Sedari kecil hanya di urus oleh neneknya membuat Elsa sangat mencintai neneknya, hingga dia rela melakukan apa saja demi kebahagiaan neneknya. Hingga dia tidak berani menolak untuk menikah dengan pilihan neneknya.
Namun setelah menikah dia baru tahu, kalau Fattah menikahinya hanya karena malas berantem dengan kakanya Indra. Indra memaksa Fattah menikahi Elsa karena mengira Elsa kekasih Fattah. padahal Elsa dan Fattah tidak kenal satu sama lainnya.
Bagaimana nasib Elsa?
******
ini pengalaman Author nulis ya..
mohon bimbingan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 8 Lamaran
Beberapa minggu berlalu,
kedua belah pihak keluarga setuju mengadakan lamaran secara resmi Wijaya dan Indra berpelukan, karena yang mereka pikirkan selama ini lepas dan mendapat solusinya bersama.
Wijaya langsung pulang ke rumahnya setelah jam kerja ber akhir. Segera dia mencari mertuanya
"Mak ... keluarga Indra sepakat 1 satu minggu lagi dari sekarang mereka akan melamar Elsa secara resmi," seru Wijaya.
Marni semakin bahagia.
"Untuk pernikahan ... nanti dirundingkan saat cara lamaran nanti," kata Wijaya.
"Alhamdulillah ... cucuku akan menikah ..." lirih Marni, dia langsung memeluk Elsa.
"Gimana rumah ini jika tidak ada kamu? Kalau kamu nikah ... pasti Fattah akan membawamu dari sini," rintih Maya, dia juga ikut memeluk Elsa.
Marni juga merasakan ketakutan yang sama. Namun Jika Elsa menikah itu jauh lebih menenangkan hatinya.
Elsa hanya tersenyum. Sejak perkenalannya dengan Fattah Elsa jauh berubah. Dia lebih memilih diam. Dia takut bicara, karena salah bicara hanya membuat nenek nya sedih. Sedang Elsa tidak rela neneknya sedih karena dirinya
Selain itu juga banyak yang dia pikirkan, bagaimana bersikap kepada suami, bagaimana ber adaptasi dengan lingkungan dan keluarga suaminya nanti. Elsa menghabiskan waktunya mengerjakan semua tugas rumah dan menonton televisi.
Waktu terus berjalan. Tidak terasa acara lamaran dan pertunangan akan segera dilaksanakan. Di halaman rumah sudah berdiri dua buah tenda untuk undangan sekitar rumah bibi dan untuk keluarga besar Fattah nanti. Rumah wijaya tidak akan muat menampung tamu, karena tidak terlalu besar. Sebab itulah Wijaya menyewa tenda.
Wijaya dan Maya jua menyewa dekor buat lamaran, dekorasi dipasang di teras rumah, agar tidak perlu bersesakan berebut untuk melihat acara pasang cincing nanti.
Dekor minimalis pun sudah terpasang, tenda sudah siap, Maya juga begitu sibuk menyiapkan segala konsumsi dan banyak hal lainnya, walau sebagian besar mereka memesan di salah satu catering yang biasa orang-orang pesan jika melakukan hajatan.
Acara lamaran hanya dihadiri keluarga besar kedua belah pihak keluarga juga sedikit seputaran jiran rumah Maya dan Wijaya.
Acara lamaran itu kini sampai pada waktunya. Orang-orang mulai mengusi tenda yang berdiri di halaman wijaya untuk menyaksikan prosesi lamaran sekaligus pertunangan Elsa dan Fattah.
Semua tetaangga Wijaya dengan sigap membantu segala hal yang berkaitan langsung untuk kelancaran acara hari ini. Sedang di dalam rumah Wijaya, Elsa tengah dirias oleh penata rias yang di sewa oleh Maya. Kini Elsa mengenakan balutan kebaya panjang dengan make up yang sangat sesuai dengan usianya saat ini.
Seketika air mata Marni menetes melihat cucunya dalam balutan kebaya itu. Dia tidak menyangka sempat melihat cucu yang selama ini dia jaga akan menikah.
"Nek ... jangan buat Elsa nangis," rengek Elsa.
"Elsa juga ikutan nagis lho kalau nenek nangis gini ..." rengek Elsa lagi.
Marni berusaha memasang senyum di wajah nya.
"Nenek merasa sangat bahagia, makanya air mata nenek juga ikut menari," jawab Marni.
***
Di luar semua keluarga besar Fattah datang dan sudah menempati tempat yang sudah di sediakan.
Acara pun segera dimulai.
Dengan di buka kata kata penyambut dari Wijaya dan disambung oleh kata kata penyampaian maksud lamaran oleh Indra, kakak Fattah.
Segala proses demi proses acara berjalan khidmat. Hingga sampai proses penyematan cincin. Dua cincin putih dibawa oleh istri Indra. Cincin perempuan dari emas putih yang diberikan istri indra pada mertua nya, karena nanti mertuanya yang akan menyematkan cincin itu ke jari Elsa.
Dan menyerahkan cincin perak untuk laki-laki ke pada Marni nenek Elsa, yang nantinya Marni juga akan sematkan cincin itu ke jari Fattah.
