Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Melihat gadis bercadar itu meringis kesakitan, membuat Liang Yi merasa kasihan padanya. Dia tidak menyangka, gadis itu bisa menari walau sedang merasakan sakit di kakinya.
"Nona, apa Nona masih bisa berjalan?" tanya Lian khawatir.
"Entahlah, tapi kakiku terasa sangat sakit," jawab Mei Yin sambil memegang kakinya.
"Kenapa bisa sakit seperti itu? Kalau sakit, kenapa dipaksa untuk menari?" tanya Liang Yi sambil membuka sepatu gadis itu dan melihat kakinya yang mulai memerah. Melihat Liang Yi yang ingin memegang kakinya, membuat dia ingin menarik kakinya itu, tapi dengan cepat tangan Liang Yi sudah memegang kakinya dan mulai memeriksanya.
"Aku akan mengobatinya, tapi sebaiknya kita harus membawamu ke kamar terlebih dulu," ucap Liang Yi.
"Nona, naiklah ke punggungku. Aku akan membawa Nona ke kamar," ujar Lian sambil duduk dan membelakangi gadis itu.
"Tidak usah, aku akan berjalan saja. Berdirilah, jangan seperti itu," ucap Mei Yin yang merasa kalau dia tidak pantas naik ke punggung seorang lelaki.
"Jangan membantah. Lebih baik, kamu turuti kata pengawalmu itu, dia pasti sangat mengkhawatirkanmu," ucap Liang Yi sambil berjalan keluar dari tempat itu.
"Cepatlah, aku akan tunjukkan kamar kalian," lanjutnya.
"Ayolah, Nona. Aku tahu Nona tidak bisa berjalan, jangan menyakiti diri Nona seperti ini," ucap Lian memohon yang membuat gadis itu akhirnya luluh dan segera naik di punggungnya.
"Aku minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir," ucap Mei Yin pelan saat dia sudah naik di punggung pemuda itu.
"Aku akan selalu menjaga Nona. Aku tidak ingin melihat Nona merasakan sakit seperti ini, jadi aku mohon, jaga kesehatan Nona," ujar Lian dengan sungguh-sungguh yang membuat Mei Yin melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu.
Liang Yi yang sementara berjalan di depan hanya bisa mendengar perbincangan mereka berdua yang menurutnya terlihat sangat dekat. Walau begitu, dia berusaha untuk tidak mempedulikan itu semua, karena mungkin saja kedekatan mereka hanya sebatas seorang majikan dan pengawal.
Di dalam kamar, Mei Yin duduk di atas sebuah kursi. Sementara Liang Yi, sudah duduk berlutut di depannya sambil membuka sepatu gadis itu.
"Kalau tidak segera diobati, maka sakit di kakimu ini akan semakin parah dan mungkin saja kamu tidak akan bisa menari untuk waktu yang lama," ucap Liang Yi sambil mengeluarkan sekotak obat berupa tumbukan halus dedaunan yang baru saja ditumbuknya.
"Apa itu daun gandarusa yang sudah ditumbuk?" tanya Mei Yin seakan dia mengenali daun herbal itu.
Dengan heran, Liang Yi menatap gadis itu. Dia tidak menyangka, gadis itu mampu mengenali obat herbal yang sedang dipegangnya itu.
"Aku tidak menyangka kamu tahu obat ini. Sepertinya, kamu juga tahu tentang obat-obatan, apa aku tidak salah ucap?" tanya Liang Yi sambil menempelkan daun itu dan segera membalutnya dengan kain yang diikat agar tidak mudah terlepas.
Mei Yin terdiam. Walau sudah lama, tapi dia masih ingat dengan aroma daun itu. Saat dia masih kecil, kakeknya pernah melakukan hal yang sama saat kakinya terkilir dulu. Di balik penutup wajahnya, Mei Yin meneteskan air mata karena dia teringat kembali dengan kakeknya.
