Karena ingin mendapatkan uang yang banyak, Brian nekat menculik bayi kembar crazy rich seorang janda bernama Diva. Brian sendiri tak tahu kalau bayi kembar yang diculiknya adalah anaknya sendiri atas hasil kesalahan semalam.
Awalnya Brian mengira semuanya bisa dilakukan dengan mudah, tetapi pada kenyataannya tidak. Bayi kembar Aron dan Alan bukanlah bayi biasa. Meski baru berusia 9 bulan, mereka sudah sangat pintar dan membuat Brian kewalahan.
Siapa yang menduga? Penculikan yang dilakukan Brian justru membawanya lebih dekat dengan si kembar sekaligus ibu mereka. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Terjebak Bersama Si Kembar
...༻⎚༺...
Brian baru memasuki lift. Saat itu dia berpapasan dengan tetangganya yang bernama Dave.
"Ya ampun. Sejak kau punya anak? Aku bahkan tidak ada mendengar kabar kalau kau menikah?" tegur Dave sembari mengamati Alan dan Aron dalam kereta.
Brian mendengus kasar. Dia sekarang malas sekali menanggapi sapaan omong kosong seperti itu.
"Bulan lalu," sahut Brian singkat.
"Kau menikah bulan lalu?" Dave memastikan.
"Iya." Brian lagi-lagi menjawab singkat.
"Mana istrimu? Apa dia tidak ikut?" Dave kembali bertanya.
Brian mendelik tidak suka. "Uruslah urusanmu sendiri," balasnya seraya tersenyum lebar.
Dave seketika terdiam. Dia tentu mengerti kalau Brian menyuruhnya untuk diam. Tak lama pintu lift terbuka, Brian segera beranjak menuju unit apartemennya.
"Kenapa semua orang hari ini menyebalkan sekali?" keluh Brian. Baru berucap begitu, Alan dan Aron menangis. Brian pun segera membuatkan susu. Selanjutnya dia berikan masing-masing susunya kepada Alan dan Aron.
Brian kini menyandar di sofa. Baru beberapa jam mengurus bayi, lelahnya sudah minta ampun.
"Aku tak bisa membayangkan kalau ini terjadi setiap hari. Aku semakin yakin untuk tidak menikah. Apalagi sampai punya anak." Brian lagi-lagi mengeluh.
"Pa... Pa..." Aron tiba-tiba mengoceh. Dia menatap Brian dengan tatapan polosnya.
"Aku bukan Papamu! Mengerti?" tanggap Brian sambil menunjukkan raut wajah sangar.
...***...
Diva telah selesai mencari tahu ke kantor polisi. Mudah bagi dia untuk mendapatkan informasi. Orang kaya raya seperti Diva hanya perlu uang agar bisa mendapatkan data tersebut.
Selain mendapat identitas Brian, dia juga berhasil mengetahui teman dekat Brian yang tidak lain adalah Erick dan Issac.
Diva mendatangi alamat yang tertera dalam data Brian. Yaitu sebuah rumah kumuh yang terletak di pinggiran kota.
Perlahan Diva menghentikan mobilnya. Dia tidak sendiri kala itu. Ada tiga polisi yang menemaninya karena permintaan Diva sendiri.
Saat polisi memeriksa rumahnya, tidak ada Brian di sana. Bahkan bayi Alan dan Aron. Mereka hanya berhasil menemukan Erick dan Issac yang asyik bermesraan dengan wanita.
Erick dan Issac sontak berusaha melarikan diri. Dalam pelarian itu, hanya Erick yang berhasil melakukannya. Sementara Issac harus rela dibawa ke kantor polisi.
Erick segera menghubungi Brian dan memberitahukan keadaan genting yang telah terjadi. Dia menyuruh Brian untuk mencari tempat persembunyian lain yang lebih aman.
"Sial!" umpat Brian ketika mendapat kabar dari Erick. Dia segera menghubungi Clara dan meminta tempat persembunyian aman.
Clara memberikan sebuah kamar suit di hotel. Di sana Brian dan bayi Alan dan Aron akan aman dengan penjagaan bayaran Clara.
Kini Brian baru keluar dari unit apartemen. Dia dan si kembar dalam perjalanan menuju hotel yang sudah dipesankan Clara.
Sayangnya saat keluar dari gedung apartemen, cuaca sangat tidak memungkinkan. Angin berhembus sangat kencang dengan ditemani awan yang begitu gelap.
"Sepertinya akan terjadi badai. Kau sebaiknya bawa masuk anak-anakmu kembali!" ujar Dave sembari berjalan melewati Brian yang hendak pergi.
"Persetan dengan badai!" Brian tak peduli. Bersamaan dengan itu, dia mendapat telepon dari Clara.
"Kau dimana?" tanya Clara dari seberang telepon.
"Aku baru mau pergi ke hotel. Kau tenang saja. Aku akan--"
"Jangan pergi! Katanya akan terjadi badai di wilayahmu. Aku tidak mau sesuatu terjadi pada si kembar!" potong Clara.
Dahi Brian berkerut heran. "Kau harus percaya padaku. Aku akan sampai ke hotel sebelum badai terjadi," balasnya.
"Tidak! Aku tak mau mengambil resiko itu!" tegas Clara.
"Sebenarnya apa alasanmu ingin memiliki si kembar ini?" Brian lantas penasaran.
"Lakukan saja tugasmu, kriminal! Tidak usah penasaran. Pokoknya kau harus kembali ke tempatmu. Lagi pula jarak hotel yang aku pesan cukup jauh dari lokasimu!"
"Tapi--"ucapan Brian terhenti karena Clara memutuskan sambungan telepon lebih dulu.
"Aarghhhh!!!" Brian menggeram kesal. Meskipun begitu, dia kembali masuk ke apartemen. Sekarang Brian benar-benar terjebak bersama Alan dan Aron.
Baru saja masuk ke apartemen, di luar hujan langsung turun dengan derasnya. Terlihat angin semakin kencang dan menghancurkan beberapa bangunan.
Brian menutup tirai jendela. Dia kaget saat melihat Alan dan Aron tampak sudah bermain dan membuat semuanya berantakan.
"Apa yang kalian bisa hanyalah berbuat kekacauan?" timpal Brian. Dia baru terpikir untuk memberikan obat tidur pada Alan dan Aron. Akan tetapi obat yang dia cari sudah habis.
Brian tetap tidak menyerah dan terus mencari. Sayangnya obat tidur tidak ada dimana-mana. Kini Brian memegangi kepalanya. Dia tak punya pilihan selain menidurkan Alan dan Aron dengan cara manual.
Tetapi bagaimana? Alan dan Aron bahkan terlihat tidak lelah sama sekali. Mereka justru semakin aktif setelah diberikan susu oleh Brian.