NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Lulus dan Jeratan yang Semerat

Empat tahun berlalu dalam perjuangan yang tak kenal lelah. Kini, Naura telah berusia dua puluh dua tahun dan resmi menyandang gelar sarjana ekonomi dengan predikat cum laude. Bagi banyak orang, ini adalah awal dari masa depan cerah yang penuh harapan. Namun, bagi Naura, kenyataan yang menantinya justru terasa seperti jeratan yang semakin erat melilitnya.

Upacara wisuda berlangsung sederhana namun penuh makna. Naura mengenakan kebaya pinjaman yang sudah disetrika rapi, dengan senyum yang terukir di bibirnya meski matanya menyimpan sedikit kesedihan. Tidak ada keluarga yang hadir untuk merayakan keberhasilannya. Paman Surya dan Bibi Rina bahkan tidak peduli, yang ada di pikiran mereka hanyalah satu hal: kapan Naura akan mendapatkan pekerjaan tetap dan menyerahkan seluruh gajinya kepada mereka.

Sesampainya di rumah sore itu, Naura disambut bukan dengan ucapan selamat, melainkan tatapan tajam Bibi Rina yang sudah menunggu di ambang pintu.

"Sudah selesai dengan acara itu? Sekarang kamu sudah sarjana, kan? Cepat cari pekerjaan yang gajinya besar! Kami sudah menunggu lama untuk menikmati hasil jerih payah kami membesarkanmu," ujar Bibi Rina tanpa basa-basi, suaranya terdengar penuh harapan serakah.

Naura menghela napas panjang, berusaha menenangkan hatinya. "Iya, Bibi. Saya sudah mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan. Semoga segera ada panggilan," jawabnya sopan.

Tak butuh waktu lama, berkat nilai akademis yang gemilang dan surat rekomendasi dari dosen, Naura diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta terkemuka di pusat kota. Perusahaan itu bergerak di bidang manajemen keuangan dan investasi, tempat di mana Naura bisa mengembangkan ilmunya. Hari pertama masuk kerja, ia merasa sangat bahagia. Ia mengenakan pakaian kerja sederhana namun rapi, berjalan dengan semangat menuju gedung bertingkat yang megah itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik pintu kaca yang mengkilap itu, menantinya tantangan yang tidak kalah beratnya dengan perjuangan hidupnya selama ini.

Di kantor, Naura langsung menonjol karena kecerdasan, ketelitian, dan kecepatannya dalam bekerja. Tugas-tugas yang dianggap rumit oleh karyawan lain bisa diselesaikannya dengan rapi dan tepat waktu. Dalam waktu singkat, ia dipercaya menangani bagian dari proyek-proyek besar perusahaan. Namun, keunggulannya itu justru menimbulkan rasa iri di hati atasannya, Bu Dina. Wanita paruh baya itu telah bekerja di sana selama bertahun-tahun dan merasa posisinya terancam oleh kehadiran Naura yang cerdas dan berpotensi cepat naik jabatan.

"Naura, laporan ini harus selesai besok pagi. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun!" perintah Bu Dina dengan nada dingin, seringkali memberikan tugas yang menumpuk dan mustahil diselesaikan dalam waktu singkat.

Naura selalu berusaha semaksimal mungkin. Ia sering lembur hingga malam hari, melewatkan waktu istirahat, demi memastikan semua pekerjaan selesai dengan baik. Namun, meski ia bekerja keras, pujian tidak pernah datang. Sebaliknya, setiap kali ada kesalahan kecil yang terjadi—bahkan yang bukan disebabkan olehnya—Bu Dina selalu melemparkan tuduhan kepada Naura.

"Lihat ini! Data ini salah! Kamu ceroboh sekali! Kalau proyek ini gagal, kamu yang bertanggung jawab!" bentak Bu Dina suatu hari, sambil membanting berkas di meja. Padahal Naura tahu persis bahwa data itu telah diubah oleh Bu Dina sendiri sebelumnya karena ada perubahan kebijakan mendadak.

