NovelToon NovelToon
Introvert Racer And Coldnest Mafia

Introvert Racer And Coldnest Mafia

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:865.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: D and D

Diajeng Anindita Oliver, seorang gadis yang lulus kuliah diumur yang masih muda. Putri dari seorang pembalap legendaris dan model terkenal, yang di dalam dirinya mengalir kental darah seorang pembalap.

Mengorbankan masa depan nya demi keselamatan sahabatnya Mutia. Menikah dengan seorang mafia yang terkenal kejam dan dingin, tapi tidak di hadapannya.

Memiliki kepribadian introvert cenderung membuatnya tertutup dengan perasaannya pada siapapun, termasuk orang terdekat nya.

Akan kah Ajeng lebih terbuka, setelah menikah dengan Griffin seorang coldnest mafia? atau semakin membuatnya menutup dirinya dari dunia luar? Dan akan kah Griffin juga menghangat setelah mengenal Ajeng?

Yuks simak ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D and D, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Mengikhlaskan

BHUK

BRAK

PRANG

"B***h !! Cari informasi satu orang saja kalian gak becus, arrrggghhh B**h, pergi sana ! cari sampai dapat, bawa kesini dalan keaadaan hidup atau mati." Diusap kasar wajah dan rambutnya, kemarahannya menghancurkan apa yang disentuhnya.

***

Satu minggu kemudian

Rumah Sakit

Ajeng tengah mempersiapkan keperluannya untuk pulang, dibantu oleh Mutia, yang sejak tadi pagi dipaksa untuk merayu dokter agar memperbolehkan sahabatnya pulang. Sebenarnya keadaan Ajeng sudah mulai membaik, tapi dokter masih menyarankan agar Ajeng tetap dirawat selama tiga hari lagi, mengingat fisik Ajeng yang masih lemah. Namun karna Ajeng sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang tuanya, ia memaksa Mutia, dengan mengancam akan merajuk dan tak mau lagi bersahabat dengannya. Jadi mau tidak mau, Mutia harus mengikuti kemauan sahabat tercinta nya.

Setelah melewati perdebatan yang panjang di pagi hari, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Ajeng.

1 jam kemudian

"Mut... kok ini banyak banget karangan bunga duka cita? Kenapa disetiap karangannya ada nama Daddy and Mommy? siapa yang meninggal? Mut... Mut... Mutia jelasin." Ajeng begitu syok dengan apa yang dilihatnya, bertanya dan mengguncangkan tubuh Mutia yang telah bergetar menahan tangisnya sejak tadi. Dengan air mata yang perlahan jatuh di pipinya, Ajeng terus meminta penjelasan dari Mutia, "Mutia jawab...kamu udah janji kan sama aku, hiks hiks hiks...," desaknya.

"Jeng, dengerkan aku, apapun yang kamu dengar dan kamu lihat nanti, please tetap kuat, ok, aku selalu ada untukmu, kita sahabat, kan? Bahkan kamu udah seperti saudara bagiku, jadi jangan pernah merasa sendiri yah." Mutia masih mencoba untuk menjelaskan, dipegangnya kedua bahu Ajeng, ditatapnya mata sahabatnya yang mulai menyipit. Dituntunnya Ajeng menuju ruang tamu, mendudukkan sahabatnya secara perlahan. Menarik nafas dalam-dalam sebelum ia melanjutkan apa yang akan disampaikannya.

"Ingat pesan aku Jeng

" Ajeng hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir, "Se-sebenarnya, di-di-hari ka-kamu sadar, om dan tante..." sejenak ia menarik nafas, "Om...dan ... dan tante su-sudah meninggal Jeng dalam kecelakaan itu." Akhirnya ia bisa menyampaikan apa yang harus ia sampaikan, dengan terbata-bata.

"Gak... gak mungkin Mut, mereka cuma mau liburan aja, bukan ... bukan... hiks ... hiks...." Tangis Ajeng semakin deras, apa yang ia takutkan terjadi. Mutia membawa Ajeng dalam pelukannya, membiarkan Ajeng meluapkan segala kesedihannya. Ia tau bagaimana perasaan Ajeng saat ini, kehilangan orang yang sangat dicintainya.

Ajeng masih tirisak di dalam pelukan Mutia. Tubuhnya gemetar karena tangis. Kecurigaannya selama di rumah sakit ternyata benar adanya. Walaupun ia sudah mengira berita apa yang akan ia dapatkan, Entah mengapa di saat hari yang ditunggu tiba, dirinya tidak bisa menahan untuk tidak menangis.

Semakin lemah suara tangisnya, sesenggukannya pun sudah tak terdengar. Ajeng pingsan dalam pelukannya. Mutia memanggil Bi Wati pembantu di rumah Ajeng, untuk membantu membawa Ajeng ke kamarnya.

"Bi, ada minyak angin?" Tangannya masih mengelus kepala Ajeng dengan lembut.

"Ada Non, sebentar bibi ambilkan." Bi Wati mengambil minyak di dalam laci, pinggir tempat tidur Ajeng, memberikannya kepada Mutia.

