NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Ku

Pemilik Hati Ku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Tamat
Popularitas:174.3k
Nilai: 5
Nama Author: shalsyalala

Follow Ige author : Shalsyala


"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.

"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama

Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.

Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?



Yuuuk merapat langsung baca yaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08

Semuanya bergerak dan mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan. Kebahagian dua anak manusia yang tengah merajut cinta terlihat semakin berbunga dipenuhi romansa bahagia. Juga dengan kesedihan yang semakin menghujam tepat di dalam hati satu insan yang terus menatap pedih kebahagiaan orang lain.

Alur cerita hidup itulah yang kini harus dijalani bagi Angga, Alya juga Livia. Tepat satu bulan sudah Livia menjalani hari harinya dengan hati nelangsa kala menyaksikan bagaimana Angga dan Alya menjalani kisah cintanya. Bukan tidak lagi mendapat perhatian dari Angga, laki laki itu tidak merubah sikapnya yang selalu perhatian juga selalu ada untuk Livi meski Alya lah yang kini menjadi kekasih Angga.

Namun tetap saja, hati Livi berdenyut perih saat melihat perhatian Angga tercurah pada Alya.

Sakit yang teramat sangat, namun tidak berdarah. Itulah kata kiasan bagi seorang Livia. Ia memantapkan hatinya berusaha merelakan Angga dengan gadis yang telah dipilih Angga. Karena baginya, wujud cintanya yang besar adalah mampu merelakan orang yang ia cintai harus berbahagia dengan orang lain. Kesakitan yang tak dapat ia tahan lagi itu membuatnya mengambil satu keputusan.

"Selamat pagi!" Livi menyapa Alya yang sudah lebih dulu berada dalam kelas."

"Hai Liv. Pagi!" Balas Alya dengan senyum manisnya.

"Duuh yang sibuk sama hape mulu." Goda Livi saat melihat sahabatnya sangat fokus pada ponselnya.

Pipi Alya bersemu, ia lantas segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menatap Livi dengan senyum malu malu.

Bibir Livia mengulas senyum penuh ironi. "Kak Angga posesif banget ya sama kamu Al?" Pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan. Karena hal itu akan semakin menyakiti dirinya sendiri. Tapi entah kenapa Livi malah memilih menanyakannya.

Alya tersenyum menggeleng. "Dia gak posesif Liv. Dia penyabar banget. Sangat sangat pengertian juga." Imbuhnya disusul kekehan kecil dari bibirnya.

"Kamu bahagia Al dengan kak Angga?" tanya Livi. Sorot matanya menanti jawaban yang sebenarnya ia sudah tau, namun hal itu akan digunakannya untuk mengambil keputusan.

Alya menatap lekat mata Livi, senyum terulas dibibirnya bersamaan anggukan malu malu. "Dia cinta pertama ku setelah ayah ku, Liv." Ucap Alya

Air mata dengan cepat menyeruak ke dalam bola mata gadis berparas bule itu. Dengan sekuat tenaga ia menahannya agar tak sampai jatuh.

Jika dia cinta pertama mu setelah ayahmu, tapi tidak bagiku, dia adalah cinta pertama ku, sangat pertama dibanding papi ku sendiri.

"Kenapa Liv? Kok ngelamun?" tanya Alya.

"Eeh siapa yang ngelamun?" Sangkal Livi.

Gadis berambut pirang kecoklatan itu mengedarkan pandangannya kesekitar. "Eeh Dev!" Panggil Livi pada salah satu teman sekelasnya.

"Kenapa Liv?" tanya Devi saat dirinya mendekat ke arah Livi.

Livi mengeluarkan benda pipih canggih miliknya dan mengulurkan pada gadis berkaca mata itu. "Minta tolong fotoin kita berdua donk. Yang bagus yaa?" Permintaan pertama kali seorang Livia pada teman sekelasnya.

"Tumben?" tanya Alya.

Livi segera tersenyum lalu memeluk Alya dari samping yang sedikit membuat Alya canggung. Namun tak urung Alya mulai mengurai senyum dengan balik mengeratkan pelukannya pada Livia saat gadis berkaca mata didepannya itu mulai membidik gambar dirinya.

"Makasih yaa." Ucap Livi pada Devi.

"Setelah ini kamu harus benar benar bahagia dan terus bahagia ya Al." Ucap Livi sambil dirinya sibuk mengamati hasil foto foto dirinya.

