Sebuah takdir mempertemukan keempat gadis cantik dengan masa lalu yang kelam. Penghianatan, kebohongan, mereka rasakan dan terima dari orang-orang terdekatnya. Luka di masa lalu membuat mereka bangkit dan bersikeras untuk membalas dendam pada semua orang yang pernah menyakitinya di masa lalu. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan besarnya itu. Keempat gadis ini sosok yang sangat cerdik dan berbakat. Kehadiran mereka bagaikan bom peledak yang kapanpun bisa menghancurkan. Karena tekad kuatnya itu, di masa depan nanti dunia akan berada dalam genggamannya. Mereka inilah yang terlahir sebagai, "Queen of the World".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Yais, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH PETUNJUK
Kelas sudah selesai. Ketiga dosen itu keluar secara bersamaan. Saat di ruangan mereka mendapat tugas dari Ji- Hoon. Sebelumnya, Nam Seon telah mengirim data mahasiswi yang mati bunuh diri itu. Ada beberapa orang yang ditemui korban sebelum kejadian itu. Nam Seon mencurigai salah satu diantara mereka adalah pelakunya. Setelah melihat beberapa foto tersangka, ketiga dosen itu langsung meluncur. Mereka sudah menyelesaikan kelasnya. Kini menjalankan misi dari komandan. Mereka berpencar mencari orang-orang yang ada di foto itu.
Di satu sisi, keempat gadis pergi menuju kantin. Di sana mereka melihat Jong Dae yang berjalan terburu-buru. Saat sedang makan, Lisa mendapat informasi dari anak buahnya jika komandan mengirim ketiga dosen ke kampus untuk mencaritahu kematian seorang mahasiswi satu bulan yang lalu.
"Dari awal aku sudah curiga dengan kedatangan mereka ke kampus," ucap Jaane.
"Kau tahu yang lebih menariknya lagi apa?" tanya Rose.
"Apa?"
"Pria menyebalkan itu harus menjadi dosen mata kuliahku."
"Benarkah?"
"Aku pun sama," sambung Jaane.
"Oh, ya? Aku pikir hanya aku, tapi kalian berdua pun sama." ucap Jasmine.
"Hanya Lea yang terhindar dari mereka bertiga," ucap Rae.
"Apa ini sebuah kebetulan?" tanya Jaane.
"Kebetulan atau tidak, kita harus tetap waspada terhadap mereka." ucap Lea.
Selesai dari kantin, mereka berjalan melewati halaman samping kampus. Di sana terlihat Xenia yang sedang berbincang dengan temannya.
"Bukankah gadis itu yang kita temui saat di mall?" ucap Rae.
"Oh,, ternyata dia juga kuliah di sini. Menarik sekali." ucap Jasmine.
Xenia melihat ke arah keempat gadis itu. "Sedang apa mereka disini?" ucapnya.
"Kau mengenal mereka?" tanya temannya.
Xenia langsung menghampiri mereka.
"Apa kalian mahasiswi baru di kampus ini?" tanya Xenia.
"Apa pentingnya bagimu?" timbal Jasmine.
"Memang tidak penting, tapi kalian harus ingat satu hal. Aku ini mahasiswi terfavorit di kampus, semua orang menyukaiku bahkan tidak sedikit dari pria disini yang ingin berkencan denganku. Jadi jangan harap kalian bisa bersanding denganku." ucapnya sangat angkuh.
Lea menatapnya tajam. Dia memperhatikan penampilan Xenia dari atas sampai bawah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mencoba menakutiku?" ucap Xenia.
"Akan aku jatuhkan harga dirimu itu!" ucap Lea. "Kau ini hanya seorang gadis manja yang tidak bisa apa-apa. Kau selalu berlindung di bawah kekuasaan orang tuamu. Jadi untuk apa kami takut padamu, Hah?"
"Kenapa kalian diam saja?" ucap Xenia pada teman-temannya. "Bantu aku!"
Ketika teman gengnya akan menyerang mereka, keempat gadis itu tidak segan untuk melawannya. Mereka mendorong Xenia dan geng sampai terjatuh. Keributan yang terjadi memancing banyak orang berdatangan. Mereka menyaksikan pertengkaran itu.
"Keempat gadis itu sangat berani," ucap seorang mahasiswa.