Elsa keluar di apit bibinya menuju tempat duduk yang telah di siap kan untuk nya. Semua mata memandanginya, Elsa terus menunduk karena lebih nyaman menunduk baginya saat ini.
Maya mendudukkan Elsa, di tempat itu sudah ada Fattah, Wahda dan Marni. Sekilas Elsa memandang Fattah sebentar, Fattah terlihat rapi menggunakan jas yang senada dengan baju yang dia kenakan.
Elsa melempar senyum pada ibu fattah, ibu fattah juga tersenyum sambil mengelus pipinya. Sampai lah kini pada acara yang ditunggu-tunggu. Yaitu Acara tukar cincin. Setelah Wahda menyematkan cincin di jari Elsa, kini Marni yang menyematkan cincin ke jari Fattah. Proses tukar cincin selesai.
Kini tokoh agama yang mengusi acara tersebut memimpin do'a, sebagai penutup acara hari ini. Setelah selesai menikmati kunsumsi yang disediakan, para undangan mulai meninggalakan tempat acara.
Keluarga Fattah juga akan meninggalkan rumah Wijaya. Setelah selelsai berunding menentukan hari pernikahan.
"Kami pulang bu Marni ... bu Maya ... nak Elsa ... Ibu harap kamu nanti berkunjung kerumah ibu nanti," pinta Wahda ibu Fattah.
"Iya bu ... Elsa siap kapan saja," jawab Elsa.
Fattah dan keluarganya juga sudah pergi. Kini hanya aktivitas para pekerja penyewaan tenda yang ramai membongkar tenda.
____________
Hari terus Berlalu.
Pagi ini Fattah datang menjemput Elsa untuk silaturrahmi ke rumah ibunya. Elsa juga sudah siap dengan memakai salah satu baju yang dibelikan fattah waktu perkenalan dulu. Setelah berpamitan dengan semua orang yang ada di rumah Wijaya, Elsa dan Fattah langsung berangkat.
Didalam perjalanan Elsa dan Fattah hanya saling diam, Elsa sangat gugup memikirkan harus apa dia nanti dan apa yang akan dia lakukan di rumah mertuanya nanti.
Setelah lama memecah jalan dengan kesunyian, kini mereka sampai di kediaman ibu Fattah. Di rumah Wahda sudah berumpul anak-anak dan menantunya. Elsa semakin gugup karena tidak mengenal satupun. semua orang yang berada didepan matanya. Dia langsung salim pada ibu Fattah. Langkahnya terhenti karena Wahda menggengam tangannya.
"Nak Elsa ... kamu tidak perlu takut santai saja, semua ini kakak kakakmu juga ..." lirih Wahda.
"Emang kenapa bu ..." tanya Indra.
"Tangannya sedingin Es," jawab Wahda.
"Dia bukan takut sama kita bu ... jangan jangan Fattah mau curi start duluan bu ..." seru Faisal.
"iya ... kamu apain Fattah anak orang di dalam mobil sampe gugup gitu," seru Rahman
"Akh ... Fattah ... udah nggak sabar ya ...?" Goda Indra
"Bukkk!!!" Fattah menggebuk halus bahu Indra yang sangat suka menggoda nya.
melihat adik kaka yang saling asyik bercanda malah semakin membuat Elsa malu dan canggung. Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Pembicaraan ringan santai pun mengisi siang itu.
Terlihat Elsa dan Nazwa sangat akrab bercanda dan bermain. Memang Nazwa anak yang mudah akrab dengan siapa saja. Tidak sulit bagi Elsa untuk akrab dengan calon anak tirinya itu. Sepanjang siang Elsa berada di rumah Fattah berkumpul dengan keluarga calon suaminya itu.
Semua orang mengantar Elsa dan Fattah sampai teras rumah, karena saatnya Elsa kembali.
"Fattah ... inget ... antar kerumah!!! jangan mampir ke hotel," goda Rahman.
"Sa perlu pisau? yah ... kali aja Fattah maksa," lirih Faisal
Elsa semakin gugup dengan candaan kakak-kakak Fattah itu. Saking gugupnya dia hampir lupa bersalaman dengan calon mertua nya.
"Hei ... ngga salim sama ibu?" Tanya Fattah.
Elsa berbalik dan bersalaman kepada semua orang yang berada di teras rumah itu.
"Kalian ... kasian Elsa karena canda'an kalian," lirih Wahda
Mereka semua tertawa mengingat bagaimana raut Wajah Elsa.
Selama perjalanan kembali ke rumah Maya keduanya tetap saling diam, Fattah fokus menyetir sedang Elsa menatap jalanan lewat kaca mobil yang disampingnya. Setelah sampai di rumah Marni Fattah dan Elsa berjalan ber iringan masuk ke rumah itu.
"Bi ... saya pamit dulu," lirih Fattah.
"Lah Elsa ngga salaman sama calon suami?" Tanya Maya.
Elsa dan Fattah saling pandang, namun Elsa malah langsung masuk kedalam rumah dan masuk berjalan menunu kamarnya, sedang Fattah setelah berpamitan dengan semua orang dia segera menuju mobilnya.
Wijaya, Marni dan Maya tersenyum melihat Fattah dan Elsa seperti itu.
hmmm.... entahlah 🙃🙃🙃
Dasar Elsa Masih Bocil,