Alya mengernyitkan keningnya tak paham dengan ucapan Livi yang tak biasanya. "Kok tiba tiba bilang gitu?"

"Kenapa? Bener kan? Ngapain harus bersedih kalau kita bisa bahagia. Aku...kamu... harus tetap dan selalu berbahagia." Balas Livi dengan senyum penuh ironi.

...******...

Gadis berparas manis dengan rambut hitam terkuncir ekor kuda itu, nampak berlarian kecil sambil menghindari rintik hujan yang sejak sore tadi terus turun. Ia segera membuka gerbang halaman rumah sederhana miliknya, ketika melihat seorang supir yang ia kenali itu berdiri di samping mobil sedan mewah.

"Pak Cipto." Sapa Alya.

Laki laki bernama Cipto itu tersenyum mengangguk.

"Ada apa pak?" tanya Alya.

"Saya hanya sedang ditugaskan oleh non Livia untuk mengantarkan sesuatu untuk mbak Alya." Laki laki paruh baya itu memberikan sebuah kotak persegi panjang yang terbungkus dengan kertas kado berwarna pink bermotif toko kartun tikus.

Alya nampak bingung. Baru siang tadi ia berpisah dengan Livi saat pulang sekolah. Kenapa sekarang malah menyuruh supirnya menyerahkan kado? Ia berpikir dirinya juga tidak sedang berulang tahun.

Alya mengambil kotak ditangan pak Cipto dan segera kembali memasuki rumah sesaat setelah pak Cipto pamit undur diri.

Alya mengambil sepucuk surat yang ada didalamnya.

Alya sahabat ku

Terima kasih karena telah mau menjadi sahabat pertama ku yang begitu tulus.

Teruslah bahagia dalam hidupmu, Aku akan selalu mendoakan mu.

Maaf kan aku harus pergi tanpa berpamitan secara langsung padamu.

LIVIA

Sepucuk surat dengan beberapa kata yang ambigu hingga sulit dipahami oleh Alya. Ia lekas menghubungi ponsel Livia, namun nomor telfon gadis bule itu sudah tidak aktif.

"Livi apa yang terjadi sebenarnya?" Gumamnya pelan.

Mata Alya yang semula menerawang kini beralih menatap isi dari kotak hadiah dipangkuannya. Foto dirinya dan Livi yang terambil beberapa jam yang lalu kini terbingkai indah di sebuah pigura berwarna putih.

"Alya, ada nak Angga datang."

Suara dari ibunya mengalihkan perhatian Alya. Ia lekas keluar kamar menghampiri Angga yang sudah terduduk manis di teras rumahnya.

"Kok gak bilang kalau mau kesini?" tanya Alya.

Angga tersenyum. "Kebetulan lewat tadi. Sekalian mampir." Balas Angga.

Alya mencebikkan bibirnya. "Diih..bilang aja sengaja!" Tuduhnya. Bibir Alya mengurai senyum saat Angga mengusap kepalanya. Sesaat keduanya saling menatap. Tatapan penuh cinta tentunya.

"Oh iya kak! Livi pergi kemana?"

Angga nampak mengerut kan keningnya. "Maksud kamu?"

"Tunggu sebentar!" Alya masuk kedalam kamarnya mengambil sepucuk surat dari Livia.

"Dia memberi ku surat itu. Nomor telfonnya juga tidak aktif. Aku gak paham maksudnya gimana?"

Wajah Angga yang semula tenang kini mulai mengeras. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Livia. Dan sama, nomor gadis cantik itu memang sudah tidak aktif.

"Kapan dia memberikan ini padamu?" tanya Angga yang terlihat panik.

"Tadi supirnya yang ngasih. Baru 15 menit yang lalu kak. Kenapa?"

Angga memberikan sepucuk surat itu kembali lalu segera berdiri dari duduknya. "Maafkan aku Liya, aku harus pergi dulu!"

...*****...

Dengan kecepatan penuh, ia memacu motor kesayangannya menuju bandara internasional di kotanya. Kalimat dari Bi Yani, asisten rumah tangga Livi membuatnya segera melajukan motornya ke arah bandara internasional di kota itu.

"Non Livi ingin tinggal dengan Mami Papinya den. Satu jam yang lalu non Livi berangkat ke bandara."

Angga berlari menuju dalam bandara setelah turun dari motornya. Ia menajamkan pandangannya pada setiap orang yang berlalu lalang di dalam bandara.