"Sebaiknya kamu beristirahat. Aku rasa kamu sudah tahu seberapa ampuh daun ini. Jadi, sebaiknya kamu jangan banyak bergerak dulu. Oh, iya. Pangeran tidak suka jika dia kecewa, maka dengarkan pengawalmu itu kalau kalian ingin keluar dengan selamat dari tempat ini," ucap Liang Yi yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Terima kasih. Aku berhutang budi pada Tuan," ucap Mei Yin pada pemuda itu yang membuatnya melepas senyum.
"Sebaiknya kamu temani majikanmu itu, jangan biarkan dia terlalu banyak bergerak agar obat itu bisa bekerja dengan baik," ucap Liang Yi pada Lian saat pemuda itu mengantarkannya di depan pintu.
"Baik, Tuan. Terima kasih," ucap Lian sambil menundukkan kepalanya.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Mei Yin pada Lian yang baru saja masuk. Pemuda itu kemudian mengangguk dan Mei Yin segera membuka penutup wajahnya yang sedari tadi membuatnya merasa gerah. Hanya di depan Lian, dia berani memperlihatkan wajahnya tanpa rasa takut. Keelokan wajahnya telah mengalihkan pandangan Lian, tapi segera saja dia menundukan pandangannya.
Mei Yin tanpa sadar sudah membuat Lian jatuh cinta padanya. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi kebaikan hati gadis itu telah meluluhkan hatinya.
"Sebaiknya kamu beristirahat, aku sudah tidak apa-apa," ucap Mei Yin pada pemuda itu yang masih berdiri di depannya.
"Nona yang seharusnya beristirahat. Istirahatlah, aku akan berdiri di luar," ucapnya sambil keluar dari tempat itu dan berdiri di depan pintu kamar.
Hampir seharian Mei Yin berdiam di dalam kamar tanpa melakukan apapun. Sementara Lian, masih setia berdiri di depan pintu kamarnya. Mei Yin tahu, selama pengobatan dia tidak boleh bergerak, tapi rasa bosan di dalam kamar membuatnya ingin segera keluar dari tempat itu. Dia belum sempat berkeliling istana dan itu membuatnya semakin ingin cepat keluar dari dalam kamarnya.
"Lian, apa kamu di luar?" tanya Mei Yin yang membuat pemuda itu segera masuk ke dalam kamar.
"Ada apa? Apa Nona membutuhkan sesuatu?" tanya Lian.
"Aku bosan sendirian di sini. Ayo, kita bermain mahyong," ajak Mei Yin sambil mengeluarkan sekotak kartu dan menaruhnya di atas meja.
Lian yang melihat senyum di bibir mungil gadis itu hanya bisa tersenyum dan mengiyakan permintaan majikannya itu.
Dengan saling duduk berhadapan, pengawal dan majikan itu mulai bermain seolah mereka adalah teman. Terkadang, terdengar suara Mei Yin yang tertawa dan bahkan dia terlihat mengernyitkan keningnya seolah sedang berpikir. Keseriusan wajahnya tidak menghilangkan aura kecantikannya, bahkan membuat pemuda yang hanya duduk beberapa jengkal di depannya itu terlihat terpesona.
"Nona kalah lagi," ucap Lian senang karena tidak satu kalipun gadis itu menang darinya.
"Aku memang tidak bisa bermain mahyong. Ya sudah, karena aku kalah, ayo, sebutkan permintaanmu, aku pasti akan memberikannya untukmu," ucap Mei Yin dengan senyum dan sorot matanya yang membuat jantung Lian berdetak hebat.
"Aku tidak ingin meminta apapun dari Nona. Cukup jaga kesehatan Nona agar tidak sakit, itu sudah cukup bagiku," ucap Lian sambil memandangi wajah gadis itu.
Melihat ketulusan dari pemuda itu membuat Mei Yin tersenyum. Selama ini, hanya Hua Feng dan Lian yang selalu mengkhawatirkannya. Sejak kematian kakeknya, sudah tidak ada lagi orang yang peduli padanya kecuali kedua orang itu. Perlahan, air mata gadis itu mulai menggenangi di pelupuk matanya. Dia terharu dan juga bahagia karena masih ada orang yang peduli padanya.
"Maafkan aku, Nona. Bukan maksudku ingin membuat Nona menangis, tapi...." Tiba-tiba saja ucapannya terhenti karena melihat gadis itu tersenyum di antara air matanya.