Perkataan itu terdengar oleh Xenia. Dia tidak terima jika ada orang yang memihak keempat gadis itu. Dia terlihat semakin kesal. Saat akan menghubungi seseorang, Jasmine mengambil ponsel Xenia dan melemparnya.
"Ponselku...
"Berani sekali kau melempar ponselku! Apa kau tahu jika harganya itu sangat mahal, Hah? Orang sepertimu tidak akan mampu membelinya!" ucap Xenia sambil mendorong tubuh Jasmine.
Untung saja ada Jaane yang menahannya. "Apa kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," jawab Jasmine.
Tae dan Seojun yang melihat kerumunan di antara mahasiswa langsung pergi melihatnya.
"Ada apa ini?" tanya Seojun.
Tae tidak menyangka jika akan bertemu dengan Lea di kampus.
"Kenapa kalian diam saja? Ada yang bisa menjelaskannya padaku?" tanya Tae.
"Kami tidak tahu kejadian awalnya seperti apa, tapi tadi kami melihat keempat gadis itu bersama Xenia berkelahi. Salah satu dari keempat gadis itu melempar ponsel Xenia sampai rusak," ucap salah satu mahasiswa.
"Kalian semua ikut ke ruanganku!" ucap Seojun.
Saat di ruangan, Jong Dae pun ada di sana. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara keempat gadis itu dengan Xenia.
"Apa ada yang ingin menjelaskan secara detail kejadian nya seperti apa?" tanya Tae.
"Dia menghina kami lebih dulu. Harga dirinya itu sangat tinggi sampai-sampai semua orang yang ada di kampus dipandang rendah olehnya." ucap Jaane terdengar kesal.
"Apa kau tahu siapa dia?" tanya Jong Dae.
"Tentu saja, dia gadis manja yang tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa mengadu dan merengek pada orangtuanya." jawab Rae.
"Kau...
Xenia terlihat sangat emosi. "Akan aku laporkan pada pihak kampus dan meminta mereka supaya mengeluarkan kalian secepatnya dari sini."
Lea dan Jasmine terlihat sangat santai. Lea terus mengunyah permen karet. Sementara Jasmine mengutak-atik barang yang ada di atas meja. "Apa tanganmu bisa diam?" ucap Seojun menatap Jasmine.
Jasmine langsung memalingkan wajahnya.
"Dia adalah cucu dari pemilik kampus ini," ucap Tae.
"Lalu, apa masalahnya dengan itu? Apa kau ingin memperingatkan kami untuk bersikap sopan padanya hanya karena dia cucu dari pemilik kampus ini?" ucap Jasmine.
"Bicara lebih sopan! Kami ini dosen kalian," ucap Seojun.
Lea terus menatap jam dinding. "Bisa kami pergi sekarang?" ucapnya.
"Masalah ini belum selesai," jawab Tae.
"Ini hanya masalah kecil, kenapa harus diperbesar?" ucap Lea. "Lagi pula kalian harus pergi untuk mencari seseorang bukan?" Lea menatap ketiga temannya sambil menaikkan satu alisnya.
"Pria yang kalian cari berjalan menuju atap kampus. Dia pergi dengan menggunakan tangga darurat. Dia sepertinya seorang pemakai narkoba. Matanya terlihat merah, dan bibirnya pucat," ucap Jaane tiba-tiba.
"Dosen tua yang berambut putih itu baru saja meninggalkan kampus lima menit yang lalu. Dia mengendarai mobil dengan plat 7RSV070 berjalan ke arah selatan." sambung Jasmine.
"Petugas kampus yang kalian cari ada di halaman belakang. Di jam seperti ini, seharusnya dia ada di sana. Seorang perempuan dengan pakaian berwarna oranye, dan topi coklat yang sudah usang." sambung Rae.
"Ayo kita pergi!" ucap Lea tersenyum kecil.
"Siapa yang mengizinkan kalian untuk pergi?" tanya Tae.
"Kau bisa memanggil kami lagi besok, tapi semua targetmu belum tentu besok kau akan menemukannya lagi." ucap Lea sambil melangkah pergi.
Semua yang dikatakan mereka tidak masuk akal, tapi tidak ada salahnya jika ketiga polisi itu mengikuti petunjuk mereka.
