Sinopsis:
Menceritakan saudara kembar yang saling bermusuhan dan membenci. Sang kakak bernama Aksa, sedangkan adiknya bernama Arion. Meski kembar mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Arion memiliki IQ tinggi. sedangkan Ares bisa di bilang kurang cerdas daripada Arion sehingga Ayah mereka sering membandingkan mereka berdua.
Sampai suatu masa, sahabat masa kecil mereka datang kembali. Naya, gadis yang lincah dan cantik ini menarik perhatian mereka berdua. Sehingga mereka bersaing merebut hari Naya.
Siapakah pemenang hati Naya?!🤔🤔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
...•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•...
Naya mengingat kalau setelah perkelahian itu,hubungan Aksa dan Arion semakin buruk. Mereka tak pernah bicara satu sama lain. Naya bahkan menyaksikan apa mereka memang pernah berbicara.
Naya mengamati Aksa yang sedang mengambil baju dilemari. Semalam, Naya sempat berpikir untuk menyerah tentang Aksa, tapi tak bisa dilakukannya.
"Sa,kenapa kamu menyerahkan aku ke Arion?"tanya Naya tiba-tiba,membuat Aksa berhenti dengan kegiatannya.
"Ngomong apasih?"kata Aksa sambil melanjutkan pekerjaan memindahkan baju.
Aksa memutuskan untuk memasukkan semua bajunya ke koper sehingga dia tidak harus masuk kamar ini lagi selama Naya masih ada di kamarnya.
"Kemaren kamu mengatakan kalo Arion mau aku,dia tinggal ambil saja. Apa maksudnya?Apa kamu berpikir aku ini barang? Aku berhak milih Sa!"sahut Naya kesal.
"Benar,lihat emangnya lo mau milih gue? Kalau iya berarti lo udah gila?"kata Aksa dengan mencemooh.
"Ya,aku gila! Aku milih kamu! Emangnya kenapa aku kembali lagi kediri sini?Aku mau ketemu kamu!" sahut Naya tegas.
Aksa tutup lemari,lalu memperhatikan tajam mata Naya tapi sia-sia. Sepertinya gadis itu sungguh-sungguh, tapi Aksa tak peduli. Tak ada seorang pun yg pernah memilihnya.
"Amerika ternyata udah mengubahmu menjadi perayu ulung ya Ck,...kembali...lihat lihat sekarang, Nay!", kata Aksa kasar.
Naya menggeleng perlahan mendengar kata-kata kasar Aksa yang menyakiti hatinya.
"Sa,kamu itu cuma skeptis Kamu anggap aku sama dengan yg lain! Aku beda Sa,aku bener-bener peduli sama kamu!"
"Sa, apa bedanya kau sama orang lain?Lihatlah sama,lihat orang-orang pengkhianat yang aku kenal!"seru Aksa.
"Sa,aku tahu aku salah, aku lupa alamat rumah kamu,aku lupa nomor telepon kamu,selama sepuluh tahun aku berusaha nyari tapi bahkan papa mamaku juga nggak masukin!"
"Pas tanggal 14 Februari,aku nangis gara-gara nggak tahu mau ngapain!bAku kangen banget sama kamu..."
"Sa,"Naya mulai terisak.
"Baru pas sebulan setelahnya,aku liat nama Arion di internet,setelah itu baru aku ada titik terang! Aku senang banget waktu liat dia disana. Dengan begitu aku bisa tau dimana tempat alamat kalian lagi,kepercayaan bisa ketemu kalian lagi!"
Aksa sangat ingin percaya cerita Naya, tapi entah mengapa Aksa tidak ingin menerima
alasan itu begitu saja.
"Sa, please... Waktu di The Club, aku pengen cerita. Sebenernya, begitu nyampe sini aku udah pengen cerita.."
"Tapi karna kamu nggak pernah mau liat aku, kamu juga nggak keliatan seneng ngeliat aku, aku jadi ragu. Aku sedih banget waktu Arion bilang kamu udah ngelupain aku..."
Aksa menatap Naya yang sekarang sudah berhenti menangis. Jujur Aksa sangat ingin percaya dengan perkataan Naya.
"Sa, kamu tuh cuma takut, ya kan? Kamu takut memercayai orang. Aku salah Sa, aku pernah sekali ngekhianatin kamu, tapi waktu itu aku masih kecil! Dan sumpah mati, aku nggak akan ngelakuin itu lagi!" sahut Naya dengan seluruh sisa tenaganya.
Naya sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa tentang seorang anak laki-laki yg sudah
kehilangan kepercayaan kepada semua orang ini. Aksa terlalu menarik diri sehingga Naya tidak bisa lagi menggapainya.
Aksa menatap Naya lama. Aksa tahu, Naya benar. Aksa suah terlaku takut untuk memercayai siapa pun lagi. Aksa takut jika dia memercayai Naya, dan jika Naya mengkhianatinya sekali lagi maka Aksa akan benar-benar hancur.
