Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 8 : Mengajak Kembali
Gea sedikit bisa bernapas lega karena hari itu dirinya sedang libur bekerja. Jatah libur yang Gea dapatkan, ia manfaatkan dengan bersantai di rumah dan berbincang-bincang dengan orang tuanya.
Sebenarnya Gea ingin membicarakan perihal pekerjaannya kepada orang tuanya, namun Gea malu menceritakan apa yang terjadi dan memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat mengenai beratnya bekerja di tempat baru tersebut.
“Ayah kenapa hari ini libur mengajar?” tanya Gea pada Sang Ayah yang berprofesi sebagai guru SD.
“Memangnya kenapa? Putri kesayangan Ayah hari ini libur. So, Ayah memutuskan untuk izin tidak masuk. Lagipula, Ayah sudah memberi tugas kepada murid Ayah.
Gea terkekeh geli mendengar Budi mengucapkan kata jadi, menjadi So.
“Ayah jangan bicara pakai bahasa Inggris gitu dong. Terdengar sangat aneh di telinga Gea,” tutur Gea sambil mengangkat kedua bahunya.
“Ya mau bagaimana lagi? Habisnya seru kalau ada campuran bahasa inggrisnya,” balas Budi.
Sri menyentuh tangan putrinya dengan tatapan penuh kasihan bercampur sedih.
“Ibu kenapa menatap Gea seperti itu? Gea kelihatan menyedihkan ya?” tanya Gea sambil menghela napas.
“Bukan begitu, hanya saja Ibu merasa kalau kamu kelihatan kurus semenjak bekerja menjadi cleaning service,” jawab Sri.
“Gea kurus karena banyak bergerak, Ibuku sayang. Kalau Gea menjadi gemuk pastinya semua pekerjaan Gea tidak berjalan dengan baik,” balas Gea yang tak ingin membuat orang tuanya kepikiran karena dirinya.
“Ayah ada beberapa kenalan, mau Ayah carikan pekerjaan yang lain?”
Gea menolak apa yang dikatakan oleh Sang Ayah dan meminta orang tuanya untuk tak membahas perihal pekerjaan. Gea ingin menikmati liburnya sebaik mungkin di rumah.
“Ayah dan Ibu jangan lagi membahas soal pekerjaan Gea ya. Gea hanya ingin menghabiskan waktu Gea di rumah dengan tenang bersama Ayah dan Ibu,” pungkas Gea.
Gea memeluk Ayahnya dengan manja seakan tak ingin melepaskan pria yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.
Saat Gea sedang bermanja dengan kedua orang tuanya, ponsel yang sebelumnya ia letakan di atas meja berdering. Awalnya Gea menolak panggilan tersebut, namun ponselnya terus saja berbunyi hingga Sang Ayah meminta Gea untuk menerima telepon tersebut.
“Ayah, Ibu! Gea angkat telepon dulu ya,” ucap Gea yang pada akhirnya beranjak dari duduknya untuk segera menerima telepon dari salah satu temannya.
Gea melipir ke sudut ruang untuk segera menerima telepon dari Kania, salah satu teman Gea ketika duduk di bangku SMA.
“Assalamu'alaikum,” ucap Gea sesaat setelah menerima telepon tersebut.
Alasan Kania menghubungi Gea adalah ingin mengajak Gea bertemu. Kania mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting yang ia Kania ceritakan pada Gea.
“Harus hari ini?” tanya Gea memastikan.
Kania mengiyakan pertanyaan Gea dan meminta Gea untuk segera bersiap-siap karena rupanya Kania sebentar lagi akan tiba di rumah Gea.
Gea tentu saja terkejut, ia belum mempersiapkan dirinya dan Kania sebentar lagi akan tiba.
“Ayah, Ibu. Gea izin keluar sebentar ya sama Kania. Kania menelpon Gea dan mengajak keluar,” tutur Gea.
“Gea memangnya mau pergi ke mana?” tanya Sang Ayah.
“Gea juga belum tahu, Ayah. Nanti kalau sudah sampai sini, Ayah dan Ibu coba tanyakan Kania mau mengajak Gea pergi ke mana. Sekarang, Gea mau ke kamar mau siap-siap,” ujar Gea dan berlari kecil menuju kamarnya.