Di sisi lain, tekanan dari rumah tidak kalah beratnya. Setiap kali menerima gaji di akhir bulan, Naura baru bisa memegang amplop itu sebentar sebelum direbut paksa oleh Bibi Rina.

"Berikan semuanya! Kami butuh uang untuk membayar cicilan motor baru dan membeli perhiasan. Kamu tidak butuh banyak uang, kan? Makan dan tempat tinggal sudah kami sediakan," kata Bibi Rina sambil menghitung uang dengan mata berbinar.

"Tapi Bibi, saya butuh uang untuk ongkos jalan dan makan siang di kantor. Ini sudah hampir habis," tolak Naura pelan.

"Alasan saja! Kamu bisa bawa bekal dari rumah. Jangan boros seperti anak muda zaman sekarang! Ingat janjimu untuk membalas budi kami!" ancam Paman Surya yang ikut campur, membuat Naura tidak berdaya. Ia hanya bisa mengambil uang receh yang tersisa dan menelan kepahitan itu sendirian.

Meskipun hidupnya penuh tekanan, Naura tetap berusaha bersikap baik kepada semua orang. Ia membantu rekan kerja yang kesulitan, tidak pernah membalas perkataan kasar Bu Dina, dan selalu berdoa agar suatu hari nasibnya berubah. Namun, badai yang lebih besar sedang menuju ke arahnya.

Suatu hari, perusahaan mendapatkan proyek besar yang nilainya sangat tinggi. Keberhasilan proyek itu akan menaikkan nama baik perusahaan secara signifikan. Naura dilibatkan dalam tim inti karena kemampuannya. Ia bekerja siang malam, memeriksa data satu per satu, memastikan semuanya akurat. Laporan akhir sudah disusunnya dengan rapi dan diserahkan kepada Bu Dina untuk diperiksa sebelum diserahkan kepada direktur utama.

Namun, ambisi Bu Dina buta oleh rasa takut tersaingi. Ia sengaja mengubah beberapa angka penting di dalam laporan itu, berharap kesalahan itu akan membuat Naura dipermalukan dan dipecat.

Keesokan harinya, saat laporan itu dibacakan dalam rapat penting, terjadilah kekacauan. Angka-angka yang disajikan tidak masuk akal dan merugikan rencana perusahaan. Direktur utama menjadi sangat marah.

"Siapa yang menyusun laporan ini? Ini pekerjaan yang sangat ceroboh!" bentak direktur.

Bu Dina langsung menunjuk ke arah Naura dengan wajah pura-pura kecewa. "Maaf, Pak. Ini disusun oleh Naura. Saya sudah mengingatkannya untuk teliti, tapi sepertinya dia kurang berpengalaman. Saya tidak menduga dia akan membuat kesalahan sebesar ini."

Naura terkejut dan memucat. "Tidak, Pak! Saya sudah memeriksa berkali-kali. Data aslinya benar, pasti ada yang diubah!" bantahnya dengan suara bergetar.

"Berani kamu menuduh orang lain? Ini sudah bukti tertulis! Kamu tidak bisa bekerja di sini lagi! Segera bereskan barang-barangmu dan keluar dari gedung ini!" perintah direktur dengan tegas. Karena tidak ada saksi dan bukti yang bisa mendukungnya, Naura tidak mampu membela diri. Semua orang memandangnya dengan pandangan merendahkan.

Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Naura berjalan keluar dari ruangan itu. Ia membereskan barang-barang pribadinya yang hanya sedikit, lalu berjalan keluar dari gedung perkantoran yang megah itu. Hujan gerimis mulai turun membasahi jalan raya, seolah turut merasakan kesedihannya.

Air matanya jatuh bercampur dengan air hujan. Ia merasa dunianya runtuh. Tidak punya pekerjaan, pasti dimarahi habis-habisan oleh Paman dan Bibi, dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dalam kepedihan yang mendalam, ia berjalan tanpa arah, menyeberang jalan raya yang ramai tanpa memperhatikan lalu lintas. Pikiran dan matanya hanya tertuju ke tanah, tidak sadar bahwa sebuah mobil sedan hitam mewah sedang melaju kencang mendekatinya.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!