NovelToon NovelToon
Assalamualaikum Jodoh

Assalamualaikum Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Office Romance
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sri Lztari

"Siapa bilang hidup tak seindah drama Korea. hidup jauh lebih indah dari drama ketika memiliki cinta"

ini adalah lika-liku kehidupan seorang gadis untuk menemukan jodoh/cinta sejatinya. karena terlalu terobsesi dengan karakter oppa-oppa yang ada di drama Korea, ia sampai tidak bisa jatuh cinta pada laki-laki yang ada di kehidupan nyatanya hingga usia ke 26 tahun. usia yang sudah cukup matang untuk menikah.

lalu suatu hari, sang Ibu berinisiatif untuk menjodohkannya dengan seorang pemuda, anak dari teman arisannya. padahal Yuna tidak menginginkan perjodohan, ia berharap bisa menemukan cinta sejatinya sendiri. namun, mengingat bahwa hidup tak seindah drama Korea, alhasil ia memutuskan untuk menerima perjodohan itu.

apakah Yuna berhasil menemukan jodohnya melalui perjodohan itu?
yuk! ikuti kisahnya 💃.

oh iya, jangan lupa tinggalkan jejak. like, komen, vote dan hadiah ☺️
bila berkenan berikan kritik dan saran juga ✌️
jazakumullahu khairan 🙏
🌹🌹🌹

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lztari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Wisnu

Karena keterlambatannya masuk kantor, Yuna akhirnya tak bisa sarapan di kantin. Perutnya sudah keroncongan, padahal belum waktu istirahat. Beruntungnya kerjaan hari ini tak begitu banyak, ia berlari ke kantin lalu membeli roti.

Memanfaatkan sedikit waktunya untuk mengganjal perut dengan roti isi abon. Yuna mendudukkan diri di halaman depan kantin yang terdapat taman-taman kecil. Menikmati setiap gigitan sambil memandangi pepohonan yang hijau.

Matanya beralih ke arah samping kanan, dari kejauhan tampak halaman depan kantor yang luas. Ada beberapa orang yang lalu-lalang disana, namun netranya menangkap sosok asing yang terasa familiar.

“Kayak pernah liat.” Gumamnya lalu mengingat-ingat.

“Astaga. Dia kan pria yang kemarin.” Tanpa pikir panjang ia segera bangkit lalu menuju halaman depan kantor, namun sosok itu pun melangkah semakin jauh meninggalkan halaman tersebut.

Tergopoh-gopoh, Yuna berhenti tepat di halaman, namun pria itu sudah tak ada disana. Hanya ada beberapa atasan. Yuna mengedarkan pandangan lalu berjalan kiri kanan mencari keberadaan sosok pria itu, sayangnya ia benar-benar tak ada.

“Apa aku menghayal?,” gumamnya. Saking ingin berterima kasih dan meminta maaf secara langsung pada pria itu ia sampai terbayang-bayang.

“Heh kamu! Ngapain kamu disini? Bukannya kerja malah enak-enakan makan roti.” Tegur Pak Rangga yang juga ada di tempat itu.

Yuna terenyak lalu menatap sepotong roti masih tergenggam di tangannya.

“Eh iya, maaf Pak.” Ia menundukkan pandangan malu.

“Kerja.” Pria itu menatapnya sinis kemudian berlalu.

Yuna mengela napas kemudian buru-buru meninggalkan halaman menuju meja kerja serambi mengunyah kasar sepotong roti dalam mulut.

---ooo---

Jam istirahat akhirnya berlangsung. Seperti biasa, Yuna dan Wanda segera melaksanakan Shalat dhuhur. Selagi berjalan meninggalkan musholla menuju kantin Yuna melirik Wanda beberapa kali, hingga gadis bergigi gingsul itu menyadari. Yuna sedikit canggung untuk bercerita namun pada akhirnya ia pun meluapkan curahan hatinya mengenai sosok pemuda dan keluarganya yang kemarin sore datang dan membahas perjodohannya.

“Jadi seperti apa orangnya?” tanya Wanda.

“Lumayan. Wajahnya cukup menawan, penampilannya juga rapi. Kata Ibu dia kerja di bank central. Tapi aku heran, kenapa dia mau untuk dijodohkan? Padahal dia bisa saja mendapatkan pasangan dengan mudah?,” ungkap Yuna.

“Mungkin saja, perempuan-perempuan yang selama ini ia temui, memandang harta, jadi dia gak begitu respect.” Tebak Wanda.

“Gak taulah.”

“Trus gimana? Kamu srek gak kira-kira sama dia?,”

“Aku gak ngerasain perasaan yang spesial. Aku malah ngerasa tertekan.”

“Kenapa?”

Drrrttt…

Ponsel Yuna bergetar dari dalam tas mukena. Ia meraihnya lalu mengamati nomor asing yang tertera di layar ponselnya. Ia memutar mata lalu mendengkus, “sebentar Da.” Ucapnya lalu menekan tombol jawab.