"Kita berpencar!" ucap Seojun. "Aku dan Jong Dae akan mengatasi pria dan petugas kampus itu, sementara kau pergi untuk mencari dosen tua itu."
"Baik."
"Mereka tidak sepintar yang kita banyangkan," ucap Jasmine.
"Ya, sepintar apapun orang yang kita temui tetap saja kita satu langkah di depan mereka." ucap Lea.
****
Hari sudah malam. Dengan susah payah, ketiga dosen itu membawa ketiga tersangka ke kantor. Ji-Hoon menugaskan Nam Seon untuk menginterogasi mereka. Di luar, Ji-Hoon sangat bangga dengan ketiga anggotanya. Mereka bisa menemukan semua tersangka kurang dari 24 jam. Saat ketua memujinya, raut wajah mereka biasa saja. Mereka hanya mengucapkan terima kasih atas pujian itu.
"Ada apa dengan kalian? Apa terjadi sesuatu saat penangkapan?" tanya ketua.
"Kita bicarakan di rumah saja, ketua." jawab Jong Dae.
Mereka bekerja sampai larut malam. Semua kerja keras mereka membuahkan hasil. Setelah Nam Seon menginterogasi mereka, dia sudah langsung mendapatkan hasilnya. Ketiga orang itu ternyata pelakunya. Pertama, korban mengetahui perselingkuhan dosen tua itu bersama wanita lain. Sebelum memberitahu istri sahnya, korban diajak oleh kekasihnya ke atap gedung dengan alasan akan memberinya kejutan. Sesampainya di sana, pria itu mendorong korban sampai terjatuh dan meninggal. Mayat korban diurus oleh petugas kebersihan kampus. Mereka di bayar oleh dosen tua itu untuk membunuh korban supaya rahasia perselingkuhannya itu tidak sampai pada istri sahnya. Misi pertama mereka akhirnya selesai.
Malam itu, Brandon datang untuk memberinya apresiasi. "Selamat atas pencapaian kalian, kurang dari satu Minggu kasus ini sudah bisa diselesaikan. Kalian benar-benar polisi yang dapat diandalkan. Aku bangga dengan kalian semua. Semoga ke depannya kalian semua bisa memecahkan setiap kasus yang terjadi di kota." ucap Brandon.
"Terima kasih, komandan."
****
Malam itu, keempat gadis sedang berbincang di ruang tengah. Tidak lama terdengar suara bel rumah berbunyi.
"Siapa yang datang malam-malam seperti ini?" tanya Rae.
Seorang pelayan pergi untuk membukanya. Tidak lama ia kembali.
"Siapa, Bi?" tanya Jasmine.
"Seorang pria nona, tapi dia tidak memberitahukan namanya."
Jasmine merasa sangat penasaran. Dia pergi melihatnya.
"Selamat malam, nona." sapa pria itu.
"Selamat malam," jawab Jasmine. "Siapa kau?"
"Aku orang yang diutus keluarga Cameron untuk memberikan secara langsung surat undangan ini."
"Surat undangan?" Jasmine menerima surat undangan itu.
"Nona Xenia meminta kalian untuk datang ke acara penyambutan putra pertama keluarga Cameron besok malam."
"Apa maksudmu penyambutan untuk Bara Arktik Cameron?"
"Ya, akan diadakan acara besar-besaran untuk menyambut kedatangan tuan Bara. Kalian adalah tamu penting kami. Nona Xenia berharap kalian bisa datang ke acaranya itu."
"Kami tidak bisa memastikan akan datang atau tidak, lihat saja besok malam." jawab Jasmine.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu!"
Jasmine kembali masuk. "Siapa yang datang?" tanya Jaane.
Jasmine memperlihatkan surat undangan itu. "Cepat sekali dia menemukan alamat rumah ini," ucap Lea.
"Kenapa dia mengundang kita? Bukankah kita musuh baginya?" ucap Rae sedikit heran.
"Ada maksud tersembunyi sepertinya," ucap Lea. "Kita ikuti saja permainannya."
"Apa kita akan datang ke acara itu?" tanya Jaane.
"Tentu saja, bagaimana pun kita harus ikut menyambut tuan muda keluarga itu." ucap Jasmine.
****