Langkahnya ia percepat kala melihat siluet tubuh tinggi yang memiliki rambut pirang kecoklatan di depan pintu kebarangkatan.

"Livi!" Angga mencekal lengan gadis itu hingga tubuh gadis itu seketika berbalik ke arahnya.

Keterkejutan mendera Livia. Gadis bermata kebiruan itu menatap lekat wajah Angga yang terlihat dengan nafas memburu.

"Kak Angga?" Gumamnya pelan.

"Kamu mau kemana?" tanya Angga. Tak mendapat jawaban dari Livi, laki laki itu menarik tangan Livi dan membawanya menepi dari laku lalang pengunjung bandara yang lain. Angga mendudukkan gadis itu di kursi tunggu.

"Kamu mau kemana?" tanya Angga lagi.

Livi menundukkan kepala. "Aku mau tinggal sama Mami sama Papi kak." Ucapnya lirih, berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.

Inilah alasan kenapa ia memilih untuk tak memberi tahu Angga perihal kepergiannya. Ia tak ingin menangis lagi.

"Kenapa secepat ini?"

"Kamu sendiri kan yang sering menyuruhku untuk tinggal dengan mereka."

Angga menghembuskan nafas berat. Lalu beralih memegang dagu Livi. Memaksa gadis itu untuk menatap wajahnya. "Kenapa tidak memberi tahu ku sebelumnya?"

"Ini, kamu juga tahu." Cetus Livi.

"Liviaa..." Angga menghela nafas berat lagi.

Livi segera menepis tangan Angga. "Aku harus pergi kak." Ucapnya lalu segera berdiri dari duduknya.

Angga pun turut berdiri. Selangkah kaki Livi beranjak, di detik itu juga Angga kembali menarik tangan Livi dan membawa tubuh sabahat sejak masa kecilnya itu masuk kedalam pelukannya. Ia mengeratkan pelukan pada Livi yang sama sekali tak membalas.

"Pastikan kamu bahagia disana Liv." Angga mengecup pucuk kepala Livi berulang kali.

"Aku akan sangat merindukanmu." Ucapnya kemudian.

Semua perlakuan dan ucapan Angga hanya mampu terwakilkan oleh lelehan bening yang semakin deras mengalir di pipi seorang Livia.

Ia menarik diri dari pelukan Angga setelah menghapus air matanya. Menatap Angga dengan sorot mata terluka.

"Aku pergi kak!" Ucap Livi lalu perlahan membalikkan badan dan mulai berjalan menjauh.

Angga menatap nanar kepergian Livia. Entah kenapa seperti ada tangan tak kasat mata yang sudah merogoh ke dalam hatinya hingga kini, saat melihat kepergian Livi ia merasa begitu kehilangan. Kebersamaan yang terjalin sejak kecil dengan dara cantik itu memang memupuk rasa sayangnya teramat besar pada sosok Livia. Rasa sayang yang tidak pernah ia tutup tutupi, rasa sayang yang mengalir begitu saja seperti seorang kakak pada seorang adik perempuannya.

Kesedihan juga tengah mengepung hati Livi yang kini sudah duduk di dalam pesawat. Jemarinya sibuk mengusap air matanya yang terus mengalir.

Tak akan ada lagi bahu tempatnya bersandar.

Tak akan ada lagi pelukan menenangkan saat dirinya bersedih.

Selamat tinggal cinta pertama ku. Anggara Wisnu Hutama.

Siapa yang tahu dengan cara kerja waktu, kata kata perpisahan beberapa tahun lalu yang begitu menyakitkan, nyatanya kini berbalik arah menjadi kata menyatu. Menyatukan dua insan yang sempat terpisah bertahun tahun, karena tak mampu membawa perasaan hati masing masing.

Menyatukan kembali dalam sebuah ikatan pernikahan. Pernikahan yang terlaksana demi menyelamatkan sebuah kehormatan.

"Livi!'

Suara berat dari laki laki yang memakai setelan jas hitam itu membuat wanita cantik berkuncir ekor kuda itu menoleh ke arah pintu.

"Kak Angga, kamu sudah pulang?" tanya Livia. Wanita itu beranjak dari duduknya hendak menghampiri suaminya namun tertahan karena laki laki itu lebih dulu mendekat kearahnya.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Angga.

