Chen Mo terlahir kembali di dunia kultivasi dengan sebuah sistem yang awalnya dianggap rusak dan tak berguna. Namun, seiring perjalanannya, ia menemukan bahwa sistem itu sebenarnya adalah Sistem Pemurnian Langit—warisan kuno yang bertujuan menjaga keseimbangan energi dunia.
Dengan fondasi yang disempurnakan secara unik, Chen Mo melewati berbagai tantangan: memenangkan kompetisi, masuk sekte terkuat, mengungkap rencana jahat organisasi kegelapan, hingga akhirnya memahami misi sejatinya. Ia tidak hanya berjuang untuk menjadi kuat, tapi juga mempelajari bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan, bukan penaklukan.
Cerita ini mengikuti perjalanannya dari pendatang tak dikenal hingga menjadi penjaga keseimbangan yang dihormati, melintasi alam yang lebih luas dan memegang tanggung jawab menjaga harmoni seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DARK SISTEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: MELAWAN JENIUS SEKTE API
BAB 34: MELAWAN JENIUS SEKTE API
Sorak-sorai penonton masih terdengar di arena saat Chen Mo turun dari panggung batu.
Kemenangan atas Gao Shan membuat namanya semakin dikenal.
Banyak peserta yang sebelumnya meremehkannya mulai mengubah pandangan mereka.
Namun Chen Mo sendiri tidak terlalu memikirkan hal itu.
Yang ia pikirkan saat ini hanyalah makan siang.
"Aku lapar."
gumamnya.
Lin Qingyue yang berjalan di sampingnya langsung menghela napas.
"Kau baru saja memenangkan pertandingan penting."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa yang kau pikirkan makanan?"
"Karena aku menang dalam keadaan lapar."
"Itu bukan jawaban."
"Bagi perutku itu jawaban."
Lin Qingyue memilih diam.
Semakin lama mengenal Chen Mo, semakin ia sadar bahwa cara berpikir pemuda itu memang berbeda dari orang normal.
Pertandingan terus berlangsung sepanjang hari.
Satu demi satu peserta tersingkir.
Jumlah orang di arena semakin sedikit.
Namun kualitas peserta yang tersisa justru semakin tinggi.
Menjelang sore, giliran Chen Mo kembali tiba.
Suara penatua menggema ke seluruh arena.
"Pertandingan berikutnya."
"Chen Mo dari Sekte Awan Hijau."
Kerumunan langsung menoleh.
Nama itu sudah cukup menarik perhatian.
"Lawan."
"Yan Huo dari Sekte Api."
Seketika suasana berubah.
Banyak peserta memasang ekspresi serius.
Bahkan beberapa penatua ikut memperhatikan.
Yan Huo bukan peserta biasa.
Pemuda itu merupakan salah satu murid terbaik generasi muda Sekte Api.
Usianya tidak jauh berbeda dengan Chen Mo.
Namun kekuatannya sudah mencapai puncak Tingkat Pemula Tinggi.
Banyak orang menganggapnya sebagai calon kuat untuk masuk sepuluh besar ujian.
"Chen Mo kurang beruntung."
"Lawannya terlalu kuat."
"Akhir perjalanannya mungkin sampai di sini."
Bisikan terdengar di berbagai sudut arena.
Namun Chen Mo hanya menggaruk kepala.
"Aku bahkan belum selesai makan."
katanya pelan.
Lin Qingyue hampir kehilangan ekspresi dinginnya.
Yan Huo melompat ke atas arena.
Tubuhnya tinggi dan tegap.
Rambut merah gelapnya berkibar tertiup angin.
Aura panas menyelimuti tubuhnya.
Bahkan udara di sekitarnya terasa sedikit lebih hangat.
Saat melihat Chen Mo naik ke arena, Yan Huo menyipitkan mata.
"Akhirnya kita bertemu."
katanya.
Chen Mo berkedip.
"Kita pernah bertemu?"
Yan Huo terdiam beberapa detik.
"Tidak."
"Oh."
Wajah Yan Huo langsung berkedut.
Orang ini benar-benar menyebalkan.
Penatua pengawas segera memberi aba-aba.
"Mulai!"
Boom!
Begitu pertandingan dimulai, Yan Huo langsung bergerak.
Energi spiritual merah menyala berkumpul di kedua tangannya.
Panas yang dihasilkan membuat udara bergetar.
"Bakar dia!"
teriak beberapa murid Sekte Api.
Yan Huo mengayunkan tangan.
Wush!
Tiga bola api melesat ke arah Chen Mo.
Kecepatannya sangat tinggi.
Chen Mo langsung bergerak menghindar.
Boom!
Boom!
Boom!
Ledakan keras mengguncang arena.
Pecahan batu beterbangan ke segala arah.
Penonton langsung berseru kaget.
"Itu Teknik Api Terbang!"
"Salah satu teknik andalan Sekte Api!"
"Asal terkena satu saja, pertandingan selesai!"
Chen Mo melompat mundur.
Jubahnya sedikit hangus di bagian ujung.
Ia melihat bekas ledakan di tanah.
Lalu menelan ludah.
"Itu berbahaya."
gumamnya.
【Peringatan】
【Suhu Serangan Tinggi】
【Disarankan Tidak Menerima Serangan Secara Langsung】
"Aku juga tahu."
balas Chen Mo dalam hati.
Sistem kadang memberikan informasi yang sangat terlambat.
Yan Huo tidak memberi kesempatan bernapas.
Gelombang demi gelombang serangan api terus dilancarkan.