"Aku tahu. Aku hanya senang karena ada orang yang ternyata masih peduli padaku," ucap gadis itu sambil menghapus air matanya.
Lian menatap gadis itu. Di balik tawanya, ternyata dia hanyalah seorang gadis yang kesepian. Di balik indah tariannya, ternyata tak seindah perjalanan hidupnya.
"Nona, aku akan selalu berada di sisi Nona hingga Nona tidak lagi membutuhkanku. Selama aku masih bernafas, aku akan selalu berada di dekat Nona. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Nona, aku berjanji," ucap Lian sungguh-sungguh sambil duduk berlutut di depan gadis itu.
"Aku tahu, jangan berlutut lagi. Sebaiknya, kamu ajari aku main mahyong agar aku bisa mengalahkanmu," ucap Mei Yin yang sudah tersenyum kembali.
Dari dalam ruangan itu, terdengar suara tawa Mei Yin yang membuat seseorang penasaran saat melintas di depan kamar mereka. "Siapa di dalam ruangan itu?" tanya orang itu yang tidak lain adalah Pangeran Zhao Li yang kebetulan melintas di tempat itu.
"Mereka adalah Nona Mei Yin dan pengawalnya, Pangeran," jawab salah satu dayang yang kebetulan ingin membawakan makan malam ke kamar itu.
"Oh, jadi dia di tempatkan di sini," ucap Pangeran Zhao Li pelan.
"Ya, sudah. Cepat, kamu bawakan mereka makanan, dan katakan pada gadis itu untuk menemuiku di ruanganku nanti," ucap Pangeran Zhao Li sambil pergi meninggalakan dayang-dayang itu.
"Baik, Pangeran."
Di dalam kamar, Mei Yin masih serius memperhatikan Lian yang pandai bermain mahyong. Walau sudah diajar, tapi Mei Yin belum juga bisa mengalahkan pemuda itu hingga membuatnya menyerah.
"Nona, kami membawakan makan malam untuk Nona." Mendengar suara dayang di depan pintu kamarnya membuat dia tersenyum senang karena akhirnya, dia harus menghentikan permainan mahyong tanpa rasa malu. Melihat Mei Yin yang tersenyum, membuat Lian ikut tersenyum. Setidaknya, dia merasa bahagia karena sudah membuat gadis itu tersenyum kembali.
Pintu kamar kemudian dibuka. Tak lupa, Mei Yin kembali memakai penutup wajahnya dan menerima dayang-dayang itu. Setelah meletakkan semua makanan di atas meja, salah satu dayang kemudian menyampaikan pesan Pangeran padanya.
"Baiklah. Setelah ini, aku akan menemui Pangeran," ucapnya pada dayang-dayang itu.
Di dalam ruangannya, Pangeran Zhao Li terlihat serius membaca sebuah buku. Dia begitu tertarik dengan ilmu pengetahuan umum dan tata negara. Dari kecil, dia sudah diajari tentang sastra. Dan dia sudah hafal di luar kepala semua pelajaran itu.
Pangera Zhao Li adalah Putra pertama Yang Mulia Raja dari seorang permaisuri yang beberapa tahun lalu telah wafat. Di antara saudara-saudaranya, dia adalah satu-satunya Putra Mahkota, karena semua saudaranya adalah perempuan dan dia sangat disayang oleh Raja.
"Pangeran, Nona Mei Yin sudah datang." Tiba-tiba seorang kasim yang biasa berdiri di depan pintu kamarnya memberitahukan kalau gadis yang dari tadi ditunggunya itu sudah datang.
Pangeran Zhao Li kemudian menyimpan buku yang sedang dibacanya sambil merapikan kembali jubahnya dan mempersilakan gadis itu untuk masuk. "Masuklah," ucapnya yang terdengar berwibawa.
Perlahan, pintu kamarnya terbuka. Di depannya, dia melihat seorang gadis yang terlihat anggun dengan gerakkan tubuh dan penampilan yang memukau, walau sebenarnya dia masih penasaran dengan wajah di balik cadar itu.