Livia menggeleng. "Aku hanya teringat kenangan masa lalu ku." Ucapnya disusul senyum penuh ironi berkedut dibibirnya.

"Kenangan yang mana? Aku harap kamu tidak lagi mengenang masa lalu ku bersamamu." Ucap Angga penuh rasa bersalah.

"Kenapa?"

"Karena pasti aku telah banyak menyakitimu di masa lalu tanpa ku tahu." Jawab Angga penuh rasa bersalah.

Senyum getir menghiasi bibir Livi. Ia tidak menyangkal kalimat pernyataan dari Angga, karena kenyataan memang seperti itu.

"Kamu ngomong apa sih kak? Kamu mandi dulu gih! Aku akan menyiapkan baju ganti untukmu." Perintah Livi dan hendak beranjak dari kamar suaminya namun segera di tahan oleh Angga.

Laki laki itu mendudukkan wanita yang sudah empat bulan menyandang gelar sebagai istrinya itu ditepi ranjang. Ia berlutut di depan Livi yang nampak gugup. Kemudian menautkan jemarinya dengan jemari istrinya yang mulai terasa dingin. "Aku sudah sering bilang, jangan melakukan hal apapun yang belum pernah kamu lakukan selama ini." Ucap Angga dengan penuh kelembutan.

Larangan yang diberikan Angga bukan tidak beralasan, karena ia tahu, yang ia nikahi adalah seorang wanita bak putri raja. Bukan seorang wanita biasa yang dapat melakukan hal hal kecil yang terlihat biasa di mata orang lain. Ia menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan juga fasilitas yang diberikan pada orang tua Livi pada seorang Livia. Bahkan hanya untuk mengikat tali sepatu pun ada seseorang yang ditugaskan untuk melayani wanita itu.

"Aku hanya senang melakukannya. Aku sedang melakukan peranku sebagai istri." Ucap Livia.

Angga menganggukkan kepala sesaat terdiam. Kemudian tersenyum sambil menatap lembut bola mata indah milik istrinya.

"Kalau kamu sedang melakukan peran mu sebagai istri, lalu kapan kamu akan memberi ku kesempatan untuk menjalankan peranku sebagai suami mu?"

Pertanyaan dari Angga, tanpa sadar membuat Livi meremas jemari Angga yang bertautan dengan jemarinya. "Jawabannya hanya kamu sendiri yang bisa menjawab kak." Jawab Livi disusul seulas senyum terbingkai indah dibibir sexy nya.

Livi menarik jemarinya lalu melangkah keluar kamar Angga. "Livi!"

Panggilan Angga membuat Livi berhenti diambang pintu.

"Aku akan berusaha dan kamu juga harus membantuku." Ucap Angga yang terlihat putus asa. Laki laki itu masih terlalu rumit untuk mengerti isi hatinya sendiri.

Livi membalikkan badan seraya menatap Angga. "Jangan terlalu berusaha kak, karena mencintai seseorang tidak sesulit yang kamu bayangkan."

"Lalu kamu berniat membawa pernikahan ini bagaimana jika kamu terus membatasi dirimu pada ku?"

Senyum penuh ironi tersungging di bibir Livi. Hatinya kembali berdenyut kala topik dasar pernikahannya harus terangkat kembali. "Pernikahan ini akan aku jalani hingga saatnya aku menemukan sebuah pilihan." Ucapnya lalu beranjak masuk kedalam kamar tepat disebrang kamar Angga.

Sedang Angga, laki laki itu mendudukkan diri ditepi ranjangnya. Memijit pangkal hidungnya. Ia tak m nyalakan atas sikap Livi yang selalu menghindar dan tak mau lagi membuka diri seperti dulu semenjak berstatus sebagai istrinya. Bukan tanpa alasan, wanita itu hanya tidak ingin terluka untuk kedua kalinya, mengharapkan cinta dan hati laki laki yang sama sekali tidak mencintainya.

Dan kali ini Angga begitu frustasi. Menyalahkan diri sendiri, kenapa rasa cintanya untuk satu gadis dimasa lalunya masih belum bisa tergeser oleh wanita yang sudah menjadi istrinya sendiri. Dan lebih tidak masuk akal lagi, cinta yang begitu besar itu sudah menjadi milik orang lain yang tidak mungkin ia dapatkan kembali.

"Livia, maafkan aku!"

...******...

