepertiga esensi jiwaku!"
Cendekiawan Wu menoleh ke kiri dan ke kanan. Shi Hao sedang berada di depan, dan Hitam Satu sedang tidur. Ini adalah satu-satunya kesempatannya.
Ia berjongkok di balik kandang ayam. Wu menggigit ujung lidahnya dengan paksa. Rasa sakit yang luar biasa menyengat, namun ia berhasil memeras Satu Tetes Esensi Darah Kekacauan dari kedalaman jiwanya yang tersegel.
Tetesan darah itu berwarna ungu kehitaman, memancarkan hawa purba yang bisa merusak akal sehat kehidupan fana.
Wu merentangkan jari telunjuknya, bersiap menggunakan tetesan darah itu untuk menggambar Segel Pemanggil Ruang Kekacauan di atas tanah berdebu. Jika segel ini aktif, koordinat dimensi pekarangan ini akan dikirimkan langsung ke armada Seratus Raja Leluhur.
Namun, tepat sebelum telunjuknya menyentuh tanah...
Petok!
Sebuah paruh kuning yang tajam melesat secepat kilat, mematuk tetesan Darah Kekacauan itu dari ujung jari Cendekiawan Wu!
"A-Apa?!" Wu tersentak mundur.
Di depannya, berdiri seekor ayam jago kampung berbulu merah keemasan. Ayam jago itu adalah peliharaan kesayangan Gu Qing Yi yang tugasnya membangunkan desa setiap pagi. Jenggernya berdiri tegak dan merah menyala.
Ayam jago itu menelan tetesan Darah Kekacauan tersebut, lalu memiringkan kepalanya, menatap Cendekiawan Wu dengan salah satu mata bundarnya.
Bagi seekor unggas fana, menelan setetes darah Avatar Jurang Kekacauan sama saja dengan menelan sebuah matahari hitam. Tubuh ayam itu seharusnya meledak menjadi debu kosmik seketika!
Tetapi, ayam jago ini tinggal di pekarangan sang Kaisar Asura. Ia telah minum sisa air rebusan ramuan tingkat dewa, mematuk cacing tanah yang menyerap Qi dari Tatanan Surgawi, dan bernapas di bawah domain Mortal Dao setiap hari. Tubuh ayam ini jauh melampaui fisik binatang dewa tingkat atas mana pun di Alam Atas!
Tiba-tiba, mata ayam jago itu berubah warna. Hitam pekat di bagian pupilnya digantikan oleh pusaran galaksi yang berputar cepat. Bulu-bulu merahnya perlahan-lahan rontok, lalu langsung digantikan oleh bulu-bulu besi keemasan yang memancarkan api suci.
Jenggernya membesar, membentuk sebuah Mahkota Api yang menyerupai naga yang sedang melingkar.
Ayam jago fana itu, hanya karena menelan setetes darah musuh, baru saja melompat berevolusi menjadi Kaisar Phoenix Api Purba!
Cendekiawan Wu jatuh terduduk. Mulutnya terbuka lebar, tak mampu mengeluarkan suara. Hewan ternak fana baru saja bermutasi menjadi monster setingkat Raja Dewa hanya karena berebut makanan?! Pria buta itu memelihara iblis macam apa saja di pekarangannya?!
Ayam jago yang telah berevolusi itu tidak terbang ke langit atau mengaum. Ia tetap berdiri di atas kedua cakar besinya. Ia menatap Cendekiawan Wu yang sedang gemetar, lalu membuka paruhnya.
Bukan suara kukuruyuk yang keluar. Melainkan sebuah transmisi pikiran kuno yang menggema langsung ke dalam tengkorak Wu, dipenuhi dengan otoritas unggas tertinggi yang mengintimidasi.
"Rasanya sedikit hambar," suara telepati ayam jago itu bergema congkak. "Apakah kau punya lebih banyak tetesan darah busuk itu, Manusia Lemah? Cacing di bawah daun mangga Tuan Besar lebih berasa daripada darahmu."
Wu merasa ingin menangis darah. Harga dirinya sebagai entitas dari luar alam semesta hancur berkeping-keping oleh seekor ayam kampung yang mengkritik rasa darah kekacauannya.
Namun, keterkejutan Cendekiawan Wu tidak berhenti sampai di situ.
Tetesan darah yang dipatuk oleh ayam itu tidak sempat membentuk formasi pemanggil, tetapi fluktuasi energi dari Darah Kekacauan yang terekspos sempat lolos menembus lapisan pelindung Dunia Fana selama sepersekian detik sebelum ditelan.
Sepersekian detik itu sudah cukup.
BLAAAAAAAAR!
Langit fana di atas Desa Angin Lembut mendadak meledak. Bukan sekadar mendung, melainkan retakan raksasa sepanjang puluhan ribu mil mengoyak cakrawala!
Dari balik retakan spasial tersebut, terhampar pemandangan Jurang Kekacauan Purba.
Aura kematian dan kehancuran absolut menyapu turun, membekukan sungai, mematikan pepohonan di luar batas desa, dan meremukkan tekad seluruh kultivator fana di benua tersebut hingga mereka jatuh pingsan.
Dari dalam retakan itu, muncul Sembilan Belas Kereta Perang yang ditarik oleh naga-naga bermata buta. Di atas kereta-kereta itu, berdirilah wujud asli dari raksasa-raksasa prasejarah yang mengenakan zirah tulang abadi. Mereka adalah armada pertama dari Seratus Raja Leluhur yang akhirnya turun langsung membelah langit, dipimpin oleh siluman raksasa bermuka harimau perak.
"AVATAR WU TELAH MENANDAI KOORDINATNYA!" rauman harimau perak itu mengguncang inti bumi. "BUMI FANA INI AKAN KITA JADIKAN LAUTAN DARAH! TEMUKAN BENIH ITU DAN BAKAR SEMUANYA!"
Di teras depan, Shi Hao yang baru saja hendak menyeduh teh pagi, menghentikan gerakannya. Ia mendongak, matanya yang terbalut kain putih "menatap" tajam ke arah langit yang robek.
"Baru saja aku membersihkan halaman kemarin..." Shi Hao menghela napas, namun kali ini jari-jarinya menegang, meremukkan cangkir teh fana di tangannya menjadi debu kayu.
Gigi sang Kaisar Asura bergemeretak, dan Niat Membunuh murni yang sebelumnya ia redam, kini mulai mendidih kembali layaknya letusan gunung berapi yang gagal tertahan.
"Orang-orang dari atas sana... benar-benar tidak tahu sopan santun."