***
Beberapa saat kemudian.
“Kamu serius mengajak aku kesini?” tanya Gea yang terkejut setelah tahu Kania membawanya ke restoran tepat di depan kantor yang menjadi tempat Gea bekerja.
“Memangnya kenapa? Restoran disini terkenal enak dan harganya terjangkau. Siapa tahu dengan kita makan disini, aku bisa menemukan cinta sejatiku,” jawab Kania dan menghela napas panjang seakan hidupnya sedang tidak baik-baik saja.
“Apa katamu? Menemukan cinta sejati? Memangnya kamu dan Dicky sudah putus?” tanya Gea terkejut.
“Sudah, jangan kamu sebut lagi nama cowok brengs*k itu lagi. Itu membuatku menjadi semakin kesal,” jawab Kania.
Kania kemudian mengajak Gea untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
Aku harap aku tidak melihat Ibu Novi atau pengawas yang lainnya. (Batin Gea)
Melihat Gea yang duduk tak nyaman seraya menoleh ke arah sekitar, membuat Kania penasaran dan menanyakan alasan mengapa Gea nampak tak nyaman.
“Kamu kenapa? Kamu mencari siapa?” tanya Kania penasaran seraya menoleh ke arah sekitar barangkali ia mengenali orang disekitar restoran tersebut.
“Tidak mencari siapapun, Kania. Lebih baik kita pergi dari sini saja ya,” tutur Gea semakin tak nyaman.
Saat Gea hendak beranjak dari kursi, seorang pelayan datang dan memberikan buku menu kepada dirinya serta Kania.
“Gea, kamu harus pesan makanan. Aku akan mentraktir kamu sebanyak makanan yang kamu makan,” ujar Kania.
Gea yang merasa tidak terlalu dekat dengan Kania, hanya memesan es teh saja tanpa ingin menambah yang lainnya.
Kania tersenyum lebar melihat Gea yang hanya memesan es teh. “Aku tersinggung jika kamu hanya memesan es teh manis,” ucap Kania dan tanpa pikir panjang gadis itu memesankan Gea nasi ayam bakar beserta lalapannya.
Gea yang memang tak pandai bicara itu pun hanya diam melihat pelayan yang telah pergi bersama dengan catatannya.
“Gea!!” Radit tiba-tiba muncul menghampiri Gea yang sedang duduk bersama dengan Kania.
Melihat Radit yang tiba-tiba muncul, tentu saja membuat Gea terkejut. Gea yang merasa sudah tak memiliki hubungan apapun memilih meninggalkan restoran.
“Maaf Kania, lain kali akan akan mengganti uangmu.” Gea berlari kecil meninggalkan restoran.
Radit tentu saja tidak tinggal diam melihat gadis yang ia cintai berusaha berlari menjauhi dirinya.
“Radit, aku mohon lepaskan aku!” Gea berusaha menepis tangan Radit yang sudah lebih dulu menahan dirinya.
Radit tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Gea dan tatapan dari orang-orang yang ada di Restoran tersebut. Yang ia pedulikan saat itu adalah membawa Gea masuk ke dalam mobilnya dan mencoba menyakinkan Gea agar mau kembali padanya.
Radit akhirnya berhasil membawa masuk Gea ke dalam mobilnya.
“Gea, maaf jika kali ini aku terlihat kasar dimatamu. Apa yang aku lakukan saat ini semata-mata supaya kita bisa kembali bersama. Aku masih mencintaimu dan aku tidak bisa berpisah dari kamu,” ucap Radit.
“Keputusanku sudah bulat dan bagiku kamu hanyalah masa lalu ku. Sekarang biarkan aku pergi dan aku harap jangan pernah kamu temui aku lagi,” tegas Gea yang sangat sakit hati dengan apa yang telah Radit lakukan terhadap dirinya.
Kania mendengus kesal karena keinginannya untuk mencurahkan kesedihannya berujung pada perginya Gea bersama pria yang sama sekali tidak dikenal oleh Kania.
Maklum saja, selama menjalin kasih Gea belum pernah mempublikasikan hubungannya di sosial media manapun yang mana membuat Kania bertanya-tanya dalam hati pria yang tiba-tiba muncul itu.