1
senja indah
torrr...apa g ada pgn bikin cerita ank kembar mereka hhh
senja indah: penasaran kisah mereka...LunaYumi
total 3 replies
Kaira Caem
aku yg gc nyambung apa cerita nya yaaa,,,kok tiba2 uda nikah aja gimana sih
AZura Hasan
👍👍👍👍👍
AZura Hasan
makin seru aj
AZura Hasan
perasaan gk bisa di paksakan
Regita Regita
kita tidak bisa menghujat atau menyalahkan Angga,karena kita ridak bisa memaksa atau mengatur perasaan oranglain.Angga yang sudah sangat lama berada dalam zona persahabatan dan menganggap Livi sebagai adiknya yang selalu ingin Angga lindungi,mesti merubah perasaannya menjadi cinta kepada Livi sementara Angga sangat mencintai Alya walaupun Angga juga sadar kalau sudah tidak mungkin untuk memiliki Alya.Angga ada pada titik bingung memastikan perasaannya pada Livi. seperti apa yang Akbar bilang pada Alya,seandainya Akbar jadi menikah dengan Livi,mungkin keaadaannya akan sama seperti Angga,Angga akan tetap mencintai Alya walaupun sudah menikah dengan Livi. ya...akhirnya kembali bahwa kita tidak bisa mengatur atau memaksa perasaan orang lain untuk memilih.kita kembalikan kepada Allah yang Maha membolak balikan hati manusia. karena ini dunia halu,kita kembalikan pada AUTHOR yang mengatur segalanya.semangat Author...ceritamu The Best.tetap semangat,semoga makin banyak yang baca.bunga dan kopi meluncur....💖💖💖
Shalsyalala: Huuu terharuuu kalau ada pembaca kayak kakak giniiii❤️❤️
total 1 replies
Regita Regita
sepertinya Vero,Nisya dan Dipta berkomplot untuk mengahancurkan rumahtangga Angga dan Livi...
Regita Regita
ceritanya bagus,tapi yang baca masih sedikit padahal udah lama ya? apa belum banyak yang menemukan judulnya,sama kaya aku yang baru menemukan dan langsung mampir.semangat kak...semoga makin banyak yang baca.
senja indah
ini cerita super keren tpi kok like y g ada ratusan....oh no...tetap semangat berkarya otor soleha
senja indah: aku.baca udah 2 kli torr...superrr keren...tpi sedih bgt...knpa readers y dikit bgt yaaa
total 2 replies
ani suchaeni
bagussss, alur ceritanya
Shalsyalala: makasih kak udah mau baca😍😍
total 1 replies
Fransiska Siba
makan itu kebodohan mu Livia, coba kau tidak memberi cela Vero dlu maka tidak akan sepeti itu
Fransiska Siba
itulah Alya ga peka perasaan org lain, pengen dia yg dimengerti terus
Shalsyalala: Jangan lupa baca kisah Alya juga ya kak 😘
total 1 replies
Fransiska Siba
untung Livia tidak salah dalam pergaulan di luar negeri ya krn tidak mendapat sandaran hidup. ini yg aku suka dari Livia dia bisa membatasi diri dalam bergaul dan dia mempunyai cita2 sederhana yaitu menjadi ibu yg baik dan istri yg baik, dia tidak mau mengulangi kesalahan org tuanya dikemudian hari, dia tidak mau menjadi seperti org tuanya, dia tidak mau anak2 nya merasakan apa yg dirasakan olehnya dlu.
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
Fransiska Siba
tp jujur aku lebih suka Livia dibandingkan dengan Alya, Alya banyak teman tp kesan murahan dan kurang peka perasaan org sekitarnya.
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
Mega Chai
ortua yg keras n memaksa anak untuk jadi no 1 seperti ortua livia adalah ortua yg akan membuat anak nya frustasi, didunia nyata utk org2 yg sudah jadi ortua,semoga kita semua tidak menjadi ortua seperti ortua livia,mw prestasi anak seperti apa pun kita harus ttp memberikan anak semangat utk menjadi lbh baik lagi bukan malah memaksa anak,krn sebagai anak pun mereka sudah berusaha utk mendapatkan prestasi yg terbaik,kita pun pernah diposisi anak kita dulu sebagai pelajar,
Shalsyalala: hai kakak salam kenal. Makasih ya sudah mau baca karyaku🤗
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Shalsyalala: makasih dukungannya kak
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!