"Jeng .... bangun Jeng." Mutia masih mengoleskan minyak di hidung Ajeng, sambil terus mengusap lembut kepala Ajeng. Matanya menatap sendu melihat keadaan sahabatnya.

Perlahan matanya terbuka, beberapa kali ia mengerjapkan pandangannya, menatap sekeliling. Seketika itu air matanya kembali mengalir, tak ada suara tangis dibibirnya, hanya tatapan kosong yang terlihat di matanya.

"Mut, bilang kalau itu bohong..., aku gak mungkin bisa hidup tanpa Daddy and Mommy, aku ... aku terlalu lemah, aku tak sekuat yang mereka pikirkan, mereka salah telah meninggalkanku," lirihnya.

Mutia hanya diam, ia juga bingung harus merespon apa.

"Kenapa mereka pergi tanpa mengajakku, padahal mereka tau aku sangat mencintai mereka, salah apa aku? Dosa apa yang telah aku perbuat..., sehingga aku harus menerima hukuman ini. Tak bisakah aku yang menggantikan posisi mereka?" suara Ajeng semakin tak terdengar, Mutia mendekap Ajeng, memberikan belaian lembut di kepala sahabatnya.

"Ajeng, sudah, jangan menangis lagi, kasihan Daddy and Mommy kamu disana, mereka pasti sedih melihat putri kesayangannya seperti ini. kamu harus kuat, agar bisa menjalani hari-hari kamu kedepannya, apa kamu mau mengecewakan mereka di sana? gak, kan?" tutur Mutia yang hanya dibalas gelengan dari Ajeng. Dirasa keadaan Ajeng sudah mulai tenang, Mutia melepaskan pelukannya, sembari menatap mata yang menyipit itu.

"Sudah siap...? Kita akan bertemu dengan orang tuamu, kita akan mengunjungi mereka." Ajeng mencoba tersenyum disertai dengan anggukan lemah, menutupi kesedihan yang ia rasakan.

Mutia mulai menuntun Ajeng, mengajaknya ke pemakaman. Sebelum pergi ia menitipkan rumah kepada bi Wati sampai mereka kembali lagi nanti.

Tak ada suara yang terdengar, hanya suara mesin mobil yang mengiringi perjalanan mereka. Hingga mereka sampai di tempat tujuan.

Melewati jalan setapak, melihat sekeliling. Ajeng selalu menggelengkan kepala pelan. Antara percaya dan tidak percaya. Kini dunianya memang beda dengan kedua orang tuanya.

Beginikah tempat tinggal Daddy and Moomy sekarang?

Tak kuat rasanya ia memandang gundukan tanah dengan banyak taburan bunga yang masih segar di atasnya. Diraba nya kedua gundukan tanah itu, merasakan dinginnya tanah yang masih basah. Diletakkan buket bunga yang ia bawa, bunga kesukaan Mommy nya. Lama ia pandangi dengan air mata yang terus mengalir.

"Hai Dad, Mom." Suaranya bergetar, menahan isak tangis. mencoba tersenyum, ia tidak mau sampai menangis di hadapan orang yang dicintainya.

"Ajeng datang berkunjung, maaf baru bisa datang sekarang... Ajeng rindu... banget sama kalian. Daddy and Mommy rindu tidak dengan Ajeng? Cepat banget yah kita berpisah... kayaknya baru kemarin kita bercanda, dan tertawa bersama, tapi hari ini ... semuanya tinggal kenangan, makasih karena selama ini kalian telah memberikan yang terbaik untuk Ajeng. Selama 20 tahun ini kalian selalu menemani Ajeng, tapi mulai sekarang Ajeng sudah harus terbiasa tanpa kehadiran kalian disamping Ajeng. Maaf karena telah membuat kalian sedih dan khawatir di atas sana, tapi Ajeng janji, mulai sekarang hanya ada senyum di bibir Ajeng, Ajeng akan hidup bahagia, jadi kalian tidak perlu khawatir. Sekarang Ajeng pamit pulang dulu yah Dad, Mom, jangan berantem disana, Ajeng akan sering-sering datang mengunjungi kalian, daaahhh, I love you," ucapnya dengan senyum yang tulus.

Setelah menumpahkan kerinduan yang mendalam, kini Ajeng sudah mulai bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Ia sadar, bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, dan ia juga tidak ingin membuat orang tuanya bersedih dan khawatir. Mutia tersenyum melihat sahabatnya , ia berharap semoga kedepannya Ajeng bisa mendapatkan kebahagian yang lebih baik dari ini.

1
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
semoga saja sella dan toni tidak seperti papanya
epifania rendo
siaap yang salah
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
sella sma ansel
epifania rendo
syukurlah
epifania rendo
pengawal bayangannya lambat
epifania rendo
pengawal bayangan mana
epifania rendo
jangan melanggar ajeng
epifania rendo
terharu
epifania rendo
romantis bangat
epifania rendo
buka segel
epifania rendo
tunggu saja di jadikan perkedel sma griffin
epifania rendo
kasian ajeng di bohongi sama paman nya
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
😄😄😄
epifania rendo
bucinkan griffin
epifania rendo
makin seruh
epifania rendo
sabar mutia
epifania rendo
mutia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!