“Kamu dimana? Udah makan siang?” baru saja gadis itu ingin menyapa dengan mengucapkan salam. Sang penelepon di seberang sana sudah melontarkan tanya terlebih dahulu.

“Aku di kantor. Baru mau makan. Kenapa?” jawabnya singkat.

“Aku ada di dekat kantormu. Kita makan di luar yuk” Pinta sang penelepon.

“Gak bisa. Jam istirahatku sebentar lagi selesai.” Tolak Yuna.

“Ayolah. Mumpung aku sudah disini, di Vanilla cafe.” Balasnya tak mau tahu. Vanilla cafe memang berada tidak jauh dari lokasi kantornya.

“Gimana? Aku tunggu ya.” Ucapnya kembali saat tak mendengar jawaban Yuna. Sang penelepon pun langsung mengakhiri panggilan teleponnya tanpa permisi terlebih dahulu yang membuat Yuna menggelengkan kepala, heran.

“Siapa Na?” Wanda menginterogasi.

“Cowok itu, Wisnu.”

“Cie … .” ledek Wanda sambil mencolek pinggul Yuna.

“Apaan sih!” Yuna bermuka masam, “ya udah, kamu makan gih sama Kasim. Aku mau keluar dulu.” Pinta Yuna.

“Loh mau ngapain?”

“Udah sana masuk. Aku mau keluar. Bye.” Yuna pun melangkah pergi meninggalkan Wanda yang masih keheranan.

“Hati-hati.” Teriak gadis bergigi gingsul itu.

Meninggalkan Wanda, Yuna berjalan dua ratus meter kesebelah timur dari arah kantor. Sambil menjinjing tas mukena berwarna milo, ia memasuki Vanilla Café sesuai permintaan Wisnu. Ia mengedarkan pandangan mencari tempat untuk duduk sekaligus makan siang, rupanya ia sudah mendapati Wisnu disana. Pemuda itu mengacungkan tangan lalu Yuna pun berjalan mendekatinya.

“Apa kita harus dadakan begini ketemunya? Kita masih sama-sama kerja loh.” Gerutu Yuna lalu duduk berhadapan dengan Wisnu.

“Aku tadi ketemu klien. Jadi sekalian mikir untuk ketemu kamu.” Balas Wisnu.

“Emang gak ada waktu lain apa?.”

“Ada sih. Tapi lebih cepat kita saling mengenal lebih baik.”

Hm, Yuna hanya bergumam.

“Kamu mau makan apa?” tanyanya kemudian. Pemuda itu menyerahkan selembar daftar menu pada Yuna.

“Ayam mentega sama jus jeruk.” Ucap Yuna setelah melihat menu yang ada di Café ini. Wisnu kemudian memanggil pramusaji, memesan chicken steak serta es lemon untuknya dan ayam mentega serta es jeruk untuk Yuna.

Yuna terdiam sambil menikmati suasana café, sementara Wisnu asik menatapnya sambil tersenyum.

“Selain cantik ternyata kamu unik juga ya.” Wisnu melontarkan pujian. Yuna mengalihkan perhatian pada pemuda yang ada di hadapannya itu sambil menautkan alis.

“Maksudmu?”

“Biasanya, saat perempuan baru pertama kali bertemu dengan laki-laki, dia akan tampak malu-malu, sampai memilih makanan pun bingung. Tapi kamu langsung memutuskan keinginanmu. Keren.” Jelas Wisnu.

Yuna tersenyum geli, apa dia sedang membicarakan perempuan-perempuan yang selama ini pernah kencan dengannya? Oh! Tentu beda, “yang pertama, itu karena aku lapar. Yang kedua, karena aku tak ingin membuang-buang waktu dan yang ketiga aku tidak sedang mencari perhatian.”

“Oya? Waw? Tapi kenapa kau tidak mencari perhatianku? Bukankah lebih bagus kalau seperti itu?.”

“Wisnu, kita menjalani perkenalan ini untuk saling terbuka, sampai kita merasa nyaman satu sama lain. Aku tidak mencari perhatianmu karena aku tidak ingin kau sebatas tertarik padaku. Tapi, untuk merasa nyaman denganku. Aku juga akan melakukan hal itu padamu. Makanya kau juga harus terbuka.” Jelas Yuna. Pemuda itu mengangguk mantap.

“Oke. Aku akan terbuka. Tapi kamu bisa kan tidak terlalu cuek padaku?”

“Apa aku cuek padamu? Tidak. Tapi beginilah karakterku. Sama seperti kamu, tidak sabaran. Begitulah karaktermu.”

Mendengar itu, Wisnu tergelak. Tawanya pecah.

“Kamu bilang aku apa? Tidak sabaran? Benar. Bagaimana kamu tau? Padahal, baru dua kali kita bertemu, kau sudah cukup mengenalku. Aku takjub.”

Yuna tak menanggapi, ia sedikit risi dengan beberapa orang yang sempat menoleh ke arahnya karena keributan Wisnu barusan.

