Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.
Mimpi itu ...
"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.
"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"
Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.
"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.
"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"
Klik Subscribe dulu sebelum baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Sebuah Alasan
Bab 8 Sebuah Alasan
Pendar cahaya memperjelas pandanganku pada sosok yang sedang menatap sendu.
"Aidam ...."
"Bagaimana kamu bisa masuk? Aku sudah-"
Kalimatku terputus saat mengingat ini adalah rumahnya. Sudah pasti dia akan menyimpan kunci cadangan semua ruangan di rumah ini.
"Kamu akan sakit jika tak melepaskan pakaianmu, Istriku-"
Aku menepis tangannya yang mengangkat tanganku ke atas. Berniat melepas kaos over size basah yang melekat di tubuhku.
"Apa yang mau kamu lakukan? Aku bisa sendiri! Keluar!" teriakku marah.
Dia mengangkat tangannya ke atas dengan telapak terbuka, "Oke! Aku akan keluar, tapi bajuku juga basah. Boleh aku ganti di sini, hm?" lanjutnya dengan gaya menjengkelkan.
Tak peduli dia masih di ruangan yang basah ini atau tidak. Aku berbalik memunggunginya dan melepaskan pakaian basahku begitu saja. Lalu masuk ke dalam bath tube yang telah tertutup busa. Dari ekor mata aku masih melihat bayangannya berdiri sedang mengenakan jubah mandi.
Hanya lima menit aku keluar dan menuju ruang pakaian yang sering di sebut walk in closet. Sudah ada piyama yang digantungkan di depan salah satu pintu. Aku yakin Aidam yang memilihkan untuk kupakai.
Saat keluar, pintu kamar sedikit terbuka. Indera penciumanku mengendus aroma harum dari luar. Sontak saja perutku mulai berbunyi. Terang saja sedari sore hingga hampir tengah malam begini belum terisi makanan.
"Masak apa? Harum banget? Tau aja sih belum makan dari tadi?"
Mencoba bersikap biasa saja di depannya. Aku terkekeh hambar meraih satu buah apel di meja pantri. Menatapnya sedang asyik di depan kompor memainkan spatula. Sedikit menoleh ke arahku dan tersenyum tanpa kata.
Hening.
Beberapa menit dia membawa dua piring omelet sayur ke depanku. Dari penampilannya sungguh luar biasa, dibandingkan aku yang buat. Pasti akan lebih hancur dari ini, not bad lah untuk ukuran seorang CEO.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Makanlah dulu, baru bicara!" sahutnya mengangsurkan garpu ke depan mulutku.
"Bisa dimakan? Nggak ada racunnya, kan?"
"Ada, racun cinta 100 persen, ketulusan sepenuh hati, keikhlasan seluruh jiwa, dan ... separuh keadilan ragaku." ucapnya masih mempertahankan posisi menyuapkan ke arahku.
Dia menatapku bergantian dengan potongan omelet di ujung garpu sebagai isyarat.
"Gombalan dosen emang beda!"
Entah itu pujian atau cibiran, yang jelas aku menurut saja menerima suapan darinya.
"Kenapa menerima perjodohan Ayah dan Papa? Andai bukan aku orangnya, apa kamu akan tetap menerimanya? Bukankah banyak yang ingin menjadi istri seorang Aidam Ishwar? Meski yang kedua, tak ada wanita yang menolak, kan?" tanyaku memberanikan diri, meski hati rasanya teremas-remas.
Tak ada jawaban darinya sampai suapan terakhir mendarat di mulutku. Semua pertanyaan yang kulayangkan hanya dijawab senyuman atau gelengan. Aku tahu maksudnya, dia sudah katakan agar aku makan dulu. Itu kebiasaannya sejak dulu waktu mengajar pun begitu.
Tak pernah bisa dibantah. Jika memberi perintah A, harus A yang dikerjakan. Lebih aja salah, apalagi kurang. Plek ketiplek dengan yang diinginkan adalah juaranya.
Apa susahnya jawab pertanyaan sambil makan? Lagi pun dia nggak sedang mengunyah, malah aku yang sedari tadi dijejali dengan makanan berbahan dasar telur buatannya hingga habis.
"Minum!" titahnya saat aku menelan kunyahan terakhir. Segelas susu diangkatnya di depan wajahku.
"Thank's!" ucapku menerima gelas darinya, "sekarang jawab semua pertanyaanku barusan." Satu ketukan yang berasal dari gelas dan meja keramik pantri menuntut jawaban darinya.
"Lebih dari lima tahun yang lalu aku mengenalmu, Gauri. Satu-satunya mahasiswi yang tak pernah melirik atau terpesona denganku di kampus." jawabnya setelah menghembuskan nafas panjang.