"Sa, all you have to do is have a little faith in me," kata Naya pelan.
Aksa masih bergeming. Naya akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya pasrah.
"Yaudah kalo kamu masih gak yakin. Kamu mau kuliah? Kita bisa mulai habis kuliah. Kamu cepat pulang ya. Aku mau buktiin ke kamu satu hal". Naya pun tersenyum.
"Bukti ini, cukup kuat lho", sambungnya lagi sambil mengedipkan mata lalu menghilang.
Selama beberapa saat, Aksa terdiam karena otaknya terasa membeku, lalu lanjut mengepak bajunya. Aksa tak pernah merasa ingin pulang secepat ini.
Perkataan Naya tadi pagi berhasil membuat Aksa memaksa dirinya untuk tidak patuh pada perkuliahannya. Entah mengapa Aksa membiarkan perasaan itu terus memenuhi hati. Perasaan yang tak pernah ia rasakan lagi sejak Naya pergi perasaan senang dan berbunga-bunga.
Aksa melangkahkan kakinya ke atap untuk bersantai sesaat sebelum mengikuti kelas
selanjutnya. Aksa mengeluarkan sebatang rokok, memandangnya, lalu teringat kepada bekas luka di tangan Naya.
Aksa segera membuang rokok itu ke lantai karena merasa sedikit takut Naya akan terluka lagi karenanya. Aksa menghela nafas mantap dan melempar pandangan ke arah lapangan basket.
Lagi-lagi ia melihat Arion yang banci itu sedang berolahraga di lapangan yang dikerubungi gadis-gadis.
Mendadak Aksa mendapati Naya di bangku penonton sedang berteriak-teriak menyemangati Arion.
Aksa terdiam, tangannya terkepal keras sementara darahnya mendidih di kepalannya.
Aksa bangkit sambil menyalakan rokok lagi dan menghisapnya dalam-dalam.
Aksa akhirnya kembali dengan satu kesimpulan bahwa Naya sama saja dengan orang lain.
"Hei, akhirnya kamu pulang juga,"
Naya menyambut dengan wajah ceria saat Aksa menampakkan diri di pintu. Aksa tidak memperhatikan Naya lalu melangkah masuk dan melewatinya begitu saja.
"Sa, kamu dari mana aja sih? Tadi Arion menang lho!",kata Naya polos.
Aksa berusaha untuk tak memperdulikannya. Dia bergerak menuju kulkas dan mengeluarkan jus jeruk, lalu meneguknya langsung sampai habis.
"Hidup?", tanya Naya lagi setelah tak mendapatkan tanggapan dari Aksa.
"Kamu kenapa? Ayo aku tunjukkan bukti yang aku katakan itu. Arion udah nunggu!".
Aksa tak habis pikir betapa riangnya Naya menyebutkan nama Arion di depannya. Tapi Naya sepertinya tak sadar, karna dia sekarang sudah menarik tangan Aksa dan membawanya pergi ke taman tempat dulu Aksa, Arion lah yang menentukan, dan Naya yang memiliki perjanjian.
Arion sudah menunggu, duduk di bawah pohon akasia sambil bermain bola basketnya. Aksa menatap tajam dan langsung di balas tatapan tajam juga dari Arion. Naya melangkah menuju pohon itu dengan riang, lalu memperhatikan Aksa.
"Sekarang, ayo kita buka surat permohonan kita!", sahut Naya membuat Aksa terkejut.
Arion dan Naya seolah tak mengetahui akselerasi Aksa. Mereka sama-sama mengali tanah tepat di bawah pohon itu, lalu mengeluarkan kaleng biskuit yang dulu mereka kubur. Semua kenangan itu berkelebat di otak Aksa dengan cepat sehingga merasa pusing.
"Ini dia!", sahut Naya gembira sambil mengacungkan kaleng kotor itu, sambutan cengiran Arion.
"Ayo Sa kita sama-sama baca!", ajak Naya lembut.
"Konyol!", komentar Aksa dingin membuat senyuman Naya tiba-tiba lenyap.
"Apanya yang konyol?", tanya Naya.
"Ya ini semua ini!", jawab Aksa dengan tidak ada apa-apa mencemooh.
"Jadi kamu mengatakan kalau perjanjian kita konyol?", seru Naya kesal.
"Semuanya uda lewat, Nay! Kita bukan anak kecil lagi!", sahut Aksa emosi.
Naya memandang Aksa tidak percaya. Naya berpikir Aksa sudah berubah. Ternyata Aksa masih Aksa yang dingin.
"Tidak apa-apa kalau kamu gak mau baca surat permohonan kita. Gak apa-apa kalau kamu bilang aku anak kecil. Tapi aku akan tetap buka surat permohonan ini!", kata Naya tegas lalu meletakkan kaleng itu di tanah untuk di buka.
