Terimakasih atas dukungan sayang dari kalian para pembaca ku yang tersayang.
Fahmi lelaki sederhana memiliki istri cantik, sederhana, penurut dengan anak tiga tak membuat nya puas akan hidupnya sempurna.
Sonia wanita cantik, berkuasa dengan segenap kemampuan finansial nya membeli suami sekaligus anaknya, bangga menjadi wanita kedua yang berhasil menyingkirkan istri sah dari suami yang di belinya.
Shanum Khoirulisa terpuruk ditinggalkan suami berikut anak-anak nya ya memilih hidup kaya bersama wanita kedua yang merusak hubungan antara keluarganya.
Bagaimana endingnya? Bahagia? Sedih? Keep read please ? Thanks you Allah selalu memberikan kemudahan bagi kalian semua, amiin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sumi Yati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.
POV Farhan
Aku keluar dari kamar inapnya kurang lebih dua jam, saat kembali ranjangnya kosong.
Anakku tidur di sofa berhimpitan, terlihat letih dan tak mendengar langkah kaki juga suara pintu terbuka. Aku pikir ia ke kamar mandi.
"Ya, Allah. Dia melepaskan infusnya lagi." Pekik ku tertahan, setengah berlari aku membuka kamar mandi. Nyatanya kosong, makanannya kosong hanya tempatnya tergeletak di sana, sepertinya ia tergesa menghabiskan nya.
Dan obatnya raib, satu plastik penuh obatnya tidak ada. Aku minta resepnya satu bulan. Dan copy resep obatnya. Semuanya hilang.
Bekas makan berantakan di meja, ada dua nampan berisi makanannya. Keduanya kosong, bersama kue yang ku beli di kantin rumah sakit ikut raib.
Bukannya dia masih lemas dan merintih kesakitan, wajahnya masih pucat. Jaket ku hilang dia membawanya, istriku yang pintar. Aku baru tahu dia mengelabui ku dan meninggalkan kita?
####
"Haris, Liana Galang. Dimana Ibu kalian? Bangun!" Aku berteriak membangun kan mereka. Haris yang terjaga terkejut dengan kedatangan ku, juga melihat dengan tatapan kosongnya ke arah ranjang.
"Ibu seharian tiduran, bahkan ia menolak makanan dan buah yang dikupas Liana, Yah." Jawab Haris pelan
"Dia tidak ada, dia pergi! Lihat, infus dia lepaskan lagi, ia bahkan makan dengan tergesa-gesa. Membawa ponselnya ayah, dan .. Hah..." Suara Haris menggelegar membuang nafas kasar memalingkan wajahnya.
Tidak ingin memaki anaknya karena rasa kesal pada shanum. Wanita itu masih lemah, dan pucat wajahnya tapi nekat pergi keluar dari rumah sakit.
Haris takut jika Shanum pingsan di jalan atau terjadi sesuatu padanya yang Haris ketahui dia masih lemah. Dia keluar ke taman guna nyebat karena pikirannya suntuk.
Shock melihat perubahan Shanum dalam sekejap, ini belum hitungan hari baru beberapa jam. Bagaimana mungkin ibu dari anak-anakku itu berubah kasar dan ketus?
"Ayah apa mungkin Ibu pulang ke rumah?" Tanya Gilang ragu. Liana menatap ayah nya mengangguk. "Ayah dan Galang pulang cari ibu, aku dan Liana cari di sekitar rumah sakit bagaimana?" Usul Haris.
Farhan mengangguk," Baiklah nanti kabarin ayah jika kalian menemukan nya!" Galang dan ayahnya keluar menuju parkiran rumah sakit.
Haris dan Liana mencari shanum dengan bertanya pada orang yang mereka temui sepanjang lorong rawat inap juga taman rumah sakit.
Tak ada yang mengenalinya dan mereka tidak menyerah melaporkan ke sekuriti rumah sakit mencari tahu dari cctv-nya.
Farhan memasuki halaman rumah nya yang gelap dan menyalakan lampunya, kosong tak ada tanda-tanda keberadaan shanum. Berjalan menyusuri ruangan dan menuju ke kamarnya.
Galang langsung ke dapur karena haus ia bermaksud untuk mengambil air minum. Langkah kaki terhenti mengenali ponsel ayahnya tergeletak di meja makan. Ada secarik kertas putih. Galang mengenalinya, "Ini tulisan ibu". Gumaman lirih Galang bersama luruh air mata.
Anak itu mengerti apa yang terjadi, sang ibu memilih untuk pergi sebelum di tinggalkan, memilih tidak menerima uang dari ayahnya. Ada beberapa lembar uang berwarna merah dan kartu ATM.
"Aku kembalikan uang mu berikut pembayaran obatnya. Maafkan jika aku bayar separuh karena hanya ini yang ku punya, separuh nya anggap aja kompensasinya karena aku menjaga keluarga mu!"