"Apa kamu punya alasan tertentu hingga kamu selalu menutupi wajahmu seperti itu?" tanya Pangeran Zhao Li ketika Mei Yin sedang berlutut di depannya.
Mendengar pertanyaan Pangeran Zhao Li membuat gadis itu terkejut. Dia sempat berpikir, bagaimana jika Pangeran memintanya untuk membuka cadarnya. Dia pasti harus melakukannya, karena jika dia menolak perintah Pangeran, berarti sama saja dengan bunuh diri.
"Maaf, Pangeran. Ini sudah merupakan identitas hamba. Mohon ampunkan hamba," ucapnya sambil menundukkan kepalanya dan membuat Pangeran tertawa.
"Tenanglah, aku tidak akan memintamu untuk membuka penutup wajahmu itu, karena aku takut kecewa kalau ternyata keindahan tarianmu tidak sesuai dengan keindahan wajahmu. Aku lebih suka melihatmu seperti ini," ucap Pangeran Zhao Li setengah tertawa.
Mei Yin mengembuskan nafas panjang setelah mendengar penuturan Pangeran Zhao Li.
"Aku kagum dengan kemampuanmu itu. Aku tidak menyangka, gadis sepintar dirimu bisa ada tempat itu. Andai kamu dari kalangan bangsawan, mungkin saja kita bisa berteman," ucap Pangeran Zhao Li tanpa melihat ke arahnya.
Mei Yin paham maksud perkataan Pangeran Zhao Li dan dia tidak merasa tersinggung dengan ucapan pangeran itu. Dia tahu statusnya yang hanya seorang wanita penghibur, tapi dia berusaha untuk tetap menjaga kesucian dirinya dengan menolak permintaan untuk melayani di tempat tidur.
"Aku tidak akan memintamu untuk menari, tapi aku hanya memintamu untuk menemaniku jalan-jalan di luar. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Pangeran Zhao Li sambil menatap gadis itu.
"Hamba tidak keberatan. Hamba akan menemani Pangeran," jawab Mei Yin sambil menundukkan wajahnya sebagai tanda hormat.
Malam itu, Pangeran terlihat begitu menikmati jalan-jalannya bersama Mei Yin. Dia tidak menyangka, gadis itu bisa membuatnya tersenyum lepas. Sejak pertama kali malihat Mei Yin menari di istana waktu itu, sudah membuat Pangeran Zhao Li penasaran dengannya. Karena itu, di ulang tahunnya dia hanya meminta kehadiran gadis itu, walau permintaannya sempat ditentang oleh ayahnya.
Sudah tiga tahun Pangeran Zhao Li tidak lagi merayakan pesta ulang tahunnya dengan meriah, karena ulang tahunnya tanpa kehadiran ibunya tidak lagi terasa istimewa baginya.
Di taman, Pangeran Zhao Li duduk di salah satu bangku di dekat sebuah kolam ikan sambil menatap ikan-ikan yang berenang dengan bebas. Di sampingnya, Mei Yin sudah berdiri sambil menatap ikan-ikan itu. Sementara Lian, berdiri sekitar lima meter dari mereka.
"Aku dengar dari Liang Yi kalau umur kamu tidak beda jauh dengan dia. Kalau begitu, umur kita juga tidak jauh berbeda," ucap Pangeran Zhao Li antusias.
Mei Yin menganggukan kepalanya tanda mengiyakan. Entah kenapa, sikap pangeran terlihat berbeda. Di depan orang, dia terlihat begitu bijaksana dan berwibawa dengan wajah yang selalu terlihat serius. Namun, saat dia sendiri seperti sekarang ini, sikapnya sangat jauh berbeda. Tanpa beban, Pangeran Zhao Li bisa tertawa bebas bahkan bercanda dan tertawa bersamanya.
Sejenak, dia merasa kalau Pangeran sama seperti dirinya yang harus terlihat sempurna di depan semua orang, tapi sebenarnya sangat kesepian. Melihat Pangeran seperti itu, membuatnya bagaikan melihat cerminan dirinya sendiri. Kesepian, walau dikelilingi banyak orang. Tertawa, walau sebenarnya menangis.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