Satu alisku terangkat mendengar penjelasannya. Dia menyadarinya?
"Dari sana justru aku mulai tertarik padamu, tapi ...,"
"Kamu menikahi orang lain." potongku.
Beranjak dari kursi dan pergi ke kamar tanpa kata lagi. Hatiku kembali merasakan sakit seperti kabar itu baru kudengar beberapa tahun lalu. Dia menggelar pernikahan mewah dengan seorang artis.
Wanita yang jauh lebih sempurna dan tak diragukan kecantikannya lagi. Apalah aku ini yang jangankan body goal. Wajah turus tak terawat, bahkan perawakanku layaknya atlet tinju dengan otot perut dan lengan yang lebih menonjol. Nggak ada seujung kuku pun dibanding dengannya.
"Semestinya aku bisa menolak. Tapi pernikahanku sudah terjadi sejak Yos masuk dalam keluarga Sura. Sepuluh tahun lalu, Gauri."
Dia menyusul ke kamar dan berbaring di belakangku.
Aku masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. Belum bisa dipercaya. Logika mungkin bisa menerima, hati tak mampu mengangguk. Memilih memejamkan mata dan pura-pura terlelap tanpa meresponnya lagi.
Kupikir hanya beberapa detik aku terpejam dan benar-benar masuk di alam bawah sadar. Nyatanya seruan adzan Subuh mengusikku. Sosok yang semalam mendekapku dari belakang sudah tak ada lagi. Anehnya aku merasa kehilangan. Apa yang kuharapkan?
Hingga matahari menampakkan sinarnya, aku tak mendapati Aidam di ruangan mana pun di rumah ini. Handphone-nya mati dan tak meninggalkan pesan apapun. Ke mana dia pergi?
Iseng saja kunyalakan TV di ruang keluarga sambil mencoba menghirup udara pagi dengan membuka sun roof. Masih begitu sejuk dan segar.
Satu jam dua jam aku mulai bosan dengan perut keroncongan. Andai pintu tak terkunci, aku bisa saja pulang sendiri ke rumah Ayah dengan taksi online. Aidam tak membiarkanku pergi dari rumah ini. Bahkan baterai ponselku pun sudah tak berdaya lagi.
"Gaurika adalah cinta pertama saya. Saya terpaksa menikahi Yosita saat mendiang Mama masih hidup. Untuk menjadikanku halal sepeninggal Mama. Dia adalah anak angkat Mama, kesayangan Mama. Amanat untuk menjaga dan melindunginya mengharuskan saya menghalalkannya. Pernikahan berlangsung jauh sebelum acara resepsi. Tepatnya saat saya masih SMA dan Yos masih sangat belia. Tujuannya agar tak terjadi fitnah karena tinggal serumah."
Saluran TV menampilkan sebuah live report. Aidam bersanding dengan Yosita yang menunduk tajam. Aku mematung di atas treadmill yang sudah kuhentikan sesaat suara itu masuk ke indera pendengaranku.
"Jadi, Saya mohon untuk tidak membicarakan hal buruk mengenai istri Saya. Baik Yosita Ashari ataupun Gaurika Yada. Saya menikahinya bukan tanpa alasan, melainkan Yosita ternyata, tak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Sura."
Dia mengatakan kejujuran yang mungkin akan menyudutkan Yosita sebagai publik figur. Apa yang sebenarnya tujuan dua orang ini?
"Sekali lagi saya tegaskan pada siapa saja yang mendengarkan penyataan saya ini. Saya memohon dengan segenap kerendahan hati agar tak lagi membicarakan keburukan tentang pernikahan yang saya jalani. Kita tidak bisa memaksakan pikiran orang lain untuk sependapat dengan kita. Pikirkan bahagia kita sendiri dan orang-orang yang kita sayang. Karena kita tidak dituntut visa membahagiakan semua orang. Cukup jangan menyakiti orang lain, jika kita tak inginkan hal yang sama. Sekian dan terima kasih."
Dia menutupnya dengan merangkul Yosita meninggalkan sebuah ruangan seperti aula. Entah di mana itu, aku tak begitu suak mengikuti berita aktual atau gosip artis begini.
Hhhh ....
Apa ini tentang harta kekuasaan?
Mengapa Ayah menjodohkan kami, padahal Papa Sadana harusnya mengatakan jika Aidam sudah beristri.
Aku harus mulai mencari informasi tentang Yosita dan asal usul keluarga Sura.
...***...
^^^Bersambung ....^^^
mgkn lbh baik
Sendiri...
🤭😵💫🤕
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