Belum selesai demi kata Galang membacanya sudah direbut sang ayah. " Aku tak terima kau bukan kau saja tapi kalian mencampakkan aku sendirian di sini. Sampai maut menjemput nyawaku aku bersumpah akan membalasnya hingga titik darah penghabisan."
"Selamat atas kelahiran keluarga baru mu. Semoga saja dia tak mencampakkan kalian seperti kalian lakukan padaku."
"Aku tak Sudi menerima uang atau barang kamu. Aku memang miskin tapi aku bukan pengemis! Semoga saja kalian semua bahagia! Bahagia di atas penderitaan Ku. Selamat tinggal. O, ya ponselmu aku kembalikan, asal kau tahu aku bukan pencuri dan pengemis. Yang ngemis belas kasihan kalian. Semoga kalian berhasil meraih apa yang kalian mau!" Kalimat sarkas menyayat hati Farhan.
Farhan memejamkan matanya meremas kertas itu, ia berjalan ke kamar tidurnya. Baju shanum kosong dan surat gugatan cerai sudah di tanda tangani Shanum.
Bahkan foto mereka sudah dirobek hingga menjadi abu ada tiga album dia membakar semuanya tak ada tersisa, shanum membakar foto album keluarganya di kamarnya.
Di kaleng bekas biskuit itu hanya ada sisa abu dan buku album kosong. Ada notes tertempel berisikan pesan " Bisa kau pakai untuk foto keluarga baru mu mas Farhan teruntuk istri baru mu yang kamu cintai."
Farhan terduduk di lantai menangis tersedu-sedu." Shanum, maaf... Maafkan aku." Ucap Farhan pelan.
Galang terpaku di depan pintu kamar menatap punggung ayahnya yang menangis tanpa suara. Baju lebar itu terguncang dan anak kecil itu ikut larut dalam tangisan tanpa suara
"Ibu aku janji akan menjadi kebanggaan mu. Aku akan mencari mu dan memastikan mu bahagia, aku akan mencari tahu keberadaan mu jika aku sudah berdiri di kaki ku sendiri. Maafkan aku jika aku terlambat menemukan mu nantinya." Ucap Galang.
"Hukum aku ibu, yang sudah menduakan mu." Batin Galang sedih. Ayah dan anak itu menangis tersedu dalam kesedihan nya.
Sementara itu Haris dan Liana mendapatkan hasil pencarian Shanum lewat cctv-nya keamanan rumah sakit bahwa shanum pergi meninggalkan tempat tersebut bersama ojol.
Wanita itu mengenakan jaket Farhan dan membawa sebuah paper bag. Haris menduga itu berisikan obat dan makanan yang di masukkan ke dalam nya
Sangat tak masuk akal jika ibu nya yang lemah memakan makanan dua porsi sekaligus. Haris lega ibunya tidak kenapa-kenapa sekarang ia tinggal menelpon sang ayah melaporkan penemuan nya
Mereka berjalan lesu dan duduk bersama di taman rumah sakit yang tak jauh dari pos sekuriti yang mereka sambangi barusan.
"Apakah ibu benar pergi duluan meninggalkan kita? Akankah dia membenci kita semuanya?" Tanya Liana seraya menundukkan kepalanya menatap sepatu nya.
"Pastinya, dia di buang ayah sebelum surat cerai keluar ayah sudah bersama dengan wanita lain. Siapapun merasa hancur jika di selingkuhi. Hatiku remuk kala ibu meminta maaf karena tidak bisa mencukupi kebutuhan kita. "
"Tak seharusnya kita meninggalkan nya sendirian. Seharusnya kita mendukungnya dan melawan ayah." Kata Liana lirih.
Air matanya menetes ke pipinya, bahunya terguncang. "Ibu maaf.." Katanya lirih.
Haris menangis dalam diam merangkul bahu adiknya dan menenggelamkan kepalanya Liana ke dadanya. Kedua remaja itu bersedih hati meratap keputusan mereka yang memilih pelakor daripada sang ibu.
Mereka bahkan tak tahu jika ibunya melewati jam makan karena memastikan gizi anaknya. Haris dan Liana baru mengetahuinya setelah mereka berpisah dan semua nya terlambat untuk kembali
Sang ibu sudah pergi meninggalkan mereka tanpa pesan apapun.
Masalah anak anak itu urusan bapaknya.🙂
fokus kebahagiaan mu ja juga ke luar ga baru mu.
jangan balik kebelakang cukup Medokan anak mu ja walaupun tanpa bertemu 🙂
plis lh tata yg rapi lh sedikit tulisannya.
cerita udah seru,tp bacanya agak belibet krn susunan kalimatnya
begitu tau kebenaran ku jamin kalian nangis nti bOcil 😤