"Sa, ini Naya!", Arion tiba-tiba mendatangi Aksa dan memperhatikan tajam.
"Ini bukan permainan kata yang bisa membuatnya tersakiti. Ini Naya. Gua gak akan ngebiarin lo nyakitin dia! Baca surat permohonannya Sa!"
Aksa merasa perkataan Arion terdengar sangat lucu. Aksa benar-benar muak dengan Arion, Ayah, Ibu, maupun Naya.
"Kalau gua gak mau, lo mau apa?", tantang Aksa.
"Baca baik-baik!", Arion menyurukkan gulungan kertas bernama Aksa yang di ambilnya dari dalam kaleng ke tangan Aksa.
"Baca, Ri!", kata Naya pelan setelah membuka gulungan kertasnya sendiri.
Arion menurut lalu membuka kertasnya. Tulisannya: 'Aku pengen jadi arsitek!'. Arion tersenyum sendiri mengingat betapa polosnya dirinya dulu.
"Aku pengen jadi arsitek!", seru Arion lah yang menentukannya, lalu tertawa.
Naya ikut tertawa kecil, kemudian memperhatikan Aksa.
"Hidup?", tanya Naya.
Aksa memasang wajah menyeramkan sebentar, goyang kepalanya, lalu membuka gulungan kertas di tangannya.
Tulisannya: 'Aku pengen pergi ke bufan masa ayah dan ibu', Aksa memperhatikan tulisannya yang berantakan di kertas yang dia pegang dengan perasaan campur aduk. Selama beberapa detik, Aksa hanya membisu.
"Bukan kata-kata yang penting!", jawab Aksa sambil meremas kertas di tangannya.
Arion dan Naya memperhatikan bersamaan. Aksa sendiri berusaha sebisa mungkin mengendalikan emosinya.
"Sa, udah ku mengatakan jangan nyakitin Naya",kata Arion serius.
"Lihat! kau pikir aku takut? Jangan mentang-mentang preman, aku jadi takut sama kau!", kata Arion kesal.
"Mau lihat apa, Hah?", balas Aksa. Suasana hatinya benar-benar jelek hari ini.
"Atlet yang serba bisa? Kebanggaan keluarga? Cowok pupuler? Gua udah lihat semuanya!" kata Aksa dengan tatapan tajam.
"Sialan!", Arion menyerbu Aksa yang selalu saja sigap dan menepis serangan Arion.
"Aksa! Arion! Berhenti!", sahut Naya sambil berusaha memisahkan Aksa dan Arion.
"Jangan berantem! Aku jadi sedih nih!" kata Naya dengan muka melas.
Arion berhenti menyerang Aksa. Aksa memperhatikan Arion benci, namun Arion tidak memperdulikannya. Lalu melihat ke arah Naya yang sedih.
"Sori Nay. Sekarang apa kemauanmu?", tanya Arion.
Naya terdiam, lalu membuka gulungan kertasnya. Dia menutupinya lagi, lalu memandang Arion dah Aksa bergantian.
"Aku mau kalian berdamai", kata Naya pelan tapi di sambut tawa Aksa yang membahana.
"Apa? Lihat apa? Lihatlah sama saja minta aku kasihan sama dia! ", sahut Aksa. Naya memperhatikan Aksa sekarang sudah tertawa lagi.
"Lihat tau?Udah gua bilang ini semua konyol", kata Aksa lagi lalu melangkah pergi.
"Nay...", Arion memegang pundak Naya.
"Aku minta maaf, tapi permohonan kamu emang gak mungkin terjadi..."
Naya memandang sedih Orion, Aksa sudah menghilang. Harapan Naya pun ikut menghilang bersama Aksa.
...❀•°•═════ஓ๑♡๑ஓ═════•°•❀...
Nb:
1. Mohon maaf jika ada kesalahan karena saya bukan Tuhan Yang Maha Sempurna. Saya hanya manusia biasa 😊🙏
2. Jika ada yang merasa saya meniru karya orang lain, mohon maaf sepertinya anda salah tanggap. Saya sudah bilang kalau cerita ini ada kaitannya dengan real life. Jadi jika terdapat beberapa kesamaan, itu hanya sebuah ketidaksengajaan.
3. Jangan lupa Like, Komen, Gift, & Subscribe!
𝐒𝐞𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐊𝐚𝐭𝐚-𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐌𝐨𝐭𝐢𝐯𝐚𝐬𝐢:
"𝐁𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐢𝐡𝐢𝐧𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢."
^^^𝐛𝐲 𝐎𝐥𝐢𝐯𝐢𝐚 𝐒𝐡𝐞𝐚 🌸^^^
...Okay, see you sometime!!...
alur? bukan urusanku, w gak ahli romance🗿