NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI KE TEMPAT TERKUTUK

​Kegelapan di dalam bagasi minibus itu terasa begitu pekat dan dingin. Setiap kali mobil menghantam lubang di jalanan luar desa, tubuh babak belur Kirana terbentur keras pada lantai besi. Namun, rasa sakit di sekujur badannya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman badai di dalam dadanya.

​Bayangan wajah Ibu Sumi yang terbujur kaku dan jerit tangis Danu serta Larasati terus berputar di kepala Kirana bagai kaset rusak. Setetes air mata berdarah mengalir dari sudut matanya yang bengkak.

​Ibu... maafkan Kirana... batinnya menjerit tanpa suara.

​Setelah menempuh perjalanan beberapa jam yang terasa seperti keabadian, mobil akhirnya melambat. Suara bising knalpot, klakson yang bersahutan, dan dentuman musik bas yang samar-samar mulai terdengar. Kirana tahu, mereka telah melewati batas kota. Mereka telah kembali ke Distrik Amethyst, Valerion—tempat di mana kemanusiaan dihargai lebih murah daripada sebotol minuman keras.

​Mobil berhenti dengan sentakan keras. Pintu bagasi dibuka kasar, membuat cahaya lampu neon berwarna ungu dan merah langsung menusuk mata Kirana.

​"Turun, Jalang!"

​Sebuah tangan kekar mencengkeram kerah baju kurungnya yang sudah koyak, menyeretnya keluar hingga tubuh Kirana terjerembap di atas aspal gang yang basah oleh air parit. Kirana mendongak dengan sisa tenaganya. Di depannya berdiri sebuah bangunan megah dengan papan nama neon berkedip-kedip: The Velvet Rose.

​Di pintu masuk, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja sutra yang kancing atasnya sengaja dibuka. Di jarinya melingkar beberapa cincin emas besar. Pria itu menyeringai, mengembuskan asap cerutunya tepat ke wajah Kirana.

​Broto.

​"Lama tidak jumpa, Mawar Hitam," sapa Broto dengan tawa parau yang memuakkan. "Hebat sekali kamu ya, bisa kabur sampai ke desa, pakai baju sopan, lalu menjebak Tuan Surya sampai masuk penjara. Kamu membuat bisnisku rugi besar, Kirana!"

​CASS!

​Broto menyundutkan ujung cerutunya yang masih menyala ke pundak Kirana yang terekspos akibat baju yang robek. Kirana memejamkan mata erat-erat, menggigit bibirnya hingga kembali berdarah demi menahan teriakan amarahnya.

​"Bawa dia ke dalam! Tuan Muda Baskara sudah menunggu di lantai atas," perintah Broto pada anak buahnya.

​Kirana diseret menaiki tangga darurat di bagian belakang gedung, menghindari kerumunan pengunjung klub yang sedang mabuk. Tubuhnya yang lemas dilempar ke atas lantai karpet merah di sebuah ruangan VIP yang mewah.

​Di atas sofa kulit, Baskara Jaya duduk dengan segelas minuman di tangannya. Begitu melihat kondisi Kirana yang mengenaskan, senyum kemenangan yang sangat lebar terukir di wajahnya yang licik.

​"Lihat siapa yang merangkak kembali ke sini," ujar Baskara sambil berdiri, melangkah mendekat lalu berjongkok di depan Kirana. Ia mencengkeram dagu Kirana dengan sangat kuat, memaksa gadis itu menatapnya. "Di balai desa kemarin kamu sombong sekali soal hukum, Kirana. Sekarang lihat dirimu... di mana hukum yang kamu agung-agungkan itu?"

​Kirana meludah ke samping, membersihkan darah di mulutnya. Dengan tatapan sedingin es yang tidak goyah sedikit pun, ia membalas tatapan Baskara. "Kamu... cuma pengecut, Baskara. Kamu tidak bisa menang melawanku di pengadilan, jadi kamu mengirim anjing-anjing ini untuk mengeroyok seorang perempuan."

​PLAAKK!

​Baskara menampar pipi Kirana hingga kepala gadis itu terlempar ke lantai. "Jaga mulutmu! Kamu pikir kamu siapa? Ibumu sudah mati, adik-adikmu sekarang jadi yatim piatu telantar di desa kotor itu. Kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi!"

​Mendengar tentang adik-adiknya, dada Kirana bergemuruh hebat. "Kalau kamu berani menyentuh Danu dan Larasati... aku bersumpah akan menguliti kamu hidup-hidup, Baskara!"

​Baskara justru tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh Broto yang berdiri di dekat pintu.

​"Mengulitiku? Dengan cara apa? Kamu akan membusuk di tempat ini, Kirana. Aku sudah membayar Broto untuk memastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi. Kamu akan melayani orang-orang paling bejat di kota ini sampai kamu mati. Dan dokumen sita jaminan yang kamu bilang sampah itu? Besok pagi, anak buahku akan meratakan gilingan padi dan rumahmu tanpa ada yang berani mencegah!"

​Baskara berdiri, merapikan jasnya yang mahal. "Urus dia, Broto. Buat dia patuh seperti dulu lagi."

​"Siap, Tuan Muda. Serahkan saja pada saya," jawab Broto sambil membungkuk hormat.

​Setelah Baskara keluar dari ruangan dengan tawa puasnya, Broto mendekati Kirana. Ia menjambak rambut Kirana, menyeretnya menuju sebuah kamar gelap di ujung lorong—kamar isolasi tempat gadis-gadis pembangkang dihukum.

​BRAAAK!

​Kirana dilempar ke dalam kamar yang pengap dan gelap gulita itu. Pintu besi ditutup dan dikunci dari luar.

​Dalam kesunyian dan kegelapan total, Kirana meringkuk di lantai. Tubuhnya gemetar, air matanya menetes meratapi kematian ibunya dan nasib adik-adiknya. Namun, di dalam hati kecilnya, sebuah sumpah mati telah tertanam.

​Baskara dan Broto mengira mereka telah menghancurkan Mawar Hitam. Mereka tidak tahu, bahwa dengan merebut semua yang ia cintai, mereka baru saja melahirkan seorang monster yang tidak lagi memiliki rasa takut akan kematian. Rasa sakit ini tidak akan membuatnya menyerah; rasa sakit ini akan menjadi senjata paling mematikan untuk membalas dendam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!