Arena dipenuhi kobaran merah.
Chen Mo berkali-kali menghindar.
Beberapa peserta mulai menggelengkan kepala.
"Dia ditekan habis-habisan."
"Kalau terus seperti itu, dia pasti kalah."
Namun Lin Qingyue justru memperhatikan dengan tenang.
Karena ia tahu sesuatu.
Chen Mo belum panik.
Dan selama Chen Mo belum panik...
Berarti dia masih punya cara.
Boom!
Satu bola api akhirnya berhasil mendekat.
Chen Mo tidak sempat menghindar sepenuhnya.
Matanya menyipit.
Perisai Awan Halus langsung aktif.
Kabut putih tipis muncul di sekitar tubuhnya.
Ledakan terjadi.
Namun ketika asap menghilang...
Chen Mo masih berdiri.
Memang terdorong beberapa langkah.
Tetapi tidak terluka.
"Apa?!"
seru banyak peserta.
Bahkan Yan Huo terlihat terkejut.
Untuk pertama kalinya serangannya gagal memberikan kerusakan berarti.
"Itu teknik pertahanan?"
gumamnya.
Pertarungan terus berlanjut.
Yan Huo meningkatkan kekuatannya.
Sementara Chen Mo bertahan menggunakan Perisai Awan Halus dan gerakan menghindarnya.
Sedikit demi sedikit...
Sistem mulai mengumpulkan data.
【Analisis Pola Serangan Selesai】
【Prediksi Jalur Serangan: 68%】
【Prediksi Jalur Serangan: 74%】
【Prediksi Jalur Serangan: 81%】
Mata Chen Mo perlahan berbinar.
Ia mulai memahami ritme lawannya.
Semakin kuat teknik api digunakan...
Semakin besar konsumsi energi spiritual Yan Huo.
Dan semakin lama pertarungan berlangsung...
Semakin besar keuntungan berada di pihaknya.
Yan Huo juga mulai menyadarinya.
Ekspresinya berubah suram.
"Kau sengaja mengulur waktu."
katanya.
Chen Mo mengangguk jujur.
"Iya."
"..."
"Kau kuat."
lanjut Chen Mo.
"Jadi aku memilih cara yang lebih aman."
Wajah Yan Huo langsung menghitam.
Tidak lama kemudian, kesempatan akhirnya muncul.
Karena terlalu fokus menyerang, Yan Huo tidak menyadari posisi kakinya.
Bagian arena yang terus terkena ledakan api mulai retak.
Batu-batu di bawahnya menjadi rapuh.
Sistem langsung memberi peringatan.
【Peluang Kemenangan Ditemukan】
【Rekomendasi: Manfaatkan Medan】
Senyum tipis muncul di wajah Chen Mo.
Akhirnya.
Kesempatan.
Yan Huo kembali meluncurkan serangan terbesar yang dimilikinya.
Api berkumpul menjadi bola raksasa.
Panasnya membuat banyak peserta mundur.
"Menyerahlah!"
teriaknya.
Chen Mo justru maju.
Penonton langsung terkejut.
"Apa dia gila?!"
Bahkan Lin Qingyue sedikit menegang.
Namun tepat sebelum serangan mengenai tubuhnya...
Chen Mo mengubah arah.
Tubuhnya berputar ke samping.
Lalu menghantam bagian arena yang telah retak sebelumnya.
Krak!
Permukaan batu langsung runtuh.
Yan Huo yang sedang menyalurkan energi kehilangan pijakan.
Matanya membelalak.
"Tidak mungkin!"
Bruk!
Tubuhnya terjatuh keluar arena bersama pecahan batu.
Seluruh arena langsung hening.
Beberapa detik kemudian...
Sorakan meledak.
"Menang!"
"Chen Mo menang lagi!"
"Dia mengalahkan Yan Huo!"
Para murid Sekte Api terlihat tidak percaya.
Sementara murid Sekte Awan Hijau bersorak keras.
Penatua Li bahkan tampak tersenyum bangga.
Penatua pengawas segera mengumumkan hasil.
"Pemenang."
"Chen Mo dari Sekte Awan Hijau."
Chen Mo menghela napas lega.
"Akhirnya selesai."
Yan Huo berdiri perlahan.
Meski kalah, ia tidak terlihat marah.
Ia menatap Chen Mo beberapa saat.
Lalu mengangguk.
"Kau kuat."
katanya.
Chen Mo tersenyum.
"Kau juga."
Untuk pertama kalinya sejak ujian dimulai, seorang jenius sekte besar mengakui kemampuannya secara terbuka.
Saat Chen Mo turun dari arena, Lin Qingyue berjalan mendekat.
"Kemenangan yang bagus."
katanya.
Chen Mo mengangguk.
"Fondasi yang kokoh memang berguna."
Untuk pertama kalinya sejak memperoleh Sistem Pemurnian, ia benar-benar merasakan hasil dari semua usaha yang telah dilakukan.
Bakat memang penting.
Teknik juga penting.
Namun fondasi yang sempurna...
Dapat menjadi penentu kemenangan.
Dan kini semakin banyak orang mulai menyadari hal itu.
Sementara di tribun peserta, beberapa murid unggulan yang belum bertanding mulai memperhatikan Chen Mo dengan lebih serius.
Karena pemuda dari Sekte Awan Hijau itu...
Sudah tidak bisa dianggap sebagai kuda hitam biasa.
Dan pertandingan berikutnya akan mempertemukannya dengan lawan yang bahkan lebih berbahaya.