“Aku memang orang yang ambisius jadi aku tidak sabaran. Aku anak tunggul, sejak kecil orang tuaku selalu menyenangkanku. Jadi setiap aku meminta sesuatu mereka akan langsung mengabulkan, karena kalau tidak, maka aku akan ngambek. Jadi mungkin itulah yang menyebabkan aku berkarakter seperti ini.” Ungkap Wisnu.

Yuna masih membisu. Bukannya merasa iba, ia justru merasa ngeri dengan Wisnu. Jika memang orang tuanya salah mendidiknya saat kecil karena terlalu memanjakannya, bukankah saat ia sudah tumbuh dewasa dan mengetahui baik buruknya dalam bersikap, maka ia akan merubah sifat buruknya itu? Bukan malah dibanggakan!. Lagi pula bagaimana bisa dia sesenang itu dikatakan tidak sabaran. Bukankah itu seharusnya menjadi umpatan? Jangan bilang dia malah merasa sedang dipuji?!.

“Apa kau tidak menyukai sikap tak sabaranku?” Wisnu mulai menangkap kerisihan Yuna tentang sikapnya.

“Walaupun kau tidak sabaran. Setidaknya kau harus menghargai orang lain.” Yuna menerangkan.

“Memangnya aku tidak menghargai orang lain?”

Yuna mengendikan bahu dengan pertanyaan itu, “tanya pada dirimu.”

Dikala mereka tengah mengobrol, ponsel Yuna bergetar, ia pun segera memperhatikannya. Ada pesan dari Wanda yang mengatakan bahwa Yuna harus cepat kembali karena akan ada penyampaian dari sekretaris kantor pada seluruh karyawan siang ini.

“Aku harus cepat kembali. Ada pemberitahuan di kantor.” Yuna memberitahu.

“Tapi pesanan kita belum datang.” Ucap Wisnu, ia pun sedikit panik, karena menu yang mereka pesan belum juga tiba.

Inilah maksud Yuna menolak untuk makan di café, bukan tanpa alasan. Sejak awal ia tahu, waktu istirahatnya singkat, apalagi penyajian makanan di cafe membutuhkan waktu lama, terlebih lagi jika pengunjung cafe padat, bisa jadi pesanan mereka datangnya satu jam kemudian.

“Sebentar, akan ku suruh koki dan pelayannya menyajikan pesanan kita lebih cepat.” Wisnu menggeser kursinya lalu bangkit.

“Tidak perlu. Apa kamu pikir pelanggan di Café ini Cuma kamu. Banyak yang harus mereka layani.” Sergah Yuna.

“Gak apa-apa. Aku sering kesini. Mereka pasti paham.” Pemuda itu ngotot. Yuna pun bangkit sejajar dengan Wisnu.

“Ini adalah contoh bahwa kau tak bisa menghargai orang lain. Aku harus kembali. Assalamualaikum.” Gadis itu sudah jemu dengan Wisnu. Ia bergegas pergi dari cafe tanpa memedulikan teriakan pemuda itu.

1
Bilqies
hai Thor salam kenal yaa dariku...
aku mampir niih, jangan lupa mampir juga di karyaku yaa..
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
⭐⭐⭐⭐⭐ untukmu thor
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
luar biasa
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
1 iklan untuk Wanda, smg dia jodohnya Kasim😍
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
sekuntum 🌹untuk Wanda😍😍🫰
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
😭😭😭😭😭
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
aku menghela nafas, sesak rasanya, hanya karena bosan lalu berpaling mencari cinta yang lain, enak ya jadi laki laki☹️

semangat Wanda, sekuntum 🌹 untukmu😍
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
sekuntum 🌹buat author yang telah mengobati rasa rinduku,
kutunggu lagi updatenya😍🫰
Anita Jenius
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya thor
Sri Lestari: Terimakasih banyak. terimakasih sudah mampir di cerita receh aku 🥰🌹
total 1 replies
Anita Jenius
Salam kenal thor..
Sri Lestari: salam kenal balik kak Anita 🙏
total 1 replies
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
lanjut thor😍👍
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
sekuntum 🌹 untuk author 👍😍
Sri Lestari: dengan ucapan yang sama kak. maaf lahir batin 🙏
total 3 replies
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
setangkai 🌹untuk author😍
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
amat sangat setuju sih kalo Wanda sama Kasim jadian, 😍👍
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞: Asiaap thor😍
total 2 replies
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
Semangat thor 💪, semangkai 🌹 untukmu
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞: 🫰🫰🫰🫰🫰
total 2 replies
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
Asyik Yuna ada pawangnya, gak sendirian lagi ngelawan Denis
Sri Lestari
Wkwkwk gak sampe bgtu
Sri Lestari
sebelum Yuna ikut perjodohan lagi, harus gercep 😂
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
Yuna 👍
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
hadir thor
Sri Lestari: makasih kak selalu setia hadir di ceritaku. padahal aku jarang nongol. nongol cuma buat